Untuk Timbunan

Posted: Juli 23, 2014 in Uncategorized

Beberapa sumber mengatakan bahwa golongan darah A adalah penyimpan rahasia yang baik, termasuk rahasia dirinya sendiri. Golongan darah A adalah orang yang tertutup tentang dirinya. Berhasil menyimpan rahasia di balik ekspresi wajahnya. Benarkah?

Kurasa benar. Karena golongan darahku A, rhesus positif.

Dan ya, aku berhasil menyimpan rahasia di balik wajahku yang gila. Berhasil menyimpan kesedihan, amarah, kecuali di saat aku tidak sabar lagi. Juga dalam masalah perasaan ke lawan jenis. Kurasa aku boleh sombong sedikit–sedikit saja–bahwa aku berhasil memasang seribu wajah soal perasaan.

Aku boleh menyukai atau menjadi fans seseorang, entah artis, orang yang lebih tua, orang berprestasi, orang tampan. Aku sampai mengeluarkan ekspresi yang berlebihan tentang orang yang aku gemari.

Tapi tidak ke satu orang. Seseorang. Orang yang sudah kukenal cukup lama.

Karena golongan darah A dan wanita, aku lebih bisa menyimpan semuanya. Seperti menimbun barang ke dalam tanah. Hal itu hanya kupendam.

Tapi kerennya, aku bisa bertindak biasa padamu, karena perlakuanku terhadap hampir semua teman dekat yang berlawanan jenis hampir sama. Begitu juga deganmu. Keren prok prok prok.

Dan tak kusangka sudah hitungan tahun perasaan ini terpendam. Aku tetap memasang seribu topeng untuk menutupi perasaan sebenarnya. Anehnya perasaan itu seperti laut, kadang pasang kadang surut.

Tapi itulah cinta, bukan? Itu sih yang kubaca dari buku, internet, dan kata orang-orang. Terkadang rasa itu menjadi di level tertinggi, tetapi tak jarang juga menjadi benci sebenci-bencinya. But, the more I hate you, the more I love you. Itu yang kebanyakan orang bilang.

Saking terpendamnya sampai-sampai orang-orang tidak tahu apa yang sebenarnya kurasa terhadapmu. Aku harus berbicara dan memberi teka-teki hingga mereka menemukan jawabannya. Saat mereka tahu, satu ekspresi yang kutangkap: terkejut. Hoho, apakah aktingku terlalu bagus? Apa topeng yang kubuat terlalu bagus sehingga kalian tidak tahu? Joho! Heel goed ik denk.

Tetapi seiring berjalannya waktu, aku berpikir, volume air yang semakin besar dalam suatu wadah hanya akan membuat air itu menjadi meluap jika tidak dialirkan atau digunakan, bahkan bisa membuat wadah itu menjadi rusak. Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya ia jatuh juga. Serapih-rapihnya aku menyimpan suatu saat akan terungkap juga. Waktu terus berjalan. Waktunya pasti akan tiba. Tapi entah kapan. Beberapa mulai mengetahuinya.

Tetapi… apakah kau mengetahuinya? Apa kau mengetahui aktingku? Apa kau mengetahui wajah asli di balik topeng yang kubuat?

Apakah kau mengerti perasaan asliku terhadapmu?

Semoga barang yang ditimbun adalah plastik.

Untukmu, barang yang ‘tertimbun’

Flashback (Part 1)

Posted: Maret 4, 2013 in Uncategorized
Tag:,

Agustus 2012

Seorang yeoja duduk di kursi meja belajar di kamarnya sambil membuka sebuah halaman buku yang telah ditulis rapi. Di halaman pertama sampul itu tertulis huruf besar yang dihias dengan tulisan, “REMINDER”. Pengingat. Lalu yeoja itu mebuka satu persatu halaman buku itu. benar hanya sebuah pengingat.

Tugas matematika. Besok pakai seragam bla bla bla… Eomma menginap seminggu. Besok makan kimchi. Besok praktikum… bla bla bla.

Dan sampailah ia pada halaman yang diberi penanda berwarna merah. Ternyata bukan pengingat lagi, tapi seperti buku harian. Yeoja itu membacanya, dan membuat dirinya teringat kejadian tiga  tahun yang lalu.

Akhirnya aku kembali ke negaraku setelah menjelajah Inggris, Kanada, dan Taiwan bersama eomma karena pekerjaan eomma dan nuklirnya. Aku kembali ke Korea Selatan, tepatnya di Seoul. Hanya setahun aku berada di Busan. Tapi ini benar-benar negaraku, maksudku, aku kembali ke tempat asalku, Seoul, walaupun beda daerah.

Dan saat pertama kali pindah, malamnya, eomma kembali bekerja, sementara aku di rumah. Aku memutuskan untuk mengunjungi tetangga baruku. Dan yang pertama kukunjungi adalah rumah keluarga Shim. Aku kenal dengan nyonya Shim dan anaknya, Hyori…

***

Oktober 2008

“Hyori-AH, ayo kemari!!!”

Seorang yeoja bernama Shim Hyori langsung mengahmpiri ibunya di ruang tamu dengan sedikit ogah-ogahan sambil memanyunkan bibirnya. “Aah eomma, kau menggangguku menonton bola saja.”

“Ya, nappeun yeoja!” ibu Hyori langsung menyentil dahi anaknya. Hyori tidak berteriak kesakitan, hanya mengelus kepalanya yang habis disentil. “Kau ini! Tetangga baru kita ingin berkenalan denganmu, tahu!” bentak ibunya. Hyorin hanya mendesis pelan, “Ssh…”

“Nah, Jongdae-ah, perkenalkan. Ini anakku, Hyori. Mian, anak ini memang harus lebih diajarkan sopan santun,” ujar ibu Hyori pada seorang namja yang sedari tadi duduk diam. Namja bernama Jongdae itu langsung berdiri dan membungkukkan padanya di hadapan Hyori, “Annyeong haseyo! Kim Jongdae imnida.”

Hyori membalas bungkukan Jongdae, “Shim Hyori imnida.” Lalu kembali berdiri, “Eomma, sudah ya. Aku ingin kembali menonton.” Hyori berbalik badan lalu berjalan pergi , “Anny..”

“Anhi, Hyori!” Eommanya menarik tangan Hyori paksa sehingga Hyori kembali ke posisi semula. “Kau ini tidak sopan ya. Eomma ingin memasak dulu. Kau, tetap disini temani Jongdae mengobrol.” Lalu ibu Hyori berbicara pada Jongdae, “Jongdae-ssi, aku permisi dulu ya. Disini saja, Hyori akan menemanimu.” Jongdae mengangguk sambil tersenyum, “Ne, ahjumma.” Ibu Hyori langsung berjalan menuju dapur meninggalkan Hyori dan Jongdae.

“Hajiman, eomma, pertandingannya… big match…” ujar Hyori. Ibu Hyori langsung membalikkan badannya lalu jari telunjuknya menunjuk ke arah Hyori, “Menurut padaku atau kau tidak kubolehkan menonton bola selamanya, juga latihan sepak bolamu kuhentikan,” ancam eommanya. Lalu eomma Hyori kembali berjalan menuju dapur untuk memasak.

“Eomma… aishh…”

***

HYORI’S POV

“Eomma… aishh…”

Dasar eomma! Aku sedang asyik menonton bola malah diganggu. Aigoo, Manchester United lawan Arsenal, aigoo. Dan skornya sedang 1-1, 15 menit lagi pertandingannya selesai.

Aku menoleh ke namja yang bernama, ah, Kim siapa tadi, Kim Jaedong. Anhi, namja ini bahkan lebih buruk dari Kim Jaedong yang sering muncul di televisi, sebenarnya bukan jelek. Tapi kacamatanya yang terlihat tebal itu, aisshh. Pokoknya kalau Manchester United kalah hari ini anak inilah yang menyebabkan kekalahan mereka. Oh iya, aku ingat, Jongdae namanya. Haha, baru beberapa menit yang lalu dia memperkenalkan diri.

Sadar aku menatapnya, anak ini tersenyum padaku. Chakkaman, sepertinya anak ini seumuran denganku. Ungg, atau, umurnya tidak jauh dariku kurasa. Aku langsung berjalan duduk di sampingnya. Diam saja, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Yah, aku memang selalu merasa kaku saat pertama kali bertemu dengan orang baru. Jongdae menatapku, tapi dia juga diam saja. Ah, apa aku yang harus memulainya? Oke, kucoba saja. “Ngg, h-hai,” ujarku sambil tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangan.

“H-hai juga,” balas Jongdae. “Namamu Hyori?”

“Ne. Ungg, namamu Jongdae kan?” tanyaku kaku. Jongdae mengangguk. Lalu aku menepuk kepalaku sendiri, “Ah iya, tentu saja kita tahu. Kan kita baru saja berkenalan. Ha-ha-ha…” Tawaku dipaksakan, sungguh dipaksakan, untuk menghilangkan rasa kaku diantara kami. Tapi tetap saja kaku. Lalu aku menarik napas, Shim Hyori, tenangkan dirimu, kau pasti bisa, “Oh ya, Jongdae-ssi, berapa umurmu?”

“15 tahun. Neo, Hyori-ssi?,” jawab Jongdae. Aku langsung melebarkan kedua mataku. Anak ini ternyata… sejenak rasa kakuku pun hilang, “15 tahun? Ya! Umurku juga sama denganku, Jongdae-ssi. Aku kelas 9, bagaimana denganmu?”

“Nado.” Sama denganku, kini Jongdae tersenyum lebar. “Ah, senang sekali aku punya tetangga seumuran denganku. Oh ya, besok aku akan jadi murid baru di SMP Kyusung.”

“Mwo? SMP Kyusung, jinjja!? Sama denganku! Aku sekolah disana juga!”

***

“Ya, Shim Hyori! United kalah semalam, hahaha,” ejek teman sekelasku, Byun Baekhyun, saat aku berjalan menuju tempat dudukku. Aku memanyunkan bibirku, tidak usah diberitahu juga aku tahu berkat siaran berita tadi pagi, “Berisik kau, Bacon! Aku juga tahu.”

“Ya! Gwencanayo?! Gwenchanayo!?” Kali ini datang lagi seseorang, teman sekelasku juga, Park Chanyeol. Chanyeol langsung menatapku yang cemberut. Dia langsung tertawa, “Ah ne, aku tahu. Aku juga menontonnya sebagai seorang Gunners. Hyori-ya, timmu kalah! Hahaha…” Dan kini tidak hanya Chanyeol saja yang tertawa. Baekhyun yang sempat diam sesaat pun kembali tertawa. Lalu datang lagi seseorang, “Ya! Cukup kalian berdua! Jangan menertawai Hyori!”

Aku menoleh, kali ini Do Kyungsoo yang datang. Aku merasa sedikit lega. Oh ya, Do Kyungsoo. Walaupun usianya sama denganku tapi sikapnya sudah seperti ibu-ibu. Bukan, bukan banyak omong, tapi sikapnya sangat tenang dan berpikiran dewasa, juga dia yang paling pintar di kelas. Bagiku, dia seperti eomma. Bahkan dia jago memasak. Hah, aku saja kalah jauh.

Aku tersenyum cerah ke Kyungsoo, mataku langsung berbinar, “Kyungsoo, kau menyelamatkanku.”

“Tentu saja, kau ini kan yeoja. Seorang namja harus melindungi seorang yeoja yang tersiksa,” ujarnya. Aku menepuk kepalaku, anak ini, terlalu dewasa kurasa. Sok dewasa.

“Tapi aku kasihan padamu, Hyori-ya. Semalam Manchester United kalah tuh dengan Arsenal 2-1,” ujar Kyungsoo polos. Kembali, Chanyeol dan Baekhyun tertawa keras, diikuti Kyungsoo yang juga ikut tertawa. Aku menatapnya geram, “Tertawalah sepuasmu, kawan! Kita lihat saja siapa yang akan menjadi juara musim ini!” Aku langsung menaruh tasku asal di atas meja dan duduk.

“ANNYEONG HASEYO, SEMUANYA!!!” Seonsaengnim kami, Kwang Tae Sung , datang. Chanyeol, Baekhyun, dan Kyungsoo langsung berlari ke tempat duduk masing-masing. Baekhyun yang tempat duduknya di ujung harus berlari.

“Byun Baekhyun, kebiasaan,” gumam Kwang seonsaengnim. Aku tertawa kecil mendengar gumamannya. “OKE, ANAK-ANAK! HARI INI KITA MEMPUNYAI TEMAN BARU! HEI, NAK, AYO MASUK!”

Orang yang dipanggil oleng Kwang seonsaengnim pun masuk. Aku langsung melebarkan kedua mataku. Jongdae!? Tetangga baruku itu sekelas denganku. Ini dia penyebab kekalahan Manchester United semalam, rutukku. Ah anhi, Hyori, jangan salahkan tetangga barumu itu, kan bukan dia yang bermain.

***

Aku berjalan menuju gerbang sekolah sendirian. Sekarang semua pelajaran untuk hari ini sudah selesai. Beberapa menit yang lalu bel pulang berbunyi. Sekarang aku berjalan sendiri sambil memegang kedua penyangga ranselku.

“SHIM HYORI!!! HYORI-SSI!!!”

Aku menoleh. Namja berkacamata tebal itu yang memanggilku, maksudku, tetangga baruku, Kim Jongdae. “Eoh, Jongdae-ssi?”

“Ne,” dia tersenyum sambil membenarkan kacamatanya yang goyang karena berlari. “Kau sendirian?”

Aku mengangguk, “Tentu saja. Setiap hari aku selalu pulang sendiri.”

“Kalau begitu kau punya teman mulai sekarang,” kata Jongdae sambil terkekeh, “Kaja! Kita pulang bersama.”

Aku terdiam sesaat tetapi bahagia. Akhirnya, setelah sekian lama ada juga teman pulang. Karena tidak ada teman yang satu rute denganku selama ini. Kamipun berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Tiba-tiba sebuah suara datang dari seseorang yang menghampiriku. Baekhyun, Chanyeol, dan Kyungsoo, yang berlari menghampiriku dan Jongdae. “HYORI-YA! HYORI-YA!!!”

Aku hanya menoleh lalu berhenti melangkah, begitu juga mereka bertiga dan Jongdae. “Hyori-ya! Aku ingin memberi tahumu tentang sesuatu. Tapi sangat rahasia. Jadi sini, kubisiki,” ujar Baekhyun sambil merangkul bahuku. Baekhyun memberi isyarat padaku untuk mendekatinya. Aku menurutinya. Lalu mulut Baekhyun mendekati telngaku dan berbisik, “Hyori-ya, apa kau tahu kalau ternyata…”

“Mwo!? Ternyata apa? Ppali,” ujarku penasaran. Baekhyun langsung menarik napasnya dan kembali berbisik di telingaku, “tahukah kau kalau ternyata… MANCHESTER UNITED KALAH 2-1 SEMALAM!!!”

Sialan! Teriakan Baekhyun membuat telingaku berdengung. Refleks aku meloncat terkejut, sementara Baekhyun tertawa terbahak-bahak bersama Chanyeol dan Kyungsoo. “Grr… Byun Baekhyuuunnn!!!” geramku sambil mengepalkan tangan kanan. “Neo… Baek-“

“ANNYEONG!” Baekhyun, Chanyeol, dan Kyungsoo meninggalkanku.

“KITA LIHAT SAJA SIAPA YANG TERTAWA PALING TERAKHIR, PABO!!!” teriakku. Tetapi mereka bertiga berjalan terus, tidak menghiraukanku kurasa. Aku mendengus keras. Awas kalian, rutukku. Tiba-tiba seseorang di sebelahku tertawa, Jongdae. “Ya, neo! Tertawalah sepuasmu! Kau orang terakhir di kelas yang menertawaiku karena hal ini.”

“Ah, mianhae, mianhae, hahaha…” Jongdae mencoba menghentikan tawanya, dan akhirnya berhenti juga. “Bukan, bukan karena aku menertawakan kekalahan Manchester United. Tapi kau. Baru kali ini aku menemukan yeoja sepertimu.”

“Menertawakanku? Wae?” tanyaku bingung. Apa dia menertawai wajahku yang jelek? Ah, kalau hal ini aku tidak perlu kaget. Jongdae kembali tertawa, “Haha, kau… unik.”

“Unik? Waeyo?” ulangku. Wae? Apa yang aneh dariku? Jongdae mengangguk, “Ne, baru pertama kali aku bertemu dengan yeoja yang begitu maniaknya dengan sepakbola. Ternyata ada juga yeoja seperti ini.”

“Pertama kali?” ulangku dengan nada heran, “Hah, kau ini. Masa di sekolahmu dulu tidak ada yeoja sepertiku sih.” Jongdae menggeleng, “Anhi, kau yang pertama.” Aku semakin menatap Jongdae heran, mana mungkin aku yang pertama. Setahuku setiap sekolah pasti ada yeoja yang menyukai sepakbola walau hanya satu orang. Apa dia hanya bergaul dengan namja saja ya?

“JONGDAE! JONGDAE-AH, DISINI KAU TERNYATA!!!” Kini seorang wanita datang menghampiri kami. Lebih tinggi dari kami berdua, memakai kacamata hitam, rambut sebahu, dan memakai pakaian layaknya wanita kantoran. Wanita itu lalu membuka kacamata hitamnya, “Jongdae-ah, jigeum, kaja!”

“Eomma?”Jongdae langsung mengeluarkan sebuah buku hitam dan membuka salah satu halamannya, lalu dia langsung menatapku dengan rasa bersalah, “Hyori-ssi, mianhae, aku tidak bisa pulang bersama denganmu hari ini. Aku ada perlu dengan eomma. Mianhae.” Lalu Jongdae menoleh ke arah eommanya, “Eomma, perkenalkan. Ini temanku dan tetangga kita, Shim Hyori.”

“Annyeong haseyo! Shim Hyori imnida,” ujarku sambil membungkukkan badan ke hadapan eomma Jongdae. Eomma Jongdae tersenyum, “Aku eommanya. Oh kau tetangga baru kami. Shim… ah ya! Kau tinggal di sebelah rumah kami ya?” Aku mengangguk.

“Sebelum kemari aku mengunjungi rumahmu dan berkenalan dengan eommamu. Bangapseumnida,” ujar eomma Jongdae. Aku hanya tersenyum.

“Jongdae, kaja! Oh, kau duluan ke mobil sana!” seru eomma Jongdae. Jongdae menurut ia berjalan meninggalkan kami berdua. Sebelumnya dia mengucapkan selamat tinggal padaku sambil melambaikan tangan, “Besok kita akan pulang bersama, Hyori.” Aku membalas lambaiannya sambil tersenyum.

“Hyori-ya, boleh aku minta bantuanmu?” ujar eomma Jongdae dengan nada serius. Dia memegang kedua sisi bahuku. Aku menatapnya bingung, “Ne, ahjumma?”

“Tolong lindungi Jongdae, Hyori.”

Mwo? Kenapa eommanya menyuruhku melindungi Jongdae? Dia kan namja. Seharusnya dia bisa melindungi dirinya sendiri.

Setelah mengucapkan kalimat itu, eomma Jongdae pergi menuju mobilnya.

***

“Tolong lindungi Jongdae, Hyori.”

Begitulah yang kulakukan setelah eommanya memberiku amanat seperti itu. Amanat yang sederhana, tapi kurasa aku benar-benar harus melindungi anak ini, Kim Jongdae. Karena aku ingat mata eommanya yang berkaca-kaca. Aku tidak tahu kenapa dia harus dilindungi. Apa dia makhluk langka? Alien dari planet lain? Ah masa bodoh. Lagipula dia kan seorang namja.

***

Pertanyaanku ternyata membuahkan hasil. Benar-benar namja payah. Dia pelupa berat! Bayangkan saja, seragam apa yang harus dipakai saja dia lupa. Dia seringkali salah membawa buku pelajaran. Sering lupa membawa kacamata. Dan lebih parah lagi, dia sering terlambat dengan sebab yang agak menggelikan. Dia lupa jalan menuju sekolah, dan bukan hanya sekali. Setiap berangkat sekolah aku memang selalu jalan sendiri. Dan hal ini membuat dirinya sering mendapat ejekan dari teman-temannya, tidak hanya teman sekelasku, bahkan hampir satu sekolah. Parah sekali anak ini!

***

Seminggu setelah amanat eommanya Jongdae, saat pulang sekolah. Seperti biasa, aku pulang bersama Jongdae. “Jongdae, berhenti!” perintahku. Jongdae menurut, kami berhenti berjalan. “Ada yang ingin kubicarakan padamu.”

Jongdae, diam saja, dia hanya menatapku.

“Jongdae, ini pertanyaanku. Kenapa kau sering lupa?” tanyaku langsung ke intinya. Aku tidak terlalu suka berbasa-basi. Oke, mungkin ini pertanyaan yang agak menyakitkan.

Jongdae menggelengkan kepalanya, “Molla. Sejak kecil aku sering mengalami hal ini. Aku sudah mengatasinya dengan mencatat segalanya di buku bersampul hitamku. Tapi tetap saja aku lupa, karena aku juga suka lupa kalau ada buku hitam itu.”

Aku melebarkan kedua mataku. Terkejut? Ya. Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang lupanya parah sekali, dan namja! Aku kembali bertanya, “Geurom? Ya! Kan masih ada eommamu!”

“Eommaku jarang di rumah,” jawabnya. Dia tersenyum kecil dan menarik napas sebelum bicara lagi. “Dia yeoja yang sibuk. Ada saja pekerjaannya yang membuat ia tidak pulang. Dia seorang ilmuwan. Sekarang saja dia sedang di Jepang sedang meneliti nuklir. Aku tidak tahu kapan dia kembali. Ah, chakkaman.” Dia membuka tasnya dan mengambil buku hitamnya, buku, yang ia bilang, sebagai pengingat kurasa. “Ah, dia disana selama sebulan. Lama sekali.”

“Bagaimana dengan appamu?” tanyaku lagi. Kali ini kepala Jongdae mendongak, menatap langit yang tidak terlalu cerah karena musim gugur. “Appa? Eomma dan appa berpisah sejak aku kelas 3 SD. Eommaku yang menjadi ilmuwan yang sibuk dan appaku yang pengusaha membuat mereka jarang bertemu sehingga saat mereka berdua di rumah yang ada hanyalah bertengkar, bertengkar, dan bertengkar. Dan akhirnya mereka berpisah. Aku tinggal dengan eommaku, sementara appaku sendiri. Aku tidak punya saudara. Aku dan eomma selalu berpindah-pindah tempat karena pekerjaan eomma. Bahkan aku juga pernah tinggal di luar negeri. Saat pertama kali kelas 8 kami tinggal di Busan, lalu pindah ke Seoul. Sebenarnya eomma mengajakku tinggal di Jepang, tapi aku menolak.”

“Menolak? Wae?”  tanyaku lagi.

“Pertama, aku tidak ingin meninggalkan negara asalku lagi. Aku bosan pergi ke negara lain dan harus beradaptasi. Kedua, karena aku punya tetangga yang seumuran juga satu sekolah denganku. Itu kau, Hyori. Karena itu aku menolak ke Jepang karena akhirnya aku punya teman,” jawabnya. Dia tersenyum padaku. Aku tidak membalas senyumannya. Aku merasa bersalah padanya, bahkan sangat bersalah, apalagi pada eommanya. Aku hampir tidak pernah mengobrol dengannya, bahkan tak jarang aku mengejeknya selama ini, dan hanya bersamanya saat pulang sekolah, itu saja aku tidak pernah bicara apapun sampai rumah. Dan walaupun aku tinggal di sebelah rumahnya, aku tidak pernah tahu kehidupannya. Yah, memang aku tidak pernah ingin mengurus kehidupan orang lain. “Mianhae,” hanya kata itu yang keluar dari mulutku setelah mendengar kisahnya.

“Gwenchana, tidak ada yang perlu dimaafkan. Ya! Kejadian itu salah satu kejadian yang paling kuingat, Hyori!” ujarnya. Aku menatapnya heran. Tiba-tiba aku tertawa sendiri, “Hah pantas saja kau bilang aku unik. Ternyata karena kau hidup nomaden. Kurasa kau belum pernah berteman dengan yeoja sepertiku.”

“Kau unik? Memang aku pernah bilang itu ya?” tanya Jongdae. Aigoo, mulai lagi lupanya. Dia kembali membuka salah satu halaman buku hitamnya, “Oh hahaha, ternyata aku mengatakan ini padamu 2 minggu yang lalu. Bodoh sekali aku.”

Aku mendengus, “Dasar udang!” gumamku. Jongdae hanya tertawa mendengar gumamanku, “Aku sudah biasa mendengar ejekan itu, Shim Hyori, hahaha.” Anak ini, diejek malah tertawa, bodoh! Tiba-tiba hujan turun rintik-rintik. “Aigoo, ternyata langit gelap tadi benar-benar pertanda hujan. Kaja, Hyori! Kita harus lari sampai rumah!” ujarnya. Jongdae langsung menarik tangan kananku. “Chakkaman!” seruku.

“Mwo?” tanya Jongdae yang berbalik ke arahku. Yang tadinya hanya gerimis kini mulai deras hujan turun.

“Memang kau ingat jalan pulang ke rumah?” tanyaku. Jongdae melepas tanganku, terdiam, “Umm… aku… sedikit…”

“AKU DULUAN! ANNYEONG!” aku langsung berlari meninggalkannya sambil tertawa. “YA! HYORI!!!” aku mendengar teriakannya yang ditujukan padaku. Aku tidak menghiraukannya. Aku terus berlari sekencang-kencangnya, sudah jauh kurasa. Lalu aku berhenti. Astaga, aku harus kembali. Aku takut anak itu tersesat. Hujan kini turun dengan deras, mebuat bajuku basah. Untung saja tasku lapisan luarnya terbuat dari bahan plastik. Bukuku bisa selamat setidaknya. Aku berbalik dan berlari menghampiri Jongdae.

“PABO! JAHAT SEKALI KAU MENINGGALKANKU!” Mwo? Jongdae sudah ada di hadapanku sekarang. Padahal lariku cepat sekali tadi. Tapi dia bisa menyusulku. Ah, tak kusangka.

“Kenapa kau tidak terus berlari, Hyori!? Hujannya deras! Bajumu sudah basah! Kaja!” Dia kembali menarik tangan kananku dan berlari menuju rumah. Bukan dia yang menarikku, tapi aku yang jadi menarik tangannya. Aku tidak ingin tersesat, apalagi sekarang hujan.

Ne, aku akan melindungi anak ini, Kim Jongdae. Ahjumma, akan kulakukan amanatmu.

***

AUTHOR’S POV

“…Si unik, begitu aku memanggilnya. Tetanggaku, tepat tinggal di sebelah rumahku. Aku baru pindah tanggal 21 kemarin, Oktober tentunya.  Kusebut dia unik karena, ah kau tahu, dia itu sangat menyukai sepak bola. Bahkan saat pertama kali aku ke rumahnya, dia bertengkar dengan eommanya yang menyuruhnya menemaniku mengobrol. Padahal dia sedang menonton bola. Big match. Manchester United versus Arsenal, jagoannya si Setan Merah itu. Unik bukan? Aku saja yang namja tidak suka dengan sepak bola seperti namja kebanyakan. Aku lebih suka bernyanyi dan bermain piano.

Oh ya, aku juga satu sekolah dengannya. Semakin unik saja. Dia lebih dekat dengan para namja daripada yeoja. Ah, aku lupa. Suaranya! Suaranya! Berat sekali, bahkan suaraku kalah berat dengan suaranya. Mungkin karena aku belum memiliki jakun yang sempurna. Tapi suaranya benar-banar berat. Padahal saat aku cek lehernya diam-diam, dia normal kok. Tidak ada jakun. Unik. Sudah, itu saja yang aku ingat untuk minggu ini. Ini kan pengingat, bukan buku harian.

Hyori hanya tertawa

Aku selalu pulang bersamanya. Ah, geulonde, aku kembali menjadi bahan ejekan orang-orang karena sifat pelupa parahku ini. Bahkan Hyori juga ikut mengejekku dengan sebutan “udang”. Udang, udang, otak udang maksudnya. Pasti itu. Otak udang kan sangat kecil, otomatis kapasitas untuk mengingat sesuatu juga sangat terbatas. Aku tidak kaget, sebelumnya aku juga sering diejek seperti itu. Aku namja yang payah. Bahkan hal kecil yang penting pun aku harus lupa, salah seragam, membawa buku, kacamata, bahkan bodohnya aku lupa jalan menuju sekolah. Tuhan, aku benci hal ini. Ya! Kenapa aku mulai menulis seperti buku harian lagi? Ah, untuk melatih ingatanku. Ah buku hitam, kau berguna rupanya kekeke~~~

Aku pulang bersama Hyori hari ini seperti biasa. Tiba-tiba dia menyuruhku berhenti. Pertama kalinya Hyori bicara denganku saat pulang. Dan dia menanyakan tentang penyakit lupaku. Jujur, aku bingung kenapa aku seperti ini. Bukan, bagaimana aku menjelaskannya? Dia menanyakan appaku! Appa!? Namja yang sudah 5 tahun tak kutemui. Baru kali ini aku bercerita tentang appa, perceraian appa dan eomma, dan aku yang nomaden, begitu kata Hyori. Nomaden, berpindah-pindah tempat. Dia orang pertama yang kuceritakan tentang hal ini. Juga aku yang menolak ke Jepang dengan eomma.

Tiba-tiba hujan turun. Rumah kami masih jauh. Aku menarik tangannya dan berlari. Tidak, dia berlari duluan, aku dikerjai. Larinya cepat sekali. Untung saja aku bisa mengimbanginya. Haha, dia kira aku ini tidak bisa berlari cepat apa hanya karena penampilanku. Aku menarik tangannya untuk pulang. Tapi jadi dia yang menarik tanganku. Ah kurasa yeoja ini takut tersesat karena aku tiba-tiba lupa rutenya, hehe.

Kami pulang, baju kami basah semua.

Yeoja itu hanya tertawa membacanya. Dasar namja aneh, pikirnya. Lalu ia membuka halaman berikutnya, yang bertanda merah. Ia kembali membacanya.

November 2008…

Ya! Aku kembali menulis catatan seperti ini, kejadian bulan ini, November hampir selesai. Buku hitam jelek, sekarang kemampuan mengingatku sedikit meningkat. Kau tahu kenapa? Itu karena yeoja unik itu.

Setelah kami berhujan-hujanan bulan lalu. Dia jadi berubah. Tidak, dia tetap unik seperti pertama kali kukenal. Tapi dia menjadi lebih dekat denganku, baik di sekolah maupun di rumah. Setiap pagi, ah, bahkan hampir setiap hari dia selalu mengawasiku, seperti CCTV. Ah, tidak, bahkan dia seperti eommaku sendiri.

Dia selalu datang ke rumahku setiap hari untuk membantuku mengingat semua yang kupakai dan kubawa. Ah, kini aku bisa membaca setiap hari karena Hyori, dia selalu mengingatkanku untuk membawa kacamata…

***

HYORI’S POV

November 2008

Aku tiba di rumah Jongdae. Kugedor pintunya, “JONGDAE-AH! KIM JONGDAE!!!” Klik! Pintu pun terbuka. Tampak namja yang masih memakai T-Shirt dan celana pendeknya, juga matanya yang sembab. “Hyori-ya?”

“NEO!!! YA!!!” seruku kaget, “KAU INI KENAPA BELUM PAKAI SERAGAM!?”

Jongdae menggaruk kepalanya, “Seragam? Omo! Aku lupa kalau hari ini belum libur. Astaga, aku baru bangun.”

Mulutku menganga sekarang. Aah, namja parah! “Ppali! Sepuluh menit lagi bel masuk berbunyi. Mandi sana. Memang kau tidak punya alarm apa!?” seruku marah. Jongdae terkekeh, “Hehe, aku lupa menyetel alarmnya. Aku kira hari ini hari…”

“PPALIIII!!!” seruku sambil membalikkan badannya lalu menendang bokongnya. Jongdae pun segera berlari untuk mandi, sementara aku hanya menunggu di ruang depan.

Ne, sejak kejadian hujan-hujanan itu aku bertekad untuk menjalankan pesan eommanya untuk melindunginya. Sejak saat itu aku selalu mengawasinya. Saat bocah itu lupa membawa kacamata, aku membantunya membaca yang ada di papan tulis, supaya anak itu bisa mencatat. Anak ini juga tak luput dari kelakuan jahil orang-orang di sekolah. Dia sering tersandung saat orang lain menjahilinya.

***

KRIIINNGG!!! KRIIINNGG!!! KRIIINNNGGG!!!!

Aku mengerjapkan kedua mataku. Ah rupanya aku tertidur. Dan seperti biasa, aku tertidur saat pelajaran Matematika. Dan sekarang bel yang berbunyi adalah bel pulang sekolah. Semua murid memasukkan bawaannya ke dalam tas, begitu juga aku yang baru bangun dari tidur. Lalu satu persatu murid keluar dari kelas.

Aku menghampiri Kyungsoo yang masih sibuk merapikan bukunya, “Kyungsoo-ah!” panggilku. Kyungsoo menoleh, “Ne?”

“Apa yang dijelaskan Kang seonsaengnim tadi?” tanyaku. Bukannya dijawab, Kyungsoo malah menatap tajam ke arahku, “Neo!? Kau pasti tertidur lagi.”

Aku terkekeh sambil menggarukkan kepalaku yang tidak gatal, “Eoh? Hehe, ne.” Kyungsoo mendengus keras, “Tentang lingkaran. Ya! Bisakah kau tidak tidur saat pelajaran Matematika sekali saja, Hyori!? Sampai kapan nilai Matematikamu jelek terus kalau kau tidak memperhatikannya!?” Aishh, mulut ala eomma kembali muncul. Aku mengangkat kedua bahuku, “Molla. Bermain sepakbola jauh lebih baik dari ini. Sudah aku duluan ya, Kyungsoo. Annyeong!”

“Hyori-ya! Chakkaman!” panggilan Kyungsoo membuatku berhenti melangkah. Aku menoleh padanya, “Gwenchana?”

“Jongdae kemana?” tanya Kyungsoo. Aku menatapnya heran, “Jongdae? Wae? Mungkin dia sudah pulang.”

