Appear and Disappear

Posted: Mei 4, 2012 in oneshoot
Tag:,

Halo,  kembali dengan author disini. Kali ini author bawa tulisan baru. Tapi mian “What Is It?” nya ditunda dulu. Soalnya flashdisk gw lagi dipinjem temen dan datanya ada disitu. Gw bawa tulisan aneh ini dulu ya, yang gak kalah bikin muntahnya. Bisa dibilang ini sekuel dari “Four Years”. Cuma beda cast.

Udahlah, selamat membaca.

 

Muncul dan hilang, datang dan pergi, ada dan tidak ada. Itulah yang membuat kehidupan ini menjadi tidak membosankan.

Selesai. Aku menoleh ke belakang, oke anak itu menghilang. Aku bernapas lega. Oke, aku jadi bisa tidur dengan tenang karena besok harus sekolah. Aku membaringkan diriku di tempat tidur. Semoga dia tidak menggangguku lagi setiap malam. Oh tidak, memang sudah perjanjiannya untuk tidak menggangguku atau muncul di kamarku tiap aku tidur.

Muncul dan hilang, datang dan pergi, ada dan tidak ada. Kalimat itu sebenarnya kutujukan kepada namjachinguku. Dia seumuran denganku, tetapi beda sekolah. Kenapa aku bilang dia itu muncul dan hilang, datang dan pergi, serta ada dan tidak ada? Ah, lebih baik aku cerita saja.

Oh iya aku lupa, namaku Kim Young Ra.

***

AUTHOR’S POV

“ANAK-ANAK, KARENA BEL PULANG SUDAH BERBUNYI, PEKERJAANNYA DIJADIKAN TUGAS RUMAH SAJA. DIKUMPULKAN BESOK YA.”

Semua murid kelas 2 SMA Hyungdae menurut saja apa kata Gu Ra seonsaengnim, guru Fisika, walaupun dalam hati mereka tidak senang dengan tugas ini. Semua murid di kelas itu merapikan bukunya dan memasukannya ke dalam tas masing-masing. Lalu mereka keluar kelas.

“YOUNG RA! YOUNG RA!”

Yeoja berambut panjang, bermata kecil, putih, dan pendek bernama Young Ra menoleh, mencari sumber suara, “Tao? Gwenchana?”

Namja yang bernama Tao—yang memanggil Young Ra tadi—berbadan tinggi tegap, jauh lebih tinggi daipada Young Ra dan berwajah agak menyeramkan pada pandangan pertama, menghampiri Young Ra. “Young Ra, Kris gege ingin bertemu denganmu hari ini.”

Young Ra langsung terkejut dan hampir terjatuh, “Mwo?”

***

YOUNG RA’S POV

“Mwo?”

Kris oppa? Jinjja? Apa dia tidak salah bicara. Kris oppa—teman satu kos Tao yang benar-benar tampan. Namja yang membuatku gila sendiri membayangkannya. Yah Kris oppa, pertama kali aku melihatnya saat aku pergi ke rumah kos Tao bersama kedua temanku yang lain untuk belajar Matematika bersama seminggu yang lalu.

“Hei, hei Young Ra? Ya! Kau baik-baik saja kan?”

Aku langsung tersadar. Kulihat Tao sedang melambai-lambaikan tangan kanannya di depan wajahku. Oh tidak, ternyata aku melamun tadi. “Eoh? Ne, gwenchana, Taozi!”

“Cha, ke rumah kosku nanti setelah ganti baju. Ara?” ujar Tao. Aku langsung mengangguk semangat sambil mengacungkan jempol, “Arasseo, Taozi. Aku akan berdandan rapi untuk Kris oppa!”

Tao mengerutkan dahinya, “Hah, terserahlah.”

***

“Lalalalala~ aku akan bertemu oppa Kris yang tampa~n~” Aku berganti pakaian. Adikku belum pulang sekolah sepertinya, dan eomma pergi. Aku langsung keluar rumah menuju rumah kos Tao, untuk menemui Kris oppa.

***

“KIM YOUNG RA-SSI?”

Aku menoleh ke belakang, “Kris-ssi?” Aneh, kenapa orang ini datang tiba-tiba. Sepertinya tadi tidak ada orang sama sekali.

“Ah anhi, jangan terlalu formal begitu. Panggil saja aku ‘oppa’,” ujar Kris, lalu dia mendekatiku, “Kau mau kemana?”

Aku diam saja, lebih tepatnya menjadi kaku. Aigoo… tampan sekali namja di hadapanku ini.

Kris tersenyum, “Oh iya! Aku baru ingat. Kau kan ingin ke rumah kos ku. Dan ya! Kau ingin menemuiku kan?” Aku hanya mengangguk. Kris kembali tersenyum, “Ne, aku tadi menitipkan pesan pada Tao. Ah, kau tidak perlu ke rumah. Kaja! Kau ikut aku. Ada yang ingin kutunjukkan padamu.” Kris langsung berjalan sementara aku mengikutinya. Dan sampailah kami di sebuah gedung apartemen. “Kaja, kita masuk.”

Kami memasuki apartemen, lalu kami menaiki lift. Kris langsung memencet angka 12 dan lift pun bergerak naik. Aku bingung, apa yang akan dia lakukan. “Oppa, apa yang akan kita lakukan?” Kris hanya diam. Tetapi saat tiba di lantai 10 dia menyeringai dan berkata, “Lihat saja nanti, Young Ra. Ini akan mengasyikkan.” Dan ting! Lift berbunyi dan sudah menunjukkan angka 12. Pintu lift pun terbuka. Aku dan Kris keluar. Dan langsung saja aku terkejut dan menutup kedua mataku, “Oppa, ige mwoya?” Kami berada di lantai paling atas. Bahkan bukan paling atas lagi, tapi di atap apartemen! “Oppa, apa yang akan kita lakukan? Kenapa kau membawaku kesini?”

“Ternyata kamu takut ketinggian ya? Oke, pegang tanganku. Kau boleh menutup matamu kok. Ingat, jangan lepas ya,” ujar Kris. Aku hanya mengangguk dan menyerahkan tangan kananku yang langsung digenggam Kris sementara tangan kiriku masih kugunakan untuk menutup mata. Kris terus berjalan entah membawaku kemana. Lalu dia berhenti. “Oppa?”

“Kau suka tantangan?” Aku terdiam.

“Oke, berarti kau suka. Siapkan jantungmu, Young Ra-ssi.” Dan entah kenapa aku langsung merasa kakiku tidak menapak lagi, seperti melayang. Tunggu? Apa Kris membawaku terbang? Ah pasti aku sedang mengkhayal sekarang. Tapi…

“Oppa, apa kita sedang terbang? Aku tidak merasa kakiku menapak.”

“Ne, Young Ra. Kita memang benar-benar terbang. Kalau kau siap buka matamu sekarang. Kalau kau masih takut aku tidak memaksamu untuk membuka mata. Tapi asal kau tahu, pemandangan di bawah sangat indah. Kau pasti akan menyukainya.”

Mwo? Apa namja yang memegang tanganku sekarang ini sedang bercanda? Tapi kenapa kakiku memang benar-benar tidak menapak dari tadi? Ah sudahlah kuturuti saja perkataannya. Akupun membuka mata. Sejenak aku terkejut. Mwo? Aku benar-benar terbang?

Aku melihat ke bawah, ya benar! Omona… aku bisa melihat pemandangan indah. Biru… itu pasti laut. Terus lagi, waaw banyak gedung.

“Sepertinya kita harus kembali.”

Mwo? Cepat sekali. Dan dalam beberapa saat saja kami sudah kembali ke atap apartemen tadi. Aku benar-benar kecewa.

“Mianhae, Young Ra-ssi, sebenarnya aku ingin mengajakmu pergi lebih jauh. Bahkan aku ingin mengajakmu ke Kanada rumahku. Tapi karena sekarang sudah terlalu sore aku jadi tidak berani mengajakmu kesana.” Eoh, Kris sepertinya menyadari raut kekecewaanku. Lalu dia mengacak rambutku, “Sudahlah, lain kali kalau ada waktu akan kuajak kau kesana. Sekali lagi, mianhae.” Lalu dia tersenyum, ah senyumannya, walaupun tidak terlalu lebar tetapi kalau bisa aku ingin pingsan sekarang karena senyumannya. “Kaja, lebih baik sekarang kuantar pulang. Tidak mungkin aku membawamu terbang ke kamar, pasti nanti orang tuamu curiga.”

Kamipun keluar apartemen melalui lift yang tadi kami pakai dan kembali ke jalan sempit tempat kami bertemu.

“Oppa, apa tadi kita benar-benar ter…”

“Ssst…” Kris mengisyaratkanku untuk tidak melanjutkan ucapanku. “Jangan diteruskan, Young Ra. Tolong rahasiakan hal ini ya.” Tiba-tiba petir bergemuruh. Kris langsung menggelengkan kepalanya, “Aish anak itu. Bikin susah saja. Young Ra, aku duluan ya. Lain kali akan kubawa kau ke Kanada. Annyeong.” Sekali lagi dia tersenyum padaku dengan senyumannya yang lebih dibilang seperti vampir. Aku membalas senyumannya. Aah, Kris oppa. Tampan sekali sih dia. Aku langsung berjalan pulang menuju rumahku. Karena petir tadi aku sedikit berlari agar tidak kehujanan.

BRAK!

Aku terjatuh. Karena aku kurang berhati-hati aku menabrak sesuatu. Ternyata bukan benda yang kutabrak, tapi seseorang. Aku mendongak melihat orang itu. Seorang namja. Bertubuh tinggi, tegap, berambut hitam, memakai celana jeans hitam, dan berkaos biru.

“Ah mianhae agassi. Gwenchana?” Namja itu mengulurkan tangannya padaku. Aku menerima ulurannya. Langsung saja dia menarikku berdiri. Aku merapikan bajuku. Kulihat lagi namja itu, membuatku ingin tertawa, bibirnya—baik bagian atas dan bawah—tebal sekali. “Ah haha, naneun gwenchana. Aku yang tidak hati-hati. Ah harus buru-buru pulang. Kamsha hamnida telah menolongku.” Aku kembali berlari menuju rumahku. Aku menoleh ke belakang. Namja itu diam dan memperhatikanku. Ah mebngeerikan. Sementara petir kembali bergemuruh. Aku kembali berlari menuju rumah.

“ANNYEONG HASEYO!”

“Young Ra, kemana saja kau?” tanya eommaku. “Ah mianhae eomma, aku tadi kerja kelompok di rumah Tao. Aku ke kamar dulu ya eomma.” Aku langsung beranjak menuju kamar dan merebahkan diriku di tempat tidur. Ah, terbang bersama Kris oppa tadi. Apa aku mimpi? Aku menampar kedua pipiku. Auw, sakit! Tidak, ini sungguhan! Jadi, Kris oppa itu Superman? Hahaha. Tiba-tiba aku teringat namja yang kutabrak tadi. Hmm… lumayan tampan juga kalau dipikir. Dan ya! Tidak hujan? Aishh, buat apa aku berlari tadi? Ah, kalau aku tidak lari tadi mana mungkin tertabrak oleh namja yang kurasa cukup tampan tadi? Haha.

Dan aku tertidur.

***

“Young Ra, kemarin kau dibawa Kris gege kemana?” tanya Tao yang sedang duduk di sebelahku pada waktu istirahat. Aku terkekeh sendiri.

“Young Ra, aku serius,” katanya dengan nada seperti anak kecil, “Kau dibawa terbang kan olehnya?”

Aku terkejut, “Ba-bagaimana kau bisa tahu?” Kali ini Tao yang terkekeh. “Tentu saja aku tahu. Kris gege bisa seperti itu bukan rahasia bagi kami yang tinggal sekos dengannya.” Aku tercengang. Kini Tao menyeringai, “Kalau kau mau tahu aku juga punya kok.” Dia semakin mengeluarkan seringainya. “Empat jam yang lalu.” Dia menjentikkan jarinya. Aku semakin terkejut. Kelas menjadi tidak ada orang. Dan aku melihat jam dinding, jam 7 pagi! Kulihat di balik jendela langit belum terlalu cerah.

“Tao, kau…” Tao hanya tertawa. “Rahasiakan hal ini, Young Ra. Ah, sudah kita kembali saja.” tao kembali menjentikkan jarinya. Dan sekejap anak-anak masuk kelas. Aku melihat jam dinding, jam 11. Dan ini memang siang! Aku menatap Tao. Tao hanya tertawa dan kembali ke tempat duduknya. Bel selesai istirahat berbunyi. Kembali belajar, kali ini belajar sastra.

***

Seperti biasa, jam setengah tiga sore pulang sekolah. Karena tidak ada yang searah dengan rumahku, aku berjalan sendiri menuju rumah.

“Agassi.”

Aku menoleh. Namja bibir tebal kemarin! Dia memakai seragam sekolah juga sepertiku. Bedanya dia memakai celana krem dan rompi kuning, sementara aku berompi hitam. Dia tersenyum padaku, “Ternyata kau masih SMA juga ya?”

Aku mengangguk, “Ne.”

“Dimana sekolahmu?” tanya namja itu. “Hyungdae. Kau?” kataku.

“SOPA.” Mwo? SOPA? Sekolah seni yang terkenal itu? “Aku kelas 2, kau kelas berapa?”

“Nado. Aku juga kelas 2,” jawabku. Jadi kita seumuran?

“Ah sebaiknya aku harus pergi dulu. Annyeong!” Namja itu berjalan mendahuluiku sementara aku diam di tempat dan memandangnya berjalan. Ah namja itu, badannya bagus sekali, seperti Kris oppa. Dan ya! Aku menepuk kepalaku sendiri. Kenapa aku tidak menanyakan namanya? Aduh bodohnya aku. Ah sepertinya namja itu belum jauh. Aku tadi melihatnya berbelok ke arah kiri. Chakkaman! Aku langsung berlari kencang mengikuti namja itu berjalan, walaupun jaraknya agak jauh. Aku berbelok ke kiri. Tapi… IGE MWOYA!?

Tidak ada siapa-siapa. Tapi aku yakin namja yang tadi, yang berompi kuning tadi, lewat sini. Tapi kenapa tidak ada? Dan tidak ada orang di gang ini. Aku terus berjalan menelusuri gang itu. Tapi nihil, ditambah lagi gang ini rupanya gang buntu. Aku mendengus kesal dan kembali berjalan menuju rumahku.

“Ah harusnya aku tanya dari tadi!” rutukku.

***

Ternyata rasa menyesalku tak sampai di jalan tadi saja. Di rumah rasa sesal pun masih ada. Kenapa aku harus membuang kesempatan berharga?  Berkenalan dengan namja tampan yang ternyata menyapaku duluan dan dia anak SOPA! Sekolah seni yang paling terkenal di Korea. Ah paboya! Aku jadi tidak nafsu makan jadinya. Aku hanya memainkan sendok dan kuketuk-ketukkan di piring.

“Young Ra, wae?” tanya appaku yang duduk di hadapanku. Aku menggeleng, “Anhi, sepertinya aku tidak ingin makan.”

“Andwae, Young Ra! Kau harus makan! Kau tidak ingin maag-mu kambuh kan?” omel eommaku. Aku mendengus, oke, maag, aku langsung menyuapi nasi dan lauk tiap sendoknya. Ini untukmu, lambung. Selesai makan aku langsung mencuci semua piring dan pergi ke kamar. Saat aku membuka pintu kamar,

“Ssst… Young Ra!”

Ada suara! Suaranya berat sekali! Aku masuk dan mencari sumber suara. “Nuguya?”

“Young Ra? Ya! Ini aku!”

Aku terus mencari sumber suara. Aish, apa kamarku ini muncul lagi hantu?

“Ya! Aku disini! Di jendela, Young Ra!”

Mataku langsung tertuju ke jendela, “MWO!? NEO!?” Aku terkejut sambil menunjuk orang yang ada di jendela. Orang itu mengisyaratkanku untuk diam. Aku langsung menghampiri orang itu. “Neo?” Ah, dia tidak mungkin mendengar ucapanku. Aku langsung membuka jendela, masih menatap orang di hadapanku tidak percaya. “Kris oppa? K-kenapa…”

“Wae?” Kris berdiri di jendelaku. Aku masih memandangnya tidak percaya. Jinjja?

“Kau tidak percaya kalau ini aku?” tanya Kri. Ah kenapa orang ini bisa tahu isi pikiranku? Oh kembali ke cara kuno. Aku mencubit tanganku, sakit! Jadi dia benar-benar Kris!

“Aku hanya mampir sebentar kok. Ingin melihat keadaanmu. Oke, sekarang sudah malam. Belajar dan jangan tidur lama-lama. Aku hanya ingin bilang itu saja. Annyeong!” Dia langsung pergi dari jendela dan tentu saja, terbang. Aku langsung menutup jendelaku dan menarik napas. Jinjja? Ah itu nyata, Young Ra! Aku berjalan sambil senyum sendiri menuju tempat tidur.

