Halo, kembali dengan author disini. Kali ini author bawa tulisan baru. Tapi mian “What Is It?” nya ditunda dulu. Soalnya flashdisk gw lagi dipinjem temen dan datanya ada disitu. Gw bawa tulisan aneh ini dulu ya, yang gak kalah bikin muntahnya. Bisa dibilang ini sekuel dari “Four Years”. Cuma beda cast.
Udahlah, selamat membaca.
“Muncul dan hilang, datang dan pergi, ada dan tidak ada. Itulah yang membuat kehidupan ini menjadi tidak membosankan.”
Selesai. Aku menoleh ke belakang, oke anak itu menghilang. Aku bernapas lega. Oke, aku jadi bisa tidur dengan tenang karena besok harus sekolah. Aku membaringkan diriku di tempat tidur. Semoga dia tidak menggangguku lagi setiap malam. Oh tidak, memang sudah perjanjiannya untuk tidak menggangguku atau muncul di kamarku tiap aku tidur.
Muncul dan hilang, datang dan pergi, ada dan tidak ada. Kalimat itu sebenarnya kutujukan kepada namjachinguku. Dia seumuran denganku, tetapi beda sekolah. Kenapa aku bilang dia itu muncul dan hilang, datang dan pergi, serta ada dan tidak ada? Ah, lebih baik aku cerita saja.
Oh iya aku lupa, namaku Kim Young Ra.
***
AUTHOR’S POV
“ANAK-ANAK, KARENA BEL PULANG SUDAH BERBUNYI, PEKERJAANNYA DIJADIKAN TUGAS RUMAH SAJA. DIKUMPULKAN BESOK YA.”
Semua murid kelas 2 SMA Hyungdae menurut saja apa kata Gu Ra seonsaengnim, guru Fisika, walaupun dalam hati mereka tidak senang dengan tugas ini. Semua murid di kelas itu merapikan bukunya dan memasukannya ke dalam tas masing-masing. Lalu mereka keluar kelas.
“YOUNG RA! YOUNG RA!”
Yeoja berambut panjang, bermata kecil, putih, dan pendek bernama Young Ra menoleh, mencari sumber suara, “Tao? Gwenchana?”
Namja yang bernama Tao—yang memanggil Young Ra tadi—berbadan tinggi tegap, jauh lebih tinggi daipada Young Ra dan berwajah agak menyeramkan pada pandangan pertama, menghampiri Young Ra. “Young Ra, Kris gege ingin bertemu denganmu hari ini.”
Young Ra langsung terkejut dan hampir terjatuh, “Mwo?”
***
YOUNG RA’S POV
“Mwo?”
Kris oppa? Jinjja? Apa dia tidak salah bicara. Kris oppa—teman satu kos Tao yang benar-benar tampan. Namja yang membuatku gila sendiri membayangkannya. Yah Kris oppa, pertama kali aku melihatnya saat aku pergi ke rumah kos Tao bersama kedua temanku yang lain untuk belajar Matematika bersama seminggu yang lalu.
“Hei, hei Young Ra? Ya! Kau baik-baik saja kan?”
Aku langsung tersadar. Kulihat Tao sedang melambai-lambaikan tangan kanannya di depan wajahku. Oh tidak, ternyata aku melamun tadi. “Eoh? Ne, gwenchana, Taozi!”
“Cha, ke rumah kosku nanti setelah ganti baju. Ara?” ujar Tao. Aku langsung mengangguk semangat sambil mengacungkan jempol, “Arasseo, Taozi. Aku akan berdandan rapi untuk Kris oppa!”
Tao mengerutkan dahinya, “Hah, terserahlah.”
***
“Lalalalala~ aku akan bertemu oppa Kris yang tampa~n~” Aku berganti pakaian. Adikku belum pulang sekolah sepertinya, dan eomma pergi. Aku langsung keluar rumah menuju rumah kos Tao, untuk menemui Kris oppa.
***
“KIM YOUNG RA-SSI?”
Aku menoleh ke belakang, “Kris-ssi?” Aneh, kenapa orang ini datang tiba-tiba. Sepertinya tadi tidak ada orang sama sekali.
“Ah anhi, jangan terlalu formal begitu. Panggil saja aku ‘oppa’,” ujar Kris, lalu dia mendekatiku, “Kau mau kemana?”
Aku diam saja, lebih tepatnya menjadi kaku. Aigoo… tampan sekali namja di hadapanku ini.
Kris tersenyum, “Oh iya! Aku baru ingat. Kau kan ingin ke rumah kos ku. Dan ya! Kau ingin menemuiku kan?” Aku hanya mengangguk. Kris kembali tersenyum, “Ne, aku tadi menitipkan pesan pada Tao. Ah, kau tidak perlu ke rumah. Kaja! Kau ikut aku. Ada yang ingin kutunjukkan padamu.” Kris langsung berjalan sementara aku mengikutinya. Dan sampailah kami di sebuah gedung apartemen. “Kaja, kita masuk.”