“Tasnya masih ada di mejanya,” lanjut Kyungsoo. Jinjja!? Aku terkejut, kami berdua menghampiri meja Jongdae yang berada di deret ketiga dan di barisan belakang. Dan benar saja, tasnya masih ada. Begitu juga buku tulisnya, dan ah, kacamata tebalnya!

“Dimana dia!?” tanyaku. Kyungsoo mengangkat kedua bahunya, “Molla.” Tiba-tiba aku mulai panik sekarang. Bagaimana tidak, kacamatanya, aigoo… kalau dia tidak memakai benda ini penglihatannya kabur. Aku langsung memasukkan semua barang-barang Jongdae ke dalam tasnya, lalu kubawa. “Kyungsoo, kaja! Cari dia!” Aku langsung berlari sambil menarik tangan Kyungsoo.

“JONGDAE! JONGDAE!” teriak kami. Tapi hasilnya nihil, tidak ada suara Jongdae di lantai 4. Lalu kami turun di lantai 3, meneriakkan kata yang sama, tapi tidak ada yang menjawab. Lalu kami turun di lantai 1 dan masih meneriakkan kata yang sama, dan tibalah kami di depan toilet pria, aku langsung masuk tetapi tanganku ditahan oleh Kyungsoo, “Andwae!”

“Ya! Sudah tidak ada orang! Aku bukan yeoja pengintip!” seruku. Kyungsoo melepas tanganku dan kami berdua masuk. “KIM JONGDAE!!!” teriak kami di dalam toilet pria.

Tidak ada yang menyahut, tapi ada gemercik air yang berbunyi di salah satu pintu. Kami mencari sumber gemercik itu, dan ternyata sumbernya dari sebuah pintu yang tertutup. “YA! JONGDAE! JONGDAE!!!” teriakku sambil menggedorkan pintu.

“H-Hyori-ya? Kaukah i-itu, hiks…”

“JONGDAE-AH!? YA! BUKA PINTUNYA!!!” Tapi tak ada pintu terbuka. Aku mencoba membuka pintunya. “Sial! Terkunci!” Dan aku langsung menendang pintunya. “Aah, jinjja!!!”

Begitu juga Kyungsoo, dia juga membantuku mendobrak dan menendang pintunya. Setelah ditendang berkali-kali akhirnya terbuka juga. Ekspresi Kyungsoo langsung menunjukkan rasa terkejut serta bersalah, “Aah, aigoo, kita telah merusak fasilitas sekolah. Aduuuh, bisa mati aku.”

“Pabo! Chingu kita lebih penting!” bentakku pada Kyungsoo. Lalu aku melihat Jongdae yang duduk di kloset sambil menangis, “Jongdae-ah! Gwenchana!? Aigoo… bajumu basah semua! Ini, pakai dulu kacamatamu! ” Aku langsung memberikan kacamatanya yang kubawa dari kelas. Dia langsung memakainya.  Jongdae hanya menangis. Kyungsoo melebarkan matanya, “Kenapa bisa begini?”

“Siapa yang melakukannya!?” tanyaku.

***

…Aku tetap diam, tidak menjawab. Lalu Hyori dan Kyungsoo tetap memaksaku untuk bilang siapa yang melakukannya. Akhirnya aku menarik napas panjang dan menyebut nama Joonmyeon. Ne, Joonmyeon lah yang melakukan ini padaku, aku tidak kenal siapa dia. Tapi setelah mendengar nama Joonmyeon kulihat ekspresi Hyori yang berubah menjadi mengerikan. Dan yang keluar dari mulutnya hanyalah umpatan. Entah kenapa, sepertinya dia kenal sekali dengan namja bernama Joonmyeon itu. Lalu dia dan Kyungsoo membawaku pulang ke rumah. Saat pulang, mereka benar-benar seperti eomma, Kyungsoo yang menggantikan baju dan memasak, dan Hyori yang mengompresku (karena aku langsung flu) dan terus bilang ‘gwenchaneyo?’ setiap detik, aku punya dua eomma hari ini kkkkkk~~~!

Aku sudah sehat, aku bisa kembali ke sekolah walaupun Hyori menyuruhku untuk tidak masuk karena badanku yang panas dan menderita flu. Tapi aku memaksa untuk masuk karena sebentar lagi akan ada ujian akhir, jadi aku harus datang ke sekolah dan memerhatikan pelajaran.

Dan waktu istirahat, saat aku berjalan dengan Kyungsoo, saat berada di depan kelas 9-3, aku merasa bersalah, sangat bersalah karena aku menyebut nama Joonmyeon…

***

AUTHOR’S POV

“Ya! Aku melihat orang yang bertengkar hebat tadi di depan 9-3!”

“Jinjja!? Nuguya!?”

“Shim Hyori! Dan Joonmyeon!”

“MWOYA!? MEREKA!?”

Setelah mendengar pembicaraan itu, Jongdae langsung berlari ke kelas 9-3. Dan benar saja, Hyori dan Joonmyeon terlihat sedang berdebat.

“Waeyo!?”

“Aku tidak suka melihatmu dekat dengannya!”

“Wae!? Dia chinguku! Kenapa kau tidak suka melihat kami dekat!? Kau ini siapa hah!?”

“Kau tidak ingat dulu!?”

“Ingat apa?!”

“Masa lalu?”

“Masa lalu apa!? Ya, sejak awal kan kita hanya berteman! Kalau kau tidak suka aku dekat dengan Jongdae, tidak usah berteman denganku. Jongdae itu sahabatku! Aku bertanggung jawab melindunginya!”

***

Melindungiku? Hyori bilang kalau dia wajib melindungiku? Kenapa bisa begitu? Apa maksud Hyori melindungiku? Apa dia kasihan padaku? Aku ini orang yang tidak ingin dikasihani!

Setelah pertengkaran itu, Hyori hanya diam di kelas. Karena pelajaran Fisika, dia hanya tidur di atas meja. Hah dasar yeoja itu, kurasa dia benci segala pelajaran eksak. Aku sebenarnya penasaran siapa itu Joonmyeon. Ternyata anak itu dulu pernah menyatakan perasaannya pada Hyori, tapi Hyori menolaknya karena dia tidak ingin pacaran, Chanyeol yang memberitahuku. Ooh, aku mengerti sekarang. Pantas saja Joonmyeon membenciku. Chakkaman, kenapa dia harus membenciku ya? Dia kan lebih tampan dariku. Ah, dunia ini aneh.

Hyori terus membuka lembar berikutnya. Hanya catatan tidak berguna. Yah, hanya catatan pengingat. Terus dan terus. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah catatan panjang lagi dan Hyori kembali membacanya.

Pulang sekolah! Ada apa dengan pulang sekolah!? Pulang bersama Hyori? Menyadari bahwa eomma masih di Jepang? Ah, bukan. Kali ini lebih menarik…

***

“Jongdae-ah!” Suara Hyori yang cukup keras membuat Jongdae terkejut dan hampir tersedak. “Ya!”

“Ah, mianhae, mianhae! Aku tidak tahu kalau kau sedang makan,” ujar Hyori meminta maaf. Bukannya marah, Jongdae hanya tersenyum kecil, “Gwenchana, Hyori-ya. Kusarankan kalau ingin mengageti orang, lihat dulu situasinya.”

“Nde, nde,” balas Hyori, “Ya! Hari ini kau ada acara atau tidak sepulang sekolah?”

“Hmm,” gumam Jongdae. Dia mengadahkan kepalanya ke atas untuk mengingat-ingat. Setelah itu dia langsung mengeluarkan buku hitamnya yang dia gunakan sebagai catatan pengingat, “Sebentar, hmm…”Jongdae membukan halaman bukunya satu per satu, “Hmm, anhi, anhi, anhi… TIDAK ADA! Hari ini aku tidak ada acara sepulang sekolah. Wae?”

“Jinjja!? Bagus!” ujar Hyori senang. “Pulang sekolah aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”

***

“Ya! Min Young, oper kesini!”

“Terima ini! Ah sial! Hyori, hati-hati! Hana, cegat Hyemi!”

Keadaan inilah yang sedang Jongdae lihat saat ini. Hari ini adalah jadwal perdana latihan sepakbola Hyori setelah libur karena lapangan tempat dia berlatih sebelumnya dipakai untuk pertandingan sepakbola antar universitas tingkat nasional selama 2 minggu.

Jongdae duduk di tribun, melihat Hyori dan teman-temannya sedang berlatih di lapangan.

“NICE SAVE HYORI!!!”

***

JONGDAE’S POV

“NICE SAVE, HYORI!”

Setelah mendengar kalimat itu aku menoleh ke arah sumber suara. Oh ya, aku hanya duduk di tribun, menonton Hyori dan teman-temannya berlatih sepakbola. Dan yang berteriak kalimat itu adalah seorang ahjussi yang tepat berada di sebelahku. Setelah kutanya ternyata dia adalah pelatih kiper Hyori dan kiper yang lain yang ada di klub itu. Kau tahu? Aku terkejut saat mengetahui Hyori bermain sebagai kiper. Bagaimana tidak, tingginya sangat tidak sesuai dengan kiper yang pernah kulihat di pertandingan sepakbola. Biasanya seorang kiper memiliki tubuh yang tinggi. Hyori? Bahkan tingginya hanya setengah dari gawangnya. Tapi ternyata tinggi bukanlah suatu tolok ukur kemampuannya. Oh ya, aku sempat mengobrol dengan ahjussi pelatih kiper, namanya Kim Dong Hoon. Aku bertanya tentang Hyori, bagaimana permainan Hyori. Dia bilang kalau Hyori adalah kiper utama klub ini setiap ada pertandingan junior. Dia memiliki lompatan yang cukup tinggi, reflek yang bagus, dan cepat bergerak, juga kemampuannya menepis tendangan keras. Tapi kelemahannya, dia sedikit emosian dan terkadang berpikir lambat, juga dia terkadang tidak bisa menepis tendangan pelan yang ada di bawah. Aku ingat kan? Tentu saja, aku kan mencatat percakapan kami di buku ini, kkkk~~.

***

AUTHOR’S POV

“Kau hebat, Hyori!”

Hyori hanya menatap Jongdae dengan tercengang, “Mwoya? Hebat apanya? Kau lihat tadi aku tidak bisa memblok penalti sepelan itu dari Sora? Ah, kenapa sampai sekarang aku jarang bisa menepis tendangan seperti itu!?”

“Kau pasti bisa, Shim Hyori,” ujar Jongdae. Hyori hanya tersenyum simpul sambil sambil merapikan sarung tangan kipernya dan sepatunya ke dalam tas. Lalu ia memakai celana training dan jaket. “Gomawo,” balas Hyori singkat tanpa ekspresi.

“Jangan sedih, chingu.” Jongdae bangkit lalu tangannya menepuk bahu Hyori. “Aku mendukungmu, semangat!” ujarnya sambil tersenyum lebar dan tangan kanannya mengepal. Hyori tertawa melihatnya, “Ne, ne, aku pasti semangat! Gomawo, Jongdae. Sekarang, kaja! Kita kembali ke rumah.”

***

HYORI’S POV

Aku terus membuka satu persatu halaman buku hitam milik Jongdae. Tidak ada lagi catatan harian darinya. Yang ada hanyalah catatan kecil biasa, tugas dan jadwal pergi eommanya, juga jadwal dia menontonku berlatih sepakbola. Setelah kubuka terus akhirnya aku menemukan sebuah catatan yang cukup panjang.

***

Januari 2009

Masa SMP ku selesai! Yap, aku resmi lulus dari SMP Kyusung dengan nilai yang memuaskan. Hoho, tentu saja ini semua berkat tetangga sebelahku Hyori, dia yang mengingatkanku belajar bahkan sampai dia ketiduran di rumahku. Aku hanya bisa membiarkan dia tidur sementara aku berada di kamarku sambil belajar.

Kembali ke kelulusan. Aku tidak menyangka nilaiku bisa lebih baik dari nilai Hyori. Padahal dia yang mengajariku. Aku jadi bingung, padahal aku ini juga pelupa. Apa sekarang penyakit lupaku mulai menghilang ya? Semoga.

Saat upacara kelulusan. Hal yang mengagetkan datang padaku. Apa itu? Joonmyeon datang menghampiriku dan menjabat tanganku untuk meminta maaf. Aku sungguh terkejut. Tapi aku tersenyum dan menyambut jabatan tangannya. Tapi hari itu juga aku benar-benar menyesal. Menyesal pada diriku sendiri dan menyesal dengan keadaanku. Setelah aku berjabat tangan dengan Joonmyeon, eomma langsung menghampiriku dan membawaku pergi… pergi dari negara ini menuju Cina. Aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal dan maaf pada Hyori. Aku benar-benar menyesal. Bahkan aku tidak sempat melihat Hyori untuk terakhir kalinya.  Hyori yang membantuku selama ini, Hyori yang unik, Hyori yang bersedia menjadi teman dekatku walaupun aku orang bodoh, berkacamata tebal, dan pelupa berat. Hyori-ya, mianhae.

un-Titled… [1]

Posted: Juli 25, 2012 in twoshoot
Tag:

kali ini aku kembali bawa cerita baru. sekarang giliran kakek Suho (eh salah, ampun oppa!) maksudnya bagian si Suho. aduuh maaf ya ceritanya berantakan. soalnya gw udah stuck kelamaan liburan ini. mianhae😦

 

“Hmm, neomu mashita!”

BRUKKKK!!!

“KYAAA!!! ES KRIMKU!!!”

Seseorang menabrak Seo Yeon dari belakang dan membuat es krim Seo Yeon jatuh di kausnya. Lalu orang itu terus berjalan dengan bukunya yang terus ia baca. Tidak merasa terjadi sesuatu.

“YA! ORANG GILA! ES KRIMKU TUMPAH!!!” umpat Seo Yeon. Tetapi orang itu tidak menoleh sama sekali walaupun jarak mereka tidak jauh. “YA! PABO NAMJA!!!”

Tiba-tiba sesosok namja langsung menghampiri Seo Yeon dan langsung membungkuk di hadapannya, “Ah agassi, mianhae, agassi! Mianhae!”

“YA! MEMANG SEHARUSNYA KAU MINTA MAAF! KAU MENUMPAHKAN ES KRIMKU!!!”

“Arra, arraseo. Aku memang salah, agassi,” ujar namja itu. “Kau tunggu disini saja. Aku akan mencari penggantinya.” Lalu dia melirik es krim Seo Yeon yang kini telah menodai kausnya, “Kebetulan, aku tahu es krim itu. Aku juga suka membelinya.”

“PPALI!!!” omel Seo Yeon. Namja itu langsung berlari mengejar penjual es krimnya. “HEI PENJUAL ES KRIIMMM!!! TUNGGU AKU!!!”

Seo Yeon pun menunggu namja itu. Lima belas menit, kemudian namja yang menabrak Seo Yeon tadi menghampirinya sambil memegang sebuah es krim dengan napas yang terengah-engah, “Hahhh. Agassi, ini es krimmu! Uangnya tidak usah diganti. Ini semua salahku. Mianhae.”

Seo Yeon menerima es krimnya, “Hmm, gomawo. Ne, memang sepantasnya kau yang meminta maaf padaku. Berjalan tidak melihat lingkungan sekitar.”

Namja itu membungkukkan badannya di hadapan Seo Yeon, “Sekali lagi, mianhae, agassi. Jeongmal mianhae.” Seo Yeon mengangguk, “Ne, ne, kumaafkan,” dan memakan es krimnya.

“Kalau begitu, perkenalkan, Kim Joon Myeon imnida,” ujar namja itu tiba-tiba. Sontak alis Seo Yeon terangkat, heran, dan menghentikan kegiatan memakan es krimnya. Seo Yeon membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu, tetapi namja bernama Joon Myeon itu langsung menyelanya, “Ah, sudah dulu ya. Annyeong!” Dan namja itu berlalu, meninggalkan Seo Yeon.

“Mwo? Kenapa dia memperkenalkan diri padaku? Melihat namja itu saja baru hari ini,” pikir Seo Yeon. “Haah, namja aneh.” Dan Seo Yeon pun kembali menikmati es krimnya sambil berlajan menuju rumahnya.

***

SUHO’S POV

“Joonmyeon ya! Kenapa kau pulang terlambat lagi hah!?”

“Aaa, Minseok hyung, mianhae. Tadi ada keperluan penting di kampus,” jawabku. Seperti biasa, Minseok hyung, atau Xiumin hyung, ah lebih keren lagi Baozi hyung sudah menungguku di depan pintu seperti satpam.  “Keperluan? Di kampus? Jinjja?” tanyanya. Alisnya yang sangat tebal itu kini menunjukkan raut kecurigaan. Aku mengangguk malas, “Ne, hyung.”

“Tapi kata Luhan kau tidak ada kegiatan tambahan hari ini,” ujar Xiumin. Bingo! Luhan hyung lagi, Luhan hyung lagi. Kenapa harus ada Luhan hyung di dunia ini? Kenapa Luhan hyung juga harus satu kos denganku… semua rahasia pasti diketahuinya. Aku menghela napas, “Ah hyung, kau tidak perlu tahu. Kau bukan leader disini. Aku dan Wufan hyung leadernya.”

“Tapi aku yang paling tua disini!” balas Xiumin. Aku mendengus, “Terserahlah,” gumamku. Aku langsung berjalan, memunggungi Xiumin hyung menuju meja makan.

“Aaah, Thuho hyung thudah datang!” kata Sehun yang sudah duduk di meja makan dan melihat kehadiranku. Aku tersenyum padanya. Tiba-tiba sperti biasa Wufan hyung, atau Kris hyung menatapku tajam, “Joonmyeon, kau dari mana?”

“Engg, ada keperluan,” jawabku asal. Mereka mengangguk sambil bergumam ‘ooh’ pelan, tetapi Kris hyung menatapku curiga. Sementara Luhan hyung tertawa sendiri. Tak kuhiraukan tatapan Kris hyung. Luhan hyung? Aissh, pasti dia tahu yang sebenarnya.

“Luhan hyung! Kenapa kau tertawa!? Sepertinya kau tahu sesuatu, hyung. Jebal, beritahu kami,” kata Baekhyun yang duduk berhadapan dengan Luhan dan menyadari sikapnya. Luhan langsung berhenti tertawa dan menggeleng, “Anhi, ini hanya urusan pribadiku. Jadi tak perlu kuberitahu.” Baekhyun langsung mengembungkan pipinya, “Pelit,” gumamnya.

“Ah sudahlah, lebih baik kita makan saja. Aku lapar!” ujarku tiba-tiba. Dan dengan ucapanku, mereka semua langsung makan. Tentu saja, aku kan leader. Aku duduk di sebelah Jongin—atau Kai—dan makan bersama mereka dengan lahap. Ya, aku kelaparan karena es krim tadi.

Setelah semua selesai, kami semua melakukan kegiatan masing-masing. Ada yang sibuk bermain playstation, ada yang membaca buku, atau ada yang langsung ke kamar. Sementara aku berada di atap rumah kos dan duduk sambil membaca buku catatan akutansiku. Ya, aku adalah mahasiswa jurusan akutansi di Universitas Korea. Besok aku akan menjalankan ulangan akhir semester.

“Boleh aku mengganggumu, Joonmyeon?” Suara itu otomatis mengagetkanku yang sendirian di atap. Aku mendongak mencari sumber suara. Ternyata Luhan hyung yang sudah ada di hadapanku. Aku mengangguk, “Umm ne, kenapa kau kesini, hyung? Ada perlu denganku?”

Luhan hyung langsung duduk di sampingku. Aku menutup buku catatanku. Luhan hanya menatapku, lalu tertawa. Aku menatapnya heran, “Ya, hyung! Sekarang kenapa kau tertawa sendiri!? Ah, pasti kau tahu sesuatu tentangku.”

Luhan menatap langit, “Membelikan es krim kepada yeoja yang kau lihat selama satu minggu, dan ternyata yeoja itu galak,” ujar Luhan. Lalu kembali tertawa, “Haha, bagaimana aku tidak tertawa. Itu alasanmu kenapa kau selalu pulang terlambat seminggu terakhir ini kan? Tidak mungkin kau latihan mengendalikan air di Sungai Han pada sore hari. Tapi kau melihat yeoja itu selalu berkeliaran di pinggiran Sungai Han… sepertinya kau mengalami cinta pada pandangan pertama, Joonmyeon.”

Aku terdiam, “Entahlah, hyung. Sejak pertama kali aku melihat yeoja itu, aku selalu ingin melihatnya terus. Kurasa dia memiliki sesuatu.”

“Jinjja?” Luhan membelalakkan matanya. Aku menatapnya heran, “Kenapa kau berkata itu, hyung? Seharusnya kan kau tahu siapa dia. Aku saja tidak tahu namanya.”

“Molla,” Luhan mengangkat kedua bahunya. “Aku kan tidak bisa membaca pikiran orang yang belum kukenal. Sudah, aku tidak ingin mengganggumu belajar! Belajar yang rajin!” Luhan pun langsung meninggalkanku. Kini aku kembali sendiri dan aku melanjutkan kegiatan membaca catatanku.

Aku menatap langit sesaat. Memang benar apa yang dikatakan Luhan hyung. Yeoja yang tadi tak sengaja kutabrak dan kubelikan es krim adalah yeoja yang seminggu terakhir ini kulihat. Untuk kejadian tabrakan tadi, engg, sebenarnya aku agak sengaja melakukannya. Biar aku bisa melihat sosok yeoja itu dari dekat. Ah, bukan! Aku bukan seorang psikopat. Bukannya itu cukup wajar? Aku saja masih bersikap waras saat menghadapinya. Biasanya yeoja itu selalu bersepeda. Tetapi sore tadi sepertinya dia tidak mengendarai sepedanya sama sekali. Aku sebenarnya bingung kenapa harus memperhatikan yeoja itu. Walaupun dia tidak terlalu cantik dan ternyata cukup galak. Justru hal itu membuatku penasaran siapa dia. Ah sial, kenapa aku ini.

Oh ya, untuk hari ini: aku bisa memperkirakan kalau dia sangat suka es krim, dan aku sudah memperkenalkan diriku padanya.

***

“SUHO OPPA! SUHO OPPA!”

Aku menoleh. Aish yeoja itu lagi. Aku mendengus kesal, “Aah Jiyong, gwenchana?”

Jiyong langsung menghampiriku, “Suho oppa, ayo temani aku makan.”

Aku mengerutkan alis, “Anhi, aku ada keperluan lain. Aku ada kelas sebentar lagi.” Aku langsung meninggalkannya tetapi Jiyong langsung menahanku dengan tangannya, “Oppa, jebal. Bukannya selama ini kau ingin makan bersamaku?”

Aku berbalik menatapnya, lalu tersenyum sinis, “Makan bersamamu? Ah, ne! Tapi itu dulu, Lee Jiyong. Sekarang aku tidak merasa lapar sama sekali. Sudah, lepaskan!” Jiyong langsung melepas  tanganku. Aku langsung meninggalkannya. “Lain kali kita makan bersama ya, oppa!” serunya dari belakang. Aku tetap berjalan sambil menghela napas. Tidak akan pernah untuk yeoja itu. dasar yeoja aneh!

***

“Kau namja yang menabrakku kemarin kan?”

Yeoja itu langung menghampiriku dengan sepeda yang sekarang sedang dituntunnya. Aku mengangguk, ternyata dia ingat wajahku. Ah, tentu saja! Itu kan baru kemarin. Sekarang aku duduk di samping yeoja itu di pinggir sungai Han, tempatku selalu melihat yeoja itu.

“Namamu… Kim… Joon…”

“Kim Joon Myeon,” balasku, “Namamu?”

“Aku?” Dia menunjuk dirinya sendiri. Aku mengangguk sambil tersenyum. Dia langsung memasang wajah ragu, “Unggg namaku…”

“Ah, jangan khawatir, agassi. Aku bukan orang jahat kok. Kalau kau tidak ingin memberitahu namamu juga tidak apa-apa,” ujarku untuk menghilangkan ketakutannya. Dia menggeleng, “Anhi, Joonmyeon-ssi. Choneun Park Seo Yeon imnida.”

“Park Seo Yeon,” ulangku. Seo Yeon mengangguk, “Ne.”

“Joonmyeon-ssi. Engg, terima kasih es krim yang kemarin. Aku minta maaf telah memarahimu kemarin. Aku terbawa emosi,” ujar Seo Yeon. Aku langsung menggeleng, “Anhi, justru aku yang harusnya minta maaf. Aku terlalu fokus pada bukuku sehingga aku menabrakmu.”

“Apa perlu kuganti es krimnya?” tanya Seo Yeon. Aku menggeleng, “Tidak perlu.” Tiba-tiba ada suara seseorang yang sepertinya memanggil namaku. “SUHO OPPA!!! SUHO OPPA!!!” Suara iru terus berulang dan semakin keras, “SUHO OPPA!!! Ah, disini kau rupanya.”

“Jiyong!?” Aku terbelalak kaget, “Apa yang kau lakukan disini?”

“Mencarimu,” jawab Jiyong singkat. “Kaja, oppa!” Jiyong langsung menarik tanganku. Tapi aku tetap bertahan di tempat, “Kaja?”

“Temani aku jalan-jalan, oppa! Aku tidak punya teman untuk diajak jalan-jalan,” ujar Jiyong. Aku tetap bertahan di tempat, “Kalau tidak ada, lebih baik kau di rumah saja. Aku tidak bisa kemana-mana sekarang. Aku ada keperluan penting bersama teman-teman satu kosku.”

Jiyong langsung melepas tanganku, “Ooh begitu, arraseo. Tapi lain kali temani aku jalan-jalan ya, oppa.” Jiyong langsung pergi meniggalkanku dan Seo Yeon. Soe Yeon langsung bertanya padaku, “Joonmyeon-ssi, itu adikmu?” Aku menggeleng. “Pacarmu?” tebaknya lagi. Sekali lagi aku menggeleng, “Anhi, dia hanya teman kuliahku.”

“Teman kuliah?” ulang Seo Yeon, “Wah, ternyata aku lebih tua darimu, Joonmyeon-ssi! Aku saja masih kelas 2 SMA.”

“Kelas dua? Ooh, jadi kau harus memanggilku ‘oppa’,” balasku. Kulihat Seo Yeon melihat jam tangannya, “Aah, sudah jam 6 sore, Joonmyeon… oppa. Aku harus pulang ke rumah sekarang. Lain kali kita bertemu lagi ya, oppa. Annyeong!” Seo Yeon lalu pergi dengan mengendarai sepedanya, meninggalkanku sendirian yang masih duduk. Aku menatap langit, hari ini: mengetahui nama yeoja itu dan ternyata dia yeoja yang baik.

***

Esok sorenya, kami berdua duduk bersama di tempat yang sama seperti kemarin. Seperti biasa Seo Yeon mengendarai sepedanya dan menaruh sepedanya di sampingnya.

“Kenapa kau sangat suka bersepeda?” tanyaku. Seo Yeon menjawab dengan senang, “Bersepeda itu hobiku, oppa. Lagipula, aku masih orang baru di daerah ini. Dulu aku tinggal di Gwangju.”

“Memang sekarang kau tinggal dimana?” tanyaku.

“Sangsu-dong,” jawab Seo Yeon. Aku langsung membelalakkan mata, “Sangsu-dong? Wah, itu dekat sekali dengan tempat tinggalku. Aku tinggal di Sinsu-dong.”

“Sinsu-dong? Ne! Itu tidak jauh dari tempat tinggalku. Kemarin aku sempat bersepeda ke daerah itu,” ujar Seo Yeon. Aku terkejut mendengarnya, “Jinjja!?”

“Ne. Setiap hari aku selalu bersepeda berkeliling di tempat sekitarku. Bahkan kadang-kadang sampai malam. Aku tidak ingin buta arah di daerah yang baru kutempati. Oh ya, aku sudah mengetahui hampir semua tempat di daerah sekitar sini,” jawab Seo Yeon. Aku membulatkan kedua mataku, “Berkeliling? Sendiri?”

Seo Yeon mengangguk, “Ne! Pernah satu kali aku bersama oppaku. Tapi itu hanya sekali, sisanya sendiri.” Aku menatapnya aneh, “Kau tidak diomeli orang tuamu?”

“Orang tua?” ulang Seo Yeon. Lalu dia tertawa, “Haha, tidak mungkin! Orang tuaku itu jarang sekali berada di rumah. Mereka suka dinas ke luar negeri. Oppaku sibuk dengan pekerjaannya. Jadi aku sering tinggal sendiri.” Aku langsung menatapnya kasihan. Kenapa anak ini malah tertawa? Ckckck. “Kau tidak merasa kesepian di rumah?”

Kali ini Seo Yeon berubah ekspresi menjadi datar, “Kesepian? Tentu saja, oppa! Tapi aku sudah terbiasa dengan hal ini sejak kecil. Jadi lama-kelamaan menjadi biasa saja.” Aku masih menatap Seo Yeon kasihan. Lalu aku menyunggingkan senyum padanya, “Sebenarnya aku bingung harus bilang apa, Seo Yeon. Hajiman, jangan suka bersepeda sampai malam lagi. Kau tahu, daerah ini tidak begitu aman. Apalagi kau ini seorang yeoja.”

“Tenang saja, oppa. Aku akan baik-baik saja kok,” balas Seo Yeon sambil mengacungkan jempolnya. “Aku juga tahu tempat ini sedikit kurang aman. Tapi untungnya sampai sekarang aku belum pernah bertemu mereka.”

Langit sudah berwarna oranye sekarang, pertanda senja. Sebentar lagi malam. Aku menatap jam tanganku, “Seo Yeon-ah, sepuluh menit lagi sudah jam enam! Cepatlah pulang! Kau tidak boleh pulang sampai malam.” Tetapi Seo Yeon menggelengkan kepalanya, “Shireo, oppa. Temani aku setidaknya sepuluh menit lagi. Tidak ada yang mencariku kok.”

“Tidak bisa,” balasku. “Kau saja baru kenal denganku kemarin. Pulanglah.”

Seo Yeon kini menatapku aneh lalu berkata dengan nada polos, “Oppa? Oppa memang penjahat?”

Aku tertawa, “Anhi, tentu saja tidak. Aku saja juga takut menghadapi penjahat, hehe.” Seo Yeon lalu tertawa kecil dan berdiri, “Arraseo, oppa. Kalau begitu, aku pulang duluan ya.” Seo Yeon lalu melambaikan tangannya, “Annyeong, Joonmyeon oppa!” Aku membalas lambaiannya, “Annyeong, Seo Yeon-ah. Ingat, langsung pulang!”

Seo Yeon mengangguk tersenyum padaku. Dan pergilah ia bersama sepeda yang ia kendarai. Aku kembali sendiri. Ah, lebih baik aku langsung pulang ke rumah. Aku takut Jiyong mendatangiku lagi. Sudaj cukup manakutkan bagiku karena hampir setiap saat dia selalu menghampiriku dan memintaku menemaninya kesana kemari. Untung saja aku punya banyak alasan untuk menolaknya. Benar-benar menakutkan sekali yeoja itu.

***

Esoknya, di waktu dan tempat yang sama…

“Oppa, benarkah kau sudah kuliah sekarang?”

Mwo? Kenapa yeoja ini sekarang bertanya seperti itu? Aku mengangguk, “Ne, aku sudah kuliah sekarang. Wae?”

Kukira dia mnatapku curiga, ternyata dia menatapku takjub, “Jinjja? Oppa, bahkan kukira kau ini masih seusia denganku. Aku masih tidak percaya kalau kau lebih tua dariku, oppa. Aku serius.” Mendengar ucapan Seo Yeon yang seperti itu membuatku jadi salah tingkah. Kini aku menggaruk bagian belakang kepalaku, “Err, jinjja? Oh, kurasa kau terlalu berlebihan, Seo Yeon. Tapi, terima kasih.”

Seo Yeon tersenyum lebar, “Cheonmaneyo, oppa. Geulonde, kau kuliah dimana?”

“Aku? Aku kuliah di Korean University jurusan akutansi,” jawabku. Seketika mata Seo Yeon menjadi lebar, “Waah, neomu daebak!”

“Neo? Dimana SMA-mu, Seo Yeon-ah?” Kali ini aku yang bertanya. Seo Yeon menundukkan kepalanya, “Aku… di SOPA.”

Kali ini aku yang melebarkan mata, “Mwo? SOPA? Itu… aahh. Neo? Daebak!” ujarku. Seo Yeon tersenyum malu. Chakkaman, itu artinya Seo Yeon satu sekolah dengan Kai dan Sehun. “Umm… kalau begitu kau satu sekolah dengan dongsaeng dan chinguku ya, namanya Oh…”

“SUHO OPPA!!!” Suara yang tidak asing lagi bagi telingaku ini terdengar jelas. Aku menoleh ke sumber suara. Seorang yeoja yang memanggilku kini tersenyum lebar. “Jiyong?”

“Oppa, sebaiknya sekarang saja kita kerjakan tugas kelompok kita!” ujar Jiyong. Ah, kenapa aku baru ingat kalau partner tugas kelompokku adalah Jiyong? Aku jadi menyalahkan diri sendiri karena harus mengambil kertas bernama Lee Jiyong tadi. Aah terkutuk kau, gulungan-kertas-bertuliskan-Lee-Jiyong!!! Belum sempat aku berkata apa-apa padanya, dia sudah menarik tanganku saja, memaksaku untuk berdiri. Aku pasrah saja. “Kaja! Kita kerjakan tugasnya sekarang saja.”

Aku mengangguk, “Ne, lebih cepat lebih baik.” Yah memang, setidaknya cukup hari ini saja mempunyai keperluan dengannya. Tidak untuk hari berikutnya, bahkan, tidak untuk selamanya. Aku berdiri dan menoleh ke arah Seo Yeon yang masih duduk. “Seo Yeon-ah, mianhae.”

“Gwenchana, Joonmyeon oppa,” balas Seo Yeon sambil tersenyum, “Tugas kelompokmu lebih penting. Lagipula aku juga baru ingat kalau ada tugas dari sekolah.”

“Kalau begitu, annyeong, Seo Yeon,” aku melambaikan tangan pada Seo Yeon. Seo Yeon membalas lambaianku, “Annyeong Joonmyeon oppa, annyeong Jiyong eonni! Semangat!”

***

Esoknya….

“Kenapa kau selalu kemari, Seo Yeon-ah?”