***

“Kris oppa… Kris oppa… Kris oppa… Aah neomu neomu neomu joha…”

Sepanjang hari ini aku terus memikirkan Kris oppa sehingga aku tidak terlalu tahu hari ini belajar apa. Oke aku sudah tersihir oleh pesonanya. Ya, benar-benar tersihir!

***

Seperti biasa aku berjalan pulang ke rumah sendirian.

“Kau pulang sendiri terus, agassi. Tidak merasa kesepian hah?”

Aku menoleh ke belakang. Namja yang kemarin. Dia tersenyum padaku. “Ah kau lagi.”

“Haha, kau pulang sendiri terus. Tidak punya teman ya?” tanya namja itu.

“Enak saja! aku ini punya banyak teman tau!” jawabku ketus. “Hanya saja tidak ada yang rute pulangnya searah denganku.”

“Haha, kalau begitu sama denganku,” balas namja itu. Lalu kami berjalan bersama. “Oh iya geulonde, siapa namamu?”

“Kim Young Ra imnida,” jawabku. “Neo?”

“Kim Jong In imnida,” jawabnya. “Tapi panggil saja aku Kai.”

“Oh, Kai. Namamu Kai,” ulangku. Tak terasa aku sudah tiba di depan rumahku. “Ah aku sudah sampai ternyata. Mian, aku duluan ya, annyeong.” Akupun langsung masuk ke rumahku.

Jadi namja itu bernama Kai? Ah, akhirnya aku tahu juga namanya.

***

Begitulah setiap hari aku selalu pulang bersama dengannya setiap pulang sekolah. Terkadang aku harus pulang setengah jam lebih lama karena terkadang kami berdua jalan-jalan di pinggir sungai Han. Yah, rumahku memang tidak terlalu jauh dari daerah itu. Kami bercerita tentang sekolah, teman, bahkan terkadang ke kehidupan pribadi.

Suatu hari seperti biasa kami pulang bersama.

“Yah, chinguku itu si Sehun. Dari luar saja dia kelihatan pendiam dan cool. Itu kata para yeoja yang lain. Hah, padahal namja itu cengeng, tidak bisa berbohong, dan ah, dia suka melakukan aegyo kalau mau minta sesuatu padaku. Bagaimana dengan chingumu, Young Ra?” Kai menoleh ke Young Ra, “Ya! Young Ra-ya! Gwenchana!?”

Aku meringis kesakitan. Aku terus memegang perutku dan hampir menangis, “Aah Kai perutku.. sakiiittt…” Kai langsung panik, “Young Ra-ya! Gwenchana!?”

“Molla, sepertinya maagku kambuh.”

“Mwo? Ahh, otthoke?” ujar Kai panik. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Seperti biasa jalan yang kulalui termasuk sepi. Tidak ada apotek, toko, membuat Kai semakin panik. “Aishh, otthoke? Young Ra-ya, sabar. Tahan sebentar.” Aku terus memegangi perutku sementara Kai terus menggaruk kepalanya yang kurasa tidak gatal. “Otthoke?” Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, bahkan semua arah. Dia menghembuskan napas, “Hah, apa boleh buat.” Dia langsung menarik tangan kiriku. Lalu Kai membungkukkan badannya dan memapahku, sementara aku terus meringis kesakitan.

“Hah, ya sudahlah. Aku harus melakukan ini. Young Ra, tutup matamu sekarang.”

Buat apa dia menyuruhku menutup mata? Tetapi aku pasrah saja. Mungkin saja dengan menutup mata sakitku bisa sedikit hilang. Aku menutup mataku.

“Aigoo Young Ra, gwenchana? Maagmu pasti kambuh lagi.”

Aku membuka mataku, eomma? Rumahku? Sebentar, sepertinya baru dua detik aku disuruh Kai menutup mata. Kenapa aku sudah tiba disini? “Kai? Kai?”

“Kai?” tanya eommaku. “Kai? Nuguya?”

“Kai, eomma. Tadi dia yang mengantarku kesini,” jawabku. Eommaku menarik alisnya, “Nugu?”

“Aish eomma. Namja tinggi dan memakai rompi kuning. Dia yang tadi mengantarku,” jawabku. Eomma menggelengkan kepalanya, “Ah kamu, pasti karena lambungmu sangat sakit tadi. Tadi kau itu datang sendiri.” Mwo? “Eomma, tapi…”

“Ah kau pasti sedang berhalusinasi. Sudahlah ganti baju dan istirahat sana di kamar. Eomma akan menyiapkan obat dan makanan untukmu,” sela eomma. “Ah arasseo,” jawabku pasrah. Aku langsung naik ke lantai 2 dan masuk ke kamarku. Lalu aku ganti baju dan merebahkan diriku di tempat tidur. Pintu kamar terbuka. Eomma membawa sepiring makanan, segelas minuman, dan obat dalam satu nampan. “Ini untukmu. Makanlah sekarang biar lambungmu tidak sakit.” Aku hanya mengangguk. Aku menerima nampan itu dan makan di meja belajar, selesai makan kuminum obat. Memang sudah efek obat, aku merasa pusing dan terbaring di tempat tidur.

***

Aku terbangun dan langsung melihat jam dinding. Sudah jam 3 pagi. Aku menyentuh pipiku. Tidak apa-apa.

Tapi aku merasa ada yang menyentuh pipiku tadi. Apa tadi aku hanya bermimpi? Anhi, aku benar benar merasakannya. Seperti sungguhan!

Seperti sungguhan? Berarti mimpi. Aku kembali menarik selimutku dan tidur.

***

Seminggu. Sudah seminggu aku selalu pulang sendiri. Entah kemana Kai pergi. Rumahnya aku tak tau dimana, nomor teleponnya aku tak tahu berapa. Ah aku jadi kesepian lagi deh setiap pulang sekolah. Terakhir kali aku pulang bersamanya saat maagku kambuh itu. Entah kemana anak itu.

Kai, neomu shippo.

Tapi anehnya selama seminggu ini aku selalu terbangun tepat jam 3 pagi. Dan aku selalu merasakan hal yang sama seperti waktu itu. Aku kembali merasa ada yang menyentuh pipiku. Selalu sama selama seminggu ini. Dan kau tahu, hal itu membuatku merinding setiap malam. Tetapi aku tetap tidur di kamarku. Yah, aku yakin pasti itu hanyalah ilusinasi.

***

Kai, kemana kau!? Tidak ada lagi yang menemaniku pulang ke rumah. Dan sudah dua minggu, Kim Jong In!!! Aku ingin cerita kalau aku selalu merasa ada yang menyentuh pipiku selama dua minggu ini setiap malam dan terbangun setiap jam 3! Kai, sepertinya di rumahku ada hantu!

KAI! NEOMU NEOMU NEOMU NEOMU SHIPPO, KAI!!!

***

Aku membeli sayuran di pasar, disuruh eommaku sepulang sekolah. Selesai membeli sayuran aku berjalan menuju rumahku. Lalu aku melihat sepasang yeoja dan namja sedang berjalan bersama. Namja itu memakai kaos hitam dan celana abu-abu serta tinggi. Dia merangkul bahu yeoja itu. Sebentar dilihat dari belakang sepertinya aku tahu namja itu.

“Kris oppa?”

Namja di depanku menoleh. Sepertinya dia mendengar gumamanku tadi. “Young Ra?” Benar, dia Kris oppa. Dan yeoja di sebelahnya–yang dirangkulnya–juga ikut menoleh.

“Kris oppa? Nu-nu-nugu?” Aku menunjuk yeoja di sebelahnya. Kris tersenyum, “Ah aku lupa memberitahumu, Young Ra. Perkenalkan ini Yoo So Ra, yeojachinguku. Kami baru saja pacaran seminggu.” Lalu yeoja di sebelahnya itu mengulurkan tangannya padaku, “Yoo Young Ra imnida. Oppa, jadi ini yang namanya Young Ra yang kau anggap seperti dongsaengmu sendiri?” Kris mengangguk.

“Aigoo, cantik sekali dirimu,” ujar So Ra. “Anhi, kau lebih cantik dariku,” jawabku, “Ah aku lupa, pasti eomma menungguku sekarang. Kris oppa, So Ra eonni, aku duluan ya. Annyeong!” Aku langsung berlari mendului mereka menuju rumah.

Ah tidak, apa ini!? Aku menangis. Ya! Sepertinya aku hancur sekarang. Kris oppa, ternyata sudah punya yeojachingu? Dan kau hanya menganggapku dongsaengmu? Oppa, kau tahu kalau aku sangat menyukaimu?

Ah, air mataku ini harus hilang. Aku langsung menyekanya sebelum sampai di rumah. Daripada eommaku bertanya macam-macam nanti.

Kenapa harus seperti ini?

Kai, dimana dirimu? Aku ingin cerita kalau namja yang kusuka, Kris oppa, sudah punya yeojachingu, dan aku hanya dianggap sebagai dongsaengnya. Padahal aku ingin menjadi yeojachingunya.

KAI!!! T-T

***

“Young Ra-ya? Gwenchana?”

Aku mengangguk, “Gwenchana, Taozi.”

“Jangan bohong padaku, Young Ra. Sepertinya kau merahasiakan sesuatu.” Aku tetap diam. Akhirnya aku bicara, “Aku merasa aneh selama dua minggu ini, Taozi.”

Tao melebarkan matanya, “Aneh? Wae?” Aku menghembuskan napas, “Molla, Taozi. Begini, setiap pulang sekolah aku selalu pulang bersama seorang namja. Tetapi sudah dua minggu aku tidak pulang bersamanya…”

Tao masih memperhatikanku. Pendengar yang baik. Aku kembali melanjutkan ceritaku, “Namja itu sekolah di SOPA. Tinggi, tegap, tidak terlalu putih… dan yang paling khas, bibirnya tebal, atas bawah, seperti yang ada di kartun Usavich, yang ayam kuning itu…”

“Aku pertama bertemu saat pulang dari terbang bersama Kris oppa. Karena petir sialan yang kukira ajan terjadi hujan membuatku berlari, takut kehujanan. Lalu aku tertabrak namja itu. Dia menolongku.”

“Dua minggu aku tidak bertemu dengannya. Tapi dua minggu aku merasakan hal aneh tiap malam. Aku selalu terbangun tepat jam 3 pagi. Dan aku selalu merasa ada yang menyentuh pipiku. Ah, apa di kamarku ada hantunya ya?”

“Siapa nama namja itu?” tanya Tao tiba-tiba.

“Kim Jong In,” jawabku. “Atau panggilannya, Kai.”

“Kim Jong In?” ulang Tao.

“Wae? Kau mengenalnya?” tanyaku. “Ah anhi. Molla. Kukira kau galau karena Kris gege. Dia itu kalau punya yeojachingu pasti yang sudah dia kenal lama. Semangat, Young Ra!” Tao kembali ke tempat duduknya.

***

Malamnya aku sengaja tidak tidur. Aku penasaran apa aku hanya berimajinasi kalau ada yang menyentuh pipiku tiap malam. Aku terus membuka mataku.

Tetapi sampai jam 4 pagi tidak ada apa-apa. Hoahm, aku mengantuk. Aku tidur saja. Ternyata memang hanya khayalanku.

***

Malamnya aku putuskan untuk tidur, karena tidak terbukti ada seuatu kemarin. Tetapi tidak. Aku kembali terbangun jam 3 pagi. Dan aku kembali menyentuh pipiku. Bukan, aku tidak merasa ada yang menyentuh pipiku lagi.

Tapi aku merasa ada yang mencium pipiku.

Ah, pasti ilusi. Aku kembali menarik selimutku. Tapi, “Auw!” Aku seperti tertusuk seusatu. Jari telunjukku berdarah. Kubuka selimutku.

Mwo? Setangkai mawar merah?

Siapa yang menaruhnya? Sepertinya bukan aku yang menaruh disini. Tidak, tidak pernah bahkan. Keluargaku? Tidak mungkin! Pintu kamarku saja kukunci sekarang. Sebelum aku tidur juga tidak ada yang menaruh benda ini sama sekali. Lalu siapa? Tiba-tib aku melihat di sebelahnya ada sebuah kertas dan di kertas itu juga ada tulisan dengan tinta hitam.

“Saranghae, Kim Young Ra ^^”

Mwo? Ige mwoya!? Mimpi! Pasti mimpi! Aku kembali tidur.

***

Aku terbangun, jam setengah tujuh pagi. Kubuka selimutku.

Bunga mawar dan tulisan itu masih ada di sebelahku.

Mwo? Jadi aku tidak mimpi!? Aku melihat jari telunjuk kiriku. Bekas tusukannya masih ada?

Jadi ini bukan mimpi?

***

Bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid keluar sekolah menuju rumahnya masing-masing.

“YOUNG RA-YA!!! KIM YOUNG RA!!!”

Kulihat seseorang melambai di depan gerbang sekolah. Orang itu memakai rompi kuning. “Kai?” Aku langsung berlari menghampirinya. Anak ini akhirnya kembali. Dan dia menghampiri sekolahku. “Kai! Neomu shippo!”

“Nado,” jawab Kai sambil tersenyum. “Ayo kita pulang!” Kamipun berjalan bersama.

“Kemana saja kau? Selama dua minggu lebih aku selalu pulang sendiri, tahu!”

Kai terkekeh, “Mianhae, Young Ra. Aku harus latihan dance sampai malam. Soalnya aku ada ujian dance. Dan sekarang sudah tidak ada ujian lagi hehe.” Kai terdiam sesaat, “Jadi sampai sekarang kau selalu sendiri? Kasihan!”

“YA!” bentakku. “Kau tahu, Kai. Dua minggu kau tidak muncul. Aku kesepian pulang sendiri. Semenjak maagku kambuh di jalan itu. Aku selalu merasa hal aneh setiap dua minggu itu. Aku selalu terbangun tepat jam 3. Dan ya! Semalam aku melihat bunga mawar dan selembar kertas bertulisan di tempat tidurku! Padahal aku tidak menaruhnya sama sekali! Dan kau tahu? Tulisannya ‘saranghae Kim Young Ra’! Aneh sekali!”

Kai mengangkat alisnya, “Kau bawa tidak barangnya? Mungkin aku tahu siapa yang menaruhnya.”

Aku mengangguk semangat. Kami berhenti dan aku membuka tasku. Mengambil setangkai mawar dan tulisan. Kutunjukkan ke Kai. Kai lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku tulis. Dia membuka tulisannya dan mencocokkan dengan tulisan di kertas. “Lihat tulisannya?”

Aku terkejut. Sama? “Kai…”

“Jadi, apa jawabanmu?” tanyanya. Aku tidak mengerti, “Maksudmu?”

“Kan tulisannya sama dengan tulisanku,” jawab Kai. “Disitu tulisannya ‘saranghae Kim Young Ra’. Jadi apa jawabanmu?”

“Kai… jadi…”

“Ne, aku yang menulisnya untukmu. Young Ra-ya, saranghae!”

“Tapi kenapa kau bisa…”

“Kenapa aku bisa?” potong Kai. “Cha, turuti perintahku. Berlarilah ke suatu tempat. Kemana saja. Berhentilah di tempat itu. Aku diam saja disini.”

“Untuk apa?” tanyaku. “Kau ingin bukti kan? Turuti saja perkataanku.” Aku mengangguk pasrah. “Arasseo.” Lalu aku berlari entah kemana. Aku menoleh ke belakang. Dia tetap diam di tempat. Aku terus berlari. Ah, sepertinya aku tahu mau kemana. Ke taman yang agak jauh dari sini. Di daerah Gusu-dong. Eommaku sering membawaku ke tempat itu saat aku masih kecil.

Aku terus berlari dan tiba juga akhirnya di taman. Aku melihat sekeliling, tidak ada orang.

“Kau mencariku ya?”

Aku terkejut. Tiba-tiba Kai sudah berada di sebelahku. “Kai?”

“Sudah kubuktikan kan?” Kai menyeringai. “Ingin lagi?” Kini dia menghilang seperti jin, muncul lagi, hilang, muncul lagi. Kembali di sebelahku. “Kai?”

“Ne, ini aku. Aku yang menaruh bunga mawar dan tulisan itu padamu. Yah, dengan cara ini, teleportasi. Kau tahu, apa yang ditulis di dalam kertas itu benar. Aku mencintaimu, Young Ra. Latihan dance sampai malam selama dua minggu membuatku merindukanmu. Dan yah, aku tidak bisa bohong pada perasaanku sendiri. Aku mencintaimu.” Aku terdiam.

“Jadi, apa jawabanmu, Young Ra-ya?”

“K-Ka-Kai, umm… dua minggu ini sebenarnya aku benar-benar merasakan hal yang sama denganmu. Dan memang agak bodoh menurutku karena kita belum kenal lama. Tapi Kai, nado saranghae.”