Kami memasuki apartemen, lalu kami menaiki lift. Kris langsung memencet angka 12 dan lift pun bergerak naik. Aku bingung, apa yang akan dia lakukan. “Oppa, apa yang akan kita lakukan?” Kris hanya diam. Tetapi saat tiba di lantai 10 dia menyeringai dan berkata, “Lihat saja nanti, Young Ra. Ini akan mengasyikkan.” Dan ting! Lift berbunyi dan sudah menunjukkan angka 12. Pintu lift pun terbuka. Aku dan Kris keluar. Dan langsung saja aku terkejut dan menutup kedua mataku, “Oppa, ige mwoya?” Kami berada di lantai paling atas. Bahkan bukan paling atas lagi, tapi di atap apartemen! “Oppa, apa yang akan kita lakukan? Kenapa kau membawaku kesini?”
“Ternyata kamu takut ketinggian ya? Oke, pegang tanganku. Kau boleh menutup matamu kok. Ingat, jangan lepas ya,” ujar Kris. Aku hanya mengangguk dan menyerahkan tangan kananku yang langsung digenggam Kris sementara tangan kiriku masih kugunakan untuk menutup mata. Kris terus berjalan entah membawaku kemana. Lalu dia berhenti. “Oppa?”
“Kau suka tantangan?” Aku terdiam.
“Oke, berarti kau suka. Siapkan jantungmu, Young Ra-ssi.” Dan entah kenapa aku langsung merasa kakiku tidak menapak lagi, seperti melayang. Tunggu? Apa Kris membawaku terbang? Ah pasti aku sedang mengkhayal sekarang. Tapi…
“Oppa, apa kita sedang terbang? Aku tidak merasa kakiku menapak.”
“Ne, Young Ra. Kita memang benar-benar terbang. Kalau kau siap buka matamu sekarang. Kalau kau masih takut aku tidak memaksamu untuk membuka mata. Tapi asal kau tahu, pemandangan di bawah sangat indah. Kau pasti akan menyukainya.”
Mwo? Apa namja yang memegang tanganku sekarang ini sedang bercanda? Tapi kenapa kakiku memang benar-benar tidak menapak dari tadi? Ah sudahlah kuturuti saja perkataannya. Akupun membuka mata. Sejenak aku terkejut. Mwo? Aku benar-benar terbang?
Aku melihat ke bawah, ya benar! Omona… aku bisa melihat pemandangan indah. Biru… itu pasti laut. Terus lagi, waaw banyak gedung.
“Sepertinya kita harus kembali.”
Mwo? Cepat sekali. Dan dalam beberapa saat saja kami sudah kembali ke atap apartemen tadi. Aku benar-benar kecewa.
“Mianhae, Young Ra-ssi, sebenarnya aku ingin mengajakmu pergi lebih jauh. Bahkan aku ingin mengajakmu ke Kanada rumahku. Tapi karena sekarang sudah terlalu sore aku jadi tidak berani mengajakmu kesana.” Eoh, Kris sepertinya menyadari raut kekecewaanku. Lalu dia mengacak rambutku, “Sudahlah, lain kali kalau ada waktu akan kuajak kau kesana. Sekali lagi, mianhae.” Lalu dia tersenyum, ah senyumannya, walaupun tidak terlalu lebar tetapi kalau bisa aku ingin pingsan sekarang karena senyumannya. “Kaja, lebih baik sekarang kuantar pulang. Tidak mungkin aku membawamu terbang ke kamar, pasti nanti orang tuamu curiga.”
Kamipun keluar apartemen melalui lift yang tadi kami pakai dan kembali ke jalan sempit tempat kami bertemu.
“Oppa, apa tadi kita benar-benar ter…”
“Ssst…” Kris mengisyaratkanku untuk tidak melanjutkan ucapanku. “Jangan diteruskan, Young Ra. Tolong rahasiakan hal ini ya.” Tiba-tiba petir bergemuruh. Kris langsung menggelengkan kepalanya, “Aish anak itu. Bikin susah saja. Young Ra, aku duluan ya. Lain kali akan kubawa kau ke Kanada. Annyeong.” Sekali lagi dia tersenyum padaku dengan senyumannya yang lebih dibilang seperti vampir. Aku membalas senyumannya. Aah, Kris oppa. Tampan sekali sih dia. Aku langsung berjalan pulang menuju rumahku. Karena petir tadi aku sedikit berlari agar tidak kehujanan.
BRAK!
