What is It? [9]

Posted: Maret 15, 2012 in Uncategorized
Tag:

“Karena aku ingin kau memecahkan ini.”

Siwon memberikan secarik kertas putih padaku. Apa ini, pikirku. Aku menerimanya. Saat kubuka, aku menghela napas panjang. Apa ini? Apa setiap hari aku harus menerima kertas semacam ini?

Ιτ’σ με! Στιλλ τηε σαμε περσον.

Aku meremas kertas itu sambil tertawa sendiri. “Kau tahu?” tanya Siwon.

“Hah, what a simple sentence!” jawabku. “Pasti kau juga berpikiran begitu, inspektur.”

“Apa maksudmu?” tanya Siwon.

“Kau membawaku kemari karena kasusnya mirip dengan kasus kematian Kim Heechul-ssi kan?” Siwon mengangguk.

“Ternyata dugaan Anda benar, inspektur,” jawabku. Aku membuka kertas yang kuremas dan menunjukkannya pada Siwon dan Kyuhyun. “Ini abjad Yunani, tapi kalau dilatinkan menjadi Bahasa Inggris, ‘It’s me! Still the same person—ini aku, masih orang yang sama’.”

“Cepat sekali! Kau bisa membaca abjad Yunani?” tanya Siwon heran. Aku menunduk malu, “Ah, itu hanya karena saat aku SMP aku hanya mempelajarinya dari font di komputer saat di Amerika dulu.” Kyuhyun geleng-geleng kepala tanda heran. Tiba-tiba handphoneku bergetar, “Yoboseyo?”

Hyerin-ya, kau dimana?” Aishh, suara imut ini, suara yang membuatku bahagia saat mendengarnya. Lee Sungmin, namjachinguku.

Hyerin-ya? Hyerin-ya, kau dimana? Aku tadi mencarimu ke restoran Shindong-ssi tapi katanya kau tidak ada dan memulai cuti. Jinjja?“ Aishh, harus jawab apa aku? Tidak mungkin kan aku mengatakan yang sebenarnya.

Hyerin-ya?

“Ah, oppa. Ne! Aku memang mengambil cuti sampai waktu yang tidak ditentukan.”

Waktu yang tidak ditentukan? Wae?

“Karena aku, aku…” Aish, aku harus beralasan apa nih. “Aku harus menghabiskan waktuku bersama Kibum oppa. Soalnya istrinya sedang ada urusan bisnis di Italia. Jadi, ya, aku yang mengurusnya.”

Ooh, kenapa kau tidak bilang padaku tadi? Aku kan bisa mengantarmu tadi.

“Ah, anhi oppa. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu.”

Oh, yasudah. Kalau begitu nanti aku ingin ke rumah oppamu ya. Aku rindu pada calon kakak iparku.

“Ne. Sampai jumpa nanti malam, oppa.”

Annyeong chagi.” Telepon pun terputus. Sedetik kemudian aku langsung memukul kepalaku sendiri. Aish, paboya! Kenapa alasanku harus membawa serta Kibum!? Mana nanti malam Sungmin kesana lagi. Pabo yeoja, Hyerin-ya!

“Hyerin!” Tiba-tiba Kyuhyun menepuk keras pundakku dari belakang. “Kita ke kantor polisi sekarang juga. Press conference. Kaja!”

“Mwo?” ujarku. “Press confe—“

“Ne, nanti kau duduk di sampingku, kau yang nanti menjelaskan arti kodenya. Kyuhyun, kau juga nanti duduk di samping Hyerin.”

“Anhi, kami tidak bisa,” kata Kyuhyun. “Menurut peraturan pegawai, kami tidak boleh tampil di muka umum ataupun tampil di depan kamera dengan alasan apapun.” Aku mengangguk tanda setuju dengan Kyuhyun.