“Karena aku ingin mencari ketenangan, oppa,” jawab Seo Yeon. “Maksudmu?” tanyaku.

“Ne, di rumah, aku sering sendiri. Banyak yang bilang kalau tidak ada suara itu tenang, tidak ada orang itu tenang. Tapi sebaliknya, aku tidak pernah tenang kalau sendiri. Aku suka keramaian. Di rumah, yang menemaniku hanyalah televisi, playstation, dan internet. Aku sering bosan dengan tiga hal itu. Makanya setiap sore aku selalu bersepeda mengelilingi tempat-tempat di sekitar sini. Mencari keramaian.”

“Mian, memang kau tidak ada…” Aku menghela napas sebentar, “… teman?”

Seo Yeon tertawa, “Ya! Tentu saja aku punya teman! Tapi kami hanya sebatas teman. Aku takut kalau berteman terlalu dekat.” Lalu Seo Yeon terdiam sesaat, “Joonmyeon oppa?”

“Ne?” balasku. Seo Yeon kini menatapku dalam, “Kau tahu oppa, aku sudah menganggapmu sebagai oppaku sendiri. Kau orang yang baik. Aku jadi sering kemari tiap sore karena kau selalu kemari dan menemuiku.”

Bukannya senang, aku malah menatap aneh yeoja ini, “Neo? Wae? Kita saja baru berkenalan tiga hari yang lalu?” Seo Yeon mengangguk, “Ne. Tapi entah kenapa, menurutku, kau benar-benar orang baik, oppa.”

“Kenapa kau bisa bilang begitu?” tanyaku.

“Kau mudah tersenyum. Selama aku berkenalan denganmu, walaupun baru tiga hari, aku melihat tidak ada keterpaksaan saat kau tersenyum. Jadi aku menyimpulkan kalau kau orang yang baik, oppa,” jawab Seo Yeon. Aku semakin menatapnya heran. Aku berpikir sesaat. Hmm, mungkin pertanyaan ini pantas kutanyakan padanya, “Kalau ternyata aku bukan orang baik?”

Seo Yeon terdiam, terlihat sedang memikirkan pertanyaanku barusan. Lalu dia tersenyum lebar. “Aku pasti akan kecewa padamu, oppa. Tapi selain kecewa, aku malah merasa beruntung.”

“Beruntung? Wae?” Kali ini aku yang kebingungan dengan jawabannya yang sepertinya sengaja belum dilengkapinya. Seo Yeon kembali tersenyum, kelihatannya dia senang melihatku bingung, “Wae? Aku merasa beruntung berkenalan denganmu. Walaupun sebenarnya kau bukan orang baik, setidaknya ada yang menggantikan sosok oppa untukku, oppa yang pergi ke Inggris sampai entah kapan sejak kami pindah kemari. Walaupun kita hanya bertemu tiap sore di tempat ini, kau seperti oppaku.”

“Apa oppamu sangat baik padamu, Seo Yeon?” Seo Yeon mengangguk, “Ne, dia baik padaku. Sangat baik! Dia selalu ada bersamaku sebelum dia menjadi pebisnis yang suka ke luar kota atau ke luar negeri. Kau mirip sekali dengannya, Joonmyeon oppa.”

“Kau terlalu yakin,” ujarku.

“Buktinya, Jiyong eonni chingumu itu memanggilmu Suho. Suho, pelindung. Hmm, kau pasti pelindung sejati, oppa. Eonni itu saja memanggilmu Suho. Jadi aku percaya kalau kau orang baik. Lalu kau takut penjahat? Seharusnya kalau kau seorang penjahat kau tidak takut apapun. Tapi aku juga tidak yakin kalau kau seorang penakut.”

Kini Seo Yeon menatap langit sambil tersenyum sendiri, “Jungsoo oppa, bogoshipo.” Aku menatapnya kasihan, anak yang kesepian ternyata. Aku ikut menatap langit. Anak ini, terlalu polos kurasa.

***

SEO YEON’S POV

Aku selalu melihat pemandangan itu. Sebenarnya pemandangan itu agak aneh, bahkan sangat aneh. Terlalu aneh untuk dilihat orang biasa sepertiku. Apa hanya aku yang bisa melihatnya? Apa ada orang lain yang melihat hal ini? Atau semua ini hanya khayalanku? Mungkin saja ini hanya khayalanku.

Tapi tidak. Apa yang kulihat selama ini, selama seminggu terakhir ini, adalah kenyataan. Saat pertama kali aku melihatnya, aku langsung mencubit tangan dan pipiku sekeras mungkin. Dan hasilnya sakit. Jadi, langsung kusimpulkan bahwa apa yang kulihat bukanlah rekayasa, bukan dari khayalanku. Apa yang kulihat ini benar-benar sungguhan.

Inilah alasannya kenapa aku suka keluar rumah pada malam hari semenjak aku dan keluargaku pindah rumah ke daerah ini. Bahkan pernah suatu hari aku baru tiba di rumah hampir tengah malam. Biasanya yeoja yang pulang semalam itu selalu terkena omelan dari orang tuanya. Tapi tidak untukku. Tidak ada yang mengomeliku sama sekali. Orang tuaku hampir selalu bekerja di luar kota atau daerah lain yang jauh dari rumah kami. Sedangkan oppaku, sekarang dia sudah bekerja dan sama seperti orang tuaku, seringkali dia bekerja di tempat lain yang terkadang jauh dari rumah. Maklum, orang tuaku adalah seorang dokter relawan yang suka bertugas di daerah terpencil. Sedangkan oppaku adalah seorang businessman yang sangat sibuk. Jadilah aku tinggal sendirian di rumah. Walaupun aku sering tinggal sendiri, aku masih bisa mengendalikan diri. Tidak seperti anak lain kebanyakan, yang selalu mencari kesenangan sendiri dengan cara yang tidak benar. Ah, kau pasti tahu kan maksudku.

Sekarang aku berada di tempat yang sama, selalu begitu. Tempatku mengobrol dengan Joonmyeon oppa tiga hari terakhir ini. Aku memang selalu berada disini setiap malam. Menunggu yang biasa kulihat terjadi.

Dan voila! Yang kutunggu akhirnya datang juga. Kali ini air itu membentuk pusaran seperti angin tornado. Aku melihatnya dengan takjub. Lalu berubah bentuk menjadi, bentuk naga. Aigoo… kali ini bentuk naganya keren sekali! Bahkan bisa dibilang sempurna. Karena kemarin-kemarin bentuk naganya tidak begitu sempurna. Dan sekarang bentuknya menjadi bola air yang cukup besar, lalu bola air itu tiba-tiba jatuh ke sungai dengan hentakan yang cukup keras sehingga air di sungai itu terhentak ke atas seperti air mancur. Ini benar-benar keren!

Setelah itu tidak ada lagi bentukan-bentukan air yang tidak biasa. Aku melihat dari jauh orang yang sepertinya membuat bentuk-bentuk aneh air itu. orang itu serba hitam. Bahkan aku tidak bisa melihat wajahnya sama sekali. Aah ternyata pertunjukannya sudah selesai. Aku langsung mengambil sepedaku dan kukayuh sepedaku menuju rumah. Sudah sepi. Tempat ini selalu sepi. Mungkin itu alasan orang itu memakai tempat ini untuk menyalurkan keahliannya mengendalikan air.

Baru kukayuh sepedaku sebentar, aku langsung dicegat oleh tiga namja tak dikenal yang jalannya agak sempoyongan. Membuatku terpaksa mengerem sepedaku.

“Halo, agassi,” ujar salah satu namja. Namja itu tinggi, kurus, dan mata dan pipinya merah. Aku langsung memutar balik sepedaku. Tetapi stang sepedaku ditahan oleh seorang namja lainnya, “Ya! Kau mau kemana?”

Sial! Aku mengecek jam tangaku, jam sebelas. Biasanya aku tidak pernah bertemu orang seperti ini. Tapi sekarang…

“Agassi…” Astaga! Kenapa sekarang aku dikelilingi mereka bertiga. Parahnya, jarak mereka semakin dekat denganku. Aku mencoba mengayuh sepedaku menerobos mereka. Tapi tiba-tiba salah satu namja menarik menarik paksa tanganku dari sepeda sehingga aku tidak berada di sepeda lagi. Aku berusaha melawannya, tapi kekuatan namja ini jauh lebih besar dariku. “Kau tidak bisa pergi, agassi.”

Kini aku sudah beradu punggung dengan pohon. Sekarang tiga namja itu sudah mengelilingiku. Tatapan mereka sangat mengerikan, seolah mereka ingin memakanku. Sebenarnya aku bisa saja melawan mereka. Tetapi aku tidak tahan dengan bau alkohol mereka, membuatku ingin muntah. Dan entah kenapa aku merasa semua badanku terkunci. Aku tak ada ide. Tidak ada yang bisa kulakukan. Kenapa bisa begini, eotthoke? Aku hanya menatap mereka pasrah. Dan salah satu dari mereka langsung mendekati wajahku dan melakukan sesuatu yang membuatku kaget.

Dia menciumi bibirku dengan paksa dan kasar. Aku berusaha mendorong badannya, tapi tak ada gunanya. Kekuatannya lebih besar dariku. Dia terus melakukannya, lebih parah. Aku hampir kehabisan napas.

“Emmh… emmhh…”

“YA! APA YANG KALIAN LAKUKAN!?”

Tiba-tiba namja itu berhenti menciumiku. Mataku tertutup. Aku merasa kehabisan oksigen sekarang. Hanya satu yang kuingat.

Aku mendengar suara air.

***

Aku membuka kedua mataku. Terang. Terangnya berasal dari lampu. Aku melihat sekeliling, tunggu! Ini sama sekali bukan rumahku! Dimana aku sekarang!? Aku mengecek jam tangan, tidak ada! Aigoo… dimana jam tanganku!? Sekarang ini rumah siapa!? Tunggu, apa ini rumah ketiga namja tadi? Apa ini rumah salah satu namja tadi? Aishh, matilah aku.

“Cepat sekali kau sadar, Seo Yeon-ah.” Suara itu sontak membuatku menutup mata, “Ampun, seogsa! Jangan siksa aku! Pulangkan aku sekarang juga! Jebal, seogsa!”

“Ya! Buka matamu, Seo Yeon-ah!” Suara itu? Hei, sepertinya suara ini tidak terlalu asing di telingaku. Perlahan aku membuka mataku. Benar saja, orang itu sangat tidak asing bagiku, “Joonmyeon oppa?”

***

AUTHOR’S POV

“Joonmyeon oppa?”

Suho tersenyum, “Ne, ini aku. Syukurlah kalau kau sudah sadar sekarang.”

Seo Yeon melihat sekeliling, “Dimana mereka?” Suho mengangkat alisnya, “Mereka? Ooh pemabuk tadi. Sekarang kau ada di rumahku, Seo Yeon. Mian, aku tidak tahu rumahmu dimana. Mereka sudah tidak ada.” Lalu Suho terdiam sesaat dan kemudian bicara lagi, “Ya! Sudah kubilang! Kau ini yeoja! Kau tidak boleh pulang malam. Kau tahu!? Sekarang sudah jam 12!”

Seo Yeon tertunduk, “Ne, aku tahu oppa. Aku tidak mendengar perkataan oppa waktu itu. Mian. Habis aku sudah terbiasa berada di tempat itu setiap malam. Aku suka melihat air yang bergerak-gerak aneh di sungai dekat situ. Aku selalu menontonnya tiap malam sendiri.”

***

SUHO’S POV

DEG!!! Yeoja ini… Seo Yeon… apa yang dia maksud itu dia melihatku suka berlatih tiap malam di sungai itu? Aku mencoba memasang wajah setenang mungkin, “Air bergerak aneh? Seperti ini?” Aku langsung membuat air dalam gelas yang ada di hadapanku bergerak ke atas, lalu kukembalikan air itu ke dalam gelas. Aku menatap Seo Yeon, dia tidak berkata apa-apa. Matanya terbelalak.

“Seo Yeon?”

“Oppa, jadi… selama ini… kau…” Seo Yeon kini benar-benar terkejut. Aku mengangguk, “Ne. Ingat, ini rahasia ya.”

“Jadi, kau benar-benar orang baik, oppa,” ujar Seo Yeon. Aku bingung, “Wae?” Belum sempat Seo Yeon menjawab seseorang langsung muncul di hadapan kami, “Hyung!? Kau kenapa belom tidur?”

“Sehun?” ujarku. Sehun menyipitkan matanya saat melihat Seo Yeon. “Hyung! Kenapa kau membawa yeoja tengah malam begini kemari!? Seo Yeon! Kenapa kau disini!?”

Aku menatapnya heran, “Sehun, kau? Kau kenal Seo Yeon?”

“Tentu saja aku kenal, hyung! Dia ini satu sekolah denganku. Dan asal kau tahu hyung, dia itu mantan yeojachinguku.”

-to be continued-

3 or 5? [2] : All Because of Han

Posted: Juni 29, 2012 in twoshoot
Tag:

hohoho, kali ini gw balik post ff part 2 dari 3 or 5. haha temen gw dah ngebet request kapan publishnya nih cerita. dan akhirnya publish juga alhamdulillah di pagi ini ditemani dengan pertandingan EURO  itali vs jerman. hoho maaf ya yang udah gw ceritain alurnya. ternyata meleset jauh teman. mianhae.

oh ya, siap kantong plastik ya, siap-siap muntah lagi, chingu.

***

CHEN’S POV

Suho hyung dan Luhan gege? Ya, mereka sebenarnya agak aneh akhir-akhir ini. Baru pulang di malam hari dan suka tersenyum sendiri. Padahal kuliah pulang sore dan mereka selalu pulang tepat waktu biasanya. Ah, sebenarnya apa yang mereka pikirkan sih? Sementara tidak ada yang tahu. Ah, biarkan saja, ada yang lebih penting dari ini. Aku harus minta maaf pada Yoon Rin. Kubenarkan kacamataku yang sedikit miring. Aku langsung bangkit dari sofa dan meninggalkan Sehun dan Kai yang masih asyik menonton televisi menuju kamar. Sebelumnya kusempatkan diri melihat jam dinding di ruang tengah, ternyata sudah jam setengah sembilan malam.

Setibanya di kamar aku langsung mengambil handphoneku yang tergeletak di atas meja belajar. Aku langsung menelpon Yoon Rin dan sambil menunggu Yoon Rin mengangkatnya aku duduk di tempat tidur sambil mendengungkan lagu “What is Love”.

Yoboseyo? Wae?

“Yoonrinnie-ya, mianhae.”

Mwo? Wae?

“Karena aku telah menanyakan nilai Fisikamu tadi. Seharusnya aku tahu kalau kau tidak suka orang yang menanyakan nilaimu sementara kau belum mengetahuinya.”

Ooh karena itu. Haha. Gwenchana, Jongdae. Dan aku ingin memberitahu nilai Fisikaku sekarang. Aku mendapat nilai…

“Ah, tidak usah! Tidak perlu, Yoonrinnie! Kalau kau tidak senang nilaimu diketahui tidak usah diberitahu tidak apa-apa kok.”

Jinjja? Jongdae-ah?

“Wae, chagi?”

Aku bisa ikut kencan besok. Eomma dan appaku membolehkanku ikut.

“Jinjja? Wah, aku senang sekali, Yoonrinnie. Cha, aku akan menjemputmu jam lima sore besok.”

Ne, oppa. Ah, aku tidak sabar dengan kencan pertamaku!

“Nado. Ini kencan pertamaku.”

Mwo? Kau kan sudah berkencan berkali-kali dengan beberapa yeoja sebelumnya.

“Tapi ini pertama kali aku berkencan denganmu, Yoonrinnie, yeoja yang seumuran dengaku, bukan para noona.”

Ya! Jongdae-ah, itu sama saja dengan berkali-kali! Kalau kau mau tahu, aku dapat 71. Annyeong!

***

AUTHOR’S POV

“Chanyeol! Handphonemu berbunyi! Ada yang menelponmu!”

“Sudah kau angkat saja dulu!”

“Chanyeol! Dari Tae Hee!”

“Angkat dulu, Bacon! Bawa kesini handphonenya!”

“Ah, namja pemalas.” Baekhyun langsung membawa handphone Chanyeol ke Chanyeol yang sedang asyik berbaring di tempat tidur. Chanyeol langsung tersenyum lebar melihat nama Tae Hee di layar handphonenya. Dia langsung berbicara, “Yoboseyo. Chagi-ya, gwencahana? Tumben kau yang menelponku.”

Ah, naneun gwenchana. Hanya saja kau tidak menghubungiku dan mengirimiku pesan sejak kemarin.

“Oh! Mianhae, Tae Hee-ya. Aku tidak ada pulsa. Mianhae. Jadi ceritanya kau merindukanku ya?”

Eoh, menurutmu?

“Menurutku, kau benar-benar merindukanku.”

Kau terlalu percaya diri, Yeollie-ah.

“Buktinya kau menelponku.”

Memang ada yang salah kalau aku menelponmu?

“Anhi. Hanya saja aku merasa tidak enak kalau yeoja yang menelponku.”

Jadi kau tidak ingin aku menelponmu.

“Tentu saja tidak!”

Yeollie-ah. Besok kita pergi jam berapa?

“Jam lima sore. Aku akan menjemputmu besok.”

Oh, gomawo. Annyeong!

“Tae Hee—“ Tetapi telepon langsung terputus. “Aishh, Tae Hee-ya.”

“Wae?” tanya Baekhyun. “Tae Hee, dia langsung menutup teleponnya. Ah, padahal aku ingin bilang ‘saranghae’ seperti pasangan-pasangan lain,” jawab Chanyeol. Kini Chanyeol hanya menatap kosong ke arah lampu.

“Apa dia masih belum bisa mencintaimu, Chanyeol?” tanya Baekhyun yang kini tidur di sebelahnya. Chanyeol hanya mengangkat kedua bahunya, “Molla.”

“Apa harus tanya ke Luhan hyung?” tanya Baekhyun. Chanyeol menggeleng, “Tidak perlu. Biarkan aku tidak tahu apa-apa tentangnya daripada mengetahui kenyataannya.” Baekhyun menatap Chanyeol kasihan sementara Chanyeol tetap menatap kosong ke arah lampu di atasnya.

***

Sabtu, 09.00 KST

Young Ra’s POV

Kyaaa sudah jam 9! Delapan jam lagi, delapan jam lagi! Hah, aku tidak sabar.

“YOUNG RA! BANTU EOMMA BERSIH-BERSIH!”

Aishh, aku baru saja bangun tidur sudah diteriaki eomma saja untuk bersih-bersih. Aku menghela napas, “NE! CHAKKAMAN, EOMMA!”

“PPALI! KALAU TIDAK, KAU TIDAK BOLEH PERGI KENCAN DENGAN KAI NANTI!”

Aigoo, kenapa ancamannya sekejam ini? “NE, EOMMA!” Aku langsung keluar kamar menyusul eomma.

***

TAE HEE’S POV

“Tae Hee-ah, eomma pergi dulu ya. Jaga rumah. Kalau kau pergi nanti kunci pintunya,” kata eomma memperingatkanku di ambang pintu. Aku mengangguk, “Ne, eomma. Hati-hati.”

“Jangan pulang terlalu malam!” ujar eommaku lagi. Aku kembali mengangguk, “Ne, eomma.”

“Cha, kami pergi dulu ya. Annyeong!” Sebelum mereka berdua keluar rumah Taemin menoleh padaku dan menyeringai, “Selamat bersenang-senang dengan Chanyeol hyung, noona. Semoga kencanmu sukses.”

“YA!” bentakku. Lalu aku tersenyum padanya, “Hajiman, gomawo, saeng. Hati-hati ya! Sampaikan salamku untuk Boram ahjumma!”

“Pasti, noona!” Taemin mengacungkan jempolnya. Eomma dan Taemin keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil yang mesinnya sudah dinyalakan appa dari tadi. Setelah mereka benar-benar pergi aku langsung menutup pintu rumah.

Yah hari ini seharusnya aku ikut mereka pergi ke daerah Cheonan, berkunjung ke rumah adik ayahku, Lee Boram ahjumma yang baru saja kembali dari Jepang setelah setahun bekerja disana. Tapi karena aku bilang mereka kalau nanti sore ada kencan, mereka membolehkanku untuk tidak ikut. Lagipula aku juga tidak terlalu akrab dengan Boram ahjumma dan mereka akan menginap semalam disana.

Mengenai kencan sore nanti, aku jadi tidak sabar. Entah kenapa aku punya pikiran seperti ini tiba-tiba. Apa karena ini baru pertama kalinya aku kencan? Atau… ah, molla.

***

YOON RIN’S POV

Aku menatap layar komputerku, sementara jari-jariku terus menari di atas keyboard, terkadang untuk menggeser dan menekan mouse. Aku masih serius menatap layar komputer.

Ya, sekarang aku sedang mengetik untuk blogku. Aku cukup rajin mempostin blog setiap minggu, walaupun terkadang tidak tahu ingin memposting apa sehingga aku hanya menatap komputer melihat website lain. Tapi kali ini aku benar-benar sedang membuat posting untuk blogku. Kali ini postingku tentang “Meninggalnya Presiden Korea Utara, Kim Jong Il”

“..Selamat jalan, Kim Jong Il-ssi, semoga Tuhan memberimu tempat yang terbaik untukmu. Untuk keluarganya, semoga kalian diberi ketabahan, juga untuk seluruh rakyat Korea Utara. Aku, mewakili Korea Selatan, juga ikut berduka cita. Dan semoga kau, presiden Kim Jong Un-ssi, semoga kau bisa membawa perubahan besar bagi kami, bahkan bagi dunia. Aku tidak ingin lagi ada tembok di antara kita untuk berkomunikasi, untuk berinteraksi satu sama lain. Aku tidak ingin ada rudal melayang untuk adu kekuatan. Aku juga tidak ingin para namja dewasa di sini melakukan wajib militer selama 2 tahun untuk menjaga serangan kalian. Perang Dingin sudah berakhir 10 tahun yang lalu. Sekarang Amerika Serikat dan Rusia bukanlah musuh bebuyutan. Kenapa kita masih berseteru?

Aku tahu aku hanya seorang remaja yang tidak tahu apa-apa tentang perseteruan kalian. Tapi walaupun aku tahu sebabnya aku tetap menginkan satu kata: DAMAI. Aku ingin kita bersatu kembali seperti dulu. Bukankah nama kita sama-sama Korea? Apa kalian tidak lihat Vietnam?

Aku ingin melihat atau mendengar berita kami bersatu. Tidak ada lagi Pyongyang, tidak ada lagi Seoul, yang menjadi ibukota. Kami bersatu dan tetapkan ibukota bersama. Ah, mungkin itu hanya mimpi. Tapi kau tahu, inilah mimpi kami, rakyat Korea Selatan. Apa kalian juga bermimpi seperti kami? Atau tidak sama sekali?

Sekian. #nowplaying EXO K – MAMA”

Aku langsung meng-klik kotak ‘Publish’. Dan ta-da! Sudah muncul di blog! Hah, apa aku akan diserang oleh netizen soal ini? Masa bodoh.

Aah… aku merentangkan tanganku dan memutar-mutar kursi yang kududuki untuk melemaskan otot-ototku yang tegang. Lalu kulihat jam dinding, lima belas menit lagi jam 5. Sebentar lagi namjachinguku akan datang ke rumahku dan kami akan berjalan bersama, tidak, berenam.

“JONGDAE SUDAH DATANG!!!” teriak eommaku dari pintu kamar. Aku terkejut, mwo!? Ini kan masih kurang 12 menit. Aku langsung berganti pakaian secepatnya, mengambil handphone dan kumasukkan ke dalam celana jeansku lalu menghampiri eomma, “Kau yakin eomma kalau dia Jongdae?”

“Kau kira aku ini rabun apa,” balas eommaku, “Sudah sana hampiri dia! Dia di ruang tamu sekarang.” Aku langsung berpamitan pada eomma, “Daah eomma, aku pergi dulu ya,” berjalan ke luar kamar.

“Hati-hati, Yoonrinnie,” balas eomma, “Semoga kencan pertamamu sukses. Dan, jangan pulang terlalu malam.”

“Ne, eomma,” jawabku. Akupun langsung menghampiri Chen, “Ya! Masih 12 menit lagi!”

“Sekarang tinggal 10 menit lagi,” ujar Chen. “Lebih awal lebih baik. Kaja!”

***

YOUNG RA’S POV

Dimana Kai? Katanya ke rumahku jam 5, tapi sekarang sudah jam 5 lewat 5 menit. Ah anak ini tidak tepat waktu juga ternyata. Aku terus menatap pemandangan luar rumah melalui jendela kamarku.

“Ah, Young Ra-ya! Mianhae aku terlambat!”

Aku menoleh ke belakang. “KYAAA JONGIIINNNN!!!! Kau mau mati apa berteleportasi ke kamarku lagi!?” ujarku marah. Kai hanya terkekeh, “Ah mianhae, chagi. Sepertinya aku harus mengetuk pintu rumahmu ya.” Dan POP! Kai kembali menghilang. Aku langsung menggerutu kesal, “Memang harusnya begitu, pabo!” Dan benar saja, bel rumahku langsung berbunyi dan eomma langsung meneriakiku untuk keluar dari kamar. Aku langsung berlari cepat menghampiri eomma.

“Jongin sudah datang,” kata eomma. Aku menoleh ke arah Kai dan dia hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya padaku. Aku mengangkat alis dan mendengus kesal. Hah dasar muka dua.

“Ah ahjumma, bolehkah aku meminjam anakmu yang cantik ini?” tanya Kai sopan ke eomma sambil tersenyum manis ke arahku. Ya! Bibirmu tebal sekali, Kim Jongin. Aku hanya bisa menahan tawa karena senyuman itu.

“Oh tentu saja, Jongin-ah,” jawab eomma. “Kalian berdua hati-hati ya. Dan jangan pulang larut malam!” Kami berdua mengangguk. “Ne eomma, aku janji,” balasku.

“Ne, aku akan berhati-hati dan menjaga Young Ra, ahjumma,” balas Kai. “Kami izin pergi dulu. Annyeong!”

***

CHANYEOL’S POV

TING TONG! TING TONG! TING TONG!

“ANNYEONG HASEYO! PERMISI! LEE TAE HEE!”

TING TONG! TING TONG!

“ANNYEONG HASEYO! LEE TAE HEE!”

TING TONG!

“LEE TAE HEE!”

Pintu langsung terbuka, “Eoh, gwenchaneyo, Chanyeol-ah?”

“Tae Hee-ya, gwenchana?” tanyaku. Tae Hee lemas sekali. Wajahnya terlihat berantakan dan bajunya juga. “Apa kau sakit? Kalau kau sakit istirahat saja. Aku tidak akan memaksamu.”

“Eoh?” Tae Hee melebarkan matanya yang memerah. Tiba-tiba dia mengucek kedua matanya dan ekspresinya kini sangat terkejut, “Astaga! Sekarang hari Sabtu! Chanyeol-ah, mianhae! Aku baru bangun tidur. Kenapa kau tidak menghubungiku tadi?”

Chanyeol melebarkan matanya, terkejut, “Aigoo Tae Hee-ya, kenapa kau baru ingat!? Kau lihat saja handphonemu. Aku sudah 10 kali menghubungimu, tapi pakai nomor Baekhyun. Aku masih tidak ada pulsa.” Tae Hee langsung menghela napas, “Chanyeol-ah, mianhae. Oke, kau tinggu disini saja ya. Ah, anhi! Kau harus tunggu di luar. Aku ingin bersiap-siap dulu.” Tae Hee langsung menutup pintunya dan aku hanya menunggu di luar, tepat di depan pintu.

***

YOON RIN’S POV

Chen dan aku berdiri di pinggiran Sungai Han.

“Kemana mereka? Sampai sekarang belum datang juga,” gerutu Chen. Aku melirik Chen sinis, “Ya! Ini kan karena kau terlalu awal menghampiriku. Dan akhirnya, kita harus menunggu lama mereka.” Lalu mereka berdua terdiam. Chen melihat jam tangannya, “Aah, sudah lewat 10 menit! Pabo! Dasar mereka! Tidak menghargai waktu! Sudah, lebih baik kita duluan saja!” Chen langsung menarik paksa tanganku.

“Ya!? Sekarang kita mau kemana!? Ya! Pabo! Kenapa kau tidak menelpon mereka!?” omelku. Tapi Chen diam saja dan terus membawa Yoon Rin hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tempat dan masuk ke dalamnya.

“Kenapa kita ke toko buku?” tanyaku bingung. Chen lalu menoleh padaku, tersenyum dan terus menarik tanganku hingga akhirnya kami berhenti di rak yang penuh novel impor, membuatku semakin bingung. Apa kita akan berkencan disini, atau dia akan membelikanku sebuah novel? Ah, tentu saja  tidak mungkin, membuatku bingung saja.

Chen menoleh kembali padaku, menjawab kebingunganku. “Kau lupa dengan tempat ini?” Aku menyipitkan mata dan mencoba melihat sekeliling, lalu aku menggeleng, “Anhi.”

“Asihh…” Chen lalu menyuruhku duduk di lantai. Aku menurut, kebetulan sedang tidak ada orang di sekitar rak ini. Chen terus menatapku, “Masih tidak ingat?” Aku tetap menggeleng, bingung.

“5 tahun lalu…” Chen menghentikan ucapannya. Aku masih menatapnya bingung.

“Masa kau lupa!” gerutu Chen, “Ini kan tempat kita pertama kali bertemu dan berkenalan. Waktu itu aku ingat kau duduk di lantai ini sambil menatap buku Deception Point lama sekali, seperti anak yang tidak punya uang…”

“…Waktu itu bukunya masih tersegel dan aku hanya bisa menatap kover bukunya. Lalu saat itu seorang namja berkacamata muncul dan dengan santainya merobek bungkusan plastik yang menutupi buku itu. Aku ingat judulnya, Eragon!” sambungku tiba-tiba.

“Wah, kau ingat juga ternyata!” ujar Chen takjub. Aku kembali melanjutkan, “Waktu itu aku tercengang melihat kelakukan itu dan namja itu bilang ‘gwenchana, coba saja’ dan akhirnya aku ikut merobeknya…”

“…Lalu aku langsung mengulurkan tangan padamu dan bilang ‘Kim Jong Dae imnida’…” sambung Chen.

“…Aku menatapmu aneh. Aku berpikir, ‘Narsis sekali dia berkenalan denganku. Apa orang ini artis?'”

“…Tentu saja aku artis, sampai sekarang pun aku masih jadi artis sekolah,” ujar Chen sambil bergaya membetulkan kacamatanya. “Bukan begitu sebabnya, waktu itu aku sering melihatmu di sekolah. Dan bahkan sepulang sekolah kau selalu pergi ke kios majalah dan membeli tabloid olahraga.”

“Aku tahu kau terkenal sejak SMP. Tapi nama yang kutahu itu Chen, bukan Kim Jong Dae. Dan aku juga tidak tahu wajahmu saat itu. Ternyata biasa saja,” ujarku. Chen lalu menyeringai, “Biasa saja? Jinjja?” Lalu dia melepas kacamatanya, “Kalau begini?” tanyanya sambil mengedipkan mata.

***

YOUNG RA’S POV

“Aishhh… Jongdae hyung, Chanyeol hyung, dimana mereka!?” gerutu Kai lalu dia menatap jam tangannya, “Sudah lewat 15 menit, tapi mereka tidak datang juga.”

“Sabar Kai, pasti sebentar lagi mereka datang,” ujarku. Tetapi Kai tetap menggerutu kesal, “Ah, aku benci menunggu, Young Ra! Ah, ne aku tahu! Young Ra, kaja!”

“Mau kemana?” tanyaku. Kai tidak menjawab, dia berjalan mendahuluiku. Terpaksa aku mengikutinya. “Kenapa kau tidak menelpon mereka, Kai? Mungkin saja mereka sebentar lagi datang.”

Kai menghentikan langkahnya dan berbalik ke hadapanku, “Menelpon Jongdae hyung? Ah, itu tidak mungkin! Kalau dia sedang bersama yeojachingunya pasti handphonenya dimatikan, atau dia sengaja tidak bawa. Kalau Chanyeol hyung? Ah, ne, aku harus mencobanya.” Kai lalu mengeluarkan hanphone dari kantong celananya dan menelpon Chanyeol.

“Chanyeol hyung sialan! Kurasa dia mengikuti cara Jongdae hyung juga, mematikan handphonenya!” ujar Kai kesal lalu memasukkan handphonenya kembali ke dalam kantong celana, “Ya sudahlah Young Ra, ikut aku saja, kaja!”

“Kemana?” tanyaku.

“Suatu tempat yang pasti kau kenal, tidak bahaya kok,” jawab Kai. Kai kembali berjalan dan aku mengikutinya. Terus dan terus kami berjalan, menjauhi sungai Han, sekarang kami di Sinsu-dong. “Kenapa kau membawaku kesini?” tanyaku.

“Kau pasti pernah ke tempat ini kan?” tanya Kai. Aku menatapnya bingung. Lalu aku melihat sekeliling dan akhirnya aku tersenyum, “Ne! Aku ingat tempat ini!”

“Jinjja? Ah, tentu saja kau ingat! Waktu itu aku dan Kris oppa pernah kesini,” jawabku riang. Kris? Kris oppa? Aah, kenapa dia tidak pernah ada kabar sekarang? Kenapa dia tidak pernah menemuiku lagi sejak aku bertemu dia dengan yeojachingunya, Yoo Sora-ssi?

“Kris? Wufan hyung, eh?” Kai mengangkat alisnya. Aku mengangguk, “Ne, Kris oppa yang ternyata satu kos denganmu, Kai.”

Kai mendengus, “Ooh dia.”

“Ne! Dan aku ingat juga waktu itu aku juga tertabrak dengan seseorang di tempat ini setelah berpetualang dengan Kris oppa. Orang itu yang sekarang menjadi namjachinguku.”

“Eoh?” Kai sedikit terkejut kemudian kembali tersenyum, “Ternyata kau ingat juga, Young Ra-ya.”

“Tentu saja aku ingat, Kim Jongin! Karena kejadian waktu itu, tidak akan ada kejadian sekarang,” balasku. Kai menatapku bingung, “Maksudmu?”