Aku terjatuh. Karena aku kurang berhati-hati aku menabrak sesuatu. Ternyata bukan benda yang kutabrak, tapi seseorang. Aku mendongak melihat orang itu. Seorang namja. Bertubuh tinggi, tegap, berambut hitam, memakai celana jeans hitam, dan berkaos biru.
“Ah mianhae agassi. Gwenchana?” Namja itu mengulurkan tangannya padaku. Aku menerima ulurannya. Langsung saja dia menarikku berdiri. Aku merapikan bajuku. Kulihat lagi namja itu, membuatku ingin tertawa, bibirnya—baik bagian atas dan bawah—tebal sekali. “Ah haha, naneun gwenchana. Aku yang tidak hati-hati. Ah harus buru-buru pulang. Kamsha hamnida telah menolongku.” Aku kembali berlari menuju rumahku. Aku menoleh ke belakang. Namja itu diam dan memperhatikanku. Ah mebngeerikan. Sementara petir kembali bergemuruh. Aku kembali berlari menuju rumah.
“ANNYEONG HASEYO!”
“Young Ra, kemana saja kau?” tanya eommaku. “Ah mianhae eomma, aku tadi kerja kelompok di rumah Tao. Aku ke kamar dulu ya eomma.” Aku langsung beranjak menuju kamar dan merebahkan diriku di tempat tidur. Ah, terbang bersama Kris oppa tadi. Apa aku mimpi? Aku menampar kedua pipiku. Auw, sakit! Tidak, ini sungguhan! Jadi, Kris oppa itu Superman? Hahaha. Tiba-tiba aku teringat namja yang kutabrak tadi. Hmm… lumayan tampan juga kalau dipikir. Dan ya! Tidak hujan? Aishh, buat apa aku berlari tadi? Ah, kalau aku tidak lari tadi mana mungkin tertabrak oleh namja yang kurasa cukup tampan tadi? Haha.
Dan aku tertidur.
***
“Young Ra, kemarin kau dibawa Kris gege kemana?” tanya Tao yang sedang duduk di sebelahku pada waktu istirahat. Aku terkekeh sendiri.
“Young Ra, aku serius,” katanya dengan nada seperti anak kecil, “Kau dibawa terbang kan olehnya?”
Aku terkejut, “Ba-bagaimana kau bisa tahu?” Kali ini Tao yang terkekeh. “Tentu saja aku tahu. Kris gege bisa seperti itu bukan rahasia bagi kami yang tinggal sekos dengannya.” Aku tercengang. Kini Tao menyeringai, “Kalau kau mau tahu aku juga punya kok.” Dia semakin mengeluarkan seringainya. “Empat jam yang lalu.” Dia menjentikkan jarinya. Aku semakin terkejut. Kelas menjadi tidak ada orang. Dan aku melihat jam dinding, jam 7 pagi! Kulihat di balik jendela langit belum terlalu cerah.
“Tao, kau…” Tao hanya tertawa. “Rahasiakan hal ini, Young Ra. Ah, sudah kita kembali saja.” tao kembali menjentikkan jarinya. Dan sekejap anak-anak masuk kelas. Aku melihat jam dinding, jam 11. Dan ini memang siang! Aku menatap Tao. Tao hanya tertawa dan kembali ke tempat duduknya. Bel selesai istirahat berbunyi. Kembali belajar, kali ini belajar sastra.
***
Seperti biasa, jam setengah tiga sore pulang sekolah. Karena tidak ada yang searah dengan rumahku, aku berjalan sendiri menuju rumah.
“Agassi.”
Aku menoleh. Namja bibir tebal kemarin! Dia memakai seragam sekolah juga sepertiku. Bedanya dia memakai celana krem dan rompi kuning, sementara aku berompi hitam. Dia tersenyum padaku, “Ternyata kau masih SMA juga ya?”
Aku mengangguk, “Ne.”
“Dimana sekolahmu?” tanya namja itu. “Hyungdae. Kau?” kataku.
“SOPA.” Mwo? SOPA? Sekolah seni yang terkenal itu? “Aku kelas 2, kau kelas berapa?”
“Nado. Aku juga kelas 2,” jawabku. Jadi kita seumuran?
“Ah sebaiknya aku harus pergi dulu. Annyeong!” Namja itu berjalan mendahuluiku sementara aku diam di tempat dan memandangnya berjalan. Ah namja itu, badannya bagus sekali, seperti Kris oppa. Dan ya! Aku menepuk kepalaku sendiri. Kenapa aku tidak menanyakan namanya? Aduh bodohnya aku. Ah sepertinya namja itu belum jauh. Aku tadi melihatnya berbelok ke arah kiri. Chakkaman! Aku langsung berlari kencang mengikuti namja itu berjalan, walaupun jaraknya agak jauh. Aku berbelok ke kiri. Tapi… IGE MWOYA!?