“Ah, yasudah. Kalau begitu kau duduk di bangku wartawan saja. Jangan tunjukkan tanda pengenalmu pada siapapun. Aku akan bilang para petugas nanti, ara?” kata Siwon. Kami berdua setuju, “Araseo!” Siwon lalu segera keluar dari kamar aneh terkutuk ini lebih dulu. Beberapa menit kemudian kami berdua berjalan ke mobil. Kali ini Kyuhyun mengendarai mobil dengan kecepatan normal. Kyuhyun tetap berkonsentrasi pada setirnya, sementara aku sedang menunggu orang yang kutelpon menjawab.

Yoboseyo?

“Oppa? Kibum oppa?”

Ne, ini aku, Hyerin saeng. Gwenchaneyo?

“Oppa, apa nanti malam kau ada acara?”

Umm, anhi. Wae?

“Aku ingin ke rumahmu nanti malam.”

Rumahku? Haha, tumben kali ini kau ingin ke rumahku. Jarang sekali lho, biasanya aku yang ke apartemenmu.

“Wae? Aku ini kan dongsaengmu. Dan Sungmin oppa juga ingin ke rumahmu nanti malam.”

Anhi, gwenchana. Ya sudah silakan. Pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu. Mwo!? Sungminnie!? Namjachingumu?

“Ne.”

Ada apa? Apa dia melamarmu?

“Aish, sudah. Aku sibuk sekarang. Nanti aku cerita. Annyeong, oppa.” Aku langsung menutup teleponku dan kumasukkan kembali handphoneku ke kantong celana.

***

“Annyeong haseyo!”

Kami sudah tiba di kantor polisi pusat dan kedatangan kami langsung disapa oleh seorang polisi wanita yang menjadi penerima tamu di di meja resepsionis. Aku dan Kyuhyun tersenyum sambil membungkuk padanya lalu berjalan kembali. “Wah, neomu yeppeo yeoja polisi itu,” gumam Kyuhyun sambil menoleh kembali ke arah polisi penerima tamu itu. Aku langsung menjitak kepalanya, “Ya! Dasar namja!”

“Ouch, appo, Hyerin,” ujar Kyuhyun sambil mengusap kepala yang kujitak. “Wae? Kau cemburu ya?”

“Anhi!” jawabku. Haha, mana mungkin aku cemburu padamu, tuan Cho! Aku kan sudah punya namjachingu. Ah ya kan rekan kerjaku tidak ada yang tahu kalau aku punya namjachingu. Kami meneruskan perjalanan menuju ruang auditorium yang akan diadakan konferensi pers tentang kematian aneh dua namja dua hari berturut-turut ini.

Kami pun tiba di ruang auditorium. Ramai sekali. Para polisi, wartawan, dan beberapa kamera. Aku dan Kyuhyun mencari tempat duduk kosong di antara para wartawan. Dan kami akhirnya menemukan dua kursi kosong dan kami langsung duduk disitu. Siwon pun memulai konferensi persnya. Semua wartawan terlihat sibuk mencatat dengan alat tulis mereka, dari notes kecil hingga ada yang memakai tablet PC, juga beberapa cahaya muncul dari blitz beberapa kamera. Dan Siwon menunjukkan sebuah kertas putih, ada dua, yang berisi simbol-simbol tidak jelas. Aigoo! Itu kan kertas yang kuartikan beberapa jam yang lalu.

“Hyerin, itu kan kode-kode yang kau pecahkan tadi!” ujar Kyuhyun sambil menunjuk ke arah Siwon yang sedang memegang kertas yang sudah tidak asing lagi bagiku. Dengan reflek aku langsung menginjak kaki Kyuhyun yang terbungkus sepatu kulit hitam. “Ya! Appo!”

“Jangan bicarakan hal itu disini, pabo! Kau tidak lihat sekitarmu hah?” omelku dengan suara pelan. Kyuhyun melihat ke arah sekitar, “Ah, mianhaeyo.”