“Aah, kau jangan berpura-pura bodoh, Kai! Kalau aku tidak sengaja menabrak dirimu waktu itu belum tentu aku menjadi yeojachingu sekarang, arra?” jawabku. Kai mengangguk sambil memegang dagunya, “Ooh, arraseo.” Kami berdua pun tetap berdiri di tempat, tepatnya dimana kami saling bertabrakan beberapa minggu yang lalu.

“Engg, Kai, kenapa kita disini terus? Hanya berdiri, dan banyak orang disini.”

***

TAE HEE’S POV

“Chanyeol-ah, mana yang lain?” tanyaku. Kami sekarang berada di tepi sungai Han. Chanyeol menggelengkan kepalanya, “Molla, seharusnya mereka juga ada disini sekarang.”

“Coba hubungi mereka,” ujarku. Chanyeol menghela napas, “Bagaimana aku mau menghubunginya, aku saja tidak ada pulsa.”

“Nado,” balasku. “Pulsaku habis semalam setelah menelponmu.”

“Kau tidak seharusnya menelponku kalau begitu, Tae Hee-ya,” balas Chanyeol.

“Kau tidak senang aku menelponmu?” tanyaku agak kesal. Chanyeol menggeleng, “Ah, anhi, bukan begitu maksudku, Tae Hee. Aku merasa tidak enak saja kalau yeojachinguku yang menelpon. Itu terlihat seperti, aku yang tidak peduli padamu.” Aku langsung memelototi Chanyeol. Apa maksudnya!? Dia gengsi?

“Tae Hee-ya, kenapa kau menatapku seperti itu? Ah mian, mianhae. Aku aishhh, aku, bukan, bukan seperti itu. Aah kau jangan salah paham dulu, chagi,” ujar Chanyeol yang terus merasa bersalah. Aku menatapnya sinis.

“Tae Hee-ya, kau marah padaku?” tanya Chanyeol, “Aaahhh, andwae. Mian. Aku tidak ingin acara kita hari ini berantakan.”

“Memangnya siapa yang marah padamu?” tanyaku yang sekarang berubah ekspresi menjadi bingung. Bingung akan kepanikan Chanyeol yang berlebihan. “Kau berlebihan, Chanyeol-ah.” Aku tertawa, “Ternyata Park Chanyeol itu seperti ini toh kalau dimarahi seorang yeoja. Ckckck, namja payah!”

“Ya!” Chanyeol tiba-tiba menjitak kepalaku keras. Aku langsung memegang kepalaku yang habis dijitak Chanyeol, “Auw! Appo, Chanyeol-ah!”

“Salah sendiri mengataiku payah!” ujar Chanyeol sambil menjulurkan lidahnya padaku. Aku langsung mengepalkan tangan kananku dan berusaha menjitak kepalanya. Tetapi apa daya, badan Chanyeol terlalu tinggi sehingga aku harus berjinjit untuk menjitak kepalanya. Sialnya Chanyeol malah ikutan berjinjit sambil menjulurkan lidahnya, “Tidak akan sampai, Lee Tae Hee.”

Aku menurunkan tanganku, lalu berpikir sesaat dan langsung menyeringai ke arah Chanyeol, “Bagaimana kalau begini, Park Chanyeol?” dan langsung menginjak kakinya yang sekarang tidak berjinjit lagi.

“YA! APPO!!!” Chanyeol langsung mengangkat kakinya yang tadi kuinjak dan mengelusnya, “Tae Hee-ya, appo…”

Kali ini giliranku yang menjulurkan lidah, “Hahaha, rasakan akibatnya, Chanyeol-ah.”

“Neo…”

***

CHANYEOL’S POV

Aduh, sakit sekali kakiku. Injakan Tae Hee keras sekali, yeoja ini, “Neo…”

Tae Hee masih menjulurkan lidahnya, “Hehehe, mashita?” Aku langsung mengeluarkan ‘death glare’ yang hampir tidak pernah kugunakan, kecuali saat mengeluarkan api. Tetapi Tae Hee langsung berlari meninggalkanku.

“Tangkap aku kalau bisa, huhuhu…”

Aishhh, yeoja ini. Aku langsung mengejarnya. Ternyata larinya cukup cepat. Dan ya! Aku terhalang banyak orang yang sibuk berjalan. Aahh, ini kan hari Sabtu. Pinggiran Sungai Han selalu ramai. Aissshhh….

“TAE HEE-YA!!!”

***

YOON RIN’S POV

Mwo?

Chen tersenyum simpul.

“Neo? Ya!”

“Wae? Kau senang, kan?” tanya Chen. Aku melongo, “Hajiman… Jongdae-ah!”

“Sudahlah kau diam saja, Yoonrinnie,” paksa Chen. Aku menghembuskan napas dan hanya berdiri di tempat melihat apa yang Chen lakukan. Setelah itu Chen langsung menghampiriku, “Kaja!”

“Aigoo…” gumamku. Chen langsung menarikku keluar dari toko buku dan terus membawaku. Dan sampailah kami ke sebuah tempat. “Bagaimana kalau disini?” tanya Chen.

Aku melongo, lalu mengangguk seketika. Aku duduk duluan dan Chen duduk tepat di sebelahku. Kami duduk di rerumputan di taman sekitar sungai Han, bersama banyak orang-orang yang juga menghabiskan waktu akhir minggu. Aku menatap pada plastik putih yang berada di antara kami, sebuah buku yang dibeli Chen tadi, “Boleh kubuka sekarang?”

“Silakan, Hwang agassi. Buku itu kan memang untukmu,” kata Chen sambil tersenyum lebar.

“YA! Kau mencoba bercanda lagi, Jongdae!”

“Aku serius!” ujar Chen, “Tidak percaya? Lihat saja mataku.”

Aku menuruti perintahnya. Aku menatap mata Chen lekat-lekat. Kulebarkan mataku, kemudian menyipit, memperhatikan mata Chen secara detail Untuk mengecek apakah ada kebohongan disana. Tapi anehnya jarak antara mataku dan mata Chen semakin dekat. Ya! Bukan aku yang membuatnya jadi sedekat ini, bahkan semakin dekat. Omona!

“Ah, aku sudah penasaran, Jongdae! Harus kubuka sekarang!”

***

YOUNG RA’S POV

“Kai-ah, kita mau kemana lagi?” tanyaku. Sejak tadi kami berdua hanya berjalan-jalan tak jelas ingin kemana. Kai mengangkat kedua bahunya, “Molla.” Dan kami tetap berjalan tak tentu arah. Tiba-tiba hal yang paling tak kuinginkan terjadi. Perutku berbunyi. Kai langsung berhenti dan menoleh padaku, “Young Ra-ya? Gwenchana?”

Sepertinya suara perutku tadi cukup keras sampai Kai harus mendengarnya. Padahal keadaan sekitar sedang ramai banyak orang yang berjalan di sekitar kami, juga lalu lintas yang sedikit padat karena akhir minggu. Perutku berbunyi sekali lagi dan aku langsung memegang perutku, “Appo…”

“Young Ra-ya?” Kai langsung merangkulku. Aku langsung berjongkok, masih memegang perutku, meringis kesakitan. Kai ikut berjongkok, “Young Ra, neo? Aishh, pasti deh. Kau ini.” Kai langsung menarikku berdiri lalu memapahku, “Kebiasaan. Kaja!”

Kami melanjutkan perjalanan. Kemudian kami masuk ke sebuah supermarket dan Kai mengambil lima bungkus roti lalu membayarnya di kasir. Lalu kami keluar dari supermarket dan duduk di kursi panjang tepat di depannya.

Kai menyerahkan seplastik roti yang ia beli barusan padaku, “Makanlah semuanya. Pasti kau belum makan dari tadi. Cepat makan! Aku tidak ingin maag mu kambuh. Sebentar aku beli minum dulu. Kau, habiskan.” Aku hanya mengangguk mendengar ocehannya. Kai masuk kembali ke dalam supermarket untuk membeli minum sementara aku mengambil sebungkus roti dari dalam plastik. Rasa coklat, kesukaanku! Aku langsung membukanya dan memakannya dengan lahap.

Beberapa saat kemudian Kai muncul dan langsung duduk di sebelahku, membawa sebotol air mineral berukuran sedang. Sementara aku sedang membuka bungkus terakhir roti yang dibelinya. Kai melirikku, “Mwo!? Bungkus terakhir!?”

Aku menyeringai, “Hehe, mian. Aku belum makan sejak siang tadi. Aku tidak makan siang tadi. Wae? Kau mau? Ah, kau pasti lapar.” Aku langsung memotong rotinya menjadi 2 bagian dan menyodorkan satu bagian ke Kai, “Untukmu.”

Kai menggeleng, “Anhi, untukmu saja. Habiskan saja, Young Ra.” Aku menaruh bagian roti ke pangkuanku dan memakan bagian sisanya. Sementara Kai hanya menatap lurus ke depan, memandang orang-orang yang berjalan.

Saat aku sedang asyik makan, tiba-tiba Kai mengalihkan pandangannya padaku dan melirik ke bawah, ke pahaku. “Kai?”

Dia seolah-olah tidak mendengarku, terus menatap ke bawah. “Kai? Kai? Ya! Kai! Prevert!!!” Tetapi Kai tetap tidak menghiraukanku, terus memandang. Aku langsung mengikuti pandangannya. Ah, pantas saja! Namja ini. Ternyata dia lapar juga. Aku langsung mengambil roti yang ternyata kutaruh disitu dan langsung menyodorkan padanya, “Aku tahu kau lapar Kai. Ambillah.”

Kai langsung mengambil rotinya, “Gomawo,” dan langsung memakannya. Aku hanya tersenyum dan kembali memakan rotiku.

***

CHANYEOL’S POV

Lee Tae Hee!? Sial! Kemana yeoja itu!? Sampai saat ini aku belum menemukannya.

“HEI PARK CHANYEOL!!!”

Aku mencari sumber suara. Ah, yeoja itu! Tidak terlalu jauh dariku. Dia menari aneh sambil menjulurkan lidahnya, seolah-olah ingin berkata “Tangkap aku kalau bisa.” Lalu dia kembali berlari. Ah benar saja, yeojachinguku ini menyusahkan. Aku langsung mengejarnya dan lagi, harus terhalang orang-orang. Ah Sungai Han–anhi–pinggir Sungai Han… kenapa harus ramai? Rutukku. Dan BRUKKK!!!

Aku menabrak seseorang, orang itu terjatuh, “Ah, mianhae, mianhamnida.” Dan aku langsung membantunya berdiri. Orang itu merapikan bajunya, seorang wanita yang sepertinya berusia paruh baya. Aku membungku padanya, “Mianhae, ahjumma. Neomu neomu mianhae.”

“Gwenchana, naneun gwenchana,” kata ahjumma itu tersenyum ramah, “Geulonde, kenapa kau berlari. Kau terlihat terburu-buru, Nak.”

“Anhi ahjumma, aku sedang mengejar yeojachinguku,” balasku, “Sekali lagi, mianhae ahjumma,” aku membungkukkan badanku kembali padanya. Saat berlari, aku sempat mendengar gumamannya, “Mengejar yeojachingu? Aah romantis sekali.” Aishh… ini bukan romantis, ini seperti anak kecil!

***

TAE HEE’S POV

Aku terus berlari. Haha mengerjai Chanyeol menyenangkan juga ternyata. Aku berhenti sebentar, ah dimana anak itu? Aku menoleh ke belakang, mencari sosoknya yang tinggi.

Tidak ada.

Aku memutuskan untuk berlari lagi. Kalau aku berhenti pasti aku tertangkap Chanyeol karena dia dimudahkan dalam melangkah karena kakinya yang panjang.

Hosh, hosh, hosh… Aku lelah dan kehabisan napas berlari terus. Aku berhenti dan merunduk memegang lututku sembari menarik napas, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Setelah kurasa cukup, aku kembali berdiri tegak dan melanjutkan lariku.

Tetapi terlambat. Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang. “Mau kemana kau, chagi?”

DEG! Suara itu.. suara berat itu? Aku mencoba menoleh ke belakang walaupun aku masih terjebak dalam pelukan orang itu. Ya! Sekarang orang itu malah tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang tersusun rapi.

“Ya, Chanyeol-ah! Lepaskan aku!” aku mencoba memberontak tetapi Chanyeol tetap memelukku, “Mau mencoba kabur lagi? Ooh tidak bisa, Tae Hee. Kau sudah kalah sekarang.” DEG! Ah tidak, kenapa aku jadi begini? Kenapa aku jadi lemah seperti kehabisan oksigen sekarang? Padahal pelukan Chanyeol tidak terlalu erat.

Akhirnya Chanyeol melpas pelukannya. Aku sedikit bernapas lega, tapi tidak berani berbalik menatap Chanyeol. Entah kenapa jantungku jadi sakit. Harusnya aku bisa kabur lagi sekarang. Tapi entah kenapa juga aku jadi tidak ingin.

Lalu sebuah tangan menepuk pundakku, “Tae Hee-ya?”

Aku menoleh. Entah ada angin dari mana, tidak, bukan angin, itu kekuatan chingunya si Sehun. Entah ada api dari mana dia langsung menarikku, tepatnya, menarikku ke dalam pelukannya. Dan hal yang paling buruk bercampur indah pun terjadi. Hal yang sempat tertunda beberapa minggu yang lalu karena Yoon Rin kini benar-benar terjadi.

Saat ini, detik ini, Park Chanyeol menciumku, tepat di bagian bibirku. Aku sangat terkejut. Tetapi sedetik kemudian aku menutup mata dan membalasnya. Hanya sebentar, hanya dua menit. Chanyeol lalu melepaskan ciumannya juga pelukannya. Aku langsung menunduk, tidak ingin melihatnya, jantungku berdegup keras sekarang, bahkan kurasa pipiku juga memerah.

Chanyeol langsung memegang tanganku, kurasakan tangannya juga agak bergetar, “Engg… Tae Hee, mianhae. Kaja! Sudah jam setengah tujuh, engg, mulai banyak orang disini. Kaja!”

***

YOON RIN’S POV

“Aah buku ini bagus juga. Alur pembunuhannya keren. Teka-tekinya juga bagus,” ujarku sambil menutup buku yang barusan kubaca.

“Mwo? Cepat sekali kau membacanya,” ujar Chen yang sejak tadi hanya diam saja, tidak ingin menggangguku yang sibuk membaca sejak tadi. Aku terkekeh, “Hehe, sebenarnya aku pernah membaca buku ini sebelumnya. Tapi waktu itu aku pinjam punya Key. Makanya aku merasa sangat tidak enak saat kau membelikannya untukku.”

Chen diam saja. Aku jadi merasa bersalah.

“Tapi aku juga senang kau membelikannya untukku. Aku sangat berterima kasih padamu. Sebenarnya aku benar-benar tidak enak, kenapa kau harus mengeluarkan uang sebanyak itu. Tapi ya sudahlah, tidak mungkin mengembalikannya lagi. Lumayan, menambah koleksi bukuku.” Aku berusaha tersenyum padanya, dan akhirnya Chen membalas senyumanku. Lalu aku melihat tukang es krim yang sedang dikerumuni oleh anak-anak yang ingin membeli es krim disitu. Aah, kebetulan sekali aku mulai lapar. Aku menjentikkan jariku, “Ah, Jongdae, kau duduk disini saja ya. Jaga bukunya baik-baik. Oh tidak, itukan kau yang beli haha.” Aku langsung berlari menghampiri tukang es krim. Aku membeli dua cone es krim coklat. Setelah itu aku kembali. Chen masih duduk sambil membaca buku yang kubaca tadi.

“Jongdae-ah, ini untukmu,” aku menyerahkan satu cone es krim padanya. Chen mendongak dan terlihat terkejut, “Jinjja?” Aku hanya mengangguk. Chen lalu menerima es krim pemberianku, “Gomawo, chagi-ya.” Aku tersenyum dan duduk di sebelahnya, ikut memakan es krim. Itba-tiba sekumpulan air turun ke bumi, hujan. Aku mengadahkan tangan kiriku, “Hujan?”

“Ya! Yoon Rin! Kaja!” Chen langsung mengambil buku yang tergeletak dan berlari. Aku mengikutinya. Untung saja tak jauh dari tempat kami terdapat beberapa gazebo dan beruntungnya kami menempati gazebo yang kosong. Untung saja aku memakai jaket. Aku langsung melepas jaketku yang basah dan untungnya juga aku memakai T-Shirt yang tebal dan kebesaran. Es krim kami terjatuh saat berlari. Aku hanya menatap langit yang dipenuhi hujan. Hah, aku lapar. Tiba-tiba kilat muncul. Orang-orang di sekitar terlihat takut tetapi aku tertawa sendiri melihat kilat itu.

“Kenapa kau tertawa sendiri, Yoonrinnie? Seperti orang gila saja,” ucapan Chen menyadarkankudari kegiatan tertawa sendiri. Aku menyeringai, lalu menunjuk kilat di langit, “Kau ya yang membuatnya?”

“Mwo? Naneun?” Chen seperti terkejut. Aku mengangguk. Lalu Chen tertawa, “Kau ini, aku memang punya kekuatan itu. Tapi untuk kilat sebesar itu, tentu saja bukan aku yang membuatnya. Yang lebih hebat dari semua yang ada di planet ini.” Aku tersenyum mendengar ucapannya, kau memang pintar, Jongdae. Chen sepertinya mengerti arti senyumanku, “Justru aku sedikit mencurigai hujan. Aku menduga ada yang membuatnya.”

“Mwo?” ujarku terkejut. Chen mengangguk, “Ne, diantara kami ber-duabelas, salah satu di antara kami ada yang, yah bisa dibilang, bisa mengendalikan air.”

“Air?” Aku melebarkan mataku, teringat sesuatu, “Chakkaman! Umm, maksudmu, namanya, Suho?”

“Ne, Suho hyung. Mwo? Ya! Kau kenal Suho hyung?” tanya Chen yang tampaknya terkejut. Aku hanya tersenyum sambil memain-mainkan buku. Tidak menjawab pertanyaannya. Aku kembali membaca buku. Tiba-tiba…

“Sudah, kita berteduh dulu saja disini.”

“Tapi oppa, orang tuaku…”

“Tenang, Seo Yeon.  Mereka pasti tahu kalau sekarang hujan. Rumahmu kan tidak jauh dari sini. Pasti di daerah rumahmu juga sedang hujan.”

“Hajiman…”

“Sudah, nanti aku bantu jelaskan.”

“Eoh? Gomawo, Joon Myeon oppa.”

Seo Yeon? Sepertinya nama yang tidak asing kudengar. Kapan ya aku mendengar namanya?

“Joonmyeon? Suho hyung?”

Aku mendongak, ternyata Chen yang baru saja bilang. Suho? Oh ya! Seo Yeon itu kalimat yang pernah diucapkan namja yang bernama Suho saat aku bermain ke rumah kos Chen untuk mengerjakan tugas dengan Chanyeol. Dan mereka berdua sekarang berteduh di gazebo yang sama dengan kami. Dan juga saat ini Chen terkejut dengan keberadaan namja bernama Suho atau Joonmyeon atau yah, Suho oppa. Suho juga terkejut saat melihat Chen, “Jongdae?”

“Neo, kenapa kau disini, hyung?” tanya Chen. “Harusnya kan kau sudah pulang kuliah dari tadi sore. Biasanya kau pulang tepat waktu.”

Suho tersenyum, lebih tepatnya senyum dengan kesan memaksa, “Ah itu, aku…” Tetapi Chen langsung memotongnya, “Mwo? Aah, sekarang, siapa yeoja di sebelahmu itu?”

Suho diam saja. Begitu juga yeoja di sebelahnya yang bernama Seo Yeon. Dia hanya menunduk.

“Aaahh, dia yeojachingumu ya, hyung? Kenapa kau tidak cerita pada kami?” ujar Chen. Suho sudah bersiap-siap ingin bicara tetapi seseorang datang ke tempat kami.

“Suho oppa! Suho oppa!” Seorang yeoja datang menghampiri Suho. Suho menatapnya bingung, “Jiyong, wae?”

“Oppa, kenapa kau meninggalkan aku sendirian? Au kehujanan. Dan ya! Kau bersama yeoja ini lagi,” kata yeoja yang bernama Jiyong itu. Kini yeoja itu duduk di sebelah Suho. Yah, dari tadi aku hanya menjadi penonton saja. Tidak penting mencampuri urusan orang lain. Lagipula menjadi penonton lebih nikmat.

“Lho, bukannya kau bersama namja di sebelahmu tadi? Bukannya naja tadi itu saudaramu?” tanya Suho. Yeoja itu langsung mengomel, “Ya! Saudaraku!? Anhi! Dia itu orang gila! Dia selalu mendekatiku dari tadi!” Sementara Suho hanya menjawab, “Ooh.. Seo Yeon, apa kamu lapar?”

Seo Yeon menggeleng, “Anhi, oppa. Aku masih kenyang kok.”

“Ya, Suho oppa! Kenapa kau juga tidak menanyakanku!?” omel Jiyong. Suho menoleh padanya dan tersenyum manis, bahkan matanya pun juga tersenyum, “Aigoo Jiyong, tadi kan kita sudah makan bersama di kampus.”

Aku dan Chen saling berpandangan. Menjadi bingung sendiri, seolah-olah hanya menjadi penonton sebuah drama.  Lalu aku membuat tanda segitiga dengan tangan. Chen mengangguk mengerti, “Aah cinta segitiga, drama.”

“Anhi, ini segitiga bermuda,” ujarku. Chen mengrutkan alisnya, “Segtiga bermuda? Bahaya, dong.”

“Umm, bagaimana kalau Segitiga Biru?” ujarku, “Untuk membuat roti, mashita!” Kami berdua lalu tertawa sementara Suho sibuk dikerumuni dua yeoja.

***

TAE HEE’S POV

Hujan, kami pun berteduh di depan toko kosmetik, masih di sekitar Sungai Han.

Kulihat Chanyeol, dia membuang muka dariku, dia hanya melihat hujan dan orang lain yang berlarian. Yah semenjak dia menciumku tadi. Bahkan saat kami berjalan bersama dia tidak menatapku sama sekali, walaupun dia memegang tanganku. Dari tadi kami diam saja. Kenapa dia? Apa dia merasa sangat bersalah atas apa yang dia lakukan tadi? Aku menarik napas lalu memanggil namanya, “Chanyeol-ah?”

Chanyeol menoleh padaku akhirnya, “Umm, wae?” Aku hanya menatapnya. Sebenarnya aku tidak tahu ingin bicara apa padanya, hanya ingin memanggil, “Umm, gwenchana.” Chanyeol kembali menoleh ke arah lain. Aishh namja ini, kenapa sekarang kami menjadi kaku begini!? Tiba-tiba, “HATCHIII!!! HATCHIII!!!” Aku bersin.

Chanyeol kembali menoleh padaku, “Tae Hee-ya, gwenchana?” Aku ingin menjawab tapi terhalang oleh bersin, “HATCHIII!!!” Aah, kenapa aku harus bersin? Sialnya aku tidak membawa jaket. Kenapa hujan datang tiba-tiba sih!? Chanyeol tampak sedikit panik melihatku, “Aishh, aku juga tidak bawa jaket,” ujarnya sambil menepuk dahinya.

“HATCHIII!!! HATCHIII!!! HATCHII!!! Bersin sialan! Menggangguku sa… HATCHIII!!!”

Chanyeol masih memandangku, terlihat bingung. Kemudian dia memegang tangan kiriku, “Lebih baik?”

Aku menatapnya, “Chanyeol, kau panas sekali.” Chanyeol terkekeh, “Hehe, tentu saja. Kau ini lupa aku ini siapa, hah.” Aku ikut terkekeh, “Tentu saja kau Park Chanyeol, fire control. Ne, sekarang tanganku lebih hangat.”

“Hanya tangan?” Chanyeol mengangkat alisnya. Aku mengangguk, “Ne.” chanyeol langsung berdecak, “Ckckck, aigoo…” Langsung saja Chanyeol merangkul bahuku, “Sekarang sudah hangat semua?”

“Umm, lebih baik,” jawabku sambil tersenyum. Chanyeol juga ikut tersenyum, memeperlihatkan giginya yang rapi, seperti biasa. Aku langsung menunduk. Aigoo mungkin kali ini pipiku memerah walaupun sering melihat senyuman Chanyeol yang selalu bahagia itu. Aku kembali mendongak, dan melihat pemandangan hujan dan orang-orang yang mencari tempat berteduh.

***

YOUNG RA’S POV

“Haah kenapa di saat seperti ini harus hujan?” keluhku. Kai hanya menatap lurus pemandangan hujan, “Molla, tapi setidaknya kita tidak kehujanan.”

“Ne, untung saja dari tadi kita duduk disini,” kataku. Yah, sejak makan roti tadi kami hanya diam di tempat. Duduk di kursi tepat depan supermarket. Tiba-tiba aku mendengar suara dari sebelah kananku.

“Bagaimana?”

“Aku tetap tidak bisa membaca pikiranmu, Sen Ri.”

“Huuh payah kau, Luhan-ssi. Katanya bisa membaca pikiran orang-orang. Masa membaca pikiranku saja tidak bisa.”

“Sungguh, aku tidak tahu apa isi pikiranmu, Sen Ri.”

“Jinjja? Aishh, pertanyaannya kuulang. Aku ingin makan apa?”

“…”

“Ya! Padahal aku sudah berteriak-teriak dalam hati lho aku ingin makan apa.”

“Jinnja, aku benar-benar tidak bisa membaca pikiranmu.”

“Mwo!?”

“Yang aku tahu, yeoja di sebelah kananku ini tadi makan empat setengah bungkus roti. Dan namja sebelahnya itu adalah namjachingunya, Kim Jong In.”

Aku terkejut. Mwo? Kenapa dia bisa tahu apa yang kumakan? Dia juga tahu nama namjachinguku. Aku langsung menepuk bahu Kai, “Kai?” Kai menoleh, “Wae?”

“Di sebelah kananku ada namja aneh. Dia tahu apa yang kumakan tadi dan dia juga tahu siapa namamu,” jawabku. Kai langsung melebarkan matanya, “Aah, pasti aku kenal namja itu. Dasar namja-tahu-urusan-orang.” Kai langsung menghampiri kursi sebelah, apa yang akan dia lakukan? Menyerang namja itu? “Kai, andwae!”

“Luhan hyung, kenpa kau bisa disini!?” tanya Kai curiga. Luhan menatap Kai, “Oh Kkamjong! Yah, kebetulan saja hujan jadi aku berteduh disini.”

“Bukannya hari ini kau tidak ada jadwal kuliah ya, hyung?” tanya Kai, “Biasanya kalau tidak ada jadwal kau selalu di rumah dengan rubiksmu. Kenapa kau disini bersama dengan seorang yeoja?”

Luhan menjadi agak gugup, “Engg, itu karena aku, ada perlu dengan yeoja ini. Perkenalkan, dia Lee Sen Ri. Sen Ri, ini teman satu kosku, Kim Jong In. Dia sudah kuanggap sebagai dongsaengku sendiri.” Yeoja yang bernama Sen Ri itu memperkenalkan diri pada Kai, “Sen Ri imnida.” Kai membalasnya, “Jong In imnida. Hyung, noona ini yeojachingumu? Kenapa tidak bilang? Ya, Sen Ri noona! Hati-hati berpacaran dengan Luhan hyung. Dia bisa membaca semua pikiranmu. Kau bilang ‘a’ saja dia bisa tahu.”

“Membaca pikiran?” ulang Sen Ri. “Dia tidak bisa membaca pikiranku sama sekali! Kenapa dia bisa membaca pikiran kalian!? Luhan-ssi, apa kau hanya berpura-pura tidak bisa membaca pikiranku!?”

“Tidak bisa?” ujar Kai bingung. Mwo? Jadi dia toh yang bernama Luhan, yang pernah diceritakan Kris bisa membaca pikiran siapa saja. Tapi kenapa kali ini tidak bisa? Tiba-tiba aku tertawa, teringat sesuatu. Luhan langsung menoleh padaku, “Jinjja!?”

***

AUTHOR’S POV

Akhirnya hujan sudah reda di daerah Seoul dan sekitarnya. Semua orang kembali melakukan aktivitasnya tanpa terhalang hujan di gemerlap malam kota Seoul yang cukup basah.

Sudah jam setengah sembilan malam. Chen, Yoon Rin, Suho, Seo Yeon, dan Jiyong tidak lagi berada di gazebo. Mereka kembali berjalan. Chen dan Yoon Rin kembali menjadi penonton keributan trio segitiga Seo Yeon-Suho-Jiyong dari belakang.

“Joonmyeon oppa, kau yakin orang tuaku tidak marah? Dari tadi mereka tidak menelponku.”

“Aku yakin, Seo Yeon. Nanti kubantu. Kan aku juga mengantarmu pulang.”

“Ya, Suho oppa! Bagaimana tugas akutansi kita!? Bahkan kita belum mencari bukunya!”

“Tolong belikan dong, Jiyong. Aku harus mengantar Seo Yeon dulu.”

“Tidak perlu, oppa. Aku bisa minta antarkan oppaku disini.”

“Anhi! Aku yang mengajakmu pergi. Kau pulang jam segini, aku yang harus bertanggung jawab.”

“Suho oppa! Tugas kita! Besok harus dikumpulkan!”

“Aah Jiyong, jebal, kau beli bukunya sendiri ya.”

“Aku tidak tahu bukunya yang mana!”

“Joonmyeon oppa, aku bisa minta antarkan oppaku.”

“Andwae!”

“Suho oppa! Bukunya!”

Aku dan Chen kembali saling pandang. Spontan kami berdua membuat tanda segitiga dengan tangan bersamaan. “Segitiga biru,” ujarku. Chen tersenyum lebar, “Mashita…”

“Jongdae, nilai fisikaku?” ujarku. Chen menggeleng, “Anhi, besok saja. Lebih baik kita menonton drama cinta segitiga saja. Anhi, segitiga bermuda, oh segitiga biru!”

***

Di tempat lain, Young Ra dan Kai harus menghadapi Luhan yang sedang frustasi. Sen Ri sudah pulang ke rumahnya karena berselisih dengan Luhan. “Tidak mungkin! Aku mengenal Sen Ri seminggu yang lalu. Cukup lama, bukan? Tapi sampai sekarang aku tidak bisa membaca pikirannya. Apa kekuatanku berkurang? Anhi, aku masih bisa membaca pikiran yang lain. Huaaaa…” Dan sekarang Luhan menangis, “Lee Sen Ri, kau membuat kekuatanku hancur. Huhuhu…” Kai lalu menenangkan Luhan, “Sstt tenang Luhan hyung, mungkin saja Sen Ri sengaja mengosongkan pikirannya setiap bertemu denganmu.” Young Ra hanya tertawa. Kai beralih menatap Young Ra, “Ypung Ra-ya, wae?”

“Hahah, gwenchana. Hanya saja, aku baru ini melihat seorang namja sebegitu frustasinya sampai menangis,” jawab Young Ra. “Kedua, hahaha…” Kali ini Young Ra terus tertawa.

“Ya! Young Ra! Jangan bercanda kau!” ujar Luhan, tangisannya berhenti. Young Ra terkekeh, “Aku hanya asal tebak, oppa.”

“Ya! Apa yang kalian bicarakan!?” ujar Kai. Young Ra menyeringai, “Kau tidak perlu tahu, Kai. Ini rahasiaku dan Luhan oppa.”

“YA!”

***

Sementara Tae Hee dan Chanyeol berjalan bersama menuju rumah Tae Hee. Mereka menyudahi kencan mereka karena sudah terlalu malam. Merekapun sampai di depan rumah Tae Hee. “Sampai!” ujar Chanyeol sambil berputar dan merentangkan kedua tangannya. Tae Hee menghentikannya dengan menarik tangan kiri Chanyeol, “Hentikan, Chanyeol! Kau seperti bocah saja!”

“Aku ini kan happy virus, pembawa kebahagiaan,” kata Chanyeol. Tae Hee mendengus, “Ini sudah malam! Yang ada kau menjadi crazy virus.”

“Kurasa itu bagus,” ujar Chanyeol yang kembali memamerkan senyum lebarnya. “Terserahlah,” gumam Tae Hee, “Aku masuk dulu ya.” Tae Hee mengeluarkan kunci pagar rumahnya, tetapi tangannya ditahan oleh Chanyeol, “Chakkaman!”

“Mwo?” tanya Tae Hee. Chanyeol menggerak-gerakkan kakinya, “Eungg, saranghae, Lee Tae Hee.” Tae Hee tersenyum lebar, lalu menunduk, dan pipinya memerah, iapun bergumam lirih, “Nado saranghae, Park Chanyeol.” Tae Hee kembali mendongak, menatap mata Chanyeol dalam. Kini Chanyeol merendahkan badannya, seimbang dengan tinggi badan Tae Hee. Chanyeol langsung memeluk Tae Hee dan mencium bibirnya. Tae Hee pun membalas ciuman Chanyeol. Lima menit kemudian mereka melepas ciumannya. “Umm, aku masuk dulu, Chanyeol. Annyeong!” Tae Hee langsung membuka pintu pagar dan masuk ke dalam lalu kembali menguncinya.

“Hati-hati Tae Hee, kunci pintunya baik-baik,” ujar Chanyeol. Tae Hee tersenyum, “Ne, oppa.”

***

TAE HEE’S POV

Aku masuk ke dalam rumah, kembali mengunci pintu dan langsung masuk ke dalam kamar.

Hah, kencan pertama yang sangat indah. Aku berganti pakaian lalu merebahkan diri di tempat tidur, mengingat kejadian tadi, dan tersenyum sendiri. Ah, akhirnya aku bisa mencintai Chanyeol. Akhirnya…

Dan ya! Triple date!? Triple date apanya!? Tidak ada Yoon Rin, tidak ada Chen, tidak ada juga namja satunya yang bernama Kai. Triple date gagal!!! Tapi setidaknya date-ku dengan Chanyeol cukup berhasil, hehe. Aku langsung menutup mata dan tertidur.

***

*krek *lemesin otot selesai juga! aneh kan? haha.

3 or 5?