Tidak ada siapa-siapa. Tapi aku yakin namja yang tadi, yang berompi kuning tadi, lewat sini. Tapi kenapa tidak ada? Dan tidak ada orang di gang ini. Aku terus berjalan menelusuri gang itu. Tapi nihil, ditambah lagi gang ini rupanya gang buntu. Aku mendengus kesal dan kembali berjalan menuju rumahku.
“Ah harusnya aku tanya dari tadi!” rutukku.
***
Ternyata rasa menyesalku tak sampai di jalan tadi saja. Di rumah rasa sesal pun masih ada. Kenapa aku harus membuang kesempatan berharga? Berkenalan dengan namja tampan yang ternyata menyapaku duluan dan dia anak SOPA! Sekolah seni yang paling terkenal di Korea. Ah paboya! Aku jadi tidak nafsu makan jadinya. Aku hanya memainkan sendok dan kuketuk-ketukkan di piring.
“Young Ra, wae?” tanya appaku yang duduk di hadapanku. Aku menggeleng, “Anhi, sepertinya aku tidak ingin makan.”
“Andwae, Young Ra! Kau harus makan! Kau tidak ingin maag-mu kambuh kan?” omel eommaku. Aku mendengus, oke, maag, aku langsung menyuapi nasi dan lauk tiap sendoknya. Ini untukmu, lambung. Selesai makan aku langsung mencuci semua piring dan pergi ke kamar. Saat aku membuka pintu kamar,
“Ssst… Young Ra!”
Ada suara! Suaranya berat sekali! Aku masuk dan mencari sumber suara. “Nuguya?”
“Young Ra? Ya! Ini aku!”
Aku terus mencari sumber suara. Aish, apa kamarku ini muncul lagi hantu?
“Ya! Aku disini! Di jendela, Young Ra!”
Mataku langsung tertuju ke jendela, “MWO!? NEO!?” Aku terkejut sambil menunjuk orang yang ada di jendela. Orang itu mengisyaratkanku untuk diam. Aku langsung menghampiri orang itu. “Neo?” Ah, dia tidak mungkin mendengar ucapanku. Aku langsung membuka jendela, masih menatap orang di hadapanku tidak percaya. “Kris oppa? K-kenapa…”
“Wae?” Kris berdiri di jendelaku. Aku masih memandangnya tidak percaya. Jinjja?
“Kau tidak percaya kalau ini aku?” tanya Kri. Ah kenapa orang ini bisa tahu isi pikiranku? Oh kembali ke cara kuno. Aku mencubit tanganku, sakit! Jadi dia benar-benar Kris!
“Aku hanya mampir sebentar kok. Ingin melihat keadaanmu. Oke, sekarang sudah malam. Belajar dan jangan tidur lama-lama. Aku hanya ingin bilang itu saja. Annyeong!” Dia langsung pergi dari jendela dan tentu saja, terbang. Aku langsung menutup jendelaku dan menarik napas. Jinjja? Ah itu nyata, Young Ra! Aku berjalan sambil senyum sendiri menuju tempat tidur.
***
“Kris oppa… Kris oppa… Kris oppa… Aah neomu neomu neomu joha…”
Sepanjang hari ini aku terus memikirkan Kris oppa sehingga aku tidak terlalu tahu hari ini belajar apa. Oke aku sudah tersihir oleh pesonanya. Ya, benar-benar tersihir!
***
Seperti biasa aku berjalan pulang ke rumah sendirian.
“Kau pulang sendiri terus, agassi. Tidak merasa kesepian hah?”
Aku menoleh ke belakang. Namja yang kemarin. Dia tersenyum padaku. “Ah kau lagi.”
“Haha, kau pulang sendiri terus. Tidak punya teman ya?” tanya namja itu.
“Enak saja! aku ini punya banyak teman tau!” jawabku ketus. “Hanya saja tidak ada yang rute pulangnya searah denganku.”
“Haha, kalau begitu sama denganku,” balas namja itu. Lalu kami berjalan bersama. “Oh iya geulonde, siapa namamu?”
“Kim Young Ra imnida,” jawabku. “Neo?”
“Kim Jong In imnida,” jawabnya. “Tapi panggil saja aku Kai.”
“Oh, Kai. Namamu Kai,” ulangku. Tak terasa aku sudah tiba di depan rumahku. “Ah aku sudah sampai ternyata. Mian, aku duluan ya, annyeong.” Akupun langsung masuk ke rumahku.
Jadi namja itu bernama Kai? Ah, akhirnya aku tahu juga namanya.
***
Begitulah setiap hari aku selalu pulang bersama dengannya setiap pulang sekolah. Terkadang aku harus pulang setengah jam lebih lama karena terkadang kami berdua jalan-jalan di pinggir sungai Han. Yah, rumahku memang tidak terlalu jauh dari daerah itu. Kami bercerita tentang sekolah, teman, bahkan terkadang ke kehidupan pribadi.