Aku memperhatikan setiap kalimat yang Siwon katakan. Untuk berjaga-jaga dia salah atau tidak. Ternyata sempurna! Tidak ada yang salah, persis apa yang kuartikan. Aku menyunggingkan senyum puas. Ternyata dia memang inspektur. Dia juga tidak menyebutkan namaku atau rakan-rekanku. Dia hanya bilang ‘kode ini sudah dipecahkan oleh salah satu rekanku…’

“Syukurlah…” gumamku pelan. Tiba-tiba blitz menyala sangat silau tepat dari belakangku. Ah, dunia jurnalis, pikirku.

***

Hyerin’s POV

Akhirnya konferensi pers sudah selesai. Aku dan Kyuhyun langsung keluar dari ruang auditorium untuk melanjutkan pekerjaan.

“Aishh, Hyerin-ya. Aku ingin buang air dulu. Aku ke toilet ya. Kau masuk mobil saja duluan, ini kuncinya,” kata Kyuhyun sambil melompat-lompat ala kangguru karena tidak bisa menahan hasratnya untuk buang air. Aku menerima kuncinya dan Kyuhyun langsung berlari menuju toilet. Akupun berjalan menuju mobil dengan langkah suka-suka. Tiba-tiba saja…

BRUKKK!!!

Aku terjatuh menabrak seseorang. Ah, lagi-lagi harus menabrak orang. Dua kali untuk hari ini. Aku langsung merapikan kemejaku dan langsung membungkukkan badan pada namja yang tidak sengaja kutabrak itu.

“Ah, seogsa, mianhaeyo.”

“Ah, gwenchana, agassi. Seharusnya aku yang meminta maaf,” balas namja itu sambil membungkukkan badannya. “Mianhae, seharusnya aku lebih hati-hati. Kau tidak apa-apa kan, agassi?”

“Ah, gwenchana, seogsa. Justru aku lebih menghkhawatirkanmu,” balasku. “Buku catatanmu jatuh, alat perekammu jatuh, apa aku harus ganti rugi?”

“Ah, tidak perlu,” ucap namja itu sambil memungut buku catatan dan alat perekamnya. “Belum rusak kok. Jadi kau tidak perlu menggantinya.” Saat namja itu sedang memungut barangya yang jatuh aku melirik tanda pengenal yang dia pakai. Ternyata dia seorang wartawan Seoul Post. “Kim… Jong… Woon…”

“Mian, kau tahu namaku?”

Aku terkejut mendengarnya berbicara seperti itu. Ah Hyerin, paboya! “Ah, itu namamu, seogsa? Aku hanya membaca tanda pengenal di bajumu kok.” Namja itu sedikit tersenyum, “Oh iya aku lupa. Aku kan pakai tanda pengenal ya. Ne, Kim Jongwoon imnida, salam kenal. Namamu?”

“Um naega…”

“HYERIN!” teriak seseorang dari belakang, tepatnya Kyuhyun yang baru saja dari toilet. “Kenapa masih disini?” tanyanya sambil menghampiriku.

“Um… aku… menunggumu. Yah, tidak enak kalau aku masuk mobil orang terlebih dahulu. Jadi lebih baik aku menunggumu,” bohongku. Kyuhyun hanya melihatku heran, “Kau ini, kau kan temanku. Tidak perlu kaku. Ayo, masih banyak masalah yang harus kita pecahkan.”

“Ah, Kim Jongwoon-ssi, mian. Aku harus kembali bekerja. Annyeong!” kataku sambil membungkukkan badan pada namja yang bernama Kim Jongwoon itu. Dia membalas lalu memberiku sebuah senyuman. Aku berbalik senyum padanya lalu pergi.

***

“Kau kenal namja yang tadi itu?” tanya Kyuhyun di dalam mobil. Sekarang kami ingin kembali ke kantor. Aku menggeleng, “Molla. Aku tidak sengaja menabraknya saat aku berjalan tadi. aku minta maaf padanya dan mengobrol singkat.”