“Jinjja?” Mata Kai berbinar kali ini. Lalu dia langsung memelukku, “Aah, saranghae, Young Ra!” Lalu dia melepas pelukannya. “Neomu neomu saranghae, Young Ra!”

“Nado, Kai,” aku tersenyum. “Chakkaman. Kau bisa teleportasi, berarti yang menyentuh pipiku selama dua minggu itu…” Kali ini Kai terkekeh sendiri.

“YA! PREVERT NAMJA!!!” omelku. Kai menjulurkan lidahnya, “Tapi kau suka kan?”

“ANHI!” bentakku. “JANGAN KE KAMARKU DENGAN TELEPORTASI LAGI! WALAUPUN KAU NAMJACHINGUKU SEKARANG! INGAT ITU, KIM JONG IN!!!”

“Oke, kalau aku tidak lupa, ya,” Kai terkekeh. Aku langsung meninju perutnya, “NAPPEUN NAMJA!”

“JONGINNIE!!!” teriak seorang namja memanggil Kai. Namja itu—ada dua—menghampiri Kai. Yang pertama bermuka kotak. Dan yang satunya lebih tinggi dari namja bermuka kotak itu. Keduanya memakai seragam yang sama. Hei sepertinya aku pernah melihat dua namja ini di rumah Tao. “H-hyung? Kenapa kalian disini?” tanya Kai.

“Bukannya pulang malah berduaan dengan seorang yeoja disini!” omel namja bermuka kotak. Kai langsung membantah namja muka kotak itu, “Kau, hyung! Kenapa kau malah disini? Ah, aku tahu. Kau pasti habis mengantar pulang Yoon Rin eonni kan? Rumahnya kan di daerah sini. Memangnya aku tidak tahu, Jong Dae hyung! Chanyeol hyung pasti juga habis mengantar yeojachingunya.” Namja kotak yang bernama Jong Dae itu langsung diam. Menunduk malu tepatnya.

“Wah kau yeojachingunya Jong In ya?” tanya namja tinggi bernama Chanyeol. “Hei, kau temannya Tao kan? Aku pernah melihatmu di rumahku.”

Aku mengangguk, “Ne, aku temannya Tao. Jadi kalian berdua serumah dengan Tao? Pantas aku pernah melihat kalian. Lalu Kai…”

“Dia juga serumah dengan kami,” ucap Jong Dae. “Hei Jonginnie kenapa kau tidak cerita kalau dia ini yeojachingumu?”

“Hah, kalian pulang saja, hyung! Mengganggu urusan anak muda saja kalian!”

“YA! KAMI HANYA BEDA DUA TAHUN DENGANMU!” omel Chanyeol. “Hei Jong In, lain kali kita bertiga jalan bersama yuk. Aku dengan Tae Hee, Jong Dae dengan Yoon Rin, dan kau dengan yeojachingumu. Bagaimana?”

“Hmm ide bagus,” jawab Kai. “Tapi, jebal, pergilah, hyung!”

“Tidak ah aku ingin…” ujar Chanyeol.

“HYUUUUNGGG PERGIIIII!!!” Jong Dae dan Chanyeol langsung berlari pergi taman sambil tertawa.

“Mengganggu saja,” gumam Kai. Aku hanya tertawa.

***

AUTHOR’S POV

Kai tersenyum sendiri melihat tulisan di diari Young Ra, yang tergeletak di meja belajar Young Ra.

“Hah, dia menulis diari juga rupanya,” pikirnya. Kai memandang yeoja yang tidur di kamar itu. Kim Young Ra. Dia tersenyum memandang yeoja itu. “Tidur yang nyenyak, chagi.”

Dan Kai pun menghilang.

-THE END-

Muntah? Dipersilakan, haha.

Four Years

Posted: April 30, 2012 in oneshoot
Tag:,

Annyeong.

What is It nya vakum bentar ya. Authornya galau gara” konser yang 3 hari itu tuh (korban sold out). Jadi pengalih dulu deh pake main cast anak-anak EXO yang umurnya gak jauh dari author. Apalagi Kim Jong Dae sama Park Chanyeol kya kyaa!!!

Nah disini main castnya nama samaran gw ama temen gw. Gw ini Hwang Yoon Rin dan temen gw Lee Tae Hee haha

Udahlah nikmatin aja nih ff oneshoot ancur ini. Judul kayaknya gak nyambung haha mian. Maklum, ini ff oneshoot pertama gw. Maaf ya.


***

Seluruh dunia ini punya rahasia. Walaupun banyak yang sudah terungkap, yang masih rahasia juga tak kalah banyak.

Kalimat itulah yang Yoon Rin sedang baca di sebuah novel. Petir terus bergemuruh di luar rumah. Yoon Rin menghela napas. Dia menutup novelnya dan menatap langit yang berwarna abu-abu dan terus dihiasi kilat-kilat petir. Bukannya takut atau menutup kedua telinganya dia malah terus menatap kilatan petir itu.

“Sudah petir hampir satu jam, tetapi tidak hujan juga, aneh,” pikirnya.

***

“STUDENTS, PLEASE SHOW ME YOUR HOMEWORK!”

Anak-anak kelas 3 SMA Neul Paran mengeluh. Mereka semua mengeluarkan buku tulis Bahasa Inggris mereka.

“Yoon Rin, kau sudah mengerjakan semuanya?” tanya Tae Hee, teman sebangku Yoon Rin. Yoon Rin mengangguk singkat, “Ne. kau? Ah, jangan bilang kalau kau belum mengerjakan semua? Atau kau belum mengerjakannya sama sekali.” Tae Hee menyeringai, “Ah anhi, aku mengerjakan kok. Tapi belum semuanya selesai.”

“Nanti kalau Henry seonsaengnim menghukummu bagaimana?” tanya Yoon Rin. Tae Hee tertawa, “Haah tidah mungkin. Henry seonsaengnim kan baik. Kau ini masih kaku saja, Yoonrinnie.” Yoon Rin menghela napas, “Hah terserahlah,” gumamnya. Lalu Henry seonsaengnim mendatangi meja Yoon Rin dan Tae Hee untuk memeriksa pekerjaan rumah mereka. setelah Henry seonsaengnim memeriksa pekerjaan Yoon Rin dia memeriksa pekerjaan Tae Hee. Henry tersenyum ke arah Tae Hee, “Lee Tae Hee, kupersilahkan kau untuk berdiri di depan kelas sekarang juga.”

Tae Hee terkejut, “Mwo!?” gumamnya. Tetapi Henry seonsaengnim tetap tersenyum dan mengisyaratkan Tae Hee untuk berdiri ke depan dengan tangannya yang mengarah ke depan kelas. Tae Hee dengan muka datar menuruti perkataan Henry seonsaengnim. Dia berjalan menuju depan kelas dan berdiri disana.

“OKAY STUDENTS, LET’S CONTINUE OUR LESSON!” seru Henry seonsaengnim. Semuanya memperhatikan Henry seonsaengnim menerangkan pelajaran.

“Yoon Rin-ya, Yoon Rin-ya!” seseorang menepuk bahu Yoon dari belakang. Yoon Rin menoleh, ternyata Park Chanyeol, “Yoon Rin-ya. Kenapa Tae Hee berdiri di depan?” Yoon Rin menyeringai, “Hah, seperti biasa, Yollie.”

“Dihukum? Hah, yeoja itu,” ujar Chanyeol sambil menggelengkan kepala, “And look, her face. As usual.” Yoon Rin melihat wajah Tae Hee, dia membuka mulutnya dan ekspresinya datar. Yoon Rin dan Chanyeol langsung tertawa bersamaan.

“Perhatikan guru atau kalian akan seperti dia,” ujar teman sebangku Chanyeol, Kim Jong Dae, atau lebih sering dipanggil Chen karena dia lama tinggal di Cina. Yoon Rin langsung melirik Chen dingin lalu kembali memerhatikan Henry seonsaengnim. Yap, Yoon Rin memang tidak suka dengan namja itu karena dia terlalu dingin, berbeda dengan Chanyeol yang riang dan ramah, apalagi suaranya Yoon Rin dan Chanyeol yang berat sehingga orang lain susah membedakan suara mereka berdua.

***

“ITU CHEN! ITU CHEN! WUAAA CHEN OPPA!”

Semua yeoja berteiak ketika Chen keluar. Yap, Chen adalah salah satu murid populer di sekolah. Selain otaknya yang lumayan encer dia juga memiliki suara yang bagus sehingga dia menjuarai beberapa lomba menyanyi. Semua yeoja di sekolah mengaguminya, bahkan Tae Hee sebangkuku juga mengaguminya. Hanya Yoon Rin yang tidak mengaguminya.

***

YOON RIN’S POV

Aishh, yeoja pemuja Chen lagi! Menggangguku keluar kelas saja! Orang sperti ini saja dipuja! Aku keluar melewati desakan para yeoja yang terus menunggu Chen keluar kelas.

“Cepat jalan, siput! Kau ingin aku tersiksa oleh para fansku apa!?” Aku terkejut dan mengetahui bisikan dingin di telingaku. Chen. “Aishh…” gerutuku dalam hati. Aku tidak menghiraukannya, terus berjalan menuju kantin. Aah, kenapa aku harus sekelas dengan namja dingin menyebalkan macam dia sih!?

Oke, sebenarnya dia itu cukup cerdas, walaupun bukan yang paling cerdas tetapi dia nomor tiga tercerdas satu angkatan di sekolah. Selain itu kenapa para yeoja menyukainya itu karena suaranya. Yap, suara Chen bagus. Oke aku akui suaranya bagus, karena aku tidak bisa menyanyi sama sekali. Dia menjuarai beberapa lomba menyanyi sejak kecil, yeah, aku tahu itu. Itu karena aku satu sekolah dengannya sejak SMP. Dia selalu bersikap dingin padaku sejak kelas 2 SMP. Tetapi anehnya dia bersikap ramah terhadap orang lain, baik yeoja maupun namja. Uuh, dasar kacamata! Ingin sekali kuremukkan kacamatanya itu!

***

AUTHOR’S POV

“Yoon Rin! Bisakah kau berhenti membenci Chen sekali saja!” ujar Tae Hee memelas. Yoon Rin tidak menggubris ucapan Tae Hee. Dia tetap memandang lurus ke depan. Mereka selalu berjalan bersama sepulang sekolah karena rute kami sama. “Yoon Rin-ah!” Tae Hee memanggil Yoon Rin sekali lagi.

“Mwo?” tanya Yoon Rin, “Menyuruhku untuk tidak membenci namja dingin pecinta noona-noona itu!? Anhi! Tidak akan pernah aku untuk tidak membencinya. Tandai itu, TIDAK PERNAH!”

“Jangan begitu, Yoon Rin. Kau tidak tahu apa kalau benci bisa menjadi cinta?” ujar Tae Hee. Yoon Rin memandangnya sinis, “Mwo? Ya! Jadi kau menyumpahiku mencintai namja berkacamata itu!?” Tae Hee langsung menggeleng, “Anhi, bukan begitu, tetapi…”

“Terserahlah,” sela Yoon Rin. Tae Hee diam dan mereka berjalan menuju rumahnya masing-masing.

***

Sorenya Yoon Rin melakukan lari yang biasa dilakukan setiap dua hari sekali di sepanjang sungai Han di Seoul. Sepuluh menit berlari tiba-tiba petir bergemuruh di hari yang cukup cerah.

Hal itu membuat Yoon Rin terkejut dan mencari tempat berlindung agar tidak disambar petir dan berlindung dari hujan tentunya. Tetapi seperti kemarin, setengah jam lebih petir bergemuruh, hujan tak kunjung turun. “Aneh,” pikirnya. Karena belum hujan, Yoon Rin langsung berlari menuju rumahnya.

***

TAE HEE’S POV

“Tae Hee! Tolong buang sampah yang ada di dapur dulu keluar!”

Eomma lagi, mengganggu waktu berkhayalku saja. “Ne, eomma!” Dengan langkah berat aku keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur untuk mengambil plastik sampah yang harus kubuang di bak tempat sampah di luar rumah. Setelah dari dapur aku langsung keluar dan membuangnya di bak sampah. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang aneh di langit, warnanya menjadi hitam. Apa akan turun hujan? Setelah kuteliti, anhi, ini bukan awan hitam.

Itu asap.

Mwo? Ada kebakaran di sekitar sini? Tapi dimana? Aku menjadi penasaran. Ah mumpung eomma tidak memanggilku lagi aku mencari sumber kebakaran saja.aku langsung berlari sambil menatap langit melihat asap dan menerka-nerka dimana sumber apinya. Aku terus berjalan dan berjalan. Setelah berjalan sejauh tiga blok, aku melihat langit dan ya, ini sumber apinya. Tetapi bukan api yang kulihat, tidak ada api sama sekali, tidak ada kebakaran sama sekali, bahkan tidak ada pemadam kebakaran. Aku menjadi bingung.

“Tae Hee-ya, sedang apa kau disini?”

Suara berat itu membuatku terkejut, “Yoonrinnie?” Bukan, bukan Yoon Rin. Tetapi sosok namja tinggi berambut coklat yang berantakan yang berada di depanku sekarang, “Chanyeol?”

Chanyeol tertawa, “Aishh kau ini Tae Hee. Bahkan kau sahabatku dan Yoon Rin juga tidak bisa membedakan suara kami.” Aku menunduk malu, “Eh, haha, kenapa aku harus tertipu juga ya? Er, Chanyeol, apa yang kau lakukan disini?”

Chanyeol mengangkat alisnya, “Aku? Seharusnya aku yang bertanya padamu kenapa kau disini.” Aku melebarkan pupilku, “Mwo?” Chanyeol langsung menunjuk sebuah rumah yang cukup besar, bercat tembok putih, dan bertingkat dua, “Itu rumahku.” Oh, itu rumah Chanyeol. Chakkaman, rumah itu? Ya, sepertinya rumah itu yang tadi kuperkirakan sebagai sumber asap tadi.

“Chakkaman, dimana kebakarannya? Tadi aku melihat asap!”

Chanyeol mengangkat alisnya, “Mwo? Kebakaran? Tidak ada kebakaran di sekitar sini kok.” Aku membentuk mulutku menjadi huruf O sempurna. Chanyeol tersenyum lebar melihat ekspresiku, “Hah, kau ini pasti berkhayal. Pasti karena kau terlalu banyak bengong. Hei! Sadarlah!” Kini Chanyeol mengguncang tubuhku, “YA TAE HEE-YA! SADARLAH!” Aku langsung menutup mulutku.

“Nah begitu dong,” Chanyeol kembali tersenyum lebar. “Mau mampir ke rumahku?” Aku berpikir, mampir ke rumah Chanyeol? Hmm, ide bagus karena aku belum pernah ke rumahnya, tapi aku langsung teringat sesuatu, eomma, aku langsung menolaknya, “Ah anhi Chanyeol, aku harus pulang. Eomma pasti mencariku. Annyeong!” Aku langsung berlari menuju rumahku dengan kecepatan tinggi dan tiba lima menit kemudian.

“TAE HEE, KEMANA SAJA KAU!”

***

YOON RIN’S POV

Aneh. Aneh sekali. sudah dua hari ini petir terus bergemuruh tetapi tidak ada hujan sama sekali. aku hanya menatap langit yang cerah dan berpikir, “Apa dunia akan berakhir? Apa ini fenomena alam biasa?”

“Yoonrinnie, ayo mengerjakan tugas Kimia di rumahku sekarang. Rumahku di 182-12 Sinsu-dong. Kutunggu kau sekarang.”

Aku menghela napas melihat SMS dari Chanyeol. Oh iya, tugas kimia, membuat kartu-kartu unsur kimia. Aku berpasangan dengan Chanyeol mendapat unsur golongan IA, alkali. Sinsu-dong? Tidak jauh dari rumahku yang ada di Gusu-dong. Oke, jalan kaki saja. Aku keluar dari kamar dan menghampiri eommaku, “Eomma, aku mau keluar rumah dulu!”

“Mau kemana kau, Yoon Rin?” tanya eommaku. “Rumah temanku di Sinsu-dong. Mengerjakan tugas Kimia. Annyeong!” Aku berjalan keluar. “Hati-hati, Yoon Rin!” teriak eommaku dari dalam rumah. Ne, aku akan berhati-hati. Lagipula Sinsu-dong kan dekat.

***

“Wah, akhirnya kau datang juga, Yoonrinnie! Kaja, masuklah!” Aku disambut Chanyeol langsung. Aku mengikutinya di belakang. Betapa terkejutnya aku melihat beberapa namja di rumahnya, namja-namja yang tampan! Aku langsung ketakutan, “Yeollie, benar ini rumahmu?”

Chanyeol berbalik ke arahku, “Ne, ini rumahku. Oh iya, sebenarnya ini bukan rumahku asli. Hanya kos-kosan. Dan ya! Jangan takut begitu, Yoonrinnie. Mereka semua namja baik-baik kok.” Ah, sepertinya Chanyeol sadar akan ketakutanku terhadap namja-namja itu. Aku jadi salah tingkah, “Eoh, jinjja? Syukurlah. Yeollie, kenapa mereka tampan semua?”