Suatu hari seperti biasa kami pulang bersama.
“Yah, chinguku itu si Sehun. Dari luar saja dia kelihatan pendiam dan cool. Itu kata para yeoja yang lain. Hah, padahal namja itu cengeng, tidak bisa berbohong, dan ah, dia suka melakukan aegyo kalau mau minta sesuatu padaku. Bagaimana dengan chingumu, Young Ra?” Kai menoleh ke Young Ra, “Ya! Young Ra-ya! Gwenchana!?”
Aku meringis kesakitan. Aku terus memegang perutku dan hampir menangis, “Aah Kai perutku.. sakiiittt…” Kai langsung panik, “Young Ra-ya! Gwenchana!?”
“Molla, sepertinya maagku kambuh.”
“Mwo? Ahh, otthoke?” ujar Kai panik. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Seperti biasa jalan yang kulalui termasuk sepi. Tidak ada apotek, toko, membuat Kai semakin panik. “Aishh, otthoke? Young Ra-ya, sabar. Tahan sebentar.” Aku terus memegangi perutku sementara Kai terus menggaruk kepalanya yang kurasa tidak gatal. “Otthoke?” Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, bahkan semua arah. Dia menghembuskan napas, “Hah, apa boleh buat.” Dia langsung menarik tangan kiriku. Lalu Kai membungkukkan badannya dan memapahku, sementara aku terus meringis kesakitan.
“Hah, ya sudahlah. Aku harus melakukan ini. Young Ra, tutup matamu sekarang.”
Buat apa dia menyuruhku menutup mata? Tetapi aku pasrah saja. Mungkin saja dengan menutup mata sakitku bisa sedikit hilang. Aku menutup mataku.
“Aigoo Young Ra, gwenchana? Maagmu pasti kambuh lagi.”
Aku membuka mataku, eomma? Rumahku? Sebentar, sepertinya baru dua detik aku disuruh Kai menutup mata. Kenapa aku sudah tiba disini? “Kai? Kai?”
“Kai?” tanya eommaku. “Kai? Nuguya?”
“Kai, eomma. Tadi dia yang mengantarku kesini,” jawabku. Eommaku menarik alisnya, “Nugu?”
“Aish eomma. Namja tinggi dan memakai rompi kuning. Dia yang tadi mengantarku,” jawabku. Eomma menggelengkan kepalanya, “Ah kamu, pasti karena lambungmu sangat sakit tadi. Tadi kau itu datang sendiri.” Mwo? “Eomma, tapi…”
“Ah kau pasti sedang berhalusinasi. Sudahlah ganti baju dan istirahat sana di kamar. Eomma akan menyiapkan obat dan makanan untukmu,” sela eomma. “Ah arasseo,” jawabku pasrah. Aku langsung naik ke lantai 2 dan masuk ke kamarku. Lalu aku ganti baju dan merebahkan diriku di tempat tidur. Pintu kamar terbuka. Eomma membawa sepiring makanan, segelas minuman, dan obat dalam satu nampan. “Ini untukmu. Makanlah sekarang biar lambungmu tidak sakit.” Aku hanya mengangguk. Aku menerima nampan itu dan makan di meja belajar, selesai makan kuminum obat. Memang sudah efek obat, aku merasa pusing dan terbaring di tempat tidur.
***
Aku terbangun dan langsung melihat jam dinding. Sudah jam 3 pagi. Aku menyentuh pipiku. Tidak apa-apa.
Tapi aku merasa ada yang menyentuh pipiku tadi. Apa tadi aku hanya bermimpi? Anhi, aku benar benar merasakannya. Seperti sungguhan!
Seperti sungguhan? Berarti mimpi. Aku kembali menarik selimutku dan tidur.
***
Seminggu. Sudah seminggu aku selalu pulang sendiri. Entah kemana Kai pergi. Rumahnya aku tak tau dimana, nomor teleponnya aku tak tahu berapa. Ah aku jadi kesepian lagi deh setiap pulang sekolah. Terakhir kali aku pulang bersamanya saat maagku kambuh itu. Entah kemana anak itu.
Kai, neomu shippo.
Tapi anehnya selama seminggu ini aku selalu terbangun tepat jam 3 pagi. Dan aku selalu merasakan hal yang sama seperti waktu itu. Aku kembali merasa ada yang menyentuh pipiku. Selalu sama selama seminggu ini. Dan kau tahu, hal itu membuatku merinding setiap malam. Tetapi aku tetap tidur di kamarku. Yah, aku yakin pasti itu hanyalah ilusinasi.