“Kau tidak membaritahu pekerjaanmu kan?” Aku menggeleng, “Tentu saja tidak! Kau ingin keselamatan kita terancam!?” Kyuhyun tersenyum puas dan bergumam, “Anak pintar.”

***

“Hyerin saeng, kenapa kau tumben sekali mendatangi rumahku?” tanya oppaku Kibum yang masih saja penasaran dan duduk di sebelahku di ruang baca. Hari ini sudah jam enam sore, aku disuruh beristirahat oleh Leeteuk sajangnim karena bekerja sejak kemarin malam, sementara Kyuhyun dan Leeteuk tetap bekerja entah sampai kapan dan Jinki juga diizinkan pulang untuk menemani istrinya yang sedang hamil.

“Ah, oppa, aku hanya rindu padamu kok. Habis aku kasihan karena kau ditinggal Seo In noona ke Italia,” jawabku. Kibum mengangkat alisnya, “Jinjja? Ah, sepertinya ada alasan lain di balik itu semua? Kenapa juga kau harus menelponku tadi pagi saat aku bekerja? Dan hanya bertanya kabarku, tumben sekali.”

“Ah itu, oppa,” jawabku. “Itu ada alasannya. Saat itu juga aku sedang menonton berita di televisi. Kau tahu kan kasus pembunuhan misterius itu.”

“Oh itu, ne, aku tahu. Aku juga menontonnya kok,” kata Kibum. “Tunggu! Jadi, maksudmu… hahaha… kau pasti salah mengira kan kalau yang terbunuh itu aku? Karena namaku dan nama orang yang terbunuh itu sama?” Aku mengangguk sambil tersenyum malu, “Hehe, ne oppa. Mian aku telah menggangu waktu kerjamu. Tapi ada hal lain yang harus kuberitahu padamu, oppa. Terkait dengan kasus pembunuhan dua namja yang aneh ini, Kim Heechul dan Kim Kibum.”

“Wae?” tanya Kibum. Aku menarik napas, “Oppa, aku kembali ke pekerjaanku sebenarnya.”

“Mwo?” Kibum terbelalak. “Tapi, apa kaitannya dengan pembunuhan dua namja itu?”

“Karena aku dan rekan-rekanku juga ikut menanganinya,” jawabku. “Jadilah bekerja sejak semalam karena mengunjungi lokasi mayat Kim Heechul-ssi. Lalu tadi pagi setelah berita itu kami langsung disuruh menuju lokasi mayat Kim Kibum-ssi.  Aish… kenapa pekerjaanku aneh sekali.”

“Itukan maumu, cita-citamu sejak kecil,” ujar Kibum. “Tapi kenapa kalian harus terlibat? Kau dan teman-temanmu kan dari bagian persandian, bukan foransik, kepolisian, atau bagian yang biasanya terlibat. Apa ada kode-kode aneh dalam kasus itu?” Mendengar ucapan Kibum aku langsung teringat sesuatu dan langsung membuka tasku dan mengeluarkan laptop. Aku langsung membuka dan mengetik password karena laptopku hanya ku-sleep kan, tidak di shut down. “Ah, kuharap kau menjaga rahasia oppa. Sepertinya kau tadi tidak menonton konferensi pers oleh inspektur Siwon yah. Ini, biar kutunjukkan.” Aku langsung membuka foto selembar kertas berisi kode-kode yang ditemukan di atas mayat Kim Heechul. Kibum geleng-geleng kepala melihatnya. “Kebetulan tadi rekan-rekanku heboh membicarakan ini. Apalagi para yeoja, mereka sibuk membicarakan inspektur Choi yang kata mereka tampan itu. Dan mereka juga membicarakan kertas berisi kode yang ditunjukkan oleh inspektur itu. Mungkin yang ada di foto itu.”

“Wah, exactly, oppa!” kataku sambil mengacungkan jempol kananku. “Mwo? Maksudmu, inspektur Choi itu memang tampan?”