“Tampan?” Mata Chanyeol melebar, “Mereka? haha, tahu saja kau namja tampan yang mana. Kau mau? Pilih saja. Tapi, ah, andwae. Disini aku yang paling tampan.” Aku langsung memukul kasar tangannya. “Ya! Appo, Yoonrinnie!”

“Kau terlalu percaya diri,” ujarku. Tiba-tiba seseorang menghampiri Chanyeol, “Hei Chanyeol hyung! Nuguya?” tangan namja itu menunjuk ke arahku. “Oh, dia. Teman sekelasku. Hwang Yoon Rin.” Aku langsung memperkenalkan diri, “Hwang Yoon Rin imnida.”

“Eoh, Do Kyung Soo imnida. Tapi panggil saja D.O. atau Dio,” namja itu memperkenalkan diri. “Hyung, kukira dia yeojachingumu.” Aku langsung menggeleng, “Mwo!? Anhi, aku hanya teman biasa kok.”

“Sayang sekali,” ujar D.O. “Padahal Chanyeol hyung itu orang yang romantis lho. Sayang tak ada yeoja yang mau.” Sebuah jitakan Chanyeol langsung melayang ke kepala D.O. “Ya hyung! Appo!”

“Jangan bicara sembarangan!” omel Chanyeol, “Buatkan makanan untuk chinguku ini! Ppali!” D.O. langsung memberi hormat kepada Chanyeol, “Siap, hyung!” Lalu Chanyeol mempersilakanku duduk di ruang tengah, “Duduklah. Sebentar, aku ambil perlengkapannya dulu.” Aku mengangguk dan tetap duduk.

“Ge, kau ingin bertemu Young Ra!?”

“Ne, aku ingin membawanya terbang ke Kanada, rumah orang tuaku!”

“Suho hyung, mau kemana kau!?”

“Seperti biasa, Bacon! Berlatih di sungai Han! Sembunyi-sembunyi tentunya! Akan kutunjukkan pada Seo Yeon-ya kekuatan airku.”

“Hah, Xiumin hyung. Kau ingin kemana!?”

“Membuat arena ice skating di Gangnam dengan kekuatanku!”

“Sehun-ah, jangan bilang kau ke Gurun Gobi.”

“Seperti biasa, Bacon hyung!”

“Lay, kau?”

“Ke rumah sakit, Bacon! Biasa, asisten dokter. Annyeong!”

Kulihat mereka—kelima namja itu meninggalkan namja yang bernama Bacon itu. Empat namja itu menuruni tangga. Tetapi tidak untuk namja yang pertama dipanggil Bacon dengan sebutan ‘Ge’ itu. Dia membuka jendelanya dan berdiri disitu.

“Ge! Andwae!” ujar Bacon. Namja itu menoleh, “Wae? Tidak ada yang melihat. Sudah tenang saja.” Lalu namja itu menghilang dengan cara… terbang? “Kris gege, aishhh!”

Aku membuka mulutku lebar dan melebarkan mataku, tercengang, “M… Mwo?”

Namja bernama Bacon tadi menoleh ke arahku dan melihatku terkejut, sepertinya dia baru menyadari keberadaanku, “A-agassi?” Aku tetap tercengang. Lalu namja itu segera menghampiriku, “Agassi, Byun Baekhyun imnida. Neo?” Aku langsung sadar. “Eh, naneun? Hwang Yoon Rin imnida, teman Chanyeol.”

“Teman Chanyeol?” Baekhyun—atau Bacon—mengangkat alisnya, “Kau bukan yeojachingunya? Apa kau tadi meli…”

“Ya! Bicara apa kau, Bacon!?” sebuah jitakan Chanyeol melayang ke kepala Baekhyun. “Jangan ganggu kami! Kami harus mengerjakan tugas.” Baekhyun langsung pergi, “Huh dasar! Baru ingin pendekatan.” Jitakan melayang kembali ke kepala Baekhyun. “YA!” omel Chanyeol. Baekhyun langsung pergi sambil, kurasa, mengoceh sendiri. Aku tertawa melihat Baekhyun, “Lucu juga dia, dan tampan juga.”

“Kau suka? Ah, tetap aku yang paling tampan,” ujar Chanyeol percaya diri dengan senyuman lebar yang khas. Deg! Kenapa jantungku brdegup lagi. ah, jujur, aku sudah lama menyukainya, Park Chanyeol. Bahkan sejak awal aku melihatnya saat pertama kali masuk SMA. Tidak ada yang tahu tentang ini, bahkan Tae Hee sekalipun. “Sudah, ayo kita mulai saja,” ujarnya. “Eoh? Ne. Kaja,” balasku. Kamipun mengerjakan tugas. Chanyeol sibuk menggunting karton. Aku tetap berkonsentrasi menulis dari karton yang digunting Chanyeol, “Litium, Natrium, Kalium… Oh ya, Yeollie-ah.”

“Wae?” Chanyeol tetap berkonsentrasi menggunting karton.

“Apa kau satu kos juga dengan namja yang bernama Kris?” tanyaku. Chanyeol berhenti menggunting dan menatapku, “Wae?”

“Anhi, tadi, dia di jendela dan…”

“Terbang?” tanya Chanyeol. “Ye, dia memang terbang,” katanya santai. Aku terkejut, “Mwo? Dia bisa terbang? Tapi kenapa…”

“Molla. aku tidak tahu sejak kapan dia bisa terbang. Oh ya,” Chanyeol langsung mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku terkejut dan langsung menjauh. Tetapi Chanyeol makin mendekat dan berbisik, “Kau tahu kalau aku juga punya rahasia?”

“Hyung, ini makanan… WAAA!!!” D.O. langsung balik badan. “Ampun, hyung! Aku tidak melihat kok, tenang saja, aku tidak melihat. Teruskan saja kalau kalian mau. Aku taruh makanannya…”

“Memang kau kira kami sedang apa, Dio? Kan sudah kubilang kami ini hanya teman,” ujar Chanyeol. “Taruh saja makanannya disini.” D.O. berjalan menuju tempat kami dan menaruh makanannya di meja. Tiba-tiba saja mati lampu. “Aishh, sial!” ujar D.O. Tetapi ruangan tidak gelap karena sebuah api kecil. Aku jadi bisa kembali menulis. Tetapi aku merasa ada yang aneh. Wae? Aku tidak melihat lilin sama sekali di ruangan ini tadi. Aku mencari sumber api, dan ternyata…

Api itu merasal dari tangan Chanyeol. “Yeol… Yeollie?” Aku terperangah sambil menunjuk api yang ada di tangan Chanyeol. “Kau?”

“Ne, ini rahasiaku. Yeonrinnie, bisakah kau menjaganya?” kata Chanyeol sambil menggoyangkan tangannya yang otomatis apinya ikut bergoyang. Aku terperangah, lalu kucubit tanganku, “Auw!” Anhi! Ini bukan mimpi! Aku masih tercengang, sekaligus terpana, pada tangan Chanyeol.

“HYUNG! ANDWAE! KAU MEMBONGKAR…” Ucapan D.O. langsung dipotong Chanyeol, “Yoonrinnie, kau bisa menjaga rahasia ini kan?” Aku langsung mengangguk, “N-ne, Yeollie. Aku bisa. Wae?” Chanyeol tersenyum lebar, “Bagus. Aku menunjukkan ini karena, kau sudah melihat Kris hyung terbang, kau teman dekatku.” Lalu petir bergemuruh.

“Aish, jangan-jangan dia. Anak itu,” ujar Chanyeol. Hah apalagi ini. Tapi lebih baik aku diam saja dan meneruskan tugasku menulis diterangi cahaya api dari tangan Chanyeol.

***

TAE HEE’S POV

Bel istirahat berbunyi. Aku meninggalkan Yoon Rin ke kantin karena dia membawa bekal.

“CHEN OPPA! CHEN OPPA!”

Aishh, yeoja pengagum Chen lagi. Aku langsung berjalan melewati lautan pengagum Chen, lagipula Chen kan sudah keluar kelas dari tadi. Aku langsung berjalan menuruni tangga ke lantai 2. Saat aku menuruni tangga.

OMONA!

Aku menutup mulut dan mataku. Pemandangan, yang, aish, tidak pantas kulihat. Sepasang yeoja dan namja sedang berciuman di depanku, di depan pintu gudang, yang memang agak jarang dipandang dan dikunjungi karena letaknya paling pojok. Mereka berdua melihatku lalu saling melepaskan diri.

“Ah, mi-mianhae Chen. A-aku tidak sengaja,” jawabku gugup. Yeoja yang berciuman dengan Chen menundukkan kepala sedangkan Chen tersenyum kecil padaku, “Ah, gwenchana Tae Hee. Mianhae. Aku yang tidak sadar tempat. Kalau ingin lewat silakan.” Pikiranku langsung berubah, “Ah, aku ingin kembali ke kelas. Maaf mengganggu kalian. Annyeong!” Aku langsung berlari kembali ke atas. Chen, dan seorang hobbae?

***

AUTHOR’S POV

“Huaa Yoon Rin, dia sudah punya yeojachingu!” rengek Tae Hee ketika memasuki kelas. Untung saja di dalam kelas hanya ada Yoon Rin karena dia lebih suka makan di kelas kalau membawa bekal. Yoon Rin menatapnya aneh, “Yeojachingu? Nuguya?”

“Chen, Yoonrinnie! Chen! Dia punya yeojachingu sekarang. Seorang hobbae. Aku kebetulan melihat mereka berciuman tadi. Huaaa! Chen oppa!” Chen? Yoon Rin menggelengkan kepala sambil menghela napas. Dia tidak menghiraukan rengekan Tae Hee. Chen, Chen, dan Chen, Chanyeol lebih baik dari dia walaupun tidak secerdas dan sepopuler dia, pikirnya. Tiba-tiba Tae Hee berhenti merengek karena seorang namja memasuki kelas. Chen, sendirian.

“Bukan penggemar noona-noona lagi, hah?” Chen menoleh dingin ke arah Yoon Rin karena ucapannya, yang bernada menyindir. Yoon Rin menyeringai sinis, “Oh, ya. Karena tidak ada lagi para noona di sekolah ini. Karena kau sudah kelas 12, stok noona pun habis.” Chen langsung menghampiri Yoon Rin dan berbicara dingin padanya, “Kau ingin aku menjadi namjachingumu?” lalu dia menyeringai dan berbisik di telingaku, “Jangan harap.” Yoon Rin membalas, “Hah, melihat kacamatamu saja sudah menjadi takdir terburuk dalam hidupku. Apalagi melihat dirimu secara utuh.”

Chen kembali menatap sinis Yoon Rin, “Setidaknya aku bukan kau yang belum pernah punya namjachingu.” Dan bel pun langsung berbunyi tanda istirahat selesai.

***

“HUAAA! CHEN! KENAPA KAMU SUDAH PUNYA YEOJACHINGU!?” Tae Hee terus merengek sepanjang perjalanan pulangnya bersama Yoon Rin. Yoon Rin mendesah kesal, “Tae Hee! Cukup! Apa tidak ada namja selain Chen hah!?” Tae Hee menggeleng, “Anhi, dia itu namja yang sempurna walaupun berkacamata. Ah, dia berkacamata sepertiku! Omo! Seharusnya aku dan dia berjodoh! Sama-sama berkacamata!” Tae Hee terus merengek karena Chen sudah punya yeojachingu.

“Cukup Tae Hee! Bisakah kau tidak membicarakan namja dingin itu lagi!? Aku muak mendengarnya!” ujar Yoon Rin kesal. Tae Hee membalas, “Dan bisakah kau—sehari saja—tidak membenci Chen!?”.

“ANHI! NEVER!” bentak Yoon Rin. Tiba-tiba… DUARRR! Tae Hee dan Yoon Rin langsung menutup kedua telinga kita. “Aishh… kenapa harus ada petir di siang bolong begini sih!?” ujar Tae Hee. Yoon Rin hanya diam menatap langit. Aneh, kenapa harus ada petir di saat seperti ini, pikirnya. Tae Hee mengguncang badan Yoon Rin, “Yoonrinnie! Ya! Sadarlah! Bahaya menunggu petir! Bisa-bisa kita tersambar! Kita harus berlindung!” Tetapi Yoon Rin menggeleng, “Anhi, lebih baik kita berlari ke rumah sebelum yang lebih aneh terjadi. Lagipula rumahmu kan dekat! Kaja!” Yoon Rin menarik tangan Tae Hee dan berlari menuju rumah Tae Hee. Petir sudah bergemuruh empat kali tetapi mereka tetap berlari dan sampailah ke rumah Tae Hee.

“Kau tidak ke rumahku dulu?” tanya Tae Hee. Petir bergemuruh sekali lagi. Yoon Rin menggeleng mantap, “Tidak usah. Rumahku kan tidak terlalu jauh kalau berlari, sepuluh menit kujamin sampai. Hehe. Annyeong Tae Hee!” Yoon Rin langsung berlari secepat kilat.

“Aishh yeoja itu. Semoga dia selamat,” gumam Tae Hee. Petir bergemuruh lagi. Tae Hee langsung masuk ke rumahnya, “Annyeong haseyo!”

***

YOON RIN’S POV

Aku terus berlari menuju rumahku yang masih 600 meter lagi dari posisiku sekarang. Tidak peduli walau petir sudah bergemuruh entah berapa kali. Tetapi anehnya langit tetap cerah dan hujan tak kunjung turun. Oh Tuhan, apa ini fenomena alam baruyang kau ciptakan?

“Aish, jangan-jangan dia. Anak itu.”

Aku berhenti sesaat di tengah gang yang sepi karena teringat ucapan Chanyeol kemarin. Bukannya berjalan terus ke rumah tetapi memutar balik dan terus menatap petir. Ya, mencari sumber petir. Entah siapa yang menyuruhku untuk mencari petir itu, tetapi kakiku terus berjalan. Dan otakku terus berpikir tentang petir yang terus bergemuruh itu. Jalanan sepi, mungkin karena orang-orang takut tersambar sehingga lebih baik berlindung atau diam di rumah. Tapi aku bagaikan orang tak waras, terus berjalan mencari asal petir.

“Aish, jangan-jangan dia. Anak itu.”

Yang aku pikirkan hanyalah ucapan Chanyeol saat ini. Apa selama tiga hari ini ucapannya ada hubungannya dengan petir itu? Aku terus berlari dan berlari tak tentu arah dan sampailah aku di sebuah jalan buntu. Petir kali ini bergemuruh sangat keras dan sangat memekakkan telinga. Kali ini aku harus menutup kedua telingaku.

“Bisakah kau berhenti!? Kau membuat orang-orang ketakutan dan tidak berani keluar rumah!”

“Apa pedulimu, gege!? Inilah kekuatanku. Kekuatanmu hanya telepati!”

“Kim Jong Dae!”

DUARRR!!! Petir kembali bergemuruh lagi. Sepertinya dari tempat yang agak luas itu, pikirku. Entah pikiran darimana aku langsung memasuki tempat itu. Ternyata bukan rumah, tidak ada bangunan sama sekali. Tempat yang cukup luas. Ternyata tempat penampungan sampah.

“Jongdae! Hentikan!”

“Tidak akan, Luhan gege!”

Petir kembali bergemuruh. Jongdae? Kim Jong Dae? Aku tidak salah dengar? Aku berjalan pelan melalui tumpukan-tumpukan sampah yang baunya sangat menyengat. Tetapi aku tidak bisa menciumnya saking banyaknya sampah yang ada atau karena otakku tidak berpikir tentang bau sampah lagi. Langkahku berhenti pada tanah yang sangat luas. Disitu aku melihat dua orang yang kudengar suaranya sejak memasuki gang buntu tadi.

“Jebal, hentikan! Sudah tiga hari kau seperti ini!”

“Anhi, hanya ini caraku melampiaskan diri karena Joon Myeon noona!” Kembali petir bergemuruh. Aku menutup mulut. Jadi, petir itu berasal dari namja ini. Dan namja itu adalah…

Kim Jong Dae? Si dingin Chen?

“Jongdae! Chen! Jangan bodoh!”

“Berisik kau, Luhan gege!”

“Hentikan! Ada yeoja di belakangmu!”

Chen menoleh ke belakang. Dia melihatku. Mataku semakin melebar, terkejut melihatnya. “Yoonrinnie?”

Aku tidak percaya. Ada dua hal. Pertama, petir itu berasal dari Chen. Kedua, dia memanggil nama kecilku, yang sekarang hanya eomma, Tae Hee, dan Chanyeol yang memanggil namaku seperti itu. Saking tidak percayanya, aku langsung berlari keluar dari tempat bau ini. Menuju rumah. Berlari sekencang mungkin.

“Yoonrinnie?”