***
Kai, kemana kau!? Tidak ada lagi yang menemaniku pulang ke rumah. Dan sudah dua minggu, Kim Jong In!!! Aku ingin cerita kalau aku selalu merasa ada yang menyentuh pipiku selama dua minggu ini setiap malam dan terbangun setiap jam 3! Kai, sepertinya di rumahku ada hantu!
KAI! NEOMU NEOMU NEOMU NEOMU SHIPPO, KAI!!!
***
Aku membeli sayuran di pasar, disuruh eommaku sepulang sekolah. Selesai membeli sayuran aku berjalan menuju rumahku. Lalu aku melihat sepasang yeoja dan namja sedang berjalan bersama. Namja itu memakai kaos hitam dan celana abu-abu serta tinggi. Dia merangkul bahu yeoja itu. Sebentar dilihat dari belakang sepertinya aku tahu namja itu.
“Kris oppa?”
Namja di depanku menoleh. Sepertinya dia mendengar gumamanku tadi. “Young Ra?” Benar, dia Kris oppa. Dan yeoja di sebelahnya–yang dirangkulnya–juga ikut menoleh.
“Kris oppa? Nu-nu-nugu?” Aku menunjuk yeoja di sebelahnya. Kris tersenyum, “Ah aku lupa memberitahumu, Young Ra. Perkenalkan ini Yoo So Ra, yeojachinguku. Kami baru saja pacaran seminggu.” Lalu yeoja di sebelahnya itu mengulurkan tangannya padaku, “Yoo Young Ra imnida. Oppa, jadi ini yang namanya Young Ra yang kau anggap seperti dongsaengmu sendiri?” Kris mengangguk.
“Aigoo, cantik sekali dirimu,” ujar So Ra. “Anhi, kau lebih cantik dariku,” jawabku, “Ah aku lupa, pasti eomma menungguku sekarang. Kris oppa, So Ra eonni, aku duluan ya. Annyeong!” Aku langsung berlari mendului mereka menuju rumah.
Ah tidak, apa ini!? Aku menangis. Ya! Sepertinya aku hancur sekarang. Kris oppa, ternyata sudah punya yeojachingu? Dan kau hanya menganggapku dongsaengmu? Oppa, kau tahu kalau aku sangat menyukaimu?
Ah, air mataku ini harus hilang. Aku langsung menyekanya sebelum sampai di rumah. Daripada eommaku bertanya macam-macam nanti.
Kenapa harus seperti ini?
Kai, dimana dirimu? Aku ingin cerita kalau namja yang kusuka, Kris oppa, sudah punya yeojachingu, dan aku hanya dianggap sebagai dongsaengnya. Padahal aku ingin menjadi yeojachingunya.
KAI!!! T-T
***
“Young Ra-ya? Gwenchana?”
Aku mengangguk, “Gwenchana, Taozi.”
“Jangan bohong padaku, Young Ra. Sepertinya kau merahasiakan sesuatu.” Aku tetap diam. Akhirnya aku bicara, “Aku merasa aneh selama dua minggu ini, Taozi.”
Tao melebarkan matanya, “Aneh? Wae?” Aku menghembuskan napas, “Molla, Taozi. Begini, setiap pulang sekolah aku selalu pulang bersama seorang namja. Tetapi sudah dua minggu aku tidak pulang bersamanya…”
Tao masih memperhatikanku. Pendengar yang baik. Aku kembali melanjutkan ceritaku, “Namja itu sekolah di SOPA. Tinggi, tegap, tidak terlalu putih… dan yang paling khas, bibirnya tebal, atas bawah, seperti yang ada di kartun Usavich, yang ayam kuning itu…”
“Aku pertama bertemu saat pulang dari terbang bersama Kris oppa. Karena petir sialan yang kukira ajan terjadi hujan membuatku berlari, takut kehujanan. Lalu aku tertabrak namja itu. Dia menolongku.”
“Dua minggu aku tidak bertemu dengannya. Tapi dua minggu aku merasakan hal aneh tiap malam. Aku selalu terbangun tepat jam 3 pagi. Dan aku selalu merasa ada yang menyentuh pipiku. Ah, apa di kamarku ada hantunya ya?”
“Siapa nama namja itu?” tanya Tao tiba-tiba.
“Kim Jong In,” jawabku. “Atau panggilannya, Kai.”
“Kim Jong In?” ulang Tao.
“Wae? Kau mengenalnya?” tanyaku. “Ah anhi. Molla. Kukira kau galau karena Kris gege. Dia itu kalau punya yeojachingu pasti yang sudah dia kenal lama. Semangat, Young Ra!” Tao kembali ke tempat duduknya.
***
Malamnya aku sengaja tidak tidur. Aku penasaran apa aku hanya berimajinasi kalau ada yang menyentuh pipiku tiap malam. Aku terus membuka mataku.
Tetapi sampai jam 4 pagi tidak ada apa-apa. Hoahm, aku mengantuk. Aku tidur saja. Ternyata memang hanya khayalanku.