“Ah, anhi,” jawabku cemberut. “Masih tampan Sungmin oppa.” Kibum hanya tertawa melihat wajahku yang cemberut. Dia mengacak rambutku, “Aigoo dongsaengku, kau lebih cantik kalau cemberut daripada saat kau bahagia. Itu lebih menyeramkan.”

“Ya!” Aku langsung menjitak kepala Kibum. kibum tertawa, “Haha, oke lanjutkan Hyerin.”

“Nah, sebenarnya aku yang memecahkan kode itu. Bahasa Belanda untungnya setelah kode-kode ini diterjemahkan, kecuali pada baris keempat tentunya. Tapi ada yang belum kupecahkan.”

“Yang mana?”

“Oppa, apa kau tahu ini apa?” tanyaku sambil menunjuk lambang

. Kibum mengamatinya beberapa saat, mungkin untuk berpikir. Ah sepertinya dia tahu, semoga. Dan langsung saja, Kibum tersenyum lebar. Aku langsung mengerti maksudnya, “Kau tahu?”

“Ini mudah sekali, Hyerin,” ujar Kibum. “Masa kau tidak ingat lambang ini sih.” Aku hanya menggelengkan kepala tanda tidak tahu. Kibum kembali tertawa, “Jinjja? Kau tidak pernah membaca majalah remaja Amerika?” Aku tetap menggeleng. Kibum menatapku heran, “Jinjja? Aigoo… Hyerin-ya, kita kan tinggal disana selama enam tahun. Itu artinya sejak kau kelas tiga SD sampai kelas sembilan SMP. Dan aku dari awal SMP sampai SMA.”

“Iya oppa, aku juga tahu itu. Tapi benar aku belum pernah membaca majalah remaja anak-anak Amerika dari dulu. Bahkan sampai sekarang. Aku kurang suka dengan majalah mereka. aku lebih tertarik membaca koran daripada membaca majalah begituan,” kataku. Kibum masih menatapku heran lalu menghela napas, “Fuhh, Hyerin saeng, sepertinya aku memang harus tunjukkan padamu ya apa itu majalah remaja Amerika.” Kibum pun langsung pergi ke rak buku yang berada di depan tempat kami duduk. Dia langsung mengambil sesuatu yang cukup usang dari sana dan langsung melemparkannya di atas kepalaku. Dengan reflek aku menangkapnya. “Nice catch!” ujar Kibum. Aku hanya menyeringai lalu melihat kover depan majalah, “Cosmopolitan? Empat tahun lalu? Hei, oppa, ini kan majalah untuk wanita. Kau ini kan namja. Apa kau…”

“HEI!” potong Kibum. “Itu punya mantan yeojachinguku dulu di Amerika, Joanne. Kau ingat kan?” Aku mengangguk. Siapa yang tidak ingat, Joanne Sanders, itu adalah pacar pertama Kibum saat kelas sebelas SMA. Sayang hubungannya hanya bertahan enam bulan entah alasannya apa. “Nah dia memberiku kenang-kenangan majalah itu saat kelulusan SMA. Katanya hadiah ini akan berguna suatu saat nanti. Aneh,” lanjutnya. Haha, memang aneh, masa seorang namja dihadiahi majalah seperti ini.

“Kalau tidak salah, buka halaman 40,” perintah Kibum yang masih di depan rak. Tanpa pikir panjang aku langsung membukanya. Ramalan horoskop. Tunggu, horoskop? Sepertinya tidak asing bagiku. Ya, horoskopku adalah Aries. Itu yang aku tahu, karena aku lahir di mingggu akhir bulan Maret. Aku langsung membaca ramalan untuk horoskopku. Keuangan sulit, asmara lumayan lancar… hah, omong kosong! Lagipula ini kan ramalan empat tahun lalu. Tiba-tiba saja mataku tertuju pada gambar di samping tulisan untuk ramalan Aries.