Ah, itu pasti hanya khayalanku! Aku pasti salah dengar. Chen, kau…

-flashback-

“Yoon Rin! Ada pesan dari Chen!”

Jongdae? Benarkah? Ah, namja berkacamata yang tampan itu? Yang pintar itu? Aku tersenyum pada Kim Hyorin sahabatku, “Jinjja?” Hyorin mengangguk, “Dia bilang padaku. Dia bilang, ‘berikan salamku pada Hwang Yoon Rin teman sebangkumu’. Begitu katanya.” Senyumku semakin merekah. Ah, Kim Jong Dae—suka dipanggil Chen, karena selama SD dia di China—namja yang kusuka tanpa sebab, mungkin karena kacamatanya yang unik itu. Yang kukenal tiba-tiba di toko buku saat kami sama-sama ada di rak novel fiksi. Dan saat itu aku sedang melihat Harry Potter novel favoritku. Lalu kami menjadi akrab tiba-tiba dan aku baru sadar kalau kami satu SMP. Saat kami kelas 2 SMA, kami semakin akrab sehingga orang-orang mengira kami pacaran.

“Dia juga bilang pulang sekolah nanti temui dia di depan perpustakaan.” Aku mengangguk singkat. Ada apa ya?

***

Bel pulang sekolah berbunyi pada jam 12 siang. Semua murid keluar kelas. Tinggal aku dan Hyorin, “Yoon Rin, ayo keluar. Chen pasti menunggumu sekarang.”

“Aku belum selesai,” ujarku sambil mencatat pelajaran Matematika yang belum selesai kucatat. “Kau duluan saja, Hyorin!” Hyorin mendengus, “Huh, bilang saja kau tak ingin aku mengganggumu nanti. Bisa saja kau ini. Yasudah, aku duluan ya.” Aku mengangguk, “Ne! Hati-hati, Hyorin!”

“Ne, Yoon Rin. Fighting! Annyeong!”

Lima menit kemudian aku baru selesai mencatat. Aku langsung merapikan buku ke dalam ransel. Setelah menutup retsleting ransel aku menggendongnya dan berjalan keluar kelas. Tetapi seseorang yang lebih tinggi dariku mengalangiku keluar kelas. “Lama sekali kau, Yoon Rin.”

Aku mendongak, ternyata Chen. Dia tersenyum padaku. Senyumnya lebar sekali. Ah mungkin aku suka senyumannya. Dia menunjukkan sesuatu yang berasal dari tangan kanannya, yang sejak tadi dia sembunyikan. Sebuah kado yang cukup besar menurutku. “Ini untukmu, Yoonrinnie. Saengil chukkae. Maaf telat seminggu. Kuharap kau suka.”

Aku langsung menerimanya, “Eoh? Gomawo Jongdae. Gwenchana, tapi kuharap bukan sekardus kotoran binatang isinya.” Chen tertawa, “Anhi. Tentu saja bukan! Tidak tega aku memberi kado seperti itu pada orang lain. Apalagi untuk yeoja sepertimu.” Aku meneliti kado yang diberi Chen, menerka-nerka isinya.

“Kalau kau penasaran, bukalah sekarang.” Ya, aku memang penasaran. Aku langsung merobek pelan-pelan bungkus kadonya. Saat kubuka, aku langsung terkejut melihatnya. Novel Harry Potter no. 7, serial terakhir Harry Potter! “Jongdae? Ini untukku. Ini kan keluaran terbaru.”

“Ne, itu untukmu, Yoonrinnie! Kau suka?” tanyanya. Aku mengangguk, “Sangat suka, Jongdae. Aku belum sempat membelinya. Ah, gomawo…” Aku merentangkan kedua tanganku, ingin memeluknya. Chen sepertinya juga sudah siap kupeluk. Tetapi aku menahan diri dan tidak jadi memeluknya, “Ah, gomawo!” Kurasa wajahku sudah memerah sekarang. Chen hanya tertawa kecil, “Sekolah sudah sepi. Sebaiknya kita pulang sekarang. Ayo kuantar.” Chen mengulurkan tangannya padaku, “Kaja!” Tanpa berkata apapun aku menyambutnya. Kami berjalan bersama menuju rumahku.

***

“Yoboseyo?”

“Yoonrinnie, kau belum tidur?”

“Belum, nuguseyo?”

“Ini aku, Kim Jongdae.” Deg! Jantungku langsung berdetak keras. Chen menelponku? “Oh kau, hehe. Aku masih membaca novel darimu.”

“Tidurlah, Yoonrinnie. Sudah jam setengah 12. Tidak baik yeoja tidur malam.”

“Jongdae, darimana kau tahu nomor…”

“Hei, sudah hampir jam 12 malam. Hwang Yoon Rin, tidurlah. Besok sekolah. Annyeong!” Telepon pun terputus. Aku menggenggam handphoneku dengan tangan gemetar. Jantungku berdetak kencang. Chen? Itu benar Chen? Aku langsung merebahkan diriku di tempat tidur.

***

1 minggu kemudian…

“Hei! Im Yoon Ah noona sudah punya namjachingu sekarang!”

Serentak orang-orang berkumpul, termasuk aku, siapa yang tidak suka Yoon Ah eonni. Yeoja cantik segala-galanya, termasuk sikapnya. “Mwo? Benarkah?”

“Ne, aku mendengarnya tadi. Dia jadian dengan anak yang seangkatan dengan kita!”

“Nuguya? Ah, beruntungnya namja itu.”

“Namanya Kim Jong Dae! Kelas 2-4!”

-flashback end-

***

Yeonrinnie? Panggilan Chen untukku empat tahun yang lalu? Namja busuk macam apa dia itu!? Aku terus berlari menuju rumahku. Setelah sampai aku langsung membuka kunci pintu rumah. Tidak ada orang. Aku langsung masuk ke kamarku dan merebahkan diriku di tempat tidur. Tiba-tiba air mataku keluar.

Menangis, yah kembali aku menangisi kejadian empat tahun lalu yang terus kucoba untuk melupakannya. Aku langsung pergi keluar rumah menuju rumah Tae Hee.

***

TAE HEE’S POV

Akhirnya langit kembali cerah seperti biasa. Aku membuka jedelaku lebar di sore hari yang benar-benar cerah ini. Aku menghirup udara sore cerah ini dan sejenak melupakan Chen yang sudah punya yeojachingu.

“LEE TAE HEE!!! LEE TAE HEE!!!”

Ada yang memanggilku, nuguya? Aku mencari di langit, tidak ada orang.

“YA, KAU! TAE HEE!!! AKU DISINI!!!”

Aku menatap ke bawah. Park Chanyeol. Dia terlihat melambai-lambaikan tangan sanmbil tersenyum lebar ke arahku. “KAU!? ADA APA KAU KEMARI!?”

“TURUNLAH, TAE HEE! ADA YANG INGIN KUBICARAKAN DENGANMU!!!” Ada apa sih anak ini kemari? Aku langsung turun ke bawah dan keluar rumah menghampirinya. Senyumnya kini benar-benar merekah. “Gwenchana?”

“LEE TAE HEE! SARANGHAE!!!” ujarnya dengan wajah yang benar-benar ceria. Aku memandangnya bingung, “Mwo?”

“SARANGHAE, LEE TAE HEE! SARANGHAE!” Aku masih menatapnya bingung. “Hei Chanyeol, kau bicara apa sih?” Chanyeol membalasnya dengan senyuman lebar lalu mendekatiku. Dan dia memelukku. Erat sekali. “TAEHEE-YA! JEONGMAL SARANGHAE!”

Aku terkejut dan kehabisan napas karena pelukannya terlalu erat. Aku memukul-mukul punggungnya, “Paboya! Kau pasti sedang bercanda kan? Lepaskan, Chanyeol! Aku sulit bernapas!” Tetapi dia mempererat pelukanku, “Anhi Tae Hee. Aku tidak bercanda sama sekali. Aku benar-benar mencintaimu, Tae Hee. Dan aku tidak ingin melepaskan pelukannya dulu.”

“Men-cin-ta-i-ku? Wae? Aah Chanyeol! Lepaskan!” tanyaku yang masih erat dalam pelukannya, dan aku masih berusaha untuk melepasnya. Akhirnya dia melepas pelukannya juga. Aku langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya karena kehabisan napas saat dipeluknya, “Fuuh, kau menyiksaku!”

“Kau tahu Tae Hee kenapa? Karena kau unik! Belum pernah aku bertemu yeoja seunik dirimu selama aku hidup. Sejak kita sekelas setahun yang lalu, aku sudah memperhatikanmu diam-diam. Sayang aku tidak bisa terlalu akrab denganmu karena aku malu. Lalu saat kelas tiga–sekarang–karena Yoonrinnie, aku jadi bisa mengenalmu. Aku jadi semakin menyukaimu. Yah, kau yang tidak pernah ambil pusing dalam hidup, aku suka yeoja sepertimu.”

Aku tercengang, “Mwoya? Jinjja?” Chanyeol mengangguk, “Ne, kau tidak percaya padaku hah? Tutup matamu sekarang?”

Hah, mau apa dia? Tunggu, sepertinya dia akan melakukan sesuatu seperti adegan-adegan drama. Wah, asyik! Boleh dicoba nih. Aku langsung menutup kedua mataku. Kurasakan wajah Chanyeol mendekat ke wajahku. Kurasakan napas beratnya berhembus di depan wajahku. Dan kurasa jarak wajah antara kami tinggal sedikit lagi menuju 0 cm.

“TAE HEE? YEOLLIE?”

***

YOON RIN’S POV

“TAE HEE? YEOLLIE?”

Kulihat Tae Hee dan Chanyeol langsung saling menjauh. Mereka menjadi salah tingkah, berpura-pura merapikan pakaian mereka. “Ah Yoon Rin? Em, nan gwenchana?”

“Ah, anhi. Kalian… kalian…” Aku tidak percaya apa yang kulihat tadi? Chanyeol? Namja yang kusuka sejak awal SMA, dan Tae Hee. Mereka? Apa mereka berdua pacaran? “Kalian pacaran?”

“Eoh, belum Yoonrinnie. Aku masih menunggu jawaban Tae Hee. Hei, Tae Hee, apa jawabanmu? Kau mencintaiku tidak?” kata Chanyeol. Tae Hee kini senyum-senyum sendiri, “Eung? Umm… nado saranghae, Chanyeol oppa.” Kini Chanyeol tersenyum senang, “Ah, akhirnya!” lalu dia mengacak rambut seleherku, “Yoonrinnie, karenamu, aku jadi bisa mengenal Tae Hee dan dekat dengannya. Gomawo…” Dan Chanyeol makin membuat rambutku berantakan.

Aku tersenyum melihat mereka berdua. Bukan, bukan senyuman pahit, kecewa, atau pura-pura senyum. Tapi ini senyuman ikhlas. Aku benar-benar bahagia melihat mereka berpacaran sekarang. Padahal aku menyukai Chanyeol, cukup lama, walaupun tak ada yang mengetahui hal ini. Tidak, aku tidak bohong, aku benar-benar bahagia. Entah kenapa aku merasa lega. Apa karena Tae Hee akhirnya punya namjachingu?

Yang jelas tidak seperti yang kurasakan empat tahun lalu. Yah, kenangan yang akhirnya tak bisa dikubur terlalu dalam juga. Poor me!

***

“Huaah! Kenapa PR Matematika banyak sekali sih!? Mana harus dikumpulkan besok lagi!” keluh Tae Hee sambil merentangkan kedua tangannya di kelas saat bel pulang sekolah berbunyi. Aku tertawa mendengar keluhannya, “Haha! Tae Hee, Tae Hee! Kalau kau mengeluh aku apa? Bunuh diri! Matematika gila!” Tiba-tiba Chanyeol langsung menghampiri meja Tae Hee, “Tae Hee-ah, ayo kita pulang!”

“Mwo? Tapi…” ujar Tae Hee gugup. “Ah kau ini masih kaku saja denganku! Kita kan sudah pacaran. Ayolah. Rumah kita juga tidak jauh kan.” Tae Hee langsung menatapku, “Yoon Rin…”

“Pulanglah,” ujarku singkat. “Tapi kau…”

“Gwenchana,” balasku. Aku menepuk bahu Tae Hee, “Kau pulang berdua sana. Tidak mungkin kan aku mengganggu kalian. Aku ingin mengumpulkan tugas sejarah dulu ke ruang guru. Kalian duluan saja.” Chanyeol dan Tae Hee memandangku dengan tatapan bersalah, “Apa…”

“Gwenchana! Pulanglah!” Akhirnya dengan wajah berat hati Chanyeol dan Tae Hee meninggalkanku sendiri di kelas. Aku ingin selesai duluan tugas sejarah karena nanti malam harus mengerjakan PR Matematika, yah biar tidak ada beban walaupun tugas sejarah seharusnya dikumpulkan besok.

Selesai mengerjakan sejarah aku merapikan buku ke dalam ransel dan bergegas menuju ruang guru. Sesampainya di ruang guru aku langsung menaruh buku tugas sejarahku ke meja Dong Joo seonsaengnim, guru Sejarah. Dia sudah pulang sepertinya. Setelah itu aku keluar dari ruang guru dan tiba-tiba ada yang menarik tanganku. “KYAAA!!!”

“Tidak akan! Ini akibatnya!”

Aku tidak tahu siapa yang menarik tanganku, dia menarikku paksa. Sangat kasar. Lalu dia berhenti menarikku, lalu mendorongku kasar ke tembok. Aishh, punggungku rasanya sakit didorong paksa namja ini.

“Apa yang kau lakukan kemarin siang hah!? Kau memata-mataiku!?” Namja ini? Chen!? Si dingin? Tidak, dia bukan namja dingin lagi. Apalagi namja penuh senyum. Tidak ada senyum Chen untukku sejak empat tahun lalu. Kali ini dia benar-benar mengerikan! Sorot matanya—dia tidak memakai kacamata sekarang, lekukan bibirnya, dia benar-benar marah! Apalagi wajahnya yang benar-benar dekat denganku saat ini.

Aku memberanikan diri untuk bicara, “Memata-mataimu!? Sejak kapan aku ingin memata-matai namja dingin sepertimu!?” Chen menyeringai, “Kemarin?”

“Itu karena aku ingin mencari sumber petir! Kau tahu!? Tiga hari berturut-turut petir bergemuruh di sore hari tanpa hujan sekalipun!” aku membela diri, “Wae!? Apa karena Joonmyeon eonni?”

Chen tidak menjawab.

“Tiga hari yang lalu, kau putus dengan Joonmyeon eonni kan? Alumni SMA ini! Empat tahun lalu hanya tiga bulan kau bersama Yoon Ah eonni, lalu Sooyoung eonni, Miyoung eonni, Seohyun eonni, Yuri eonni, dan ah Taeyeon eonni!”

Chen tetap diam.

“Hah, dasar namja penggemar noona! Dan kali ini kau akhirnya bersama hobbae! Yeah, karena stok noona di sekolah ini sudah tidak ada.”

PLAK! Tamparan Chen melayang seketika di pipi kiriku, “Itu tidak ada hubungannya!” Aku meringis sesaat, lalu kembali menyeringai, tanpa sadar air mataku keluar. “Inikah pria yang lima tahun lalu kukenal baik dan pintar hah? Inikah namja yang memberiku novel Harry Potter 7 di ulang tahunku yang ke-14? Bahkan, inikah namja yang membuatku menjadi yeoja terbodoh karena aku mencintaimu empat tahun lalu? Sebelum kutahu kau dan Im Yonn Ah eonni… Ah, sekarang jauh berbeda!” Tidak bisa kutahan lagi, aku menangis. Yah, benar-benar menangis. Aku kembali menangisi sebuah kenangan, empat tahun lalu, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk tidak menyapanya lagi, dan berujung dia yang berbuat dingin padaku. Aku merosot duduk dan bersandar di lantai. Pabo! Ne! Pabo yeoja! Itulah aku, sekarang dan mungkin seterusnya.

Chen tetap berdiri, “Yoonrinnie…”

“Kau tahu! Ah, kau pasti tidak tahu kan!? Oke, Kim Jong Dae! Kau tahu!? Saranghae, Jongdae! Saranghae!” Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Menutupi tangisanku. Tidak peduli Chen di depanku. Aku hanya ingin mengatakan apa yang selama ini membebaniku.

“Itu empat tahun lalu, Jongdae! Empat tahun lalu! Empat tahun lalu aku menyukaimu! Tidak untuk sekarang! Anhi!”