***
Malamnya aku putuskan untuk tidur, karena tidak terbukti ada seuatu kemarin. Tetapi tidak. Aku kembali terbangun jam 3 pagi. Dan aku kembali menyentuh pipiku. Bukan, aku tidak merasa ada yang menyentuh pipiku lagi.
Tapi aku merasa ada yang mencium pipiku.
Ah, pasti ilusi. Aku kembali menarik selimutku. Tapi, “Auw!” Aku seperti tertusuk seusatu. Jari telunjukku berdarah. Kubuka selimutku.
Mwo? Setangkai mawar merah?
Siapa yang menaruhnya? Sepertinya bukan aku yang menaruh disini. Tidak, tidak pernah bahkan. Keluargaku? Tidak mungkin! Pintu kamarku saja kukunci sekarang. Sebelum aku tidur juga tidak ada yang menaruh benda ini sama sekali. Lalu siapa? Tiba-tib aku melihat di sebelahnya ada sebuah kertas dan di kertas itu juga ada tulisan dengan tinta hitam.
“Saranghae, Kim Young Ra ^^”
Mwo? Ige mwoya!? Mimpi! Pasti mimpi! Aku kembali tidur.
***
Aku terbangun, jam setengah tujuh pagi. Kubuka selimutku.
Bunga mawar dan tulisan itu masih ada di sebelahku.
Mwo? Jadi aku tidak mimpi!? Aku melihat jari telunjuk kiriku. Bekas tusukannya masih ada?
Jadi ini bukan mimpi?
***
Bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid keluar sekolah menuju rumahnya masing-masing.
“YOUNG RA-YA!!! KIM YOUNG RA!!!”
Kulihat seseorang melambai di depan gerbang sekolah. Orang itu memakai rompi kuning. “Kai?” Aku langsung berlari menghampirinya. Anak ini akhirnya kembali. Dan dia menghampiri sekolahku. “Kai! Neomu shippo!”
“Nado,” jawab Kai sambil tersenyum. “Ayo kita pulang!” Kamipun berjalan bersama.
“Kemana saja kau? Selama dua minggu lebih aku selalu pulang sendiri, tahu!”
Kai terkekeh, “Mianhae, Young Ra. Aku harus latihan dance sampai malam. Soalnya aku ada ujian dance. Dan sekarang sudah tidak ada ujian lagi hehe.” Kai terdiam sesaat, “Jadi sampai sekarang kau selalu sendiri? Kasihan!”
“YA!” bentakku. “Kau tahu, Kai. Dua minggu kau tidak muncul. Aku kesepian pulang sendiri. Semenjak maagku kambuh di jalan itu. Aku selalu merasa hal aneh setiap dua minggu itu. Aku selalu terbangun tepat jam 3. Dan ya! Semalam aku melihat bunga mawar dan selembar kertas bertulisan di tempat tidurku! Padahal aku tidak menaruhnya sama sekali! Dan kau tahu? Tulisannya ‘saranghae Kim Young Ra’! Aneh sekali!”
Kai mengangkat alisnya, “Kau bawa tidak barangnya? Mungkin aku tahu siapa yang menaruhnya.”
Aku mengangguk semangat. Kami berhenti dan aku membuka tasku. Mengambil setangkai mawar dan tulisan. Kutunjukkan ke Kai. Kai lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku tulis. Dia membuka tulisannya dan mencocokkan dengan tulisan di kertas. “Lihat tulisannya?”
Aku terkejut. Sama? “Kai…”
“Jadi, apa jawabanmu?” tanyanya. Aku tidak mengerti, “Maksudmu?”
“Kan tulisannya sama dengan tulisanku,” jawab Kai. “Disitu tulisannya ‘saranghae Kim Young Ra’. Jadi apa jawabanmu?”
“Kai… jadi…”
“Ne, aku yang menulisnya untukmu. Young Ra-ya, saranghae!”
“Tapi kenapa kau bisa…”
“Kenapa aku bisa?” potong Kai. “Cha, turuti perintahku. Berlarilah ke suatu tempat. Kemana saja. Berhentilah di tempat itu. Aku diam saja disini.”
“Untuk apa?” tanyaku. “Kau ingin bukti kan? Turuti saja perkataanku.” Aku mengangguk pasrah. “Arasseo.” Lalu aku berlari entah kemana. Aku menoleh ke belakang. Dia tetap diam di tempat. Aku terus berlari. Ah, sepertinya aku tahu mau kemana. Ke taman yang agak jauh dari sini. Di daerah Gusu-dong. Eommaku sering membawaku ke tempat itu saat aku masih kecil.
Aku terus berlari dan tiba juga akhirnya di taman. Aku melihat sekeliling, tidak ada orang.
“Kau mencariku ya?”