Posted: Mei 28, 2012 in twoshoot
Tag:

Annyeong! Lagi-lagi author datang setelah lama buntu banget ga punya ide apa-apa sehingga postingnya gak kunjung bertambah akhirnya bisa dateng lagi bawa tulisan baru. Yah walaupun tulisannya gak kalah bikim hoeks para reader karena ceritanya yang aneh banget.

Masih sambungan dari 2 post sebelumnya, tapi kali ini gw bikinnya 2-shoot soalnya kepanjangan. Yaudahlah ya kalo mau baca monggo kalo nggak ya sudah, itu hak kalian haha.

 

Tae Hee’s pov

Oh, I’m corious yeah…

Nada pesan berbunyi. Aku langsung mengambil handphone yang kuletakkan di atas meja belajar. Aku langsung membuka isinya.

“Tidur yang nyenyak, chagi-ya, jangan begadang. Saranghae ^^”

Hah Chanyeol lagi! Hari ini, sejak pulang sekolah jam setengah 3 sore, Chanyeol sudah  mengirimiku pesan sebanyak… 60 kali! Yah terdengar biasa sih. Tapi sangat mengganggu bagiku. Aku harus membalas tiap pesannya. Oke kau bisa bilang aku yeoja yang tidak baik. Apalagi Chanyeol adalah namjachinguku. Tapi disitu masalahnya.

Aku tidak mencintainya.

Walaupun sudah seminggu kami berpacaran, tetap saja aku merasa kalau aku tidak mencintainya. Entah kenapa aku menerimanya cintanya  waktu itu. “Nado saranghae?” Apa aku aneh? Apa karena aku melihat Chen berciuman dengan seorang hobbae?

Jujur, sampai sekarang aku masih menyukai Chen, namja berkacamata yang tampan, pintar, dan jago bernyanyi, juga banyak sekali fansnya di sekolah. Ternyata dia sudah punya yeojachingu, teman sebangkuku sendiri, Hwang Yoon Rin, satu-satunya anti-Chen yang ternyata punya cerita sendiri.

Apa yang harus kulakukan? Otthoke? Tidak mungkin kan aku langsung memutuskannya. Aku tidak ingin menyakitinya. Chanyeol adalah namja yang baik, namja yang selalu membuat orang lain bahagia di sekitarnya.

Aku merebahkan diriku di tempat tidur. Aku menghela napas. Hah… Mungkin mulai saat ini aku harus mencoba mencintainya. Aku masih memegang handphoneku dan menatap pesan SMS dari Chanyeol. Lebih baik tidak kubalas. Kalau kubalas pasti dia marah karena sekarang sudah jam 1 malam dan aku belum tidur.

***

YOON RIN’S POV

Kau belum tidur? Kau tahu kalau sekarang sudah jam 1?

Aku menghela napas panjang. Aah, namja ini! “Tentu saja aku tahu, Jongdae. Wae?”

Wae? Hei ini tengah malam! Seharusnya kau tidur, Yoonrinnie!

“Aaa, shireo!”

Wae? Aah, kau pasti ingin terus bicara denganku ya?

“Mwoya? Anhi! Sebentar lagi kan Liga Champion dimulai! Real Madrid lawan AC Milan. Aku tidak ingin ketinggalan menonton big match ini!”

YA! Kau tidak tahu apa kalau jam pertama nanti ulangan Fisika!?

“Tentu saja aku ingat. Aku sambil belajar kok. Sudah, pertandingannya sudah mulai. Annyeong!”

CHAKKAMAN!

“Mwo?”

Saranghae, chagi-ah.

“Eoh? Nado, Jongdae. Sudah ya kau tidur sana. Aku ingin konsentrasi menonton sekarang.”

Fisika?

“Itu juga! Annyeong!”  KLIK. Aku langsung memutuskan hubungan dan menaruh handphoneku di meja.

***

YOUNG RA’S POV

Aku terus menoleh ke segala arah. Kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah. Oh ya, kolong tempat tidur. Aman semua! Tidak ada posisi barang yang berubah. Oke, kali ini aku bisa tidur. Lagipula sekarang sudah malam sekali, jam 1. Sudah 3 hari terakhir ini aku selalu tidur tengah malam. Semua karena namjachinguku, Kai.

Ya, Kai! Aku terus tidur tengah malam karenanya. Bukan, bukan karena dia selalu datang ke rumahku atau menelponku sampai malam. Tapi ini lebih parah lagi! Aku takut kalau Kai menyelinap masuk kamarku pada tengah malam, tanpa izin. Karena Kai itu punya kemampuan teleportasi. Dia bisa hilang dan muncul dimanapun dan kapanpun dia mau. Lapisan dinding yang tebal dan sistem keamanan yang sangat canggih pun tidak terlalu berguna untuknya.

Sudah aman? Kurasa sudah. Oke. Aku langsung menarik selimutku dan memejamkan mata.

***

TAE HEE’S POV

Bel jam kedua berbunyi. Ryeowook sajangnim berdiri di depan kelas.

“WAKTU HABIS! KUMPULKAN LEMBAR JAWABAN DAN KERTAS SOAL KALIAN DI DEPAN.”

Hah, ulangan Fisika akhirnya selesai juga. Fuh 2 jam ujian mematikan. Aku hanya asal jawab saja. Kenapa harus soal esai. Kalau pilihan ganda pasti aku bisa tebak kancing. Ah, Ryeowook sajangnim terkadang kejam juga. Aku dan murid-murid lain pun langsung mengumpulkan ulangan kami di depan kelas. Kami semua langsung menggerakkan badan layaknya orang yang melakukan senam.

“Kuharap kalian mengerjakan dengan jujur dan mendapat nilai yang baik. Annyeong!” ujar Ryeowook sajangnim pada seisi kelas sambil membungkukkan badan. Kami membalas bungkukannya, “ANNYEONG, SAJANGNIM!”

“JANGAN KELUAR KELAS!” ucap Ryeowook. Dia pun keluar dari kelas kami.  Kelas pun menjadi gaduh. Aku berjalan menuju tempat duduk Amber Liu dan Choi Jinri. Aku tidak ingin dekat-dekat dengan Chanyeol. Walaupun dia namjachinguku, ini kan sekolah. Aku takut jadi omongan orang lain.

“Soalnya susah sekali!” ujarku.

“Ne, aku juga merasa begitu,” balas Jinri sambil mengangguk. Amber hanya tertawa, “Hah kalian. Pasti kalian tidak belajar ya semalam?” Aku dan Jinri hanya mengangguk. Amber kembali tertawa, “Haha, semua soalnya kan ada di buku cetak. Kalau kalian mengerjakannya pasti sebenarnya kalian bisa.” Ah pantas saja, aku kan semalam hanya bermain Point Blank bersama Taemin dongsaengku sambil ber-SMS ria bersama Chanyeol. Setelah itu tidur. Ah, paboya!

***

YOON RIN’S POV

“Yoon Rin-ya! Tumben kau tidak taruhan,” ujar Kibum yang sekarang duduk di sebelah tempat dudukku.

“Aah, anhi, Key-ah. Sekarang sudah kelas 3. Aku takut tidak lulus dan aku harus menghemat pengeluaran,” balasku. Chanyeol–yang duduk di belakangku–mencibir, “Mwo? Bahkan kau yeoja terpelit yang pernah kutemui, Yoonrinnie.”

“YA!” ujarku, “Haha akhirnya tim putih kaya penuh bintang itu kalah juga.”

“Ne. Tendangan Ibrahimovic sungguh daebak,” ujar Key. “Meliuk bagaikan pisang. El capitano Casillas saja tidak bisa menghadang bola itu. Sayang hanya 1-0.”

“Yang penting menang,” balasku.

“Ya, itu lebih baik,” ujar Chanyeol, “Daripada penalti CR yang gagal. Ah memalukan sekali. Kurasa dia belum keramas dengan shampo Clear dan jadi ketombean, sehingga gagallah penaltinya.”

Kami berdua tertawa mendengar perkataan Chanyeol. Tiba-tiba tawa kami harus berhenti karena suara deham sebangku Chanyeol, Chen. Chanyeol langsung menoleh ke arahnya, “Wae?” Tetapi Chen hanya mengangkat bahunya dan kembali berkonsentrasi mengerjakan soal-soal Matematika. Aku melirik Chen sinis, “Cih!”

“Gwenchana?” tanya Kibum bingung. Chanyeol mengedipkan mata dan mengangkat alisnya dan Kibum langsung mengangguk dan pergi dari sebelah tempat dudukku. Aish, Yeollie, sepertinya anak ini mengisyaratkan sesuatu. Tak lama kemudian Kyuhyun seonsaengnim masuk kelas dengan napas tersengal-sengal.

“Hah, mianhae anak-anak! Aku habis dari rumah sakit mengurus noonaku yang baru melahirkan. Ah, langsung saja buka buku kalian bab 3.”

***

AUTHOR’S POV

Jam 3 sore. Sekolah hari ini sudah selesai. Tae Hee, Yoon Rin, Chanyeol, dan Chen pulang bersama.

“Ulangan Fisika gila!” ujar Tae Hee. Chanyeol mengangguk setuju, “Ne, Tae Hee-ya! Aku saja menulis asal jawabannya. Hah, kenapa harus esai sih!?” Chen menggeleng sambil berdecak mendengar ucapan Chanyeol, “Dasar! Semua soalnya kan ada di buku cetak. Kau malah asyik nonton bola saja tanpa belajar.” Chanyeol malah tertawa mendengar ucapan Chen dan menimpalinya, “Itu lebih baik daripada kalah taruhan tiga kali lipat, Kim Jongdae.” Chen lalu diam sambil memanyunkan bibirnya.

“Mwo? Jadi kalian… taruhan?” tanya Yoon Rin pada Chanyeol dan Chen. Chanyeol menyeringai senang, “Ne, Yoonrinnie. Kami berdua bertaruh. Hah tumben sekali Jongdae ikut menonton bola dan taruhan bersama kami. Aku, Baekki, Kyungsoo menjagokan Milan, sementara Jongdae Madrid sendiri. Akhirnya dia deh yang kalah.” Kini Chanyeol menyeringai ke arah Chen, “Kau tahu Yoonrinnie, bahkan namchingumu ini harus bayar 10.000 won padaku. Anhi, untukku, Baekki, dan Kyungsoo, jadi semuanya 30.000 hahaha…”

“Diam kau!” bentak Chen. Yoon Rin dan Tae  Hee tertawa. “Hah pantas saja saat kita mengobrol dengan Key dia berdeham. Kukira dia bersikap dingin seperti biasa.”

“Ya! Mana mungkin aku bersikap dingin padamu sekarang!? Aku ini kan namjachingumu!” ujar Chen. Yoon Rin terperangah, “Eoh? Ah ne! Aku lupa. Haha.” Chen memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Yoon Rin sementara Tae Hee tertawa. Tiba-tiba Chanyeol berhenti melangkah, “Ehm, bagaimana kalau Sabtu ini kita kencan bersama?”

Ucapan Chanyeol membuat tiga orang lainnya terkejut dan menghentikan langkahnya. “J-j-jinjja?” tanya Tae Hee. Chanyeol tersenyum, “Ne, chagi. Bagaimana, kau mau?” Tae Hee terdiam sesaat lalu menghela napas, “Hah, kalau itu, terserahlah.”

“Chanyeol-ah, sepertinya idemu bagus juga. Aku setuju!” ujar Chen. Lalu dia menoleh ke Yoon Rin yang ada di sebelahnya, “Yoonrinnie, bagaimana denganmu?”

“Eoh? Naneun?” ujar Yoon Rin. Kini ekspresinya menjadi bingung, “Molla.”

***

YOON RIN’S POV

Kembali sendiri, seperti biasa. Karena hanya aku yang rumahnya di Gusu-dong. Sementara mereka bertiga di Sinsu-dong.

“Tak akan kubiarkan yeojachinguku berjalan sendiri.” Aku menoleh ke kanan. Jongdae? Aish, namja ini, selalu saja menguntit. Aku langsung mempercepat langkahku sampai hampir berlari. Tapi tak ada gunanya, kaki Chen lebih panjang sehingga bisa menyamakan langkahku. Aku menggerutu kesal, “Jongdae! Aish!” Tetapi Chen langsung menahan tanganku. “Wae?” tanyaku.

“Kau ini. Aish, aku kan namjachingumu,” ujar Chen, “Apa salahnya aku bersamamu? Lagipula, ini kan bukan di sekolah. Jadi aku bisa berdua denganmu kan?” Aku diam saja, tidak berkomentar apa-apa.

Chen menatapku dalam, “Kau masih takut pada sekumpulan yeoja yang selalu memanggilku setiap aku lewat? Oh ayolah Yoonrinnie, ini di luar sekolah. Dan ya! Sampai kapan kita harus seperti ini?” Aku mengangkat bahu, “Molla. Oh ya Jongdae, kencan itu apa?”

Chen kembali terkejut, “Mwo? Kau tidak tahu?”

“Ah, tentu saja aku tahu. Aku sering mendengar kata itu,” jawabku, “Hanya saja, aku tidak tahu persisnya. Aku kan belum pernah punya namjachingu sebelumnya.”

Chen tertawa mendengar ucapanku, “Haha, Yoonrinnie, kau polos ternyata. Kencan itu, ah, kau rasakan saja sendiri Sabtu nanti.” Kamipun kembali meneruskan perjalanan. “Geulonde, bagaimana ulanganmu tadi? Bisa?” tanya Chen.

“Molla. Tapi aku berharap tidak mengulang. Aku bosan mengulang,” jawabku. Chen lalu menyeringai, “Bagaimana kalau kita buat taruhan?”

***

CHANYEOL’S POV

“Chen dan Yoon Rin.. enaknya mereka…”

Aish, Jongdae lagi, Jongdae lagi. Padahal dia, Tae Hee, yeojachinguku sekarang. Tapi kenapa dia masih menyebut nama Jongdae? Apa dia masih menyukai Jongdae? Tapi kenapa dia menerimaku waktu itu? Ah sabar Park Chanyeol, ini hanya proses.

***

YOUNG RA’S POV

“Bagaimana sekolahmu hari ini, Young Ra?”

“Hah biasa saja, Kai. Penuh guru, pelajaran, dan tak luput dari berhitung. Membosankan.” Aku lalu menghela napas. “Hah, sekolahmu pasti menyenangkan. Sekolah seni di kelas dance, setiap hari menari, tidak ada berhitung. Ah enaknya…”

“Siapa bilang?,” balas Kai, “Siapa bilang tidak ada berhitung?”

“Maksudmu?”

“Ne, siapa bilang menari tidak pakai hitungan. Setiap gerakan selalu memakai hitungan.” Kai lalu memperagakan gerak tarian yang terputus-putus, “Satu, dua, tiga, empat…” dan berhenti menari dan menatap Young Ra, “Lihat, berhitung juga kan?”

Aku mengangguk, “Oh iya ya haha. Kenapa aku baru sadar? Bodohnya aku.” Kai lalu tersenyum dan mengacak-acak rambutku.

“YA! KALIAN KETAHUAN LAGI!”

Aku dan Kai terkejut dan spontan kami langsung menoleh ke belakang. Orang itu tersenyum lebar sambil terkekeh. Kai menghela napas, “Jongdae hyung! Aishh…”

“Wae?” tanya orang itu–yang kuketahui teman satu kos Kai, “Aah mianhae, sepertinya aku mengganggu kalian ya?” godanya. Kai hanya memanyunkan bibirnya sementara aku menundukkan kepala. Dia kembali terkekeh, “Ah teruskan saja. Aku tidak akan mengganggu kalian kok.” Lalu namja itu pergi melewati kami. Tetapi dia berhenti kembali dan menoleh pada kami, “Hei Jongin, sepertinya ide gila Chanyeol itu segera terealisasi. Kau mau ikut tidak? Sabtu ini. Ah, tanya dulu pada yeojachingumu. Annyeong!” Dan namja itupun pergi. Kai lalu tersenyum sendiri. Aku bingung melihatnya, “Wae, Kai?”

“Kau mau ikut tidak?” tanya Kai. “Ikut apa?” tanyaku bingung.

“Kencan,” jawab Kai, “Lebih tepatnya, triple date. Aku, kau, Jongdae hyung dan Chanyeol hyung, beserta yeojachingunya. Sabtu ini. Kau mau?” Kencan? Triple date? Sabtu ini? Aku berpikir sesaat, lalu tersenyum, “Ah, sepertinya itu ide bagus. Aku ikut. Kebetulan aku tidak ada acara Sabtu ini. Aku juga penasaran dengan yeojachingu mereka.”

“Cha, jadi kau ikut. Aku jadi tidak sabar,” ujar Kai.

***

AUTHOR’S POV

Pukul 19.00 KST

“Apa Tae Hee mau ikut?” tanya Chen. Chanyeol mengangkat kedua bahunya, “Molla, katanya terserah. Tapi kurasa dia mau ikut. Semoga.”

“Aku sangat berharap dia ikut, Chanyeol,” ujar Chen, “Mungkin saja dengan cara ini Tae Hee bisa mencintaimu.”

“Hah, semoga,” ujar Chanyeol sambil menghela napas dan tersenyum simpul. “Andai aku dirimu, Jongdae…” ucapnya dalam hati.

“JONGDAE HYUNG! CHANYEOL HYUNG!” teriak Kai menghampiri Chen dan Chanyeol. “Kalian membicarakan triple date ya? Berita bagus, yeojachinguku mau ikut.”

Senyum Chanyeol langsung merekah, “Berarti rencana kita jadi. Oh ya Jongdae, bagaimana Yoon Rin? Apa dia ikut?”

Chen menggeleng, ” Aku harap dia mau ikut. Dia tidak tahu apa rasanya kencan. Maklum, aku kan namjachingu pertamanya.” Chanyeol mengangguk-angguk, “Ooh, begitu.”

“YA! KALIAN BICARA TENTANG APA HAYOO?” ujar Baekhyun yang membuat Chen, Chanyeol, dan Kai terkejut. “Pasti membicarakan yeojachingu kalian. Ckckck, bukannya belajar.”

“Kau malah menghampiri kami. Bukannya belajar,” timpal Chanyeol. Lalu datanglah Xiu Min, “Kalian kenapa tidak belajar? Yeojachingu saja yang diurus.”

“Ini bukan urusanmu, Minseok hyung pendek. Kau kan tidak punya yeojachingu,” timpal Baekhyun. Xiu Min langsung menjitak kepala Baekhyun, “Anak nakal! Kau juga pendek sepertiku!”

“Yeojachingu? Kau kan juga tidak punya, Baekki,” ujar Chanyeol. Baekhyun langsung memanyunkan bibir, “Jangan dibahas.”

“MAKANAN SUDAH SIAP, HYUNGDEUL! SAENGDEUL!!!”

“Ah, itu pasti Kyungsoo!” ujar Baekhyun. Mereka langsung berlari menuju meja makan. Kai paling cepat sampai karena memakai kekuatan teleportasi dan membuat D.O. terkejut, “Aish Jongin! Jangan pakai teleportasi disini! Lagipula kau pasti kebagian kok.” Kai terkekeh, “Ah, mianhae, Kyungsoo hyung. Tapi perutku sudah meronta-ronta dari tadi. Terpaksa deh.” D.O. hanya menghela napas. Lalu yang lain sudah sampai di meja makan.

Kris menghitung orang yang duduk di meja makan, “Satu, dua, tiga… sebelas? Kenapa cuma sebelas? Siapa yang tidak ada?”

“Thuho hyung. Ne, tidak ada Thuho hyung dithini,” ujar Sehun sang maknae kos (Sehun cadel ‘s’ makanya th = s). Kris mengiyakan, “Ah, iya Joonmyeon. Dimana anak itu?”

“Tenang saja, sebentar lagi anak itu kembali kok,” ujar Luhan sambil tersenyum-senyum. Semua menoleh ke Luhan sekarang. “Hyung! Hyung! Beritahu aku dimana dia sekarang, dengan siapa, dan sedang apa,” ujar Baekhyun memaksa. Tetapi Luhan hanya tersenyum, “Tidak bisa, Baekki. Aku punya hak menjaga rahasia.”

“AAA HYUUUNNGGG! JEBAAAALLL!!!” rengek Baekhyun. Tapi Luhan diam saja.

“Annyeong haseyo! Mian aku terlambat.”

Semua orang menoleh ke sumber suara, “THUHO HYUNG!” teriak Sehun. “Hai Sehun.”

“Kemana saja kau, Joonmyeon?” tanya Kris tegas, “Kenapa kau baru datang?”

“Ah itu, hyung. Um aku, habis ada urusan kuliah. Jadi aku pulang telat,” jawab Suho. Semuanya memiliki ekspresi yang bermacam-macam setelah mendengar ucapan Suho. Ada yang hanya mengangguk saja dan ada yang meliriknya curiga. Sementara Luhan tersenyum penuh arti pada Suho.

“Ah, kaja! Kita makan! Nanti makanan buatan Kyungsoo dingin!” kata Suho tiba-tiba.

“KAJAAAA!” teriak semuanya. Mereka pun langsung makan bersama.

***

YOON RIN’S POV

IGE MWOYA!? Kenapa taruhannya harus seperti ini!? Jongdae sialan! Dimana otakmu, Kim Jongdae!?

-flashback-

“Bagaimana kalau kita buat taruhan?”

Mwo? Aku membulatkan mataku seketika. Kami berhenti melangkah. Sekeliling kami jarang orang berlalu lalang. Chen mengangguk, “Ne, bagaimana kalau kita taruhan?”

“Taruhan! Aish, minggu ini tidak ada big match, Jongdae,” jawabku, “Lagipula aku tidak ingin taruhan. Uangku menipis.” Chen menggeleng, “Siapa bilang taruhan bola dan uang?”

“Jadi?”

“Kita taruhan nilai Fisika,” jawab Chen. Aku langsung terkejut, “Mwoya!? Jeongmal? Andwae! Nilai Fisikaku kan selalu jelek. Kau tahu kan soal itu. Ah, aku pasti langsung kalah.”

“Kau tidak bisa menolaknya,” Chen menyeringai. “Anhi, taruhannya bukan siapa yang nilainya lebih bagus. Kalau itu pasti aku yang menang.” Aku langsung mencibir, “Narsis. Tentu saja nilaimu bagus. Kau kan pintar. Aku? Nilaiku selalu di bawah 6. Dan mungkin juga itu nilaiku nanti. Aku jamin hal itu.”

“Taruhannya sederhana saja,” ujarnya. “Kalau nilaimu di bawah 6 maka kau menang. Kalau nilaimu di atas 7 maka aku yang menang.”

“Kalau aku menang tolong jangan temani aku atau mendekatiku satu hari,” ujarku. Chen tersenyum lebar, “Begitu saja? Hah, mudah sekali.”

“Kalau kau menang?”

“Aku akan mengumumkan kepada orang-orang kalau kau yeojachinguku,” jawab Chen dengan senyumnya yang merekah, “Dengan begitu tidak ada yeoja-yeoja aneh lagi yang menggangguku dan memberi hadiah aneh-aneh dan kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi seperti ini. Deal?” Chen mengulurkan tangannya. Aku menerima ulurannya dan menjabat tangannya, “Deal!”

-flashback end-

Aaa Tuhan! Kenapa aku menerima taruhannya? Aku sebenarnya tidak ingin banyak orang tahu kalau aku yeojachingunya. Apa kata dunia kalau para yeoja di sekolah tahu hal ini? Secara mereka semua tahu kalau aku anti-nya. Tapi di sisi lain juga aku tidak mau lagi nilai ulanganku jelek. Otthoke? Jongdae, aku ingin meremukkan kacamatamu sekarang! Grrr!!!

“Yoon Rin-ah. Cepat habiskan makananmu! Dagingnya keburu dingin!” omel eommaku yang duduk berhadapan denganku. Ah, ternyata aku melamun ya tadi.

***

YOUNG RA’S POV

“Aku tidak sabar menunggu hari Sabtu. Yah, walaupun masih 2 hari lagi. Kencan pertamaku dengan Kai, aah pasti indah sekali. Ooh Sabtu, cepatlah datang.”

Huaaah, menulis diari selesai. Aku mengatur napas sambil merentangkan tangan untuk melemaskan otot yang tegang.

“Jadi kau benar-benar tidak sabar?”

KYAAAA!!! Aku langsung terperanjat dari kursiku dan menoleh ke belakang. Seorang namja yang sangat kukenal dengan smirknya yang khas. “Neo!?”

“Hai, chagi,” sapat Kai sambil melambaikan tangan kanannya. “Terkejut?”

Aku langsung melemparkan buku Fisikaku yang cukup tebal ke wajahnya, “Prevert namja! Pergi kau dari sini!”

Tapi Kai hanya tertawa, lalu menghilang. Aku mendengus kesal. “Aaaaa, Kim Jongiiiinnn!!!”

***

TAE HEE’S POV

Kencan? Apa aku harus ikut kencan dengan Chanyeol? Aku berpikir sesaat. Ah, mungkin dengan cara ini aku bisa mencintai Chanyeol. Sampai detik ini pun aku masih belum bisa mencintainya. Yang ada di pikiranku hanyalah Chen. Anhi, Tae Hee, Chen itu namjachingu sahabtmu sendiri.

“Hahaha… lucu sekali orang itu. Masa minum tepung.” Lamunanku pecah oleh tawa keras Taemin yang sedang menonton acara komedi di televisi. Aku juga ada di sebelahnya, tapi aku tidak terlalu menikmati acaranya. Aku langsung bangkit dari sofa.

“Noona, kau mau kemana?” tanya Taemin yang melihatku berdiri. “Ke kamar,” jawabku. Lalu aku pergi menuju kamar.

Di kamar, tidak ada kegiatan yang menarik yang ingin kulakukan. Belajar? Ah, malas. Entah pikiran darimana aku langsung menyambar handphone yang tergeletak di atas tempat tidur. Aku langsung membuka tombol kuncinya.

Tidak ada, tidak ada pesan baru ataupun missed call. Aku menghela napas panjang. Aku kembali menaruh handphone di atas tempat tidur dan berbaring di sebelahnya.

“I’m so corious yeah…”

Kyaa! Pesan baru! Aku langsung mengambil handphoneku dan membukanya. Saat kubaca, aku langsung merengut.

Ternyata hanya pesan dari operator yang menawarkan tiket pesawat gratis ke Vancouver. Hah memang aku ingin ke luar negeri apa.

Tapi, ah, sudah 5 jam tidak ada pesan atau telepon dari Chanyeol. Biasanya anak ini selalu mengirim pesan dari pulang sekolah sampai malam. Kenapa hari ini tidak? Ah, kenapa harus peduli?

***

AUTHOR’S POV

“YA! SEKARANG AKAN AKU BAGIKAN ULANGAN FISIKA KALIAN!”

Wajah semua murid bermacam-macam. Ada yang tegang, tenang-tenang saja, bahkan ada yang tidur.

“Ya! Yoonrinnie! Bangun! Ryeowook seonsaengnim akan membagikan ulangan kita kemarin,” ujar Tae Hee yang menepuk pundak Yoon Rin yang dari tadi asyik tidur. Yoon Rin mengerjapkan kedua matanya, “Eoh? Jinjja? Biasanya minggu depan dia membaginya.”

“Park Chanyeol-ssi…”

Chanyeol maju ke depan kelas, menghapiri Ryeowook seonsaengnim dan mengambil kertas hasil ulangannya. Chanyeol melihatnya sesaat, lalu menghembuskan napas dan kembali ke tempat duduknya.

“Chanyeol? Ada apa dengannya? Ah jangan-jangan dia mengulang. Aduuh bagaimana dengan nilaiku. Pasti lebih buruk darinya,” ujar Tae Hee panik. Yoon Rin melirik Tae Hee bingung, “Kau? Tumben sekali kau panik.”

“Ah, gwenchana,” balas Tae Hee. Yoon Rin mengerutkan keningnya.

“Kim Jong Dae-ssi…”

Chen langsung maju ke depan kelas dengan wajah datar. Dia mengambil nilai ulangannya dan melihat kertasnya sesaat lalu kembali ke tempat duduk.

“Hah, pasti nilai Chen bagus,” ujar Tae Hee. Yoon Rin yang masih mengantuk hanya mengangguk. Beberapa anak sudah mengambil hasil ulangannya.

“Amber Josephine Liu-ssi… Choi Jinri-ssi… Kim Kibum-ssi…”

“Lee Tae Hee…”

“Giliranku.” Tae Hee langsung berdiri dan mengambil nilai hasil ulangannya dengan sedikit was-was. Setelah mengambil nilai ulangannya, dia langsung kembali duduk.

“Berapa nilaimu?” tanya Yoon Rin. Tae Hee menghela napas, “Biasa, aku harus mengulang. Tapi setidaknya nilaiku 65, lebih baik dibanding nilai-nilaiku sebelumnya.” Yoon Rin kembali menaruh kepalanya di atas meja, “Kau saja mengulang. Apalagi aku…”

“Hwang Yoon Rin-ssi…”

Yoon Rin bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke meja Ryeowook seonsaengnim. Dia mengambil hasil ulangannya dan langsung melipatnya tanpa dilihat. Segera dia kembali ke tempat duduk.

“Berapa nilaimu?” tanya Tae Hee. Yoon Rin mengangkat bahu, “Molla. Lebih baik kulihat nanti saja saat pulang. Ah, pasti nilaiku ‘do-re-mi’ lagi.”

***

“Berapa nilai Fisikamu, Tae Hee-ya?”

“65, Chanyeol-ah. Ah, mengulang lagi deh,” keluh Tae Hee. Chanyeol menepuk pundak Tae Hee, “Aku lebih baik dapat nilai segitu, Tae Hee. Nilaiku lebih menyakitkan, 69.”

“Eoh, satu poin lagi kau tidak mengulang,” ujar Tae Hee. Chanyeol hanya mengangguk lemah. Tae Hee lalu menatap Chanyeol dan tersenyum lirih, “Semangat, Chanyeol! Aku juga mengulang kok. Kita sama-sama mengulang!” Lalu Tae Hee merentangkan tangannya dan berteriak di udara. “AKU MENGULANG LAGI!!! YA FISIKA!!! SARANGHAEYO, FISIKA!!!”

Chanyeol pun mengikuti gerakan Tae Hee. Dia juga merenttangkan kedua tangannya dan berteriak di udara, “NE! NADO! AKU JUGA MENGULANG FISIKA BERSAMANYA! SARANGHAEYO, LEE TAE HEE!!!” Tae Hee melongo lalu menundukkan kepalanya. Malu. Chen menggelengkan kepalanya karena heran, sementara Yoon Rin tertawa terbahak-bahak.

“Wae?” tanya Chen. Yoon Rin, yang masih tertawa, berkata, “Ah anhi, Jongdae. Mereka lucu! Yah, Tae Hee, Yeollie…” dan kembali melanjutkan tawanya. Chen mendengus, “Yoonrinnie, geulonde, berapa nilai Fisikamu?” Yoon Rin langsung diam dan terkejut, “M-m-mwo?”

“Kau kira aku lupa? Berapa nilai Fisikamu?” ulang Chen. Yoon Rin ingin menjawab tapi langsung disela Tae Hee, “Dia belum melihat nilainya! Jangan tanya padanya sebelum dia melihat sendiri berapa nilainya. Dia tidak suka, ara?”

“Aah, araseo,” jawab Chen, “Yoonrinnie, mian… YOONRINNIE!?” Chen menoleh ke segala arah. Tidak ada Yoon Rin. “Kemana dia?”

“Molla,” Tae Hee mengangkat kedua bahunya.

“Itu…” Chanyeol menunjuk ke sebuah gang. Chen dan Tae Hee melihat ke gang yang ditunjuk Chanyeol. Terlihat Yoon Rin yang sedang berjalan cepat. Semakin jauh dari penglihatan mereka bertiga.

“Apa ini salahku? Ya! Yoonrinnie!!!” Chen mencoba menyusul Yoon Rin tetapi Chanyeol menahannya, “Andwae, Jongdae! Biarkan dia sendiri. Mungkin dia sedang ‘menenangkan diri’. Dia itu cepat marah.” Tae Hee mengangguk setuju dengan ucapan Chanyeol, “Ne, Chanyeol benar. Dia itu emosian.”

“Ooh begitu,” ujar Chen, “Ya! Chanyeol! Kenapa kau lebih tau Yoon Rin daripada aku!? Aku kan namjachingunya!”

“Salah sendiri kau dulu memusuhinya, Jongdae!” balas Chanyeol. Chen terdiam. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah mereka masing-masing.

***

YOON RIN’S POV

Aah, terkutuk kau Jongdae! Terkutuk kau Fisika! Aku menatap tasku yang kuletakkan di atas meja belajar. Haruskah aku melihatnya? Haruskah aku membuka lipatan terkutuk itu? Kalau nilaiku do-re-mi lagi aku harus mengulang. Ah, aku benci terus mengulang pelajaran Fisika. Tapi kalau aku tidak mengulang, Jongdae akan terang-terangan dengan hubungan kami sehingga aku harus berhadapan dengan beberapa yeoja? Begitu? Haaah, aku menghembuskan napas panjang. Lihat, tidak, lihat…

Cha, memang sebaiknya dilihat saja. Aku langsung membuka tasku dan mengambil kertas ulangan Fisika yang kulipat menjadi dua. Aku kembali menarik napas panjang. Tidak biasanya aku melihat nilai ulanganku segugup ini. Aku membuka lipatannya. Dan terpampanglah sebuah angka yang berukuran cukup besar.

71.

IGE MWOYA!?

***

AUTHOR’S POV

“Jongdaenim, gwenchana?” tanya Lay yang baru duduk di sebelah Chen di ruang tengah. Chen terlihat murung dengan wajahnya yang dipangku oleh kedua tangannya. Tidak menyadari kehadiran Lay di sebelahnya.

“Ya! Jongdaenim!” Lay menggoyang kencang badan Chen. Chen langsung sadar, “Ah, Yixing gege, wae?”

“Gwenchana?” ulang Lay. Chen tersenyum kecil. “Ne, gwenchana.” Lay menatap Chen curiga, “Jinjja? Tapi kurasa kau kenapa-kenapa. Jangan bohongi diri sendiri, Jongdae.”

“Ne. Naneun gwenchana,” balas Chen dengan suara yang sedikit ditinggikan. “Kalaupun aku punya masalah, aku pasti bisa menyelesaikannya sendiri.”