***

AUTHOR’S POV

Chen memandang tangan kanannya yang tadi dipakai untuk menampar Yoon Rin. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan lagi. Dia berlutut di depan Yoon Rin dan memegang tangannya yang masih digunakan untuk menutup wajahnya. “Yoonrinnie…”

***

YOON RIN’S POV

“Yoonrinnie…”

Aishh, sudah tiga kali dia memanggilku seperti ini, sejak kemarin. Tidak, bukan nada dingin yang dia lontarkan. Itu suara yang sangat lembut. Benar-benar lembut. Bahkan lebih lembut dari empat tahun lalu. Dia memegang tanganku yang masih kugunakan untuk menutup wajahku. Bukan, bukan cengkraman kasar, bahkan bukan genggaman keras saat menarikku dari ruang guru tadi. Ini seperti genggamannya saat mengantarku pulang empat tahun lalu. Setelah dia memberiku novel Harry Potter itu. Kini aku semakin menangis, kejadian empat tahun lalu kembali terjadi.

“JONGDAE!”

***

AUTHOR’S POV

“JONGDAE!”

Chen menoleh ke jendela, sumber suaranya. Suara berat khas itu, milik teman kosnya, Kris, dengan pakaian serba krem. Kris langsung membuka jendela dan masuk menghampiri Chen, “Jongdae! Kau…”

“Ge?” Chen terkejut. TAR! Tiba-tiba muncul seseorang dengan kemeja hitam dan celana hitam. Kai, teman kosnya juga, “JONGDAE HYUNG!” Chen menatap Kai tercengang, “Jongin?” Tak lama kemudian, dua namja lagi—keduanya memakai T-Shirt putih, menghampiri Chen dari tangga.

“Lay? Luhan gege?”

“Kai, bawa yeoja itu ke rumah. Lay, obati yeoja itu. Luhan, gomawo telah memberitahuku dan kau ikuti aku. Dan kau, Jongdae!” Kris menunjuk ke arah Chen, “Ikut aku dan Luhan! Aku ingin bicara denganmu.”

“Ah, araseo,” ujar Chen pasrah. Kai pun memapah Yoon Rin dan menghilang bersamanya. Sementara Lay menuruni tangga dan pergi menuju rumahnya.

***

Di rumah kos Chen—juga rumah kos Chanyeol dan teman-temannya, Yoon Rin direbahkan Kai di atas sofa yang panjang. Ternyata Yoon Rin tidak sadarkan diri sejak datangnya Kris di sekolah tadi.

“Jongin, balikkan badannya,” perintah Lay pada Kai. Kai menuruti perintahnya, dia langsung membalikkan badan Yoon Rin dengan hati-hati sehingga kini posisi Yoon Rin menelungkup.

“Menurut Luhan gege, punggungnya sedikit retak karena dorongan Jongdae ke tembok tadi. aishh, dasar namja itu.” Lay langsung mengelus punggung Yoon Rin sekali. “Jangan ganggu dia. Biarkan dia sadar sendiri.” Kai, Xiu Min, Tao, dan D.O. menatap Yoon Rin yang telungkup. “Dio, buatkan makanan untuknya. Yang kutahu yeoja ini kesini menunggu Chanyeol kan?” D.O. mengangguk, “Ne, hyung. Ah ya, aku tahu harus masak apa.” D.O. langsung pergi ke dapur.

***

PLAK!!!

“NAMJA MACAM APA KAU INI HAH!? APA KAU SEORANG PENGECUT SEHINGGA KAU BERANI MENAMPAR SEORANG YEOJA—BAHKAN MEMBUAT TULANG PUNGGUNG YEOJA ITU RETAK!?”

Chen menunduk diam. Tidak biasanya Kris segalak ini.

“Kris gege, boleh aku berkata sesuatu?” Kris mengangguk, “Silakan, Luhan.”

“Begini. Jongdae?”

***

YOON RIN’S POV

Aku membuka mataku. Tempat apa ini? Ini bukan rumahku. Dan posisiku telungkup. Ini bukan tempat tidur. Ini sofa, tapi bukan sofa di rumahku. Aku langsung bangkit duduk. Tunggu, punggungku tidak apa-apa? Sepertinya tadi aku merasa punggungku retak. Dan ya, sepertinya aku tahu tempat ini.

“Yoon Rin-ssi, syukurlah kau sudah sadar,” suara seorang namja mengagetkanku. Aku menatap namja itu, chakkaman, bibirnya tebal dan potongan rambutnya seperti tentara. “Di… Dio? Dimana aku?”

“Ne, ini aku. Kau dimana? Aishh, kau lupa ya. Ini rumah kosku. Ah, baru dua hari lalu kau kesini mengerjakan tugas bersama Chanyeol hyung.” Oh iya, rumah kos Chanyeol.

“Kau sudah sadar?” Seorang namja dengan T-Shirt putih dan kuperkirakan umurnya sama denganku menghampiriku. Sebentar, ini namja yang kemarin menjawab ‘ke rumah sakit’ dari pertanyaan Baekhyun. “Lay-ssi?”

“Kau tahu namaku? Waah, senangnya,” ujar Lay girang. Kini ekspresinya seperti anak kecil. Lalu datanglah namja dengan baju serba krem didampingi namja babyface berT-shirt putih, dan seorang namja lagi, yang memakai seragam sekolah sama sepertiku, memakai kacamata, Chen.

“Hwang Yoon Rin-ssi,” ujar namja serba krem yang kutahu bernama Kris—si terbang—itu, “Ada yang ingin bicara denganmu. Kalian, pergi dari sini. Biarkan Jongdae dan yeoja ini bicara di ruangan ini.”

Semua meninggalkan ruangan ini. Tinggal aku dan si dingin Chen. Dia mendekatiku dan duduk di sebelahku, “Hwang Yoon Rin…” panggilnya. “Yoonrinnie, mianhae…”

“Apa kata ‘mianhae’ saja cukup untukku?”

***

CHEN’S POV

“Apa kata ‘mianhae’ saja cukup untukku?”

Jleb! Yeoja ini. Apa aku punya banyak salah padanya? Ne, Jongdae! Ne! Aku, pabo namja!

“Itu empat tahun lalu, Jongdae! Empat tahun lalu! Empat tahun lalu aku menyukaimu! Tidak untuk sekarang! Anhi!”

Aishh, terus saja kalimat Yoon Rin tadi terngiang di telingaku. Aku benar-benar namja yang bodoh! Aku sangat menyesal untuk empat tahun yang lalu. Menyia-nyiakan seorang yeoja yang selalu riang demi noona cantik yang ternyata hanya memanfaatkanku sebagai bahan pelarian dan tiga bulan kami berhubungan dia memutuskanku dan kembali dengan mantannya, namja yang masih dia cintai.

“Yoonrinnie…” Aku menatap Yoon Rin tajam. Yoon Rin balas menatapku. Dia tidak menjawab sama sekali. Yoon Rin, Hwang Yoon Rin. Saat itu kau sudah merentangkan kedua tanganmu dan siap memelukku setelah kau senang dengan kado ulangtahun dariku. Dan saat itu aku sudah menunggu momen itu. Tapi kau menahan diri, aku tahu itu. Aku menatap matanya tajam, dan dalam. Dan aku langsung memeluk tubuhnya erat.

“Yoonrinnie, mianhae. Aku benar-benar namja yang bodoh! Tidak, aku minta maaf bukan hanya untuk tadi karena aku menarik paksa dirimu, memarahimu, mendorong paksa ke tembok, bahkan menamparmu. Aku bukan namja yang baik, Yoonrinnie! Aku juga ingin minta maaf atas perlakuan dinginku padamu. Tidak, ini bukan salahmu yang memulai bersikap dingin padaku. Aku pantas mendapatkannya karena aku memilih yeoja lain daripada kau. Dan hobbae yang sekarang, dia hanya meminta ciuman dariku saja. Dia bukan yeojachinguku sama sekali.”

Aku langsung melepas pelukanku, aku memegang pundak Yoon Rin. Yoon Rin tercengang menatapku tanpa mengucap sepatah katapun. Aku semakin menatapnya lekat, “Yoonrinnie, ini yang ingin kuucapkan empat tahun lalu. Saranghae, Hwang Yoon Rin.”

***

YOON RIN’S POV

“Yoonrinnie, ini yang ingin kuucapkan empat tahun lalu. Saranghae, Hwang Yoon Rin.”

DEG! Detak jantung ini? Empat tahun lalu aku pernah merasakan ini terhadap orang yang kini sedang menatapku untuk minta maaf, bahkan, dia bilang ‘saranghae’ padaku. “Jongdae? Mwo?”

“Saranghae, Yoonrinnie! Saranghae! Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri! Aku serius! Sejak empat tahun lalu, hingga sekarang, kata inilah yang ingin kuungkapkan padamu. Sikap dinginku, ah, tidak bisa, aku tetap… mencintaimu!”

Aku menatap Chen bingung, “Jongdae?”

“Serang aku kalau kau membenciku! Kau juga ingin meremukkan kacamataku kan? Silakan!”

Aku terdiam sesaat. Lalu tangan kananku bergerak ke kacamata yang dipakai Chen dan memegang gaganganya. Aku langsung menarik paksa kacamata yang dipakainya. Dan langsung kutaruh di meja depan sofa tempat kami duduk. Aneh, aku jadi tidak niat untuk menghancurkan kacamatanya.

“Wae? Kenapa kau taruh di meja? Bukannya kemarin kau bilang ingin menghancurkan kacamataku?” tanya Chen. Dengan cepat aku menggeleng, “Anhi. Kau tahu? Ternyata, kau lebih tampan kalau tidak pakai kacamata.” Aku tersnyum padanya.

“Mwo? Jinjja?” tanya Chen. Kini dia tersenyum, senyum lebarnya yang khas itu, aishh. Aku mengangguk.

“Kalau begitu, apa jawabanmu tadi? Umm pertanyaan—oh tidak, pernyataannya kuulang, Yoonrinnie, saranghae!”

“Walaupun kau berhubungan dengan banyak noona-noona, walaupun aku memutuskan untuk bersikap dingin, dan membencimu, ternyata… Hah… nado saranghae, Jongdae.” Setelah kalimat itu terucap langsung saja bibirku menempel sesuatu. Yah, bibirnya, bibir Chen. Aniya! Apa-apaan ini! Namja yang empat tahun kubenci ini, kini aku berciuman dengannya. Ah, aku tidak bisa menolak ini. Ya, aku benar mencintainya. Perbuatan dinginku padanya, tetap tidak bisa membohongi diriku sendiri. Yah, aku masih mencintainya.

***

AUTHOR’S POV

“Ya! Kau Jongdae! Lama seka… HUWAAAA!!!” Xiu Min langsung menutup matanya melihat Chen dan Yoon Rin sedang berciuman. “Bukannya, kalian, bertengkar?”

Yoon Rin dan Chen melepas ciuman mereka. Chen tersenyum, “Bertengkar? Aku lupa. Yoon Rin, memangnya kita bertengkar?” Yoon Rin hanya menundukkan kepala, wajahnya memerah. Lalu datanglah Kris dan Luhan. Mereka berdua tertawa, “Hahaha… Jongdae dongsaengku ternyata…” ujar Kris dan dilanjutkan kembali tertawanya.

“Kyaa! Yoonrinnie! Tak kusangka kau malah mencintai namja yang kau benci! Jongdae, kau berbohong rupanya!”  kini Chanyeol datang menyusul, diikuti Tae Hee, “Yoon Rin, ternyata kau pembohong! Kau tidak membenci Chen!” Lalu semua namja di rumah itu muncul. Yoon Rin kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya, bersembunyi di balik Chen yang berdiri.

“Kalian? Ini kan urusanku!” ujar Chen. Baekhyun tertawa, “Haha, kalau ada Luhan hyung semua menjadi urusan umum.” Dan semua pun tertawa.

“Yoonrinnie, ternyata kau tersengat sambaran petir dari Chen. Petir cinta!” ujar Chanyeol yang disambut dengan suara ‘ooh’ dari yang lain. Yoon Rin melihat jam dinding lalu terkejut, “Aigoo… sudah jam 6. Otthoke? Aku akan diomeli orangtuaku!”

“Tenang saja Yoon Rin noona,” ujar Tao. “Aku bisa mengurus urusan ini. Eonni, setelah semua berubah, cepat kembali ke rumah.” Yoon Rin hanya mengangguk. Tao menghampiri Yoon Rin, “Berdiri di hadapanku. Yoon Rin menurutinya. Tao menarik napas lalu menjentikkan jarinya, “Empat jam yang lalu.”

***

YOON RIN’S POV

Jam 2 siang. Itu yang kulihat di jam dinding rumah kos Chanyeol dan teman-temannya. Aku langsung mengambil ranselku dan berlari keluar dari sini, menuju rumah.

Aku sampai di rumah. Eomma sedang pergi bersama dongsaengku, itu kata notes yang dipasang di kulkas, ditulis dongsaengku. Aku langsung pergi ke kamar dan ganti baju. Aku langsung tidur.

***

“Neoui sesangeuro yeorin barameul tago
Ne gyeoteuro eodieseo wannyago”

Aku terbangun dari tidurku, “Yoboseyo?”

Ya! Yoonrinnie-ah! sudah sepuluh kali aku menelponmu tidak kau angkat juga. Kau kemana hah?

“Aku? tertidur, hehe. Mianhae.”

Tertidur? Uh dasar kerbau! Aku benar-benar merindukanmu, Yoon Rin!

“Eoh? Hoo, nado, Jongdae!”

Saranghaeyo, Yoonrinnie!

“Nado, Jongdae oppa!”

Telepon ditutup. Dari Chen, musuh, oh bukan, namjachinguku. Ne, walaupun Tao sudah membalikkan waktu jadi empat jam yang lalu, aku tetaplah aku yang sekarang. Sekarang aku bukan pembenci namja bernama Kim Jong Dae atau Chen lagi. Sekarang aku yeojachingunya. Aku menatap rak buku. Disitu ada buku Harry Potter 7, pemberian Jongdae empat tahun lalu, yang tak pernah kusentuh sejak Jongdae jadian dengan Yoon Ah eonni. Aku memegang buku itu lagi dan membukanya. Untung saja aku sudah selesai membaca sebelum aku tak pernah menyentuhnya kembali. Sekarang aku bisa menyentuhnya entah sampai kapan.

“Neoui sesangeuro yeorin barameul tago
Ne gyeoteuro eodieseo wannyago”

Ah, namja itu lagi, “Yosoboseyo? Ye? Apa lagi?”

“Yoon Rin! Kerjakan PR Matematikamu!” Matematika? Aigoo… Aku memnepuk kepalaku sendiri. “Aish, aku lupa! Dan ya! Aku bingung bagaimana cara mengerjakannya! Aku tidak mengerti, Jongdae-ah. Meurutku soalnya susah.”

Suara orang yang menelponku–Chen–menghela napas berat. “Cha, apa aku harus turun tangan membantumu?”

“Eoh? Membantumu? Tapi bagaimana bisa? Pulsamu?”

“Mau tidak?” Suara itu bukan berasal dari telepon lagi. Terdengar lebih jernih sekarang. Chakkaman! Aku langsung mencari sumber suara. Kubuka goden jendela dan memandang keluar, tidak ada. “Jongdae-ah?”

“Mau tidak?” Aku langsung menoleh ke belakang. Omona! Aku langsung terloncat saat melihat ternyata ada seorang namja yang tersenyum padaku menggunakan sweater hitam. Wajahnya yang kotak dan senuyuman lebar yang khas. Chen! Dia menggelengkan kepala, “Hah? Bahkan mengeluarkan bukunya saja belum. Ini sudah setengah sembilan malam, Yoonrinnie! Jangan begadang lagi!”

Aku terperangah, “Neo? Wae? Kenapa kau bisa disini? Di kamarku?” Chen terkekeh, “Kau tidak ingat namja bernama Kai kan? Dia yang mengantarku langsung kesini.”

Aku meletakkan handphoneku di rak buku. Aku langsung menimpuk Chen tepat di kepalanya dengan novel Harry Potter pemberiannya yang masih kupegang. Dia terhuyung dan jatuh. “Nappeun namja! Kurang ajar! Masuk kamar yeoja sembarangan! Mana Kai? Kai! Kai! Bawa Jongdae pulang!”

Chen mengusap kepalanya. Dia bangkit, terkekeh kembali, “Tidak ada efeknya, Yoonrinnie. Jongin sudah pulang. Aku akan memanggil Jongin kalau sudah selesai. Dan ah, aku lupa membawa handphone!”

“Kalau begitu pakai punyaku!”

“Shireo!” ujarnya. Chen mendekatiku, “Keluarkan buku matematikamu. Kau tidak ingin dihukum Kyuhyun seonsaengnim lagi kan? Ppali! Aku akan mengajarimu sekarang. “

 ”I lost my mind
Noreul choeummannasseultte
No hanappego modeungoseun Get in slow motion
Nege marhejwo ige sarangiramyon
Meil geudewa
Sumaneun gamjong deureul lanwojugo bewogamyo
Ssaugo ulgo anajugo
Nege marhejwo ige sarangiramyon”

-THE END-

kyaa! Fanfic macam apa ini!? Jelek banget! Author mau muntah! Bagaimana readers? Apa mau muntah bareng author juga?