Aku terkejut. Tiba-tiba Kai sudah berada di sebelahku. “Kai?”
“Sudah kubuktikan kan?” Kai menyeringai. “Ingin lagi?” Kini dia menghilang seperti jin, muncul lagi, hilang, muncul lagi. Kembali di sebelahku. “Kai?”
“Ne, ini aku. Aku yang menaruh bunga mawar dan tulisan itu padamu. Yah, dengan cara ini, teleportasi. Kau tahu, apa yang ditulis di dalam kertas itu benar. Aku mencintaimu, Young Ra. Latihan dance sampai malam selama dua minggu membuatku merindukanmu. Dan yah, aku tidak bisa bohong pada perasaanku sendiri. Aku mencintaimu.” Aku terdiam.
“Jadi, apa jawabanmu, Young Ra-ya?”
“K-Ka-Kai, umm… dua minggu ini sebenarnya aku benar-benar merasakan hal yang sama denganmu. Dan memang agak bodoh menurutku karena kita belum kenal lama. Tapi Kai, nado saranghae.”
“Jinjja?” Mata Kai berbinar kali ini. Lalu dia langsung memelukku, “Aah, saranghae, Young Ra!” Lalu dia melepas pelukannya. “Neomu neomu saranghae, Young Ra!”
“Nado, Kai,” aku tersenyum. “Chakkaman. Kau bisa teleportasi, berarti yang menyentuh pipiku selama dua minggu itu…” Kali ini Kai terkekeh sendiri.
“YA! PREVERT NAMJA!!!” omelku. Kai menjulurkan lidahnya, “Tapi kau suka kan?”
“ANHI!” bentakku. “JANGAN KE KAMARKU DENGAN TELEPORTASI LAGI! WALAUPUN KAU NAMJACHINGUKU SEKARANG! INGAT ITU, KIM JONG IN!!!”
“Oke, kalau aku tidak lupa, ya,” Kai terkekeh. Aku langsung meninju perutnya, “NAPPEUN NAMJA!”
“JONGINNIE!!!” teriak seorang namja memanggil Kai. Namja itu—ada dua—menghampiri Kai. Yang pertama bermuka kotak. Dan yang satunya lebih tinggi dari namja bermuka kotak itu. Keduanya memakai seragam yang sama. Hei sepertinya aku pernah melihat dua namja ini di rumah Tao. “H-hyung? Kenapa kalian disini?” tanya Kai.
“Bukannya pulang malah berduaan dengan seorang yeoja disini!” omel namja bermuka kotak. Kai langsung membantah namja muka kotak itu, “Kau, hyung! Kenapa kau malah disini? Ah, aku tahu. Kau pasti habis mengantar pulang Yoon Rin eonni kan? Rumahnya kan di daerah sini. Memangnya aku tidak tahu, Jong Dae hyung! Chanyeol hyung pasti juga habis mengantar yeojachingunya.” Namja kotak yang bernama Jong Dae itu langsung diam. Menunduk malu tepatnya.
“Wah kau yeojachingunya Jong In ya?” tanya namja tinggi bernama Chanyeol. “Hei, kau temannya Tao kan? Aku pernah melihatmu di rumahku.”
Aku mengangguk, “Ne, aku temannya Tao. Jadi kalian berdua serumah dengan Tao? Pantas aku pernah melihat kalian. Lalu Kai…”
“Dia juga serumah dengan kami,” ucap Jong Dae. “Hei Jonginnie kenapa kau tidak cerita kalau dia ini yeojachingumu?”
“Hah, kalian pulang saja, hyung! Mengganggu urusan anak muda saja kalian!”
“YA! KAMI HANYA BEDA DUA TAHUN DENGANMU!” omel Chanyeol. “Hei Jong In, lain kali kita bertiga jalan bersama yuk. Aku dengan Tae Hee, Jong Dae dengan Yoon Rin, dan kau dengan yeojachingumu. Bagaimana?”
“Hmm ide bagus,” jawab Kai. “Tapi, jebal, pergilah, hyung!”
“Tidak ah aku ingin…” ujar Chanyeol.
“HYUUUUNGGG PERGIIIII!!!” Jong Dae dan Chanyeol langsung berlari pergi taman sambil tertawa.
“Mengganggu saja,” gumam Kai. Aku hanya tertawa.
***
AUTHOR’S POV
Kai tersenyum sendiri melihat tulisan di diari Young Ra, yang tergeletak di meja belajar Young Ra.
“Hah, dia menulis diari juga rupanya,” pikirnya. Kai memandang yeoja yang tidur di kamar itu. Kim Young Ra. Dia tersenyum memandang yeoja itu. “Tidur yang nyenyak, chagi.”
Dan Kai pun menghilang.
-THE END-
Muntah? Dipersilakan, haha.