“Oppa? Yang di sebelah kanan tulisan ini apa?” tanyaku sambil menunjukkan lambang tersebut ke Kibum. kibum tersenyum, “Itu lambang zodiaknya, Hyerin. Sekarang, lihat lambang untuk zodiakku. Aku, Virgo.” Langsung saja aku melihat kolom untuk zodiak Virgo, dan betapa tercengangnya diriku.

Jadi yang ada di kertas itu, lambang zodiak Virgo? Kalau iya kenapa pelaku itu harus memberi tanda itu? “Op…pa?” panggilku ke Kibum. aku masih terpaku pada lambang itu. Tidak ada jawaban. “Oppa?” Tetap tidak ada jawaban. Aku melihat sekeliling ruang baca, tidak ada orang. Hanya aku. Hah hilang kemana dia? Aku langsung keluar dengan tetap membawa majalah tadi. setelah kucari-cari ternyata dia sedang sibuk di dapur.

“Kau ini kebiasaan. Kalau sudah depan buku tidak sadar lingkungan sekitar,” ujar Kibum sambil memasak. “Apa kau tidak tahu sekarang sudah setengah tujuh?” Aku melihat jam tanganku, memang benar, sudah setengah tujuh. “Apa kau tidak ingat namjachingumu akan kesini?”

Mataku langsung terbelalak, terkejut. Ah iya, Sungmin oppa. Sebentar lagi dia akan datang. Aigoo… “Ah, mianhae, aku lupa. Oppa, kubantu ya,” kataku sambil menghampiri Kibum yang masih sibuk memasak di dapur. Tetapi Kibum menggeleng, “Anhi! Kau mandi sana! Badanmu lengket! Pakai saja salah satu baju Seo In. Ukuran badannya sama denganmu kok.”

“Anhi, aku pakai baju oppa saja,” rengekku.

“Paboya! Kau ini kan akan bertemu namjachingumu, Hyerin! Bukan bertemu orang lain. Pakailah baju yang pantas sekali-kali,” omel Kibum yang masih saja berkutat dengan masakannya. Aku mengerucutkan bibir, “Ah, araseo. Untuk kali ini saja.” Akupun langsung pergi mandi.

***

“Huah, mana dia? Lama sekali,” keluhku. “Oppa, sekarang jam berapa?”

“Jam delapan lewat lima menit,” jawab Kibum sambil memandang jam dinding. Kami berdua duduk bersebelahan di ruang tengah. Aku menggembungkan pipiku sambil menopang wajahku dengan kedua tangan di lengan sofa. “Kenapa Sungmin oppa lama sekali? Dia bilang setengah delapan akan datang.”

“Kau coba telepon dia saja,” ujar Kibum yang masih menatap jam dinding. Aku langsung mengambil handphone di meja depan kami dan langsung menelpon Sungmin.

Yoboseyo?

“Oppa, kau dimana?”

Aku sudah di depan rumah oppamu, Hyerin!” Sungmin langsung memutus telepon. Lima detik kemudian bel pintu rumah berbunyi. Aku langsung berdiri dan berlari ke depan pintu. ‘Pasti dia’ pikirku. Saat kubuka pintu seorang namja imut dengan setelan kemeja putih, jas hitam, dan celana hitam tersenyum padaku dengan senyuman gigi kelincinya yang khas. “ANNYEONG HASEYO!”

“Oppa!” seruku dengan tersenyum riang. Akhirnya yang kutunggu datang, namjachinguku, Lee Sungmin.

“Mianhae chagi aku terlambat. Aku harus berurusan dengan sajangnimku cukup lama,” sesal Sungmin. Walaupun aku agak kesal tetapi setelah melihat dia menyesal dengan wajah aegyonya aku tidak jadi marah. Ah, neomu yeoja-killeo. “Ah gwenchana oppa. Setidaknya kau datang walaupun terlambat… sangat.”