Halo

Posted: April 25, 2012 in halo

Annyeong haseyo!!!

Naneun ‘hakaer’ imnida! Penulis sekaligus yang punya blog ini. Nama asli tidak diberitahu karena saya tahu pasti ada yang tahu nama asli saya. *penting gitu

Sebelumnya saya mau bilang terima kasih kepada kalian semua yang setia baca blog saya (yah walaupun gw tahu yang paling setia itu sih ‘itu’ dan gw gatau berapa orang yang udah baca blog gw). Saya masih tidak menyangka ternyata masih ada yang mau baca tulisan dari hasil khayalan saya yang aneh-aneh, bahkan ada yang bilang bagus (mungkin mereka pas baca matanya sayup-sayup). Saking anehnya saya jadi malu buat baca ulang tulisan yang udah dipublish.

Udah tiga ff yang saya publish:
1. When Love Must Choose yang ceritanya amburadul banget.
2. ‘Not-Yet’ Part yang terus gantung dan gak bakal ada habisnya.
3. What is It yang ceritanya aneh dan belom selesai.
Semuanya berchapter. Mian author belom bisa bikin oneshoot. Abis khayalannya berseri mulu sih. Ntar kalo oneshoot panjang banget kashan readersnya. Eh giliran berchapter jadi ancur.

Nah maka dari itu gw minta maaf banget ya kalo ceritanya ancur, aneh, dan gak masuk akal.

Jadi, bagaimana pendapat readers terhadap blog ini? Share ya, biar semangat. Hehe.

What is It? [11]

Posted: April 25, 2012 in Uncategorized
Tag:

“SIALAN! TERKUTUK KAU!”

Dasar sajangnim sialan! Keterlaluan sekali! Jadi dia meminjamiku mobil karena ini? Rutukku dalam hati. Tahu begitu aku kesini naik bis saja. Jungsoo sialan! Terkutuk kau! Jadi aku yang harus mengisi bensinnya? Paboya! Untung saja masih bisa untuk berjalan beberapa meter. Ah, semoga saja di dekat sini ada pom bensin. Kujalankan mobilnya keluar gedung menuju pom bensin terdekat.

Dan untung saja 500 meter dari kepolisian ada pom bensin.

“Selamat siang, agassi. Bisa saya bantu?”

“Umm, isi bensin…” Aku mengeluarkan satu-satunya uangku yang ada di dalam kantong. 2000 won, pas untuk satu liter. “…satu liter saja.”

“Baiklah, agassi.” Petugas pom bensin itu langsung mengambil selang dan memasukkan selangnya ke dalam lubang untuk mengisi bensin di mobil. Aku melihat layar di mesin pengisi. Sudah 1 liter, dan harganya 2000 won! Pas!

“2000 won, agassi.”

Dengan sedikit berat hati kukeluarkan satu-satunya uang yang kubawa, 2000 won. “Ini uangnya, kamsha hamnida.”

“Cheonmaneyo.”

Dan aku pergi menuju kantor.

***

AUTHOR’S POV

“SAJANGNIM! AKU MINTA DUA RIBU WON SEKARANG JUGA!!!”

Teriakan Hyerin membuat Leeteuk, Kyuhyun, dan Jinki terkejut. “Hyerin! Bisakah kau memelankan suaramu!?” omel Leeteuk. Hyerin langsung menghampiri meja Leeteuk, “Mianhae sajangnim! Tapi aku ingin 2000 wonku kembali. Kau bertanggung jawab atas hilangnya uangku!”

Leeteuk mengerutkan keningnya, tetap duduk di kursinya, “Hilang? Ya! Kau kira aku ini pencopet apa!? Aku tidak sudi mencuri uangmu!” Hyerin menyeringai, “Jungsoo sajangnim, aku minta uangku kembali, karena uangku sudah kupakai untuk mengisi bensin mobilmu. Aku hanya ada 2000 won di kantong celana dan itu sudah kupakai untuk mengisi 1 liter bensin untuk mobilmu.”

“Ooh itu, kenapa kau tidak bilang dari tadi. Mian aku lupa ternyata bensinku habis. Sebentar.” Leeteuk merogoh isi kantong celananya lalu mengeluarkan selembar 2000 won dan memberikannya pada Hyerin, “Ini untukmu. Sekarang, apa yang kau temui disana?”

Hyerin mengehela napas, “Sepertinya tidak ada, sajangnim. Aku gagal.” Sontak saja Kyuhyun dan Jinki teriak bersamaan, “MWO!?” Hyerin mengangguk, “Ne, datanya, tidak ada hubungannya.”

“Maksudmu? Ah, kau saja belum memberitahu kami,” ujar Leeteuk. “Oke, kali ini akan aku jelaskan. Sajangnim, bluetooth komputer kau aktifkan kan?” Leeteuk mengangguk, “Ne, waeyo?” Hyerin hanya diam saja. Tiba-tiba muncul balon notifikasi di taskbar menu komputer Leeteuk.

“Terima saja permintaannya,” ujar Hyerin. Leeteuk pun mengikuti perintah Hyerin. Lalu muncullah sebuah file. Leeteuk langsung membukanya. Ternyata sebuah foto, “Mwo?” Kyuhyun dan Jinki menghampiri meja Leeteuk dan ikut melongo, “Mwo?”

“Ne, itu data diri dari Anh Yoon Jung. Aku memotretnya saat di ruang arsip,” kata Hyerin. Ternyata foto itu kiriman dari Hyerin yang dikirim dari handphonenya melalui buetooth.

“Kau memotretnya? Chakkaman, bukannya yang kutahu di sana tidak boleh memotret arsip apapun?” tanya Jinki. Hyerin tersenyum, “Apa salahnya melanggar peraturan. Ayolah, ini kan untuk kebaikan.”

“Lalu kenapa kau gagal, Hyerin?” tanya Leeteuk. Hyerin menunjuk ke tanggal lahir Yoon Jung di fotonya, “Tanggal lahirnya, sepertinya aku salah. Tidak, bahkan bukan aku yang salah. Kurasa kepolisian telah melakukan kesalahan lebih tepatnya.” Kyuhyun pun angkat bicara, “Kesalahan? Kepolisian maksudmu? Kesalahan apa?”

“Ye, disitu tertulis tanggal lahirnya ternyata 31 Oktober 1971, tidak sesuai dengan simbol yang ada di kertas kematian Kim Heechul,” jawab Hyerin. Leeteuk menyipitkan matanya, “Aigoo Hyerin-ya, kau ini bicara apa sih? Aku semakin tidak mengerti.” Hyerin terdiam sesaat, tetapi dia langsung menepuk kepalanya sendiri, “Omona! Aku tidak bawa laptop. Kamera SLR Heechul ada di rumah. Ah, ini semua karena datang kepagian.”

“Ya sudah kau pulang saja,” kata Leeteuk. “Dan bawa laptop beserta kamera SLR kemari. Kyuhyun,  antar dia ke apartemennya.” Kyuhyun menghela napas, “Aku lagi? nasib menjadi anak buah,” gumamnya. Hyerin dan Kyuhyun pun bersiap keluar ruangan. Tetapi tiba-tiba ada seseorang datang memasuki ruangan kami. “Ah, Young Woon-ssi.” Mereka berempat membungkukkan badan ke orang yang bernama Young Woon, Kim Young Woon, kepala Badan Intelejen Korea.

“Ah, kalian. Apa kabar?” tanya Young Woon ramah. Yah, walau badannya besar dan galak. Tapi kalau suasananya baik dia bagaikan ayah. “Baik,” jawab kami bersamaan.

“Oh ya, aku ingin mengucapkan, chukkae. Akhirnya kalian kembali bekerja setelah vakum setahun. Maaf. Mungkin ini salahku karena tidak ada pekerjaan untuk kalian waktu itu,” kata Youngwoon.

“Ah, gwenchana, sajangnim,” ujar Leeteuk. “Ini bukan salahmu kok, memang saat itu tak ada kerjaan jadinya kami harus vakum dan mencari pekerjaan lain.”

“Tapi kalian tidak…” Tetapi ucapan Youngwoon langsung disela Hyerin, Leeteuk, Kyuhyun, dan Jinki, “ANHI, SAJANGNIM!!!”

“Ne, kami tidak membeberkan identitas kami sebagai pegawai badan intelejen. Yah kecuali istriku,” kata Leeteuk. Hyerin, Jinki, dan Kyuhyun mengangguk setuju.

“Oh, bagus kalau begitu,” ujar Youngwoon bangga. “Geulonde, bagaimana perkembangan kasus pembunuhan duo Kim itu? Apa sudah menemukan titik terang?”

“Kami sudah mengungkap beberapa petunjuk. Itu semua berkat Hyerin,” jawab Leeteuk. Hyerin terkejut dan melotot ke arah Leeteuk, “Sajangnim, ya! Ini bukan karena aku! Aku hanya…” Tetapi Kyuhyun langsung menyela, “Ne, sajangnim! Selama ini Hyerin yang mengungkap petunjuknya! Kau tahu soal press conference yang diadakan kepolisian kemarin?”

“KYU!” bentak Hyerin. “Teruskan,” ucap Kangin pada Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk, dan kembali melanjutkan, “Ne, kau pasti menonton kan press conference yang diadakan kepolisian kemarin soal kematian duo Kim itu? Dia menunjukkan sebuah kertas yang berisi penuh simbol yang tidak jelas kan?”

Youngwoon mengangguk, “Ah, kertas itu. Tentu saja aku melihat saat dia menunjukannya. Aneh.” Kyuhyun tersenyum, lalu kembali melanjutkan, “Ye, disitu inspektur Siwon menjelaskan semua artinya dengan lancar. Sebenarnya yang mengartikan semua kode itu ada disini sajangnim. Inspektur Siwon hanya perantara.”

“Jinjja?” Youngwoon terbelalak. “Nuguya?” Kyuhyun menyeringai dan jarinya menunjuk ke arah Hyerin di sebelahnya. Leeteuk dan jinki juga ikut menunjuk Hyerin. Hyerin pun risih, “Mwo!? Ya, kalian! Kenapa menujukku!?”

“Jinjja?” tanya Youngwoon ke Hyerin. Hyerin menggaruk bagian belakang lehernya, “Eh, ne, sajangnim, aku yang memecah kode itu. Mian.”

“Mian?” Youngwoon mengangkat alisnya, “Sebuah kebanggaan, Hyerin! Bisakah kau jelaskan ulang padaku? Aku ingin mendengar langsung penjelasan darimu.”

“Ah, mianhae sajangnim bukannya aku lancang,” balas Hyerin. “Tapi aku harus pulang dulu. Aku ingin mengambil kamera dan laptopku. Karena semua dokumen ada disitu. Setelah itu aku kembali,” Youngwoon mengangguk mengerti, “Ooh, araseo. Nanti saat kau kembali segera jelaskan ya. Aku menunggumu.” Hyerin dan Kyuhyun pun keluar dari ruangan.

***

“Hyerin-ah, matamu bengkak,” ujar Kyuhyun saat melihat Hyerin yang hanya menatap lurus tanpa ekspresi. Hyerin menoleh ke Kyuhyun, “Jinjja? Aish, aku lupa minum kopi semalam. Dua hari—bahkan tiga hari—aku kurang tidur.”

“Tidurlah,” kata Kyuhyun yang fokus menyetir. “Istirahatlah. Kalau sudah sampai pasti kubangunkan.”  Hyerin melirik Kyuhyun sesaat, “Baiklah.” Hyerin pun perlahan memejamkan matanya.

***

KYUHYUN’S POV

Aku terus menyetir mobilku menuju apartemen Hyerin. Kulihat Hyerin yang duduk di sebelahku. Matanya sudah tertutup. Ah, tertidur rupanya. Kulihat wajahnya yang kelelahan. Ini pasti pertama kalinya bekerja seharian.

Belum sampai apartemen Hyerin, mobilku mendadak berhenti. Yah, mendadak jalanan menjadi macet.

“IGE MWOYA!?” Aneh, biasanya jalanan ini tidak pernah macet. Aku terjebak bersama mobil dan kendaraan yang lain. Semua orang yang ada di dalam mobil di sekitarku membuka pintunya dan pergi keluar. Haei, kenapa mereka semua keluar?

Dan kulihat mereka mengerumuni sebuah tempat. Sebenarnya ada apa?

“Eungh, Kyu, sudah sampai ya? Kok berhenti?” Hyerin mengerjap-ngerjapkan matanya, dia terbangun. Aku menggeleng, “Anhi, jalanan mendadak macet.” Hyerin melirik ke arah jendela, “Kyu, kenapa semuanya keluar? Bahkan yang ada di dalam mobil ikut keluar.”

Aku menggeleng, “Mollayo.”

“Sepertinya kita juga harus keluar,” ujar Hyerin. “Keluar, buat apa. Seperti orang norak saja ikut keluar,” balasku. Tetapi Hyerin tidak mempedulikan perkataanku. Dia langsung membuka pintu dan keluar. “Aish, yeoja itu,” dengusku kesal. Aku tetap diam dalam mobilku sambil memandang sekeliling lewat jendela. Semakin banyak orang yang keluar dan mendatangi kerumunan itu. Aku tetap di dalam mobil dan menunggu Hyerin.

15 menit kemudian…

Kulihat Hyerin berjalan menuju mobil. Ah, akhirya datang juga anak itu. Dia langsung membuka pintu dan masuk. Wajahnya berbeda, menatapku dan wajahnya tegang. “Kyu…”

“Hyerin-ya? Gwenchana?” Wajahku mendekati wajah Hyerin. Tanganku menggoyang bahunya, “Gwenchana?”

Hyerin diam, dia mengambil handphonenya dan menunjukkan sesuatu padaku. “Kyuhyun-ah…” Aku langsung terbelalak melihatnya, “IGE MWOYA!?” Tiga yeoja, tergeletak secara tragis dengan mengeluarkan air mata yang berdarah. Dua yeoja mengeluarkan air mata sebelah kanan, satunya lagi di sebelah kiri. Terdapat tiga kacamata hitam diantara mereka bertiga. Aku tidak bereaksi apa-apa, hanya diam. Tiba-tiba Hyerin menangis, “Hyerin-ya?”

“Salah satu dari yeoja itu… aku mengenalnya…” kata Hyerin yang masih menangis. “Yeoja yang matanya tidak ada di sebelah kiri itu, dia Kim Hyeoyeon, teman dekatku saat SMA.” Aku kembali melirik fotonya, kuperbesar ukurannya. Aigoo, benar kata Hyerin, tidak ada matanya. Dan yang hilang matanya sebelah kiri itu ternyata teman baik Hyerin, Kim Hyoyeon. Rambutnya diwarnai coklat, pirang, dan tergeletak mengenaskan. Hyerin masih menangis, walau tidak sesenggukkan. Aku jadi iba melihatnya, pelan-pelan, aku memeluknya. Hyerin tetap menangis. “Tenanglah Hyerin…” Sesaat langung kulepas pelukanku.

“Segera ke apartemenku,” ujar Hyerin. Aku menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan ke apartemen Hyerin. kulihat Hyerin sekilas. Dia tidak menangis lagi, matanya menjadi semakin bengkak.

***

“Kalau kau mau minum, ambil saja di dapur. Dipenser ada di sebelah kulkas,” ujar Hyerin. “Ne,” sahutku. Hyerin langsung pergi memasuki kamarnya. Aku tetap duduk di sofa depan TV. Ah TV, pasti ada berita tentang tiga yeoja tadi. Aku langsung mengambil remote yang ada di meja depanku dan kupencet sembarang channel.

“Breaking news. Tiga yeoja secara misterius tergeletak di trotoar di daerah Ilsan pukul setengah satu siang tadi. Ketiga yeoja itu diketahui bernama Kim Hyoyeon, Kim Jaena, dan Kim Minra. Sekarang kita dengar kesaksian dari salah satu saksi mata. Anyyeong haseyo!”

“Ah, annyeong haseyo!”

“Mian, sebelumnya, siapa nama Anda, ahjumma?”

“Ah, aku Kang Minah. Aku penjaga toko ayam disana.”

“Oh, bisa kau ceritakan pada kami apa yang kau lihat, ahjumma?”

“Ah, begini. Tadi aku sedang berjalan menuju tokoku. Tiba-tiba aku melihat tiga yeoja yang memakai kacamata hitam. Awalnya aku tidak menghiraukannya. Tapi tiba-tiba tingkahnya sangat aneh. Semakin lama jalan mereka semakin sempoyongan dan tiba-tiba langsung terjatuh. Orang di sekitar langsung panik, termasuk aku. Aku yang paling dekat dengan mereka langsung mencoba membangunkan yeoja itu. Tapi tiba-tiba darah mengalir dari balik kacamata hitamnya. Aku dan yang lain bingung. Tapi karena aku penasaran kubuka saja kacamatanya. Saat itu juga aku langsung teriak. Ternyata, bola matanya tidak ada. Yang lain juga ikut terkejut. Lalu kubuka kacamata yang lain, sama juga ternyata. Ini aneh.”