“Ah ne, ne, araseo. Kalau itu maumu,” ujar Lay. Lay bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruang tengah. “YIXING GEGE!” panggilan Chen membuat langkah Lay terhenti dan menoleh ke arahnya, “Wae?”

“Bisakah kau buatkan makanan untukku? Apa saja. Aku lapar, Ge. Hehe.” Lay menghembuskan napas panjang, “Kau ini. Katanya kalau punya masalah bisa kau selesaikan sendiri.”

“Kecuali masalah makanan,” timpal Chen. “Jebal, Ge. Masakanmu kan enak.” Chen tersenyum sangat lebar sehingga membuat Lay kembali menghela napas, “Hah, ne, dongsaeng,” dan dia pergi ke dapur. Chen pun kembali melamun di ruang tengah.

“Ah, jinjja?”

“Ne, tapi aku hanya melihatnya sekilas. Tadi aku melihatnya saat aku ingin membeli komik One Piece terbaru.”

Chen pergi dari lamunannya. Dia mendongakkan kepala dan melihat Kai dan Sehun memasuki ruang tengah. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu.

“Kau tahu, Jongin. Thepertinya Luhan hyung juga thedikit aneh akhir-akhir ini. Sepertinya ada yang dia sembunyikan. Kau tahu kan kalau dia sekarang ini suka pulang jam 6 sore,” ujar Sehun.

“Jeongmal? Aah, dua hyung itu membuat kita penasaran saja,” balas Kai. Chen, yang sejak tadi memncuri dengar pembicaraan Kai dan Sehun akhirnya angkat bicara. “Ya! Apa yang sedang kalian bicarakan?”

Sehun dan Kai sedikit terkejut mengetahui Chen yang tiba-tiba berbicara. “Ah, Jongdae hyung. Ternyata kau disini. Ne, kami sedang membicarakan dua hyung kita, hyung,” ujar Kai. Sehun mengangguk, “Ne, kami thedang membicarakan Thuho hyung dan Luhan hyung. Kami merasa dua hyung itu aneh thekali akhir-akhir ini.” Lalu mereka bertiga terdiam sesaat. “Apa kau juga meratha begitu, hyung?” lanjut Sehun.

Chen mengangguk, “Ne.”

-to be continued-

 

Appear and Disappear

Posted: Mei 4, 2012 in oneshoot
Tag:,

Halo,  kembali dengan author disini. Kali ini author bawa tulisan baru. Tapi mian “What Is It?” nya ditunda dulu. Soalnya flashdisk gw lagi dipinjem temen dan datanya ada disitu. Gw bawa tulisan aneh ini dulu ya, yang gak kalah bikin muntahnya. Bisa dibilang ini sekuel dari “Four Years”. Cuma beda cast.

Udahlah, selamat membaca.

 

Muncul dan hilang, datang dan pergi, ada dan tidak ada. Itulah yang membuat kehidupan ini menjadi tidak membosankan.

Selesai. Aku menoleh ke belakang, oke anak itu menghilang. Aku bernapas lega. Oke, aku jadi bisa tidur dengan tenang karena besok harus sekolah. Aku membaringkan diriku di tempat tidur. Semoga dia tidak menggangguku lagi setiap malam. Oh tidak, memang sudah perjanjiannya untuk tidak menggangguku atau muncul di kamarku tiap aku tidur.

Muncul dan hilang, datang dan pergi, ada dan tidak ada. Kalimat itu sebenarnya kutujukan kepada namjachinguku. Dia seumuran denganku, tetapi beda sekolah. Kenapa aku bilang dia itu muncul dan hilang, datang dan pergi, serta ada dan tidak ada? Ah, lebih baik aku cerita saja.

Oh iya aku lupa, namaku Kim Young Ra.

***

AUTHOR’S POV

“ANAK-ANAK, KARENA BEL PULANG SUDAH BERBUNYI, PEKERJAANNYA DIJADIKAN TUGAS RUMAH SAJA. DIKUMPULKAN BESOK YA.”

Semua murid kelas 2 SMA Hyungdae menurut saja apa kata Gu Ra seonsaengnim, guru Fisika, walaupun dalam hati mereka tidak senang dengan tugas ini. Semua murid di kelas itu merapikan bukunya dan memasukannya ke dalam tas masing-masing. Lalu mereka keluar kelas.

“YOUNG RA! YOUNG RA!”

Yeoja berambut panjang, bermata kecil, putih, dan pendek bernama Young Ra menoleh, mencari sumber suara, “Tao? Gwenchana?”

Namja yang bernama Tao—yang memanggil Young Ra tadi—berbadan tinggi tegap, jauh lebih tinggi daipada Young Ra dan berwajah agak menyeramkan pada pandangan pertama, menghampiri Young Ra. “Young Ra, Kris gege ingin bertemu denganmu hari ini.”

Young Ra langsung terkejut dan hampir terjatuh, “Mwo?”

***

YOUNG RA’S POV

“Mwo?”

Kris oppa? Jinjja? Apa dia tidak salah bicara. Kris oppa—teman satu kos Tao yang benar-benar tampan. Namja yang membuatku gila sendiri membayangkannya. Yah Kris oppa, pertama kali aku melihatnya saat aku pergi ke rumah kos Tao bersama kedua temanku yang lain untuk belajar Matematika bersama seminggu yang lalu.

“Hei, hei Young Ra? Ya! Kau baik-baik saja kan?”

Aku langsung tersadar. Kulihat Tao sedang melambai-lambaikan tangan kanannya di depan wajahku. Oh tidak, ternyata aku melamun tadi. “Eoh? Ne, gwenchana, Taozi!”

“Cha, ke rumah kosku nanti setelah ganti baju. Ara?” ujar Tao. Aku langsung mengangguk semangat sambil mengacungkan jempol, “Arasseo, Taozi. Aku akan berdandan rapi untuk Kris oppa!”

Tao mengerutkan dahinya, “Hah, terserahlah.”

***

“Lalalalala~ aku akan bertemu oppa Kris yang tampa~n~” Aku berganti pakaian. Adikku belum pulang sekolah sepertinya, dan eomma pergi. Aku langsung keluar rumah menuju rumah kos Tao, untuk menemui Kris oppa.

***

“KIM YOUNG RA-SSI?”

Aku menoleh ke belakang, “Kris-ssi?” Aneh, kenapa orang ini datang tiba-tiba. Sepertinya tadi tidak ada orang sama sekali.

“Ah anhi, jangan terlalu formal begitu. Panggil saja aku ‘oppa’,” ujar Kris, lalu dia mendekatiku, “Kau mau kemana?”

Aku diam saja, lebih tepatnya menjadi kaku. Aigoo… tampan sekali namja di hadapanku ini.

Kris tersenyum, “Oh iya! Aku baru ingat. Kau kan ingin ke rumah kos ku. Dan ya! Kau ingin menemuiku kan?” Aku hanya mengangguk. Kris kembali tersenyum, “Ne, aku tadi menitipkan pesan pada Tao. Ah, kau tidak perlu ke rumah. Kaja! Kau ikut aku. Ada yang ingin kutunjukkan padamu.” Kris langsung berjalan sementara aku mengikutinya. Dan sampailah kami di sebuah gedung apartemen. “Kaja, kita masuk.”

Kami memasuki apartemen, lalu kami menaiki lift. Kris langsung memencet angka 12 dan lift pun bergerak naik. Aku bingung, apa yang akan dia lakukan. “Oppa, apa yang akan kita lakukan?” Kris hanya diam. Tetapi saat tiba di lantai 10 dia menyeringai dan berkata, “Lihat saja nanti, Young Ra. Ini akan mengasyikkan.” Dan ting! Lift berbunyi dan sudah menunjukkan angka 12. Pintu lift pun terbuka. Aku dan Kris keluar. Dan langsung saja aku terkejut dan menutup kedua mataku, “Oppa, ige mwoya?” Kami berada di lantai paling atas. Bahkan bukan paling atas lagi, tapi di atap apartemen! “Oppa, apa yang akan kita lakukan? Kenapa kau membawaku kesini?”

“Ternyata kamu takut ketinggian ya? Oke, pegang tanganku. Kau boleh menutup matamu kok. Ingat, jangan lepas ya,” ujar Kris. Aku hanya mengangguk dan menyerahkan tangan kananku yang langsung digenggam Kris sementara tangan kiriku masih kugunakan untuk menutup mata. Kris terus berjalan entah membawaku kemana. Lalu dia berhenti. “Oppa?”

“Kau suka tantangan?” Aku terdiam.

“Oke, berarti kau suka. Siapkan jantungmu, Young Ra-ssi.” Dan entah kenapa aku langsung merasa kakiku tidak menapak lagi, seperti melayang. Tunggu? Apa Kris membawaku terbang? Ah pasti aku sedang mengkhayal sekarang. Tapi…

“Oppa, apa kita sedang terbang? Aku tidak merasa kakiku menapak.”

“Ne, Young Ra. Kita memang benar-benar terbang. Kalau kau siap buka matamu sekarang. Kalau kau masih takut aku tidak memaksamu untuk membuka mata. Tapi asal kau tahu, pemandangan di bawah sangat indah. Kau pasti akan menyukainya.”

Mwo? Apa namja yang memegang tanganku sekarang ini sedang bercanda? Tapi kenapa kakiku memang benar-benar tidak menapak dari tadi? Ah sudahlah kuturuti saja perkataannya. Akupun membuka mata. Sejenak aku terkejut. Mwo? Aku benar-benar terbang?

Aku melihat ke bawah, ya benar! Omona… aku bisa melihat pemandangan indah. Biru… itu pasti laut. Terus lagi, waaw banyak gedung.

“Sepertinya kita harus kembali.”

Mwo? Cepat sekali. Dan dalam beberapa saat saja kami sudah kembali ke atap apartemen tadi. Aku benar-benar kecewa.

“Mianhae, Young Ra-ssi, sebenarnya aku ingin mengajakmu pergi lebih jauh. Bahkan aku ingin mengajakmu ke Kanada rumahku. Tapi karena sekarang sudah terlalu sore aku jadi tidak berani mengajakmu kesana.” Eoh, Kris sepertinya menyadari raut kekecewaanku. Lalu dia mengacak rambutku, “Sudahlah, lain kali kalau ada waktu akan kuajak kau kesana. Sekali lagi, mianhae.” Lalu dia tersenyum, ah senyumannya, walaupun tidak terlalu lebar tetapi kalau bisa aku ingin pingsan sekarang karena senyumannya. “Kaja, lebih baik sekarang kuantar pulang. Tidak mungkin aku membawamu terbang ke kamar, pasti nanti orang tuamu curiga.”

Kamipun keluar apartemen melalui lift yang tadi kami pakai dan kembali ke jalan sempit tempat kami bertemu.

“Oppa, apa tadi kita benar-benar ter…”

“Ssst…” Kris mengisyaratkanku untuk tidak melanjutkan ucapanku. “Jangan diteruskan, Young Ra. Tolong rahasiakan hal ini ya.” Tiba-tiba petir bergemuruh. Kris langsung menggelengkan kepalanya, “Aish anak itu. Bikin susah saja. Young Ra, aku duluan ya. Lain kali akan kubawa kau ke Kanada. Annyeong.” Sekali lagi dia tersenyum padaku dengan senyumannya yang lebih dibilang seperti vampir. Aku membalas senyumannya. Aah, Kris oppa. Tampan sekali sih dia. Aku langsung berjalan pulang menuju rumahku. Karena petir tadi aku sedikit berlari agar tidak kehujanan.

BRAK!

Aku terjatuh. Karena aku kurang berhati-hati aku menabrak sesuatu. Ternyata bukan benda yang kutabrak, tapi seseorang. Aku mendongak melihat orang itu. Seorang namja. Bertubuh tinggi, tegap, berambut hitam, memakai celana jeans hitam, dan berkaos biru.

“Ah mianhae agassi. Gwenchana?” Namja itu mengulurkan tangannya padaku. Aku menerima ulurannya. Langsung saja dia menarikku berdiri. Aku merapikan bajuku. Kulihat lagi namja itu, membuatku ingin tertawa, bibirnya—baik bagian atas dan bawah—tebal sekali. “Ah haha, naneun gwenchana. Aku yang tidak hati-hati. Ah harus buru-buru pulang. Kamsha hamnida telah menolongku.” Aku kembali berlari menuju rumahku. Aku menoleh ke belakang. Namja itu diam dan memperhatikanku. Ah mebngeerikan. Sementara petir kembali bergemuruh. Aku kembali berlari menuju rumah.

“ANNYEONG HASEYO!”

“Young Ra, kemana saja kau?” tanya eommaku. “Ah mianhae eomma, aku tadi kerja kelompok di rumah Tao. Aku ke kamar dulu ya eomma.” Aku langsung beranjak menuju kamar dan merebahkan diriku di tempat tidur. Ah, terbang bersama Kris oppa tadi. Apa aku mimpi? Aku menampar kedua pipiku. Auw, sakit! Tidak, ini sungguhan! Jadi, Kris oppa itu Superman? Hahaha. Tiba-tiba aku teringat namja yang kutabrak tadi. Hmm… lumayan tampan juga kalau dipikir. Dan ya! Tidak hujan? Aishh, buat apa aku berlari tadi? Ah, kalau aku tidak lari tadi mana mungkin tertabrak oleh namja yang kurasa cukup tampan tadi? Haha.

Dan aku tertidur.

***

“Young Ra, kemarin kau dibawa Kris gege kemana?” tanya Tao yang sedang duduk di sebelahku pada waktu istirahat. Aku terkekeh sendiri.

“Young Ra, aku serius,” katanya dengan nada seperti anak kecil, “Kau dibawa terbang kan olehnya?”

Aku terkejut, “Ba-bagaimana kau bisa tahu?” Kali ini Tao yang terkekeh. “Tentu saja aku tahu. Kris gege bisa seperti itu bukan rahasia bagi kami yang tinggal sekos dengannya.” Aku tercengang. Kini Tao menyeringai, “Kalau kau mau tahu aku juga punya kok.” Dia semakin mengeluarkan seringainya. “Empat jam yang lalu.” Dia menjentikkan jarinya. Aku semakin terkejut. Kelas menjadi tidak ada orang. Dan aku melihat jam dinding, jam 7 pagi! Kulihat di balik jendela langit belum terlalu cerah.

“Tao, kau…” Tao hanya tertawa. “Rahasiakan hal ini, Young Ra. Ah, sudah kita kembali saja.” tao kembali menjentikkan jarinya. Dan sekejap anak-anak masuk kelas. Aku melihat jam dinding, jam 11. Dan ini memang siang! Aku menatap Tao. Tao hanya tertawa dan kembali ke tempat duduknya. Bel selesai istirahat berbunyi. Kembali belajar, kali ini belajar sastra.

***

Seperti biasa, jam setengah tiga sore pulang sekolah. Karena tidak ada yang searah dengan rumahku, aku berjalan sendiri menuju rumah.

“Agassi.”

Aku menoleh. Namja bibir tebal kemarin! Dia memakai seragam sekolah juga sepertiku. Bedanya dia memakai celana krem dan rompi kuning, sementara aku berompi hitam. Dia tersenyum padaku, “Ternyata kau masih SMA juga ya?”

Aku mengangguk, “Ne.”

“Dimana sekolahmu?” tanya namja itu. “Hyungdae. Kau?” kataku.

“SOPA.” Mwo? SOPA? Sekolah seni yang terkenal itu? “Aku kelas 2, kau kelas berapa?”

“Nado. Aku juga kelas 2,” jawabku. Jadi kita seumuran?

“Ah sebaiknya aku harus pergi dulu. Annyeong!” Namja itu berjalan mendahuluiku sementara aku diam di tempat dan memandangnya berjalan. Ah namja itu, badannya bagus sekali, seperti Kris oppa. Dan ya! Aku menepuk kepalaku sendiri. Kenapa aku tidak menanyakan namanya? Aduh bodohnya aku. Ah sepertinya namja itu belum jauh. Aku tadi melihatnya berbelok ke arah kiri. Chakkaman! Aku langsung berlari kencang mengikuti namja itu berjalan, walaupun jaraknya agak jauh. Aku berbelok ke kiri. Tapi… IGE MWOYA!?

Tidak ada siapa-siapa. Tapi aku yakin namja yang tadi, yang berompi kuning tadi, lewat sini. Tapi kenapa tidak ada? Dan tidak ada orang di gang ini. Aku terus berjalan menelusuri gang itu. Tapi nihil, ditambah lagi gang ini rupanya gang buntu. Aku mendengus kesal dan kembali berjalan menuju rumahku.

“Ah harusnya aku tanya dari tadi!” rutukku.

***

Ternyata rasa menyesalku tak sampai di jalan tadi saja. Di rumah rasa sesal pun masih ada. Kenapa aku harus membuang kesempatan berharga?  Berkenalan dengan namja tampan yang ternyata menyapaku duluan dan dia anak SOPA! Sekolah seni yang paling terkenal di Korea. Ah paboya! Aku jadi tidak nafsu makan jadinya. Aku hanya memainkan sendok dan kuketuk-ketukkan di piring.

“Young Ra, wae?” tanya appaku yang duduk di hadapanku. Aku menggeleng, “Anhi, sepertinya aku tidak ingin makan.”

“Andwae, Young Ra! Kau harus makan! Kau tidak ingin maag-mu kambuh kan?” omel eommaku. Aku mendengus, oke, maag, aku langsung menyuapi nasi dan lauk tiap sendoknya. Ini untukmu, lambung. Selesai makan aku langsung mencuci semua piring dan pergi ke kamar. Saat aku membuka pintu kamar,

“Ssst… Young Ra!”

Ada suara! Suaranya berat sekali! Aku masuk dan mencari sumber suara. “Nuguya?”

“Young Ra? Ya! Ini aku!”

Aku terus mencari sumber suara. Aish, apa kamarku ini muncul lagi hantu?

“Ya! Aku disini! Di jendela, Young Ra!”

Mataku langsung tertuju ke jendela, “MWO!? NEO!?” Aku terkejut sambil menunjuk orang yang ada di jendela. Orang itu mengisyaratkanku untuk diam. Aku langsung menghampiri orang itu. “Neo?” Ah, dia tidak mungkin mendengar ucapanku. Aku langsung membuka jendela, masih menatap orang di hadapanku tidak percaya. “Kris oppa? K-kenapa…”

“Wae?” Kris berdiri di jendelaku. Aku masih memandangnya tidak percaya. Jinjja?

“Kau tidak percaya kalau ini aku?” tanya Kri. Ah kenapa orang ini bisa tahu isi pikiranku? Oh kembali ke cara kuno. Aku mencubit tanganku, sakit! Jadi dia benar-benar Kris!

“Aku hanya mampir sebentar kok. Ingin melihat keadaanmu. Oke, sekarang sudah malam. Belajar dan jangan tidur lama-lama. Aku hanya ingin bilang itu saja. Annyeong!” Dia langsung pergi dari jendela dan tentu saja, terbang. Aku langsung menutup jendelaku dan menarik napas. Jinjja? Ah itu nyata, Young Ra! Aku berjalan sambil senyum sendiri menuju tempat tidur.

***

“Kris oppa… Kris oppa… Kris oppa… Aah neomu neomu neomu joha…”

Sepanjang hari ini aku terus memikirkan Kris oppa sehingga aku tidak terlalu tahu hari ini belajar apa. Oke aku sudah tersihir oleh pesonanya. Ya, benar-benar tersihir!

***

Seperti biasa aku berjalan pulang ke rumah sendirian.

“Kau pulang sendiri terus, agassi. Tidak merasa kesepian hah?”

Aku menoleh ke belakang. Namja yang kemarin. Dia tersenyum padaku. “Ah kau lagi.”

“Haha, kau pulang sendiri terus. Tidak punya teman ya?” tanya namja itu.

“Enak saja! aku ini punya banyak teman tau!” jawabku ketus. “Hanya saja tidak ada yang rute pulangnya searah denganku.”

“Haha, kalau begitu sama denganku,” balas namja itu. Lalu kami berjalan bersama. “Oh iya geulonde, siapa namamu?”

“Kim Young Ra imnida,” jawabku. “Neo?”

“Kim Jong In imnida,” jawabnya. “Tapi panggil saja aku Kai.”

“Oh, Kai. Namamu Kai,” ulangku. Tak terasa aku sudah tiba di depan rumahku. “Ah aku sudah sampai ternyata. Mian, aku duluan ya, annyeong.” Akupun langsung masuk ke rumahku.

Jadi namja itu bernama Kai? Ah, akhirnya aku tahu juga namanya.

***

Begitulah setiap hari aku selalu pulang bersama dengannya setiap pulang sekolah. Terkadang aku harus pulang setengah jam lebih lama karena terkadang kami berdua jalan-jalan di pinggir sungai Han. Yah, rumahku memang tidak terlalu jauh dari daerah itu. Kami bercerita tentang sekolah, teman, bahkan terkadang ke kehidupan pribadi.

Suatu hari seperti biasa kami pulang bersama.

“Yah, chinguku itu si Sehun. Dari luar saja dia kelihatan pendiam dan cool. Itu kata para yeoja yang lain. Hah, padahal namja itu cengeng, tidak bisa berbohong, dan ah, dia suka melakukan aegyo kalau mau minta sesuatu padaku. Bagaimana dengan chingumu, Young Ra?” Kai menoleh ke Young Ra, “Ya! Young Ra-ya! Gwenchana!?”

Aku meringis kesakitan. Aku terus memegang perutku dan hampir menangis, “Aah Kai perutku.. sakiiittt…” Kai langsung panik, “Young Ra-ya! Gwenchana!?”

“Molla, sepertinya maagku kambuh.”

“Mwo? Ahh, otthoke?” ujar Kai panik. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Seperti biasa jalan yang kulalui termasuk sepi. Tidak ada apotek, toko, membuat Kai semakin panik. “Aishh, otthoke? Young Ra-ya, sabar. Tahan sebentar.” Aku terus memegangi perutku sementara Kai terus menggaruk kepalanya yang kurasa tidak gatal. “Otthoke?” Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, bahkan semua arah. Dia menghembuskan napas, “Hah, apa boleh buat.” Dia langsung menarik tangan kiriku. Lalu Kai membungkukkan badannya dan memapahku, sementara aku terus meringis kesakitan.

“Hah, ya sudahlah. Aku harus melakukan ini. Young Ra, tutup matamu sekarang.”

Buat apa dia menyuruhku menutup mata? Tetapi aku pasrah saja. Mungkin saja dengan menutup mata sakitku bisa sedikit hilang. Aku menutup mataku.

“Aigoo Young Ra, gwenchana? Maagmu pasti kambuh lagi.”

Aku membuka mataku, eomma? Rumahku? Sebentar, sepertinya baru dua detik aku disuruh Kai menutup mata. Kenapa aku sudah tiba disini? “Kai? Kai?”

“Kai?” tanya eommaku. “Kai? Nuguya?”

“Kai, eomma. Tadi dia yang mengantarku kesini,” jawabku. Eommaku menarik alisnya, “Nugu?”

“Aish eomma. Namja tinggi dan memakai rompi kuning. Dia yang tadi mengantarku,” jawabku. Eomma menggelengkan kepalanya, “Ah kamu, pasti karena lambungmu sangat sakit tadi. Tadi kau itu datang sendiri.” Mwo? “Eomma, tapi…”

“Ah kau pasti sedang berhalusinasi. Sudahlah ganti baju dan istirahat sana di kamar. Eomma akan menyiapkan obat dan makanan untukmu,” sela eomma. “Ah arasseo,” jawabku pasrah. Aku langsung naik ke lantai 2 dan masuk ke kamarku. Lalu aku ganti baju dan merebahkan diriku di tempat tidur. Pintu kamar terbuka. Eomma membawa sepiring makanan, segelas minuman, dan obat dalam satu nampan. “Ini untukmu. Makanlah sekarang biar lambungmu tidak sakit.” Aku hanya mengangguk. Aku menerima nampan itu dan makan di meja belajar, selesai makan kuminum obat. Memang sudah efek obat, aku merasa pusing dan terbaring di tempat tidur.

***

Aku terbangun dan langsung melihat jam dinding. Sudah jam 3 pagi. Aku menyentuh pipiku. Tidak apa-apa.

Tapi aku merasa ada yang menyentuh pipiku tadi. Apa tadi aku hanya bermimpi? Anhi, aku benar benar merasakannya. Seperti sungguhan!

Seperti sungguhan? Berarti mimpi. Aku kembali menarik selimutku dan tidur.

***

Seminggu. Sudah seminggu aku selalu pulang sendiri. Entah kemana Kai pergi. Rumahnya aku tak tau dimana, nomor teleponnya aku tak tahu berapa. Ah aku jadi kesepian lagi deh setiap pulang sekolah. Terakhir kali aku pulang bersamanya saat maagku kambuh itu. Entah kemana anak itu.

Kai, neomu shippo.

Tapi anehnya selama seminggu ini aku selalu terbangun tepat jam 3 pagi. Dan aku selalu merasakan hal yang sama seperti waktu itu. Aku kembali merasa ada yang menyentuh pipiku. Selalu sama selama seminggu ini. Dan kau tahu, hal itu membuatku merinding setiap malam. Tetapi aku tetap tidur di kamarku. Yah, aku yakin pasti itu hanyalah ilusinasi.

***

Kai, kemana kau!? Tidak ada lagi yang menemaniku pulang ke rumah. Dan sudah dua minggu, Kim Jong In!!! Aku ingin cerita kalau aku selalu merasa ada yang menyentuh pipiku selama dua minggu ini setiap malam dan terbangun setiap jam 3! Kai, sepertinya di rumahku ada hantu!

KAI! NEOMU NEOMU NEOMU NEOMU SHIPPO, KAI!!!

***

Aku membeli sayuran di pasar, disuruh eommaku sepulang sekolah. Selesai membeli sayuran aku berjalan menuju rumahku. Lalu aku melihat sepasang yeoja dan namja sedang berjalan bersama. Namja itu memakai kaos hitam dan celana abu-abu serta tinggi. Dia merangkul bahu yeoja itu. Sebentar dilihat dari belakang sepertinya aku tahu namja itu.

“Kris oppa?”

Namja di depanku menoleh. Sepertinya dia mendengar gumamanku tadi. “Young Ra?” Benar, dia Kris oppa. Dan yeoja di sebelahnya–yang dirangkulnya–juga ikut menoleh.

“Kris oppa? Nu-nu-nugu?” Aku menunjuk yeoja di sebelahnya. Kris tersenyum, “Ah aku lupa memberitahumu, Young Ra. Perkenalkan ini Yoo So Ra, yeojachinguku. Kami baru saja pacaran seminggu.” Lalu yeoja di sebelahnya itu mengulurkan tangannya padaku, “Yoo Young Ra imnida. Oppa, jadi ini yang namanya Young Ra yang kau anggap seperti dongsaengmu sendiri?” Kris mengangguk.

“Aigoo, cantik sekali dirimu,” ujar So Ra. “Anhi, kau lebih cantik dariku,” jawabku, “Ah aku lupa, pasti eomma menungguku sekarang. Kris oppa, So Ra eonni, aku duluan ya. Annyeong!” Aku langsung berlari mendului mereka menuju rumah.

Ah tidak, apa ini!? Aku menangis. Ya! Sepertinya aku hancur sekarang. Kris oppa, ternyata sudah punya yeojachingu? Dan kau hanya menganggapku dongsaengmu? Oppa, kau tahu kalau aku sangat menyukaimu?

Ah, air mataku ini harus hilang. Aku langsung menyekanya sebelum sampai di rumah. Daripada eommaku bertanya macam-macam nanti.

Kenapa harus seperti ini?

Kai, dimana dirimu? Aku ingin cerita kalau namja yang kusuka, Kris oppa, sudah punya yeojachingu, dan aku hanya dianggap sebagai dongsaengnya. Padahal aku ingin menjadi yeojachingunya.

KAI!!! T-T

***

“Young Ra-ya? Gwenchana?”

Aku mengangguk, “Gwenchana, Taozi.”

“Jangan bohong padaku, Young Ra. Sepertinya kau merahasiakan sesuatu.” Aku tetap diam. Akhirnya aku bicara, “Aku merasa aneh selama dua minggu ini, Taozi.”

Tao melebarkan matanya, “Aneh? Wae?” Aku menghembuskan napas, “Molla, Taozi. Begini, setiap pulang sekolah aku selalu pulang bersama seorang namja. Tetapi sudah dua minggu aku tidak pulang bersamanya…”

Tao masih memperhatikanku. Pendengar yang baik. Aku kembali melanjutkan ceritaku, “Namja itu sekolah di SOPA. Tinggi, tegap, tidak terlalu putih… dan yang paling khas, bibirnya tebal, atas bawah, seperti yang ada di kartun Usavich, yang ayam kuning itu…”

“Aku pertama bertemu saat pulang dari terbang bersama Kris oppa. Karena petir sialan yang kukira ajan terjadi hujan membuatku berlari, takut kehujanan. Lalu aku tertabrak namja itu. Dia menolongku.”

“Dua minggu aku tidak bertemu dengannya. Tapi dua minggu aku merasakan hal aneh tiap malam. Aku selalu terbangun tepat jam 3 pagi. Dan aku selalu merasa ada yang menyentuh pipiku. Ah, apa di kamarku ada hantunya ya?”

“Siapa nama namja itu?” tanya Tao tiba-tiba.

“Kim Jong In,” jawabku. “Atau panggilannya, Kai.”

“Kim Jong In?” ulang Tao.

“Wae? Kau mengenalnya?” tanyaku. “Ah anhi. Molla. Kukira kau galau karena Kris gege. Dia itu kalau punya yeojachingu pasti yang sudah dia kenal lama. Semangat, Young Ra!” Tao kembali ke tempat duduknya.

***

Malamnya aku sengaja tidak tidur. Aku penasaran apa aku hanya berimajinasi kalau ada yang menyentuh pipiku tiap malam. Aku terus membuka mataku.

Tetapi sampai jam 4 pagi tidak ada apa-apa. Hoahm, aku mengantuk. Aku tidur saja. Ternyata memang hanya khayalanku.

***

Malamnya aku putuskan untuk tidur, karena tidak terbukti ada seuatu kemarin. Tetapi tidak. Aku kembali terbangun jam 3 pagi. Dan aku kembali menyentuh pipiku. Bukan, aku tidak merasa ada yang menyentuh pipiku lagi.

Tapi aku merasa ada yang mencium pipiku.

Ah, pasti ilusi. Aku kembali menarik selimutku. Tapi, “Auw!” Aku seperti tertusuk seusatu. Jari telunjukku berdarah. Kubuka selimutku.

Mwo? Setangkai mawar merah?

Siapa yang menaruhnya? Sepertinya bukan aku yang menaruh disini. Tidak, tidak pernah bahkan. Keluargaku? Tidak mungkin! Pintu kamarku saja kukunci sekarang. Sebelum aku tidur juga tidak ada yang menaruh benda ini sama sekali. Lalu siapa? Tiba-tib aku melihat di sebelahnya ada sebuah kertas dan di kertas itu juga ada tulisan dengan tinta hitam.

“Saranghae, Kim Young Ra ^^”

Mwo? Ige mwoya!? Mimpi! Pasti mimpi! Aku kembali tidur.

***

Aku terbangun, jam setengah tujuh pagi. Kubuka selimutku.

Bunga mawar dan tulisan itu masih ada di sebelahku.

Mwo? Jadi aku tidak mimpi!? Aku melihat jari telunjuk kiriku. Bekas tusukannya masih ada?

Jadi ini bukan mimpi?

***

Bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid keluar sekolah menuju rumahnya masing-masing.

“YOUNG RA-YA!!! KIM YOUNG RA!!!”

Kulihat seseorang melambai di depan gerbang sekolah. Orang itu memakai rompi kuning. “Kai?” Aku langsung berlari menghampirinya. Anak ini akhirnya kembali. Dan dia menghampiri sekolahku. “Kai! Neomu shippo!”

“Nado,” jawab Kai sambil tersenyum. “Ayo kita pulang!” Kamipun berjalan bersama.

“Kemana saja kau? Selama dua minggu lebih aku selalu pulang sendiri, tahu!”

Kai terkekeh, “Mianhae, Young Ra. Aku harus latihan dance sampai malam. Soalnya aku ada ujian dance. Dan sekarang sudah tidak ada ujian lagi hehe.” Kai terdiam sesaat, “Jadi sampai sekarang kau selalu sendiri? Kasihan!”

“YA!” bentakku. “Kau tahu, Kai. Dua minggu kau tidak muncul. Aku kesepian pulang sendiri. Semenjak maagku kambuh di jalan itu. Aku selalu merasa hal aneh setiap dua minggu itu. Aku selalu terbangun tepat jam 3. Dan ya! Semalam aku melihat bunga mawar dan selembar kertas bertulisan di tempat tidurku! Padahal aku tidak menaruhnya sama sekali! Dan kau tahu? Tulisannya ‘saranghae Kim Young Ra’! Aneh sekali!”

Kai mengangkat alisnya, “Kau bawa tidak barangnya? Mungkin aku tahu siapa yang menaruhnya.”

Aku mengangguk semangat. Kami berhenti dan aku membuka tasku. Mengambil setangkai mawar dan tulisan. Kutunjukkan ke Kai. Kai lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku tulis. Dia membuka tulisannya dan mencocokkan dengan tulisan di kertas. “Lihat tulisannya?”

Aku terkejut. Sama? “Kai…”

“Jadi, apa jawabanmu?” tanyanya. Aku tidak mengerti, “Maksudmu?”

“Kan tulisannya sama dengan tulisanku,” jawab Kai. “Disitu tulisannya ‘saranghae Kim Young Ra’. Jadi apa jawabanmu?”

“Kai… jadi…”

“Ne, aku yang menulisnya untukmu. Young Ra-ya, saranghae!”

“Tapi kenapa kau bisa…”

“Kenapa aku bisa?” potong Kai. “Cha, turuti perintahku. Berlarilah ke suatu tempat. Kemana saja. Berhentilah di tempat itu. Aku diam saja disini.”

“Untuk apa?” tanyaku. “Kau ingin bukti kan? Turuti saja perkataanku.” Aku mengangguk pasrah. “Arasseo.” Lalu aku berlari entah kemana. Aku menoleh ke belakang. Dia tetap diam di tempat. Aku terus berlari. Ah, sepertinya aku tahu mau kemana. Ke taman yang agak jauh dari sini. Di daerah Gusu-dong. Eommaku sering membawaku ke tempat itu saat aku masih kecil.