“Mianhaeyo, Hyerin,” sesalnya sekali lagi. “Ini untuk permintaan maafku.” Sungmin mengeluarkan tangan kanannya yang ternyata sejak tadi dia sembunyikan di belakang. Dia memberiku sesuatu. Aku membuka mulutku lebar dan menerimanya, “Go… go… gomawo, oppa.” Sebuket bunga mawar putih dan merah yang cukup besar. Aku mencium baunya, “Hmm… wangi sekali, oppa.”

“Tentu saja. Aku kan baru membelinya, hehe,” balas Sungmin. Aku menyeringai kecil mendengarnya.

“Geolonde, Hyerin, neomu yeppeo. Aku suka kau memakai pakaian wanita.” Aku tersenyum malu mendengarnya, “Setiap hari kau selalu berkata itu, oppa. Tapi aku tidak merasa begitu. Tapi, gomawo.” Tiba-tiba Kibum berteriak, “HEI KALIAN! APA KALIAN TIDAK LAPAR HAH!? MAKANANNYA SEBENTAR LAGI DINGIN! HYERIN-YA, SAMPAI KAPAN KAU MEMBIARKAN NAMJACHINGUMU DI DEPAN PINTU HAH!?”

“Ah ne, oppa. Sungmin oppa, ayo masuk. Kibum oppa sudah memasak untuk kita,” ajakku. Aku menarik tangan Sungmin menuju ruang makan. Di atas meja makan sudah tersedia beberapa makanan yang dimasak Kibum dan ditata oleh kami berdua. Aku, Kibum, dan Sungmin langsung duduk di kursi yang tersedia.

“Kita berdoa dulu sebelum makan,” kata Kibum. Kamipun berdoa dipimpin oleh Kibum. Setelah itu kami langsung menyantap makanan di atas meja. Sungmin terlihat sangat lahap menyantap makanannya. Hal ini membuat Kibum heran dan langsung bertanya pada Sungmin, “Otte?”

“Hmm… mashita hyung,” jawab Sungmin sambil menyantap daging bulgoginya. Aku tertawa kecil melihat makannya yang sangat lahap. “Oppa, kau lahap sekali. Kau sangat lapar ya?”

Sungmin langsung menghentikan makannya, “Oh, mianhae, Hyerin. Dari sore aku belum sempat makan. Hyung, mianhae aku tidak sopan.”

“Ah, gwenchana, Sungmin. Aku senang melihat orang yang makannya lahap.” Kibum lalu mengerling ke arahku, “Hyerin-ya, sepertinya kau harus belajar memasak mulai saat ini.”

“Oppa, aku ini bisa memasak!” ujarku kesal. “Walaupun tidak semahir dirimu.” Kibum hanya tertawa. Lalu dia langsung mengalihkan pandangannya ke Sungmin, “Hei! Geulonde, kapan kalian akan menikah?” Aku langsung tertegun mendengar ucapan Kibum. Kenapa harus pertanyaan itu? Tetapi tidak dengan Sungmin. Wajahnya sangat tenang, lalu dia berbicara, “Eh, sebenarnya hyung, aku sudah melamarnya semalam.”

“Mwo!? Melamar Hyerin? Semalam? Jinjja?” tanya Kibum tidak percaya. Sungmin hanya mengangguk. Dengan senyumnya dia menunjukkan cincinnya yang dia pakai di jari manis sebelah kiri, “Semalam kami makan malam di restoran. Lalu aku bilang kalau aku ingin menikah dengan dongsaengmu dan kupasang cincin di jari manis sebelah kirinya.”

“Whoa,” gumam Kibum. “Saeng, tunjukkan cincinnya pada oppamu ini.”

“Mwo?” Aku langsung menunjukkan tangan kiriku. Aigoo… aku tidak memakai cincinnya. Paboya! “Kau tidak memakainya?” tanya Kibum.

“Ah oppa, mianhae,” kataku sambil menunduk lemah. “Cincinku… ketinggalan di apartemen. Aku melepasnya saat ingin mandi dan aku lupa memakainya. Mianhae.” Aku tetap menunduk malu. Paboya! Rutukku sekali lagi. Tiba-tiba tangan kiriku digenggam oleh seseorang.