Aku terus berlari dan tiba juga akhirnya di taman. Aku melihat sekeliling, tidak ada orang.

“Kau mencariku ya?”

Aku terkejut. Tiba-tiba Kai sudah berada di sebelahku. “Kai?”

“Sudah kubuktikan kan?” Kai menyeringai. “Ingin lagi?” Kini dia menghilang seperti jin, muncul lagi, hilang, muncul lagi. Kembali di sebelahku. “Kai?”

“Ne, ini aku. Aku yang menaruh bunga mawar dan tulisan itu padamu. Yah, dengan cara ini, teleportasi. Kau tahu, apa yang ditulis di dalam kertas itu benar. Aku mencintaimu, Young Ra. Latihan dance sampai malam selama dua minggu membuatku merindukanmu. Dan yah, aku tidak bisa bohong pada perasaanku sendiri. Aku mencintaimu.” Aku terdiam.

“Jadi, apa jawabanmu, Young Ra-ya?”

“K-Ka-Kai, umm… dua minggu ini sebenarnya aku benar-benar merasakan hal yang sama denganmu. Dan memang agak bodoh menurutku karena kita belum kenal lama. Tapi Kai, nado saranghae.”

“Jinjja?” Mata Kai berbinar kali ini. Lalu dia langsung memelukku, “Aah, saranghae, Young Ra!” Lalu dia melepas pelukannya. “Neomu neomu saranghae, Young Ra!”

“Nado, Kai,” aku tersenyum. “Chakkaman. Kau bisa teleportasi, berarti yang menyentuh pipiku selama dua minggu itu…” Kali ini Kai terkekeh sendiri.

“YA! PREVERT NAMJA!!!” omelku. Kai menjulurkan lidahnya, “Tapi kau suka kan?”

“ANHI!” bentakku. “JANGAN KE KAMARKU DENGAN TELEPORTASI LAGI! WALAUPUN KAU NAMJACHINGUKU SEKARANG! INGAT ITU, KIM JONG IN!!!”

“Oke, kalau aku tidak lupa, ya,” Kai terkekeh. Aku langsung meninju perutnya, “NAPPEUN NAMJA!”

“JONGINNIE!!!” teriak seorang namja memanggil Kai. Namja itu—ada dua—menghampiri Kai. Yang pertama bermuka kotak. Dan yang satunya lebih tinggi dari namja bermuka kotak itu. Keduanya memakai seragam yang sama. Hei sepertinya aku pernah melihat dua namja ini di rumah Tao. “H-hyung? Kenapa kalian disini?” tanya Kai.

“Bukannya pulang malah berduaan dengan seorang yeoja disini!” omel namja bermuka kotak. Kai langsung membantah namja muka kotak itu, “Kau, hyung! Kenapa kau malah disini? Ah, aku tahu. Kau pasti habis mengantar pulang Yoon Rin eonni kan? Rumahnya kan di daerah sini. Memangnya aku tidak tahu, Jong Dae hyung! Chanyeol hyung pasti juga habis mengantar yeojachingunya.” Namja kotak yang bernama Jong Dae itu langsung diam. Menunduk malu tepatnya.

“Wah kau yeojachingunya Jong In ya?” tanya namja tinggi bernama Chanyeol. “Hei, kau temannya Tao kan? Aku pernah melihatmu di rumahku.”

Aku mengangguk, “Ne, aku temannya Tao. Jadi kalian berdua serumah dengan Tao? Pantas aku pernah melihat kalian. Lalu Kai…”

“Dia juga serumah dengan kami,” ucap Jong Dae. “Hei Jonginnie kenapa kau tidak cerita kalau dia ini yeojachingumu?”

“Hah, kalian pulang saja, hyung! Mengganggu urusan anak muda saja kalian!”

“YA! KAMI HANYA BEDA DUA TAHUN DENGANMU!” omel Chanyeol. “Hei Jong In, lain kali kita bertiga jalan bersama yuk. Aku dengan Tae Hee, Jong Dae dengan Yoon Rin, dan kau dengan yeojachingumu. Bagaimana?”

“Hmm ide bagus,” jawab Kai. “Tapi, jebal, pergilah, hyung!”

“Tidak ah aku ingin…” ujar Chanyeol.

“HYUUUUNGGG PERGIIIII!!!” Jong Dae dan Chanyeol langsung berlari pergi taman sambil tertawa.

“Mengganggu saja,” gumam Kai. Aku hanya tertawa.

***

AUTHOR’S POV

Kai tersenyum sendiri melihat tulisan di diari Young Ra, yang tergeletak di meja belajar Young Ra.

“Hah, dia menulis diari juga rupanya,” pikirnya. Kai memandang yeoja yang tidur di kamar itu. Kim Young Ra. Dia tersenyum memandang yeoja itu. “Tidur yang nyenyak, chagi.”

Dan Kai pun menghilang.

-THE END-

Muntah? Dipersilakan, haha.

Four Years

Posted: April 30, 2012 in oneshoot
Tag:,

Annyeong.

What is It nya vakum bentar ya. Authornya galau gara” konser yang 3 hari itu tuh (korban sold out). Jadi pengalih dulu deh pake main cast anak-anak EXO yang umurnya gak jauh dari author. Apalagi Kim Jong Dae sama Park Chanyeol kya kyaa!!!

Nah disini main castnya nama samaran gw ama temen gw. Gw ini Hwang Yoon Rin dan temen gw Lee Tae Hee haha

Udahlah nikmatin aja nih ff oneshoot ancur ini. Judul kayaknya gak nyambung haha mian. Maklum, ini ff oneshoot pertama gw. Maaf ya.


***

Seluruh dunia ini punya rahasia. Walaupun banyak yang sudah terungkap, yang masih rahasia juga tak kalah banyak.

Kalimat itulah yang Yoon Rin sedang baca di sebuah novel. Petir terus bergemuruh di luar rumah. Yoon Rin menghela napas. Dia menutup novelnya dan menatap langit yang berwarna abu-abu dan terus dihiasi kilat-kilat petir. Bukannya takut atau menutup kedua telinganya dia malah terus menatap kilatan petir itu.

“Sudah petir hampir satu jam, tetapi tidak hujan juga, aneh,” pikirnya.

***

“STUDENTS, PLEASE SHOW ME YOUR HOMEWORK!”

Anak-anak kelas 3 SMA Neul Paran mengeluh. Mereka semua mengeluarkan buku tulis Bahasa Inggris mereka.

“Yoon Rin, kau sudah mengerjakan semuanya?” tanya Tae Hee, teman sebangku Yoon Rin. Yoon Rin mengangguk singkat, “Ne. kau? Ah, jangan bilang kalau kau belum mengerjakan semua? Atau kau belum mengerjakannya sama sekali.” Tae Hee menyeringai, “Ah anhi, aku mengerjakan kok. Tapi belum semuanya selesai.”

“Nanti kalau Henry seonsaengnim menghukummu bagaimana?” tanya Yoon Rin. Tae Hee tertawa, “Haah tidah mungkin. Henry seonsaengnim kan baik. Kau ini masih kaku saja, Yoonrinnie.” Yoon Rin menghela napas, “Hah terserahlah,” gumamnya. Lalu Henry seonsaengnim mendatangi meja Yoon Rin dan Tae Hee untuk memeriksa pekerjaan rumah mereka. setelah Henry seonsaengnim memeriksa pekerjaan Yoon Rin dia memeriksa pekerjaan Tae Hee. Henry tersenyum ke arah Tae Hee, “Lee Tae Hee, kupersilahkan kau untuk berdiri di depan kelas sekarang juga.”

Tae Hee terkejut, “Mwo!?” gumamnya. Tetapi Henry seonsaengnim tetap tersenyum dan mengisyaratkan Tae Hee untuk berdiri ke depan dengan tangannya yang mengarah ke depan kelas. Tae Hee dengan muka datar menuruti perkataan Henry seonsaengnim. Dia berjalan menuju depan kelas dan berdiri disana.

“OKAY STUDENTS, LET’S CONTINUE OUR LESSON!” seru Henry seonsaengnim. Semuanya memperhatikan Henry seonsaengnim menerangkan pelajaran.

“Yoon Rin-ya, Yoon Rin-ya!” seseorang menepuk bahu Yoon dari belakang. Yoon Rin menoleh, ternyata Park Chanyeol, “Yoon Rin-ya. Kenapa Tae Hee berdiri di depan?” Yoon Rin menyeringai, “Hah, seperti biasa, Yollie.”

“Dihukum? Hah, yeoja itu,” ujar Chanyeol sambil menggelengkan kepala, “And look, her face. As usual.” Yoon Rin melihat wajah Tae Hee, dia membuka mulutnya dan ekspresinya datar. Yoon Rin dan Chanyeol langsung tertawa bersamaan.

“Perhatikan guru atau kalian akan seperti dia,” ujar teman sebangku Chanyeol, Kim Jong Dae, atau lebih sering dipanggil Chen karena dia lama tinggal di Cina. Yoon Rin langsung melirik Chen dingin lalu kembali memerhatikan Henry seonsaengnim. Yap, Yoon Rin memang tidak suka dengan namja itu karena dia terlalu dingin, berbeda dengan Chanyeol yang riang dan ramah, apalagi suaranya Yoon Rin dan Chanyeol yang berat sehingga orang lain susah membedakan suara mereka berdua.

***

“ITU CHEN! ITU CHEN! WUAAA CHEN OPPA!”

Semua yeoja berteiak ketika Chen keluar. Yap, Chen adalah salah satu murid populer di sekolah. Selain otaknya yang lumayan encer dia juga memiliki suara yang bagus sehingga dia menjuarai beberapa lomba menyanyi. Semua yeoja di sekolah mengaguminya, bahkan Tae Hee sebangkuku juga mengaguminya. Hanya Yoon Rin yang tidak mengaguminya.

***

YOON RIN’S POV

Aishh, yeoja pemuja Chen lagi! Menggangguku keluar kelas saja! Orang sperti ini saja dipuja! Aku keluar melewati desakan para yeoja yang terus menunggu Chen keluar kelas.

“Cepat jalan, siput! Kau ingin aku tersiksa oleh para fansku apa!?” Aku terkejut dan mengetahui bisikan dingin di telingaku. Chen. “Aishh…” gerutuku dalam hati. Aku tidak menghiraukannya, terus berjalan menuju kantin. Aah, kenapa aku harus sekelas dengan namja dingin menyebalkan macam dia sih!?

Oke, sebenarnya dia itu cukup cerdas, walaupun bukan yang paling cerdas tetapi dia nomor tiga tercerdas satu angkatan di sekolah. Selain itu kenapa para yeoja menyukainya itu karena suaranya. Yap, suara Chen bagus. Oke aku akui suaranya bagus, karena aku tidak bisa menyanyi sama sekali. Dia menjuarai beberapa lomba menyanyi sejak kecil, yeah, aku tahu itu. Itu karena aku satu sekolah dengannya sejak SMP. Dia selalu bersikap dingin padaku sejak kelas 2 SMP. Tetapi anehnya dia bersikap ramah terhadap orang lain, baik yeoja maupun namja. Uuh, dasar kacamata! Ingin sekali kuremukkan kacamatanya itu!

***

AUTHOR’S POV

“Yoon Rin! Bisakah kau berhenti membenci Chen sekali saja!” ujar Tae Hee memelas. Yoon Rin tidak menggubris ucapan Tae Hee. Dia tetap memandang lurus ke depan. Mereka selalu berjalan bersama sepulang sekolah karena rute kami sama. “Yoon Rin-ah!” Tae Hee memanggil Yoon Rin sekali lagi.

“Mwo?” tanya Yoon Rin, “Menyuruhku untuk tidak membenci namja dingin pecinta noona-noona itu!? Anhi! Tidak akan pernah aku untuk tidak membencinya. Tandai itu, TIDAK PERNAH!”

“Jangan begitu, Yoon Rin. Kau tidak tahu apa kalau benci bisa menjadi cinta?” ujar Tae Hee. Yoon Rin memandangnya sinis, “Mwo? Ya! Jadi kau menyumpahiku mencintai namja berkacamata itu!?” Tae Hee langsung menggeleng, “Anhi, bukan begitu, tetapi…”

“Terserahlah,” sela Yoon Rin. Tae Hee diam dan mereka berjalan menuju rumahnya masing-masing.

***

Sorenya Yoon Rin melakukan lari yang biasa dilakukan setiap dua hari sekali di sepanjang sungai Han di Seoul. Sepuluh menit berlari tiba-tiba petir bergemuruh di hari yang cukup cerah.

Hal itu membuat Yoon Rin terkejut dan mencari tempat berlindung agar tidak disambar petir dan berlindung dari hujan tentunya. Tetapi seperti kemarin, setengah jam lebih petir bergemuruh, hujan tak kunjung turun. “Aneh,” pikirnya. Karena belum hujan, Yoon Rin langsung berlari menuju rumahnya.

***

TAE HEE’S POV

“Tae Hee! Tolong buang sampah yang ada di dapur dulu keluar!”

Eomma lagi, mengganggu waktu berkhayalku saja. “Ne, eomma!” Dengan langkah berat aku keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur untuk mengambil plastik sampah yang harus kubuang di bak tempat sampah di luar rumah. Setelah dari dapur aku langsung keluar dan membuangnya di bak sampah. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang aneh di langit, warnanya menjadi hitam. Apa akan turun hujan? Setelah kuteliti, anhi, ini bukan awan hitam.

Itu asap.

Mwo? Ada kebakaran di sekitar sini? Tapi dimana? Aku menjadi penasaran. Ah mumpung eomma tidak memanggilku lagi aku mencari sumber kebakaran saja.aku langsung berlari sambil menatap langit melihat asap dan menerka-nerka dimana sumber apinya. Aku terus berjalan dan berjalan. Setelah berjalan sejauh tiga blok, aku melihat langit dan ya, ini sumber apinya. Tetapi bukan api yang kulihat, tidak ada api sama sekali, tidak ada kebakaran sama sekali, bahkan tidak ada pemadam kebakaran. Aku menjadi bingung.

“Tae Hee-ya, sedang apa kau disini?”

Suara berat itu membuatku terkejut, “Yoonrinnie?” Bukan, bukan Yoon Rin. Tetapi sosok namja tinggi berambut coklat yang berantakan yang berada di depanku sekarang, “Chanyeol?”

Chanyeol tertawa, “Aishh kau ini Tae Hee. Bahkan kau sahabatku dan Yoon Rin juga tidak bisa membedakan suara kami.” Aku menunduk malu, “Eh, haha, kenapa aku harus tertipu juga ya? Er, Chanyeol, apa yang kau lakukan disini?”

Chanyeol mengangkat alisnya, “Aku? Seharusnya aku yang bertanya padamu kenapa kau disini.” Aku melebarkan pupilku, “Mwo?” Chanyeol langsung menunjuk sebuah rumah yang cukup besar, bercat tembok putih, dan bertingkat dua, “Itu rumahku.” Oh, itu rumah Chanyeol. Chakkaman, rumah itu? Ya, sepertinya rumah itu yang tadi kuperkirakan sebagai sumber asap tadi.

“Chakkaman, dimana kebakarannya? Tadi aku melihat asap!”

Chanyeol mengangkat alisnya, “Mwo? Kebakaran? Tidak ada kebakaran di sekitar sini kok.” Aku membentuk mulutku menjadi huruf O sempurna. Chanyeol tersenyum lebar melihat ekspresiku, “Hah, kau ini pasti berkhayal. Pasti karena kau terlalu banyak bengong. Hei! Sadarlah!” Kini Chanyeol mengguncang tubuhku, “YA TAE HEE-YA! SADARLAH!” Aku langsung menutup mulutku.

“Nah begitu dong,” Chanyeol kembali tersenyum lebar. “Mau mampir ke rumahku?” Aku berpikir, mampir ke rumah Chanyeol? Hmm, ide bagus karena aku belum pernah ke rumahnya, tapi aku langsung teringat sesuatu, eomma, aku langsung menolaknya, “Ah anhi Chanyeol, aku harus pulang. Eomma pasti mencariku. Annyeong!” Aku langsung berlari menuju rumahku dengan kecepatan tinggi dan tiba lima menit kemudian.

“TAE HEE, KEMANA SAJA KAU!”

***

YOON RIN’S POV

Aneh. Aneh sekali. sudah dua hari ini petir terus bergemuruh tetapi tidak ada hujan sama sekali. aku hanya menatap langit yang cerah dan berpikir, “Apa dunia akan berakhir? Apa ini fenomena alam biasa?”

“Yoonrinnie, ayo mengerjakan tugas Kimia di rumahku sekarang. Rumahku di 182-12 Sinsu-dong. Kutunggu kau sekarang.”

Aku menghela napas melihat SMS dari Chanyeol. Oh iya, tugas kimia, membuat kartu-kartu unsur kimia. Aku berpasangan dengan Chanyeol mendapat unsur golongan IA, alkali. Sinsu-dong? Tidak jauh dari rumahku yang ada di Gusu-dong. Oke, jalan kaki saja. Aku keluar dari kamar dan menghampiri eommaku, “Eomma, aku mau keluar rumah dulu!”

“Mau kemana kau, Yoon Rin?” tanya eommaku. “Rumah temanku di Sinsu-dong. Mengerjakan tugas Kimia. Annyeong!” Aku berjalan keluar. “Hati-hati, Yoon Rin!” teriak eommaku dari dalam rumah. Ne, aku akan berhati-hati. Lagipula Sinsu-dong kan dekat.

***

“Wah, akhirnya kau datang juga, Yoonrinnie! Kaja, masuklah!” Aku disambut Chanyeol langsung. Aku mengikutinya di belakang. Betapa terkejutnya aku melihat beberapa namja di rumahnya, namja-namja yang tampan! Aku langsung ketakutan, “Yeollie, benar ini rumahmu?”

Chanyeol berbalik ke arahku, “Ne, ini rumahku. Oh iya, sebenarnya ini bukan rumahku asli. Hanya kos-kosan. Dan ya! Jangan takut begitu, Yoonrinnie. Mereka semua namja baik-baik kok.” Ah, sepertinya Chanyeol sadar akan ketakutanku terhadap namja-namja itu. Aku jadi salah tingkah, “Eoh, jinjja? Syukurlah. Yeollie, kenapa mereka tampan semua?”

“Tampan?” Mata Chanyeol melebar, “Mereka? haha, tahu saja kau namja tampan yang mana. Kau mau? Pilih saja. Tapi, ah, andwae. Disini aku yang paling tampan.” Aku langsung memukul kasar tangannya. “Ya! Appo, Yoonrinnie!”

“Kau terlalu percaya diri,” ujarku. Tiba-tiba seseorang menghampiri Chanyeol, “Hei Chanyeol hyung! Nuguya?” tangan namja itu menunjuk ke arahku. “Oh, dia. Teman sekelasku. Hwang Yoon Rin.” Aku langsung memperkenalkan diri, “Hwang Yoon Rin imnida.”

“Eoh, Do Kyung Soo imnida. Tapi panggil saja D.O. atau Dio,” namja itu memperkenalkan diri. “Hyung, kukira dia yeojachingumu.” Aku langsung menggeleng, “Mwo!? Anhi, aku hanya teman biasa kok.”

“Sayang sekali,” ujar D.O. “Padahal Chanyeol hyung itu orang yang romantis lho. Sayang tak ada yeoja yang mau.” Sebuah jitakan Chanyeol langsung melayang ke kepala D.O. “Ya hyung! Appo!”

“Jangan bicara sembarangan!” omel Chanyeol, “Buatkan makanan untuk chinguku ini! Ppali!” D.O. langsung memberi hormat kepada Chanyeol, “Siap, hyung!” Lalu Chanyeol mempersilakanku duduk di ruang tengah, “Duduklah. Sebentar, aku ambil perlengkapannya dulu.” Aku mengangguk dan tetap duduk.

“Ge, kau ingin bertemu Young Ra!?”

“Ne, aku ingin membawanya terbang ke Kanada, rumah orang tuaku!”

“Suho hyung, mau kemana kau!?”

“Seperti biasa, Bacon! Berlatih di sungai Han! Sembunyi-sembunyi tentunya! Akan kutunjukkan pada Seo Yeon-ya kekuatan airku.”

“Hah, Xiumin hyung. Kau ingin kemana!?”

“Membuat arena ice skating di Gangnam dengan kekuatanku!”

“Sehun-ah, jangan bilang kau ke Gurun Gobi.”

“Seperti biasa, Bacon hyung!”

“Lay, kau?”

“Ke rumah sakit, Bacon! Biasa, asisten dokter. Annyeong!”

Kulihat mereka—kelima namja itu meninggalkan namja yang bernama Bacon itu. Empat namja itu menuruni tangga. Tetapi tidak untuk namja yang pertama dipanggil Bacon dengan sebutan ‘Ge’ itu. Dia membuka jendelanya dan berdiri disitu.

“Ge! Andwae!” ujar Bacon. Namja itu menoleh, “Wae? Tidak ada yang melihat. Sudah tenang saja.” Lalu namja itu menghilang dengan cara… terbang? “Kris gege, aishhh!”

Aku membuka mulutku lebar dan melebarkan mataku, tercengang, “M… Mwo?”

Namja bernama Bacon tadi menoleh ke arahku dan melihatku terkejut, sepertinya dia baru menyadari keberadaanku, “A-agassi?” Aku tetap tercengang. Lalu namja itu segera menghampiriku, “Agassi, Byun Baekhyun imnida. Neo?” Aku langsung sadar. “Eh, naneun? Hwang Yoon Rin imnida, teman Chanyeol.”

“Teman Chanyeol?” Baekhyun—atau Bacon—mengangkat alisnya, “Kau bukan yeojachingunya? Apa kau tadi meli…”

“Ya! Bicara apa kau, Bacon!?” sebuah jitakan Chanyeol melayang ke kepala Baekhyun. “Jangan ganggu kami! Kami harus mengerjakan tugas.” Baekhyun langsung pergi, “Huh dasar! Baru ingin pendekatan.” Jitakan melayang kembali ke kepala Baekhyun. “YA!” omel Chanyeol. Baekhyun langsung pergi sambil, kurasa, mengoceh sendiri. Aku tertawa melihat Baekhyun, “Lucu juga dia, dan tampan juga.”

“Kau suka? Ah, tetap aku yang paling tampan,” ujar Chanyeol percaya diri dengan senyuman lebar yang khas. Deg! Kenapa jantungku brdegup lagi. ah, jujur, aku sudah lama menyukainya, Park Chanyeol. Bahkan sejak awal aku melihatnya saat pertama kali masuk SMA. Tidak ada yang tahu tentang ini, bahkan Tae Hee sekalipun. “Sudah, ayo kita mulai saja,” ujarnya. “Eoh? Ne. Kaja,” balasku. Kamipun mengerjakan tugas. Chanyeol sibuk menggunting karton. Aku tetap berkonsentrasi menulis dari karton yang digunting Chanyeol, “Litium, Natrium, Kalium… Oh ya, Yeollie-ah.”

“Wae?” Chanyeol tetap berkonsentrasi menggunting karton.

“Apa kau satu kos juga dengan namja yang bernama Kris?” tanyaku. Chanyeol berhenti menggunting dan menatapku, “Wae?”

“Anhi, tadi, dia di jendela dan…”

“Terbang?” tanya Chanyeol. “Ye, dia memang terbang,” katanya santai. Aku terkejut, “Mwo? Dia bisa terbang? Tapi kenapa…”

“Molla. aku tidak tahu sejak kapan dia bisa terbang. Oh ya,” Chanyeol langsung mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku terkejut dan langsung menjauh. Tetapi Chanyeol makin mendekat dan berbisik, “Kau tahu kalau aku juga punya rahasia?”

“Hyung, ini makanan… WAAA!!!” D.O. langsung balik badan. “Ampun, hyung! Aku tidak melihat kok, tenang saja, aku tidak melihat. Teruskan saja kalau kalian mau. Aku taruh makanannya…”

“Memang kau kira kami sedang apa, Dio? Kan sudah kubilang kami ini hanya teman,” ujar Chanyeol. “Taruh saja makanannya disini.” D.O. berjalan menuju tempat kami dan menaruh makanannya di meja. Tiba-tiba saja mati lampu. “Aishh, sial!” ujar D.O. Tetapi ruangan tidak gelap karena sebuah api kecil. Aku jadi bisa kembali menulis. Tetapi aku merasa ada yang aneh. Wae? Aku tidak melihat lilin sama sekali di ruangan ini tadi. Aku mencari sumber api, dan ternyata…

Api itu merasal dari tangan Chanyeol. “Yeol… Yeollie?” Aku terperangah sambil menunjuk api yang ada di tangan Chanyeol. “Kau?”

“Ne, ini rahasiaku. Yeonrinnie, bisakah kau menjaganya?” kata Chanyeol sambil menggoyangkan tangannya yang otomatis apinya ikut bergoyang. Aku terperangah, lalu kucubit tanganku, “Auw!” Anhi! Ini bukan mimpi! Aku masih tercengang, sekaligus terpana, pada tangan Chanyeol.

“HYUNG! ANDWAE! KAU MEMBONGKAR…” Ucapan D.O. langsung dipotong Chanyeol, “Yoonrinnie, kau bisa menjaga rahasia ini kan?” Aku langsung mengangguk, “N-ne, Yeollie. Aku bisa. Wae?” Chanyeol tersenyum lebar, “Bagus. Aku menunjukkan ini karena, kau sudah melihat Kris hyung terbang, kau teman dekatku.” Lalu petir bergemuruh.

“Aish, jangan-jangan dia. Anak itu,” ujar Chanyeol. Hah apalagi ini. Tapi lebih baik aku diam saja dan meneruskan tugasku menulis diterangi cahaya api dari tangan Chanyeol.

***

TAE HEE’S POV

Bel istirahat berbunyi. Aku meninggalkan Yoon Rin ke kantin karena dia membawa bekal.

“CHEN OPPA! CHEN OPPA!”

Aishh, yeoja pengagum Chen lagi. Aku langsung berjalan melewati lautan pengagum Chen, lagipula Chen kan sudah keluar kelas dari tadi. Aku langsung berjalan menuruni tangga ke lantai 2. Saat aku menuruni tangga.

OMONA!

Aku menutup mulut dan mataku. Pemandangan, yang, aish, tidak pantas kulihat. Sepasang yeoja dan namja sedang berciuman di depanku, di depan pintu gudang, yang memang agak jarang dipandang dan dikunjungi karena letaknya paling pojok. Mereka berdua melihatku lalu saling melepaskan diri.

“Ah, mi-mianhae Chen. A-aku tidak sengaja,” jawabku gugup. Yeoja yang berciuman dengan Chen menundukkan kepala sedangkan Chen tersenyum kecil padaku, “Ah, gwenchana Tae Hee. Mianhae. Aku yang tidak sadar tempat. Kalau ingin lewat silakan.” Pikiranku langsung berubah, “Ah, aku ingin kembali ke kelas. Maaf mengganggu kalian. Annyeong!” Aku langsung berlari kembali ke atas. Chen, dan seorang hobbae?

***

AUTHOR’S POV

“Huaa Yoon Rin, dia sudah punya yeojachingu!” rengek Tae Hee ketika memasuki kelas. Untung saja di dalam kelas hanya ada Yoon Rin karena dia lebih suka makan di kelas kalau membawa bekal. Yoon Rin menatapnya aneh, “Yeojachingu? Nuguya?”

“Chen, Yoonrinnie! Chen! Dia punya yeojachingu sekarang. Seorang hobbae. Aku kebetulan melihat mereka berciuman tadi. Huaaa! Chen oppa!” Chen? Yoon Rin menggelengkan kepala sambil menghela napas. Dia tidak menghiraukan rengekan Tae Hee. Chen, Chen, dan Chen, Chanyeol lebih baik dari dia walaupun tidak secerdas dan sepopuler dia, pikirnya. Tiba-tiba Tae Hee berhenti merengek karena seorang namja memasuki kelas. Chen, sendirian.

“Bukan penggemar noona-noona lagi, hah?” Chen menoleh dingin ke arah Yoon Rin karena ucapannya, yang bernada menyindir. Yoon Rin menyeringai sinis, “Oh, ya. Karena tidak ada lagi para noona di sekolah ini. Karena kau sudah kelas 12, stok noona pun habis.” Chen langsung menghampiri Yoon Rin dan berbicara dingin padanya, “Kau ingin aku menjadi namjachingumu?” lalu dia menyeringai dan berbisik di telingaku, “Jangan harap.” Yoon Rin membalas, “Hah, melihat kacamatamu saja sudah menjadi takdir terburuk dalam hidupku. Apalagi melihat dirimu secara utuh.”

Chen kembali menatap sinis Yoon Rin, “Setidaknya aku bukan kau yang belum pernah punya namjachingu.” Dan bel pun langsung berbunyi tanda istirahat selesai.

***

“HUAAA! CHEN! KENAPA KAMU SUDAH PUNYA YEOJACHINGU!?” Tae Hee terus merengek sepanjang perjalanan pulangnya bersama Yoon Rin. Yoon Rin mendesah kesal, “Tae Hee! Cukup! Apa tidak ada namja selain Chen hah!?” Tae Hee menggeleng, “Anhi, dia itu namja yang sempurna walaupun berkacamata. Ah, dia berkacamata sepertiku! Omo! Seharusnya aku dan dia berjodoh! Sama-sama berkacamata!” Tae Hee terus merengek karena Chen sudah punya yeojachingu.

“Cukup Tae Hee! Bisakah kau tidak membicarakan namja dingin itu lagi!? Aku muak mendengarnya!” ujar Yoon Rin kesal. Tae Hee membalas, “Dan bisakah kau—sehari saja—tidak membenci Chen!?”.

“ANHI! NEVER!” bentak Yoon Rin. Tiba-tiba… DUARRR! Tae Hee dan Yoon Rin langsung menutup kedua telinga kita. “Aishh… kenapa harus ada petir di siang bolong begini sih!?” ujar Tae Hee. Yoon Rin hanya diam menatap langit. Aneh, kenapa harus ada petir di saat seperti ini, pikirnya. Tae Hee mengguncang badan Yoon Rin, “Yoonrinnie! Ya! Sadarlah! Bahaya menunggu petir! Bisa-bisa kita tersambar! Kita harus berlindung!” Tetapi Yoon Rin menggeleng, “Anhi, lebih baik kita berlari ke rumah sebelum yang lebih aneh terjadi. Lagipula rumahmu kan dekat! Kaja!” Yoon Rin menarik tangan Tae Hee dan berlari menuju rumah Tae Hee. Petir sudah bergemuruh empat kali tetapi mereka tetap berlari dan sampailah ke rumah Tae Hee.

“Kau tidak ke rumahku dulu?” tanya Tae Hee. Petir bergemuruh sekali lagi. Yoon Rin menggeleng mantap, “Tidak usah. Rumahku kan tidak terlalu jauh kalau berlari, sepuluh menit kujamin sampai. Hehe. Annyeong Tae Hee!” Yoon Rin langsung berlari secepat kilat.

“Aishh yeoja itu. Semoga dia selamat,” gumam Tae Hee. Petir bergemuruh lagi. Tae Hee langsung masuk ke rumahnya, “Annyeong haseyo!”

***

YOON RIN’S POV

Aku terus berlari menuju rumahku yang masih 600 meter lagi dari posisiku sekarang. Tidak peduli walau petir sudah bergemuruh entah berapa kali. Tetapi anehnya langit tetap cerah dan hujan tak kunjung turun. Oh Tuhan, apa ini fenomena alam baruyang kau ciptakan?

“Aish, jangan-jangan dia. Anak itu.”

Aku berhenti sesaat di tengah gang yang sepi karena teringat ucapan Chanyeol kemarin. Bukannya berjalan terus ke rumah tetapi memutar balik dan terus menatap petir. Ya, mencari sumber petir. Entah siapa yang menyuruhku untuk mencari petir itu, tetapi kakiku terus berjalan. Dan otakku terus berpikir tentang petir yang terus bergemuruh itu. Jalanan sepi, mungkin karena orang-orang takut tersambar sehingga lebih baik berlindung atau diam di rumah. Tapi aku bagaikan orang tak waras, terus berjalan mencari asal petir.

“Aish, jangan-jangan dia. Anak itu.”

Yang aku pikirkan hanyalah ucapan Chanyeol saat ini. Apa selama tiga hari ini ucapannya ada hubungannya dengan petir itu? Aku terus berlari dan berlari tak tentu arah dan sampailah aku di sebuah jalan buntu. Petir kali ini bergemuruh sangat keras dan sangat memekakkan telinga. Kali ini aku harus menutup kedua telingaku.

“Bisakah kau berhenti!? Kau membuat orang-orang ketakutan dan tidak berani keluar rumah!”

“Apa pedulimu, gege!? Inilah kekuatanku. Kekuatanmu hanya telepati!”

“Kim Jong Dae!”

DUARRR!!! Petir kembali bergemuruh lagi. Sepertinya dari tempat yang agak luas itu, pikirku. Entah pikiran darimana aku langsung memasuki tempat itu. Ternyata bukan rumah, tidak ada bangunan sama sekali. Tempat yang cukup luas. Ternyata tempat penampungan sampah.

“Jongdae! Hentikan!”

“Tidak akan, Luhan gege!”

Petir kembali bergemuruh. Jongdae? Kim Jong Dae? Aku tidak salah dengar? Aku berjalan pelan melalui tumpukan-tumpukan sampah yang baunya sangat menyengat. Tetapi aku tidak bisa menciumnya saking banyaknya sampah yang ada atau karena otakku tidak berpikir tentang bau sampah lagi. Langkahku berhenti pada tanah yang sangat luas. Disitu aku melihat dua orang yang kudengar suaranya sejak memasuki gang buntu tadi.

“Jebal, hentikan! Sudah tiga hari kau seperti ini!”

“Anhi, hanya ini caraku melampiaskan diri karena Suyeon noona!” Kembali petir bergemuruh. Aku menutup mulut. Jadi, petir itu berasal dari namja ini. Dan namja itu adalah…

Kim Jong Dae? Si dingin Chen?

“Jongdae! Chen! Jangan bodoh!”

“Berisik kau, Luhan gege!”

“Hentikan! Ada yeoja di belakangmu!”

Chen menoleh ke belakang. Dia melihatku. Mataku semakin melebar, terkejut melihatnya. “Yoonrinnie?”

Aku tidak percaya. Ada dua hal. Pertama, petir itu berasal dari Chen. Kedua, dia memanggil nama kecilku, yang sekarang hanya eomma, Tae Hee, dan Chanyeol yang memanggil namaku seperti itu. Saking tidak percayanya, aku langsung berlari keluar dari tempat bau ini. Menuju rumah. Berlari sekencang mungkin.

“Yoonrinnie?”

Ah, itu pasti hanya khayalanku! Aku pasti salah dengar. Chen, kau…

-flashback-

“Yoon Rin! Ada pesan dari Chen!”

Jongdae? Benarkah? Ah, namja berkacamata yang tampan itu? Yang pintar itu? Aku tersenyum pada Kim Hyorin sahabatku, “Jinjja?” Hyorin mengangguk, “Dia bilang padaku. Dia bilang, ‘berikan salamku pada Hwang Yoon Rin teman sebangkumu’. Begitu katanya.” Senyumku semakin merekah. Ah, Kim Jong Dae—suka dipanggil Chen, karena selama SD dia di China—namja yang kusuka tanpa sebab, mungkin karena kacamatanya yang unik itu. Yang kukenal tiba-tiba di toko buku saat kami sama-sama ada di rak novel fiksi. Dan saat itu aku sedang melihat Harry Potter novel favoritku. Lalu kami menjadi akrab tiba-tiba dan aku baru sadar kalau kami satu SMP. Saat kami kelas 2 SMA, kami semakin akrab sehingga orang-orang mengira kami pacaran.

“Dia juga bilang pulang sekolah nanti temui dia di depan perpustakaan.” Aku mengangguk singkat. Ada apa ya?

***

Bel pulang sekolah berbunyi pada jam 12 siang. Semua murid keluar kelas. Tinggal aku dan Hyorin, “Yoon Rin, ayo keluar. Chen pasti menunggumu sekarang.”

“Aku belum selesai,” ujarku sambil mencatat pelajaran Matematika yang belum selesai kucatat. “Kau duluan saja, Hyorin!” Hyorin mendengus, “Huh, bilang saja kau tak ingin aku mengganggumu nanti. Bisa saja kau ini. Yasudah, aku duluan ya.” Aku mengangguk, “Ne! Hati-hati, Hyorin!”

“Ne, Yoon Rin. Fighting! Annyeong!”

Lima menit kemudian aku baru selesai mencatat. Aku langsung merapikan buku ke dalam ransel. Setelah menutup retsleting ransel aku menggendongnya dan berjalan keluar kelas. Tetapi seseorang yang lebih tinggi dariku mengalangiku keluar kelas. “Lama sekali kau, Yoon Rin.”

Aku mendongak, ternyata Chen. Dia tersenyum padaku. Senyumnya lebar sekali. Ah mungkin aku suka senyumannya. Dia menunjukkan sesuatu yang berasal dari tangan kanannya, yang sejak tadi dia sembunyikan. Sebuah kado yang cukup besar menurutku. “Ini untukmu, Yoonrinnie. Saengil chukkae. Maaf telat seminggu. Kuharap kau suka.”

Aku langsung menerimanya, “Eoh? Gomawo Jongdae. Gwenchana, tapi kuharap bukan sekardus kotoran binatang isinya.” Chen tertawa, “Anhi. Tentu saja bukan! Tidak tega aku memberi kado seperti itu pada orang lain. Apalagi untuk yeoja sepertimu.” Aku meneliti kado yang diberi Chen, menerka-nerka isinya.

“Kalau kau penasaran, bukalah sekarang.” Ya, aku memang penasaran. Aku langsung merobek pelan-pelan bungkus kadonya. Saat kubuka, aku langsung terkejut melihatnya. Novel Harry Potter no. 7, serial terakhir Harry Potter! “Jongdae? Ini untukku. Ini kan keluaran terbaru.”

“Ne, itu untukmu, Yoonrinnie! Kau suka?” tanyanya. Aku mengangguk, “Sangat suka, Jongdae. Aku belum sempat membelinya. Ah, gomawo…” Aku merentangkan kedua tanganku, ingin memeluknya. Chen sepertinya juga sudah siap kupeluk. Tetapi aku menahan diri dan tidak jadi memeluknya, “Ah, gomawo!” Kurasa wajahku sudah memerah sekarang. Chen hanya tertawa kecil, “Sekolah sudah sepi. Sebaiknya kita pulang sekarang. Ayo kuantar.” Chen mengulurkan tangannya padaku, “Kaja!” Tanpa berkata apapun aku menyambutnya. Kami berjalan bersama menuju rumahku.

***

“Yoboseyo?”

“Yoonrinnie, kau belum tidur?”

“Belum, nuguseyo?”

“Ini aku, Kim Jongdae.” Deg! Jantungku langsung berdetak keras. Chen menelponku? “Oh kau, hehe. Aku masih membaca novel darimu.”

“Tidurlah, Yoonrinnie. Sudah jam setengah 12. Tidak baik yeoja tidur malam.”

“Jongdae, darimana kau tahu nomor…”

“Hei, sudah hampir jam 12 malam. Hwang Yoon Rin, tidurlah. Besok sekolah. Annyeong!” Telepon pun terputus. Aku menggenggam handphoneku dengan tangan gemetar. Jantungku berdetak kencang. Chen? Itu benar Chen? Aku langsung merebahkan diriku di tempat tidur.

***

1 minggu kemudian…

“Hei! Im Yoon Ah noona sudah punya namjachingu sekarang!”

Serentak orang-orang berkumpul, termasuk aku, siapa yang tidak suka Yoon Ah eonni. Yeoja cantik segala-galanya, termasuk sikapnya. “Mwo? Benarkah?”

“Ne, aku mendengarnya tadi. Dia jadian dengan anak yang seangkatan dengan kita!”

“Nuguya? Ah, beruntungnya namja itu.”

“Namanya Kim Jong Dae! Kelas 2-4!”

-flashback end-

***

Yeonrinnie? Panggilan Chen untukku empat tahun yang lalu? Namja busuk macam apa dia itu!? Aku terus berlari menuju rumahku. Setelah sampai aku langsung membuka kunci pintu rumah. Tidak ada orang. Aku langsung masuk ke kamarku dan merebahkan diriku di tempat tidur. Tiba-tiba air mataku keluar.

Menangis, yah kembali aku menangisi kejadian empat tahun lalu yang terus kucoba untuk melupakannya. Aku langsung pergi keluar rumah menuju rumah Tae Hee.

***

TAE HEE’S POV

Akhirnya langit kembali cerah seperti biasa. Aku membuka jedelaku lebar di sore hari yang benar-benar cerah ini. Aku menghirup udara sore cerah ini dan sejenak melupakan Chen yang sudah punya yeojachingu.

“LEE TAE HEE!!! LEE TAE HEE!!!”

Ada yang memanggilku, nuguya? Aku mencari di langit, tidak ada orang.

“YA, KAU! TAE HEE!!! AKU DISINI!!!”

Aku menatap ke bawah. Park Chanyeol. Dia terlihat melambai-lambaikan tangan sanmbil tersenyum lebar ke arahku. “KAU!? ADA APA KAU KEMARI!?”

“TURUNLAH, TAE HEE! ADA YANG INGIN KUBICARAKAN DENGANMU!!!” Ada apa sih anak ini kemari? Aku langsung turun ke bawah dan keluar rumah menghampirinya. Senyumnya kini benar-benar merekah. “Gwenchana?”

“LEE TAE HEE! SARANGHAE!!!” ujarnya dengan wajah yang benar-benar ceria. Aku memandangnya bingung, “Mwo?”

“SARANGHAE, LEE TAE HEE! SARANGHAE!” Aku masih menatapnya bingung. “Hei Chanyeol, kau bicara apa sih?” Chanyeol membalasnya dengan senyuman lebar lalu mendekatiku. Dan dia memelukku. Erat sekali. “TAEHEE-YA! JEONGMAL SARANGHAE!”

Aku terkejut dan kehabisan napas karena pelukannya terlalu erat. Aku memukul-mukul punggungnya, “Paboya! Kau pasti sedang bercanda kan? Lepaskan, Chanyeol! Aku sulit bernapas!” Tetapi dia mempererat pelukanku, “Anhi Tae Hee. Aku tidak bercanda sama sekali. Aku benar-benar mencintaimu, Tae Hee. Dan aku tidak ingin melepaskan pelukannya dulu.”

“Men-cin-ta-i-ku? Wae? Aah Chanyeol! Lepaskan!” tanyaku yang masih erat dalam pelukannya, dan aku masih berusaha untuk melepasnya. Akhirnya dia melepas pelukannya juga. Aku langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya karena kehabisan napas saat dipeluknya, “Fuuh, kau menyiksaku!”

“Kau tahu Tae Hee kenapa? Karena kau unik! Belum pernah aku bertemu yeoja seunik dirimu selama aku hidup. Sejak kita sekelas setahun yang lalu, aku sudah memperhatikanmu diam-diam. Sayang aku tidak bisa terlalu akrab denganmu karena aku malu. Lalu saat kelas tiga–sekarang–karena Yoonrinnie, aku jadi bisa mengenalmu. Aku jadi semakin menyukaimu. Yah, kau yang tidak pernah ambil pusing dalam hidup, aku suka yeoja sepertimu.”

Aku tercengang, “Mwoya? Jinjja?” Chanyeol mengangguk, “Ne, kau tidak percaya padaku hah? Tutup matamu sekarang?”

Hah, mau apa dia? Tunggu, sepertinya dia akan melakukan sesuatu seperti adegan-adegan drama. Wah, asyik! Boleh dicoba nih. Aku langsung menutup kedua mataku. Kurasakan wajah Chanyeol mendekat ke wajahku. Kurasakan napas beratnya berhembus di depan wajahku. Dan kurasa jarak wajah antara kami tinggal sedikit lagi menuju 0 cm.

“TAE HEE? YEOLLIE?”

***

YOON RIN’S POV

“TAE HEE? YEOLLIE?”

Kulihat Tae Hee dan Chanyeol langsung saling menjauh. Mereka menjadi salah tingkah, berpura-pura merapikan pakaian mereka. “Ah Yoon Rin? Em, nan gwenchana?”

“Ah, anhi. Kalian… kalian…” Aku tidak percaya apa yang kulihat tadi? Chanyeol? Namja yang kusuka sejak awal SMA, dan Tae Hee. Mereka? Apa mereka berdua pacaran? “Kalian pacaran?”

“Eoh, belum Yoonrinnie. Aku masih menunggu jawaban Tae Hee. Hei, Tae Hee, apa jawabanmu? Kau mencintaiku tidak?” kata Chanyeol. Tae Hee kini senyum-senyum sendiri, “Eung? Umm… nado saranghae, Chanyeol oppa.” Kini Chanyeol tersenyum senang, “Ah, akhirnya!” lalu dia mengacak rambut seleherku, “Yoonrinnie, karenamu, aku jadi bisa mengenal Tae Hee dan dekat dengannya. Gomawo…” Dan Chanyeol makin membuat rambutku berantakan.

Aku tersenyum melihat mereka berdua. Bukan, bukan senyuman pahit, kecewa, atau pura-pura senyum. Tapi ini senyuman ikhlas. Aku benar-benar bahagia melihat mereka berpacaran sekarang. Padahal aku menyukai Chanyeol, cukup lama, walaupun tak ada yang mengetahui hal ini. Tidak, aku tidak bohong, aku benar-benar bahagia. Entah kenapa aku merasa lega. Apa karena Tae Hee akhirnya punya namjachingu?

Yang jelas tidak seperti yang kurasakan empat tahun lalu. Yah, kenangan yang akhirnya tak bisa dikubur terlalu dalam juga. Poor me!

***

“Huaah! Kenapa PR Matematika banyak sekali sih!? Mana harus dikumpulkan besok lagi!” keluh Tae Hee sambil merentangkan kedua tangannya di kelas saat bel pulang sekolah berbunyi. Aku tertawa mendengar keluhannya, “Haha! Tae Hee, Tae Hee! Kalau kau mengeluh aku apa? Bunuh diri! Matematika gila!” Tiba-tiba Chanyeol langsung menghampiri meja Tae Hee, “Tae Hee-ah, ayo kita pulang!”

“Mwo? Tapi…” ujar Tae Hee gugup. “Ah kau ini masih kaku saja denganku! Kita kan sudah pacaran. Ayolah. Rumah kita juga tidak jauh kan.” Tae Hee langsung menatapku, “Yoon Rin…”

“Pulanglah,” ujarku singkat. “Tapi kau…”

“Gwenchana,” balasku. Aku menepuk bahu Tae Hee, “Kau pulang berdua sana. Tidak mungkin kan aku mengganggu kalian. Aku ingin mengumpulkan tugas sejarah dulu ke ruang guru. Kalian duluan saja.” Chanyeol dan Tae Hee memandangku dengan tatapan bersalah, “Apa…”

“Gwenchana! Pulanglah!” Akhirnya dengan wajah berat hati Chanyeol dan Tae Hee meninggalkanku sendiri di kelas. Aku ingin selesai duluan tugas sejarah karena nanti malam harus mengerjakan PR Matematika, yah biar tidak ada beban walaupun tugas sejarah seharusnya dikumpulkan besok.

Selesai mengerjakan sejarah aku merapikan buku ke dalam ransel dan bergegas menuju ruang guru. Sesampainya di ruang guru aku langsung menaruh buku tugas sejarahku ke meja Dong Joo seonsaengnim, guru Sejarah. Dia sudah pulang sepertinya. Setelah itu aku keluar dari ruang guru dan tiba-tiba ada yang menarik tanganku. “KYAAA!!!”

“Tidak akan! Ini akibatnya!”

Aku tidak tahu siapa yang menarik tanganku, dia menarikku paksa. Sangat kasar. Lalu dia berhenti menarikku, lalu mendorongku kasar ke tembok. Aishh, punggungku rasanya sakit didorong paksa namja ini.

“Apa yang kau lakukan kemarin siang hah!? Kau memata-mataiku!?” Namja ini? Chen!? Si dingin? Tidak, dia bukan namja dingin lagi. Apalagi namja penuh senyum. Tidak ada senyum Chen untukku sejak empat tahun lalu. Kali ini dia benar-benar mengerikan! Sorot matanya—dia tidak memakai kacamata sekarang, lekukan bibirnya, dia benar-benar marah! Apalagi wajahnya yang benar-benar dekat denganku saat ini.

Aku memberanikan diri untuk bicara, “Memata-mataimu!? Sejak kapan aku ingin memata-matai namja dingin sepertimu!?” Chen menyeringai, “Kemarin?”

“Itu karena aku ingin mencari sumber petir! Kau tahu!? Tiga hari berturut-turut petir bergemuruh di sore hari tanpa hujan sekalipun!” aku membela diri, “Wae!? Apa karena Suyeon eonni?”

Chen tidak menjawab.

“Tiga hari yang lalu, kau putus dengan Suyeon eonni kan? Alumni SMA ini! Empat tahun lalu hanya tiga bulan kau bersama Yoon Ah eonni, lalu Sooyoung eonni, Miyoung eonni, Seohyun eonni, Yuri eonni, dan ah Taeyeon eonni!”

Chen tetap diam.

“Hah, dasar namja penggemar noona! Dan kali ini kau akhirnya bersama hobbae! Yeah, karena stok noona di sekolah ini sudah tidak ada.”

PLAK! Tamparan Chen melayang seketika di pipi kiriku, “Itu tidak ada hubungannya!” Aku meringis sesaat, lalu kembali menyeringai, tanpa sadar air mataku keluar. “Inikah pria yang lima tahun lalu kukenal baik dan pintar hah? Inikah namja yang memberiku novel Harry Potter 7 di ulang tahunku yang ke-14? Bahkan, inikah namja yang membuatku menjadi yeoja terbodoh karena aku mencintaimu empat tahun lalu? Sebelum kutahu kau dan Im Yonn Ah eonni… Ah, sekarang jauh berbeda!” Tidak bisa kutahan lagi, aku menangis. Yah, benar-benar menangis. Aku kembali menangisi sebuah kenangan, empat tahun lalu, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk tidak menyapanya lagi, dan berujung dia yang berbuat dingin padaku. Aku merosot duduk dan bersandar di lantai. Pabo! Ne! Pabo yeoja! Itulah aku, sekarang dan mungkin seterusnya.

Chen tetap berdiri, “Yoonrinnie…”

“Kau tahu! Ah, kau pasti tidak tahu kan!? Oke, Kim Jong Dae! Kau tahu!? Saranghae, Jongdae! Saranghae!” Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Menutupi tangisanku. Tidak peduli Chen di depanku. Aku hanya ingin mengatakan apa yang selama ini membebaniku.

“Itu empat tahun lalu, Jongdae! Empat tahun lalu! Empat tahun lalu aku menyukaimu! Tidak untuk sekarang! Anhi!”

***

AUTHOR’S POV

Chen memandang tangan kanannya yang tadi dipakai untuk menampar Yoon Rin. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan lagi. Dia berlutut di depan Yoon Rin dan memegang tangannya yang masih digunakan untuk menutup wajahnya. “Yoonrinnie…”

***

YOON RIN’S POV

“Yoonrinnie…”

Aishh, sudah tiga kali dia memanggilku seperti ini, sejak kemarin. Tidak, bukan nada dingin yang dia lontarkan. Itu suara yang sangat lembut. Benar-benar lembut. Bahkan lebih lembut dari empat tahun lalu. Dia memegang tanganku yang masih kugunakan untuk menutup wajahku. Bukan, bukan cengkraman kasar, bahkan bukan genggaman keras saat menarikku dari ruang guru tadi. Ini seperti genggamannya saat mengantarku pulang empat tahun lalu. Setelah dia memberiku novel Harry Potter itu. Kini aku semakin menangis, kejadian empat tahun lalu kembali terjadi.

“JONGDAE!”

***

AUTHOR’S POV

“JONGDAE!”

Chen menoleh ke jendela, sumber suaranya. Suara berat khas itu, milik teman kosnya, Kris, dengan pakaian serba krem. Kris langsung membuka jendela dan masuk menghampiri Chen, “Jongdae! Kau…”

“Ge?” Chen terkejut. TAR! Tiba-tiba muncul seseorang dengan kemeja hitam dan celana hitam. Kai, teman kosnya juga, “JONGDAE HYUNG!” Chen menatap Kai tercengang, “Jongin?” Tak lama kemudian, dua namja lagi—keduanya memakai T-Shirt putih, menghampiri Chen dari tangga.

“Lay? Luhan gege?”

“Kai, bawa yeoja itu ke rumah. Lay, obati yeoja itu. Luhan, gomawo telah memberitahuku dan kau ikuti aku. Dan kau, Jongdae!” Kris menunjuk ke arah Chen, “Ikut aku dan Luhan! Aku ingin bicara denganmu.”

“Ah, araseo,” ujar Chen pasrah. Kai pun memapah Yoon Rin dan menghilang bersamanya. Sementara Lay menuruni tangga dan pergi menuju rumahnya.

***

Di rumah kos Chen—juga rumah kos Chanyeol dan teman-temannya, Yoon Rin direbahkan Kai di atas sofa yang panjang. Ternyata Yoon Rin tidak sadarkan diri sejak datangnya Kris di sekolah tadi.

“Jongin, balikkan badannya,” perintah Lay pada Kai. Kai menuruti perintahnya, dia langsung membalikkan badan Yoon Rin dengan hati-hati sehingga kini posisi Yoon Rin menelungkup.

“Menurut Luhan gege, punggungnya sedikit retak karena dorongan Jongdae ke tembok tadi. aishh, dasar namja itu.” Lay langsung mengelus punggung Yoon Rin sekali. “Jangan ganggu dia. Biarkan dia sadar sendiri.” Kai, Xiu Min, Tao, dan D.O. menatap Yoon Rin yang telungkup. “Dio, buatkan makanan untuknya. Yang kutahu yeoja ini kesini menunggu Chanyeol kan?” D.O. mengangguk, “Ne, hyung. Ah ya, aku tahu harus masak apa.” D.O. langsung pergi ke dapur.

***

PLAK!!!

“NAMJA MACAM APA KAU INI HAH!? APA KAU SEORANG PENGECUT SEHINGGA KAU BERANI MENAMPAR SEORANG YEOJA—BAHKAN MEMBUAT TULANG PUNGGUNG YEOJA ITU RETAK!?”

Chen menunduk diam. Tidak biasanya Kris segalak ini.

“Kris gege, boleh aku berkata sesuatu?” Kris mengangguk, “Silakan, Luhan.”

“Begini. Jongdae?”

***

YOON RIN’S POV

Aku membuka mataku. Tempat apa ini? Ini bukan rumahku. Dan posisiku telungkup. Ini bukan tempat tidur. Ini sofa, tapi bukan sofa di rumahku. Aku langsung bangkit duduk. Tunggu, punggungku tidak apa-apa? Sepertinya tadi aku merasa punggungku retak. Dan ya, sepertinya aku tahu tempat ini.

“Yoon Rin-ssi, syukurlah kau sudah sadar,” suara seorang namja mengagetkanku. Aku menatap namja itu, chakkaman, bibirnya tebal dan potongan rambutnya seperti tentara. “Di… Dio? Dimana aku?”

“Ne, ini aku. Kau dimana? Aishh, kau lupa ya. Ini rumah kosku. Ah, baru dua hari lalu kau kesini mengerjakan tugas bersama Chanyeol hyung.” Oh iya, rumah kos Chanyeol.

“Kau sudah sadar?” Seorang namja dengan T-Shirt putih dan kuperkirakan umurnya sama denganku menghampiriku. Sebentar, ini namja yang kemarin menjawab ‘ke rumah sakit’ dari pertanyaan Baekhyun. “Lay-ssi?”

“Kau tahu namaku? Waah, senangnya,” ujar Lay girang. Kini ekspresinya seperti anak kecil. Lalu datanglah namja dengan baju serba krem didampingi namja babyface berT-shirt putih, dan seorang namja lagi, yang memakai seragam sekolah sama sepertiku, memakai kacamata, Chen.

“Hwang Yoon Rin-ssi,” ujar namja serba krem yang kutahu bernama Kris—si terbang—itu, “Ada yang ingin bicara denganmu. Kalian, pergi dari sini. Biarkan Jongdae dan yeoja ini bicara di ruangan ini.”

Semua meninggalkan ruangan ini. Tinggal aku dan si dingin Chen. Dia mendekatiku dan duduk di sebelahku, “Hwang Yoon Rin…” panggilnya. “Yoonrinnie, mianhae…”

“Apa kata ‘mianhae’ saja cukup untukku?”

***

CHEN’S POV

“Apa kata ‘mianhae’ saja cukup untukku?”

Jleb! Yeoja ini. Apa aku punya banyak salah padanya? Ne, Jongdae! Ne! Aku, pabo namja!

“Itu empat tahun lalu, Jongdae! Empat tahun lalu! Empat tahun lalu aku menyukaimu! Tidak untuk sekarang! Anhi!”

Aishh, terus saja kalimat Yoon Rin tadi terngiang di telingaku. Aku benar-benar namja yang bodoh! Aku sangat menyesal untuk empat tahun yang lalu. Menyia-nyiakan seorang yeoja yang selalu riang demi noona cantik yang ternyata hanya memanfaatkanku sebagai bahan pelarian dan tiga bulan kami berhubungan dia memutuskanku dan kembali dengan mantannya, namja yang masih dia cintai.

“Yoonrinnie…” Aku menatap Yoon Rin tajam. Yoon Rin balas menatapku. Dia tidak menjawab sama sekali. Yoon Rin, Hwang Yoon Rin. Saat itu kau sudah merentangkan kedua tanganmu dan siap memelukku setelah kau senang dengan kado ulangtahun dariku. Dan saat itu aku sudah menunggu momen itu. Tapi kau menahan diri, aku tahu itu. Aku menatap matanya tajam, dan dalam. Dan aku langsung memeluk tubuhnya erat.

“Yoonrinnie, mianhae. Aku benar-benar namja yang bodoh! Tidak, aku minta maaf bukan hanya untuk tadi karena aku menarik paksa dirimu, memarahimu, mendorong paksa ke tembok, bahkan menamparmu. Aku bukan namja yang baik, Yoonrinnie! Aku juga ingin minta maaf atas perlakuan dinginku padamu. Tidak, ini bukan salahmu yang memulai bersikap dingin padaku. Aku pantas mendapatkannya karena aku memilih yeoja lain daripada kau. Dan hobbae yang sekarang, dia hanya meminta ciuman dariku saja. Dia bukan yeojachinguku sama sekali.”

Aku langsung melepas pelukanku, aku memegang pundak Yoon Rin. Yoon Rin tercengang menatapku tanpa mengucap sepatah katapun. Aku semakin menatapnya lekat, “Yoonrinnie, ini yang ingin kuucapkan empat tahun lalu. Saranghae, Hwang Yoon Rin.”

***

YOON RIN’S POV

“Yoonrinnie, ini yang ingin kuucapkan empat tahun lalu. Saranghae, Hwang Yoon Rin.”

DEG! Detak jantung ini? Empat tahun lalu aku pernah merasakan ini terhadap orang yang kini sedang menatapku untuk minta maaf, bahkan, dia bilang ‘saranghae’ padaku. “Jongdae? Mwo?”

“Saranghae, Yoonrinnie! Saranghae! Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri! Aku serius! Sejak empat tahun lalu, hingga sekarang, kata inilah yang ingin kuungkapkan padamu. Sikap dinginku, ah, tidak bisa, aku tetap… mencintaimu!”

Aku menatap Chen bingung, “Jongdae?”

“Serang aku kalau kau membenciku! Kau juga ingin meremukkan kacamataku kan? Silakan!”

Aku terdiam sesaat. Lalu tangan kananku bergerak ke kacamata yang dipakai Chen dan memegang gaganganya. Aku langsung menarik paksa kacamata yang dipakainya. Dan langsung kutaruh di meja depan sofa tempat kami duduk. Aneh, aku jadi tidak niat untuk menghancurkan kacamatanya.

“Wae? Kenapa kau taruh di meja? Bukannya kemarin kau bilang ingin menghancurkan kacamataku?” tanya Chen. Dengan cepat aku menggeleng, “Anhi. Kau tahu? Ternyata, kau lebih tampan kalau tidak pakai kacamata.” Aku tersnyum padanya.

“Mwo? Jinjja?” tanya Chen. Kini dia tersenyum, senyum lebarnya yang khas itu, aishh. Aku mengangguk.

“Kalau begitu, apa jawabanmu tadi? Umm pertanyaan—oh tidak, pernyataannya kuulang, Yoonrinnie, saranghae!”

“Walaupun kau berhubungan dengan banyak noona-noona, walaupun aku memutuskan untuk bersikap dingin, dan membencimu, ternyata… Hah… nado saranghae, Jongdae.” Setelah kalimat itu terucap langsung saja bibirku menempel sesuatu. Yah, bibirnya, bibir Chen. Aniya! Apa-apaan ini! Namja yang empat tahun kubenci ini, kini aku berciuman dengannya. Ah, aku tidak bisa menolak ini. Ya, aku benar mencintainya. Perbuatan dinginku padanya, tetap tidak bisa membohongi diriku sendiri. Yah, aku masih mencintainya.

***

AUTHOR’S POV

“Ya! Kau Jongdae! Lama seka… HUWAAAA!!!” Xiu Min langsung menutup matanya melihat Chen dan Yoon Rin sedang berciuman. “Bukannya, kalian, bertengkar?”

Yoon Rin dan Chen melepas ciuman mereka. Chen tersenyum, “Bertengkar? Aku lupa. Yoon Rin, memangnya kita bertengkar?” Yoon Rin hanya menundukkan kepala, wajahnya memerah. Lalu datanglah Kris dan Luhan. Mereka berdua tertawa, “Hahaha… Jongdae dongsaengku ternyata…” ujar Kris dan dilanjutkan kembali tertawanya.

“Kyaa! Yoonrinnie! Tak kusangka kau malah mencintai namja yang kau benci! Jongdae, kau berbohong rupanya!”  kini Chanyeol datang menyusul, diikuti Tae Hee, “Yoon Rin, ternyata kau pembohong! Kau tidak membenci Chen!” Lalu semua namja di rumah itu muncul. Yoon Rin kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya, bersembunyi di balik Chen yang berdiri.

“Kalian? Ini kan urusanku!” ujar Chen. Baekhyun tertawa, “Haha, kalau ada Luhan hyung semua menjadi urusan umum.” Dan semua pun tertawa.

“Yoonrinnie, ternyata kau tersengat sambaran petir dari Chen. Petir cinta!” ujar Chanyeol yang disambut dengan suara ‘ooh’ dari yang lain. Yoon Rin melihat jam dinding lalu terkejut, “Aigoo… sudah jam 6. Otthoke? Aku akan diomeli orangtuaku!”

“Tenang saja Yoon Rin noona,” ujar Tao. “Aku bisa mengurus urusan ini. Noona, setelah semua berubah, cepat kembali ke rumah.” Yoon Rin hanya mengangguk. Tao menghampiri Yoon Rin, “Berdiri di hadapanku. Yoon Rin menurutinya. Tao menarik napas lalu menjentikkan jarinya, “Empat jam yang lalu.”

***

YOON RIN’S POV

Jam 2 siang. Itu yang kulihat di jam dinding rumah kos Chanyeol dan teman-temannya. Oh ternyata ini maksud Tao. Aku langsung mengambil ranselku dan berlari keluar dari sini, menuju rumah.

Aku sampai di rumah. Eomma sedang pergi bersama dongsaengku, itu kata notes yang dipasang di kulkas, ditulis dongsaengku. Aku langsung pergi ke kamar dan ganti baju. Aku langsung tidur.

***

“Neoui sesangeuro yeorin barameul tago
Ne gyeoteuro eodieseo wannyago”

Aku terbangun dari tidurku, “Yoboseyo?”

Ya! Yoonrinnie-ah! sudah sepuluh kali aku menelponmu tidak kau angkat juga. Kau kemana hah?

“Aku? tertidur, hehe. Mianhae.”

Tertidur? Uh dasar kerbau! Aku benar-benar merindukanmu, Yoon Rin!

“Eoh? Hoo, nado, Jongdae!”

Saranghaeyo, Yoonrinnie!

“Nado, Jongdae oppa!”

Telepon ditutup. Dari Chen, musuh, oh bukan, namjachinguku. Ne, walaupun Tao sudah membalikkan waktu jadi empat jam yang lalu, aku tetaplah aku yang sekarang. Pikiranku tidak berubah. Sekarang aku bukan pembenci namja bernama Kim Jong Dae atau Chen lagi. Sekarang aku yeojachingunya. Aku menatap rak buku. Disitu ada buku Harry Potter 7, pemberian Jongdae empat tahun lalu, yang tak pernah kusentuh sejak Jongdae jadian dengan Yoon Ah eonni. Aku memegang buku itu lagi dan membukanya. Untung saja aku sudah selesai membaca sebelum aku tak pernah menyentuhnya kembali. Sekarang aku bisa menyentuhnya entah sampai kapan.

“Neoui sesangeuro yeorin barameul tago
Ne gyeoteuro eodieseo wannyago”

Ah, namja itu lagi, “Yosoboseyo? Ye? Apa lagi?”

Yoon Rin! Kerjakan PR Matematikamu!” Matematika? Aigoo… Aku memnepuk kepalaku sendiri. “Aish, aku lupa! Dan ya! Aku bingung bagaimana cara mengerjakannya! Aku tidak mengerti, Jongdae-ah. Meurutku soalnya susah.”

Suara orang yang menelponku–Chen–menghela napas berat. “Cha, apa aku harus turun tangan membantumu?”

“Eoh? Membantuku? Tapi bagaimana bisa? Pulsamu?”

Mau tidak?” Suara itu bukan berasal dari telepon lagi. Terdengar lebih jernih sekarang. Chakkaman! Aku langsung mencari sumber suara. Kubuka goden jendela dan memandang keluar, tidak ada. “Jongdae-ah?”

“Mau tidak?” Aku langsung menoleh ke belakang. Omona! Aku langsung terloncat saat melihat ternyata ada seorang namja yang tersenyum padaku menggunakan sweater hitam. Wajahnya yang kotak, kacamatanya, dan senuyuman lebar yang khas. Chen! Dia menggelengkan kepala, “Hah? Bahkan mengeluarkan bukunya saja belum. Ini sudah setengah sembilan malam, Yoonrinnie! Jangan begadang lagi!”

Aku terperangah, “Neo? Wae? Kenapa kau bisa disini? Di kamarku?” Chen terkekeh, “Kau ingat namja bernama Kai kan? Dia yang mengantarku langsung kesini.”

Aku meletakkan handphoneku di rak buku. Aku langsung menimpuk Chen tepat di kepalanya dengan novel Harry Potter pemberiannya yang masih kupegang. Dia terhuyung dan jatuh. “Nappeun namja! Kurang ajar! Masuk kamar yeoja sembarangan! Mana Kai? Kai! Kai! Bawa Jongdae pulang!”

Chen mengusap kepalanya. Dia bangkit, terkekeh kembali, “Tidak ada efeknya, Yoonrinnie. Jongin sudah pulang. Aku akan memanggil Jongin kalau sudah selesai. Dan ah, aku lupa membawa handphone!”

“Kalau begitu pakai punyaku!”

“Shireo!” ujarnya. Chen mendekatiku, “Tidak sebelum kau selesai mengerjakan PR-nya! Keluarkan buku matematikamu. Kau tidak ingin dihukum Kyuhyun seonsaengnim lagi kan? Ppali! Aku akan mengajarimu sekarang. ”

 “I lost my mind
Noreul choeummannasseultte
No hanappego modeungoseun Get in slow motion
Nege marhejwo ige sarangiramyon
Meil geudewa
Sumaneun gamjong deureul lanwojugo bewogamyo
Ssaugo ulgo anajugo
Nege marhejwo ige sarangiramyon”

-THE END-

kyaa! Fanfic macam apa ini!? Jelek banget! Author mau muntah! Bagaimana readers? Apa mau muntah bareng author juga?