“Gwenchana, Hyerin,” kata Sungmin. Aku mendongak, ternyata dia yang menggenggam tanganku. “Jinjja?” Sungmin hanya mengangguk. Dan kami bertiga melanjutkan obrolan kami di meja makan.

***

“Oppa, gomawo telah mengantarku,” kataku sebelum membuka pintu kamar apartemenku pada Sungmin. Sekarang sudah jam setengah dua belas malam. Aku memutuskan kembali ke apartemen dengan alasan Kibum tidak perlu ditemani malam ini.

“Sudah kewajibanku Hyerin. Istirahatlah, jangan begadang terus,” kata Sungmin menasehatiku. Aku menyeringai, “Ne, oppa. Hari ini kan tidak ada siaran pertandingan sepakbola di televisi.” Sungmin menggelengkan kepalanya, “Hah, apa menariknya sepakbola sih?”

“Bagiku menarik,” balasku. “Sungmin oppa, mulai besok aku akan memakai cincin darimu.”

“Aku tidak akan memaksamu untuk memakainya. Kalau kau tidak senang memakainya tidak apa-apa. Asalkan kau tetap mencintaiku. Jeongmal saranghae, Hyerin.”

“Nado, Sungmin oppa,” balasku. Sungmin langsung melambaikan tangan padaku, “Annyeong, Hyerin-ya.” Aku membalas lambaiannya. Sungmin pun menghilang dari pandanganku. Dia sudah pergi. Aku langsung mengeluarkan kunci apartemen dari celanaku dan memasukkan kunci ke lubang pintu.

“Kim Hyerin!”

Aku terkejut. Ada yang memanggil namaku. Aku langsung menoleh ke belakang. Ternyata namja yang tinggal di sebelah apartemenku yang juga menjadi rekan kerjaku selama setahun di restoran Shindong-ssi, sekaligus teman dekatku. “Zhou Mi? Gwenchana?”

“Habis pergi dengan namjachingumu?” tanyanya. Aku mengangguk, “Ne, gwenchaneyo?”

“Apa dia namja yang baik?” tanyanya lagi. Sekali lagi aku mengangguk, “Ne, tentu saja. Aku sudah lama mengenalnya.”

“Jinjja?” kali ini Zhou Mi melipat kedua tangannya di dada sambil menyeringai. “Kau yakin?” Lagi, aku mengangguk, “Tentu saja aku yakin.”

Kini Zhou Mi menyeringai semakin lebar, “Aku tidak yakin. Dia tidak sebaik yang kau kira. Annyeong.” Dan Zhou Mi langsung masuk ke apartemennya. Aku melongo sesaat. Dia Zhou Mi kan? Iya, kakinya menapak. Dia bicara apa sih barusan? Aku tidak mengerti maksudnya. Ah, mungkin ini karena aku terlalu lelah. Aku langsung membuka pintu dan masuk lalu menguncinya. Setelah itu aku berganti pakaian Seo In noona yang membuatku agak aneh karena sedikit ketat dan tidur.

Iklan
Komentar
  1. ni wayan berkata:

    neomu yeppeo san-..- haha makin seru, ini sungmin kenapa ini penasaraaaan-_-

  2. Vie chubby luph hyukie berkata:

    HuaaaAAA……. Akhirnya part 9 ada,, (ru baca ff lagi, keinget ma ff ini)….. Jd tmbah pnasaran,,,, dtungguu thor lanjutannya….!!! Author DAEBAK… (dpart yg dlu koment gg ya???lupa)

  3. bluerhey berkata:

    ini lanjutannya mana thor?? makin penasaran…

  4. lanjutin thor lanjutin! aku penasaran sama sungminnya!
    oh iya sebelumnya mian baru ngomment di part yang ini. maap ya thor.
    DAEBAK ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s