“Kamsha hamnida, Minah ajumma. Oh ya, aku lupa memberitahu. Ketiga yeoja itu, kehilangan salah satu bola matanya. Dua yeoja di sebelah kanan, dan satu yeoja di sebelah kiri. Mian, kami tidak bisa meliput keadaan mereka sepenuhnya karena masalah keamanan dan kode etik jurnalistik. Dan saat ini ketiga mayat yeoja tersebut dibawa ke ruang otopsi dan tempat kejadian perkara masih diselidiki oleh pihak kepolisian. Lee Taemin melaporkan dari Ilsan, demikian Breaking News.”

Aku masih berpikir? Apa aku bermimpi? Tiga hari berturut-turut yang aku dengar dan lihat kejadian seperti ini. Aigoo…

“Kyu, kau tidak minum?”

Kulihat Hyerin yang sudah berganti pakaian dan badannya lebih segar dan membawa ransel, “Kau, Hyerin, lama sekali.”

“Aku mandi. Sudah 12 jam lebih aku tidak mandi. Tidak enak rasanya,” ujar Hyerin. Aku bergumam kecil, “Mandi? Ah, sial. Aku membuang kesempatan.”

“YA!!! NAPPEUN NAMJA!!!” Jitakan keras Hyerin membuat kepalaku sakit, “Appo!” Tetapi Hyerin tidak mempedulikannya, dia menjitakku sekali lagi. “Kau kira aku tidak dengar omonganmu hah!? Kaja, kita tidak punya banyak waktu.” Hyerin memakai sepatu ketsnya lalu kami keluar dari apartemen.

***

“Hyoyeon-ah…” gumam Hyerin sambil meratap. “Hyoyeon-ah…”

“Yang sudah tiada biarkanlah tiada. Tidak ada gunanya meratap seperti itu, Kim Hyerin,” ujarku yang tetap menyetir. Kudengar Hyerin menghela napas, “Fuuh… Kyu, apa pelakunya sama?”

“Pelakunya sama?” ulangku. “Maksudmu, sama seperti Heechul dan Kibum? Kupikir begitu. Lima Kim, sebelah mata menghilang.”

“Tapi kenapa tak ada petunjuk lagi ya?” tanya Hyerin bingung. Aku menggelengkan kepala, “Molla.” Hyerin kembali diam, tampak sedang berpikir, lalu kembali membuka suara, “Kyu-ah? Apa sebaiknya aku harus mendatangi otopsi Hyoyeon dulu baru ke kantor?”

Aku langsung menggeleng, “Andwae! Bukan hal yang mudah untuk kesana. Kau harus punya izin, Hyerin. Lebih baik kita ke kantor saja sambil menunggu kabar Hyoyeon dan dua yeoja yang lain itu.” Hyerin terdiam sesaat, lalu mengangguk, “Ah, araseo. Cari-aman.”

***

HYERIN’S POV

“Jadi begitu? Oke, araseo. Tak salah aku merekrutmu sebelum lulus kuliah.”

Ah, syukurlah, sepertinya Youngwoon sajangnim mengerti penjelasanku. “Ah, kamsha hamnida, sajangnim.”

“Bagaimana perkembangan teman SMA-mu itu? Apa keluarganya sudah menengoknya?” tanya Leeteuk padaku soal Hyoyeon. Aku menggeleng, “Molla, sajangnim. Aku hanya tahu sampai dia diotopsi. Aku tidak tahu nomor telepon keluarganya.”

“Aku turut berduka kalau begitu,” ujar Jinki. Aku tersenyum simpul, “Gomawo, oppa.”

“Lima Kim, bukankah itu aneh?” ujar Kangin. Kami berempat langsung menoleh padanya. “Maksudmu?” tanya Leeteuk.

“Ne, tiga hari berturut-turut. Kim Heechul, Kim Kibum, Kim Hyoyeon, Kim Jaena, Kim Minra. Semuanya sama, hilang satu bola mata. Pasti pembunuhnya sama.”

“Hyerin, soal tanggal Yoon Jung tadi, bisa kau jelaskan pada kami sekarang?” tanya Leeteuk. Sebelum aku menjawab, tanpa komando, pintu ruang bagian persandian terbuka. “HYERIN-SSI!”

Aku langsung menoleh dan terbelalak, “Dong… Donghae-ssi? Gwenchana?” Tunggu, Donghae? Sepertinya akan datang kabar buruk lagi padaku. Astaga.

“Kau harus ikut aku sekarang juga!” ujar Donghae. Aku menaikkan alisku, “Ikut? Chakkaman, pasti ke… tempat otopsi tiga yeoja itu.”

“Exactly,” balas Donghae. Aku langsung mengambil kamera SLR ‘curian’, “Tiga yeoja itu, masih diotopsi kan?” Donghae mengangguk.

“Araseo, aku bersedia!” Yeah, ini kesempatan melihat jasad Hyoyeon terakhir kalinya. Hyo-ah…

***

“Hyoyeon-ah!” Aku langsung menghampri jasad Hyoyeon yang telah dibungkus kain. “Hyo-ah, kenapa kau pergi duluan? Hyo-ah, kenapa aku harus melihatmu seperti ini? Hyo-ah, bogoshipo. Sudah lama aku tak bertemu denganmu malah kau meninggalkanku. Hyo-ah…” Tiba-tiba air mataku keluar. Donghae langsung menarikku dari jasad Hyoyeon, “Sudahlah Hyerin-ssi. Tidak ada gunanya meratap. Dia sudah pergi. Doakan saja dia tenang di alam baka.” Aku mengangguk sambil menyeka air mataku, “Ne, gomawo, Donghae-ssi.”

“Sekarang ikut aku, kaja!” Aku menuruti saja apa kata Donghae. Dan tibalah kami di sebuah ruangan. Ternyata orang yang sudah tak asing lagi bagiku tampak menunggu kami. “Hyerin-ya.”

“Ah, annyeong haseyo, Inspektur!” Aku membungkukkan badan padanya. Baru tiga jam yang lalu aku bertemu dengannya di kantor polisi pusat. Sekarang bertemu di tempat terkutuk macam rumah sakit. “Duduklah, Hyerin,” perintah Siwon. Aku menuruti perintahnya dan duduk di hadapannya.

“Sudah lima Kim terbunuh dalam waktu tiga hari berturut-turut di tempat yang tidak berjauhan. Semua masih di daerah Seoul. Dan kelima Kim itu kehilangan sebelah matanya. Ada apa ini sebenarnya?” ucap Siwon. Hah, kau saja tidak mengerti, apalagi aku, inspektur.

“Apa pembunuhnya sama?” gumam Siwon. “Kenapa kau bisa berpendapat begitu, inspektur?” tanyaku. Siwon mengambil tiga lembar kertas yang tergeletak di atas meja lalu memberikannya padaku. “Aku menemukannya di kantong celana mereka. Jenis kertasnya sama seperti yang sebelumnya. Coba dicek.” Aku menerima kertas pemberian Siwon dan melihatnya.

Lembar pertama:

37.29°N 126.38°E

Lembar kedua:

788

Lembar ketiga:

“Jadi, ini kodenya?”  tanyaku. Siwon mengangguk, “Ne. Kau tahu? Namja itu menelpon lagi padaku setengah jam yang lalu. Dia bilang padaku ada selembar kertas putih di setiap kantong celana mereka. Kuturuti saja perkataannya. Dan benar saja, aku menemukan lembaran itu.”

Aku terus menatap ketiga lembaran itu, “Aku jadi semakin bingung pada namja itu. Kalau ingin membunuh bunuh saja, tidak perlu pakai kode seperti ini kan? Sepertinya dia senang sekali membuat pihak kepolisian dan intelejen sibuk.”

“Yah, setidaknya kita tidak menganggur kan?” ucap Siwon asal. Aku tertawa mendengar ucapannya, “Haha, yah daripada menganggur. Tapi di lembar ketiga ini, sepertinya ini menggambarkan jam. Jam delapan.” Siwon ikut melihat lembar ketiga itu, “Ne, aku juga berpikir begitu. Apa jam delapan malam nanti ada sesuatu ya?”

“Kurasa akan ada sesuatu jam delapan nanti di lembar pertama ini,” ujarku. “Sepertinya ini letak astronomis atau koodinat suatu tempat. Ah aku tidak tahu dimana sayangnya. Inspektur, di iPhonemu ada fitur peta kan?” Siwon mengangguk, “Ne, ah iya.” Siwon langsung mengeluarkan iPhonenya, membuka fitur peta, dan mengetik koordinat sesuai isi lembar pertama. Beberapa saat kemudian muncullah sebuah peta dan tanda paku menunjuk pada suatu tempat, “Mwo?”

“Gwenchaneyo?” tanyaku. Siwon memberi iPhonenya padaku dan aku melihat tanda paku di peta itu. “Mwoya?” Tanda paku itu menunjuk ke kota yang sangat tidak asing bagi kami. Incheon. “Apa mungkin… tapi lembar kedua ini?”

“Ah, mian, apa aku boleh mengatakan sesuatu?” tanya Donghae yang ternyata juga ikut melihat tiga lembaran aneh ini. Siwon mengangguk, “Silakan, Donghae.” Donghae tersenyum, “Kamsha hamnida, inspektur. Sepertinya aku tahu arti dari lembar kedua itu.”

“Jinjja?” tanyaku. “Ne,” jawab Donghae, “778, bukankah itu kode untuk negara kita, Korea Selatan, tapi aku lupa kode apa. Yang jelas 778 itu Korea Selatan.” Mataku melebar, “Jadi…” Siwon langsung merebut iPhonenya dari tanganku dan terlihat memencet sesuatu. “Yoboseyo. Ne, hyung, ini aku Choi Siwon. Perketat keamanan di seluruh Incheon, dari sekarang. Aku akan kesana segera.” Siwon menutup teleponnya, “Hyerin, kau boleh kembali sekarang. Terima kasih telah membantuku. Donghae, antarkan dia ke kantornya.” Donghae membungkukkan badan ke Siwon, “Siap, inspektur. Hyerin-ssi, kaja.”

***

“Kalau ingin menyelesaikan masalah dengan benar, hanya satu caranya: selesaikan dari awal.”

Entah kenapa tiba-tiba aku teringat kembali perkataan mendiang appaku itu. Dia selalu mengucapkan kalimat itu saat aku merasa sedih pada waktu itu. Tapi kenapa harus kepikiran? Apa… ada kaitannya dengan kasus ini? Jadi, harus menyelesaikannya dari awal, dari akar masalah ini? Tapi darimana, semua petunjuk tidak ada kaitannya dengan awal masalah. Tidak harus benar-benar di awal, setidaknya dimana pertama kali ada masalah ini.

“Donghae-ssi, bawa aku ke apartemen Kim Heechul. Jigeum!” ujarku. Donghae menatapku bingung, “Wae? Sebentar lagi kita akan sampai ke kantor Anda, Hyerin-ssi.”

“Jebal…” aku memohon. Donghae mengangguk, “Oke kuturuti permintaanmu, Hyerin-ssi. Karena inspektur menyuruhku untuk melindungimu.” Aku langsung mengirim SMS ke Leeteuk, Jinki, dan Kyuhyun.

Ke apartemen Kim Heechul, sekarang.

***

“Hyerin-ssi. Sebenarnya apa yang akan kau cari?” tanya Donghae bingung saat kami berlajan menuju kamar Kim Heechul. Aku mengangkat kedua bahuku, “Molla. Tapi otakku yang menyuruhku untuk kesini.” Donghae langsung membuka pintu apartemen Heechul.

“Kyu? Oppa? Sajangnim?” Aku membelalak. Ternyata mereka bertiga sudah sampai duluan. “Hai, Hyerin,” sapa Jinki sambil melambaikan tangan padaku. Aku membalas lambaiannya, “Ah, hai oppa.”

“Kenapa kalian bisa masuk?” tanya Donghae bingung. Kyuhyun menyeringai, “Harusnya kami yang bertanya kenapa kami bisa masuk. Ternyata kami hanya tertipu garis polisi. Saat kita coba buka pintunya ternyata tidak dikunci sama sekali. Bahkan tidak ada yang menjaga.” Leeteuk mengangguk, “Ne, tidak dikunci, tidak ada penjagaan. Bukannya tempat ini masih penting untuk diselidiki? Soalnya sebab kematian saja belum begitu jelas, apalagi pembunuhnya juga belum tahu siapa.”

“Ah, kalau soal itu, maafkan pihak kami, seogsa,” ujar Donghae sambil membungkukkan badan. “Aku tidak tahu apa-apa kalau soal penjagaan ini.”

“Cha, itu bukan urusan kami sebenarnya. Aku hanya asal bicara, haha,” balas Leeteuk. “Hyerin-ya, sekarang, kenapa kau membawa kami kesini?”

“Oh itu,” jawabku. Aku menundukkan kepala, “Tiba-tiba aku teringat perkataan mendiang appaku, kalau menyelesaikan masalah harus dari akarnya. Awalnya aku bingung dimana akar permasalahannya, secara petunjuk-petunjuk itu belum terlalu jelas arti sebenarnya. Tapi menurutku disinilah awal dari masalah ini. Karena pertama kali masalah lima Kim terbunuh itu ada disini. Di apartemen Kim yang pertama, Kim Heechul. Dan disinilah Kim Heechul terbunuh.” Mereka bertiga, serta Donghae, mengangguk mendengar penjelasanku. “Jadi, karena itu kau membawa kami kesini? Alasan yang bagus,” ujar Leeteuk, “Sekarang, apa yang harus kita lakukan?”

“Obrak-abrik saja semua ruangan ini,” ujar Kyuhyun, “Siapa tahu ada yang berguna untuk penyelidikan ini, kan?”

“Semua?” Jinki mengerutkan dahi, “Membuang waktu. Tapi ide yang bagus. Oke, semua menyebar. Kau,” Jinki menunjuk Donghae, “Akan lebih baik kalau kau juga ikut membantu kami.” Donghae mengangguk, “Kebetulan tidak ada lagi yang harus kulakukan hari ini. Oke, aku ikut membantu kalian.”

Dan kami mengobrak-abrik apartemen Heechul selama hingga jam lima sore. Kami berkumpul di ruang tengah. Aku, Jinki, Leeteuk, dan Donghae tidak menemukan apa-apa tetapi Kyuhyun terlihat memegang sebuah buku kecil yang tebal bersampul coklat. “Lihat apa yang kutemukan,” ujar Kyuhyun dengan seringai khasnya. Aku menatapnya aneh. Itu hanya buku, dari tadi juga aku melihat banyak buku. Apa istimewanya buku itu.

“Ini buku harian Kim Heechul,” ujar Kyuhyun. Serentak kami langsung mengerumuninya. Dan membaca tiap halamannya. Beberapa halaman tidak terlalu penting, hanya laporan kegiatannya dan perjalanannya sebagai jurnalis, tetapi saat membuka halaman-halaman berikutnya.

24 April

Hari yang sangat melelahkan. Tetapi hari yang sangat aneh juga bagiku. Kali ini aku bertugas untuk menemui dan mewawancarai seseorang yang akan bebas dari penjara tanggal 26—seseorang yang sudah lama tidak kutemui sejak 14 tahun yang lalu, sahabatku sendiri. Yeoja yang sangat baik, sebelum hidupnya diubah oleh namja sialan itu, Lee Seungho.

Anh Yoon Jung.

Hampir seluruh warga Korea Selatan pasti tahu yeoja ini dan tahu apa yang dia lakukan pada Seungho. Ya, dia membunuh Seungho berkeping-keping sampai aku tidak mengenali jasad Seungho sekalipun. Semua orang mengenal Yoon Jung sebagai orang yang sangat kejam. Tetapi tidak untukku, dia yeoja yang sangat baik. Oke, dia memang seorang wanita malam. Tetapi ada alasan kenapa dia harus melakukan itu.

Pada saat itu keluarganya dililit hutang, aku tahu betul hal itu. Aku ingin sekali membantunya, tetapi saat itu aku hanyalah seorang freelance, yang baru mendapat uang jika artikel yang kutulis bagus. Yoon Jung terpaksa menjadi seperti itu untuk membantu orangtuanya. Hanya aku dan si rabies yang mengetahui hal itu. Dan disitulah dia bertemu dengan namja yang bernama Lee Seungho. Seungho bukanlah salah satu pelanggannya. Seungho adalah seorang bartender yang selalu Yoon Jung tempati tiap malam untuk menunggu pelanggannya. Aku memang tidak tahu persis kenapa. Tapi dia selalu cerita tentang namja itu. Namja itulah yang selalu menyuruhnya berhenti dari pekerjaan terkutuk itu dan harus mencari pekerjaan yang lebih baik. Yoon Jung selalu mengabaikannya. Tetapi hal itu membuat Seungho tidak pernah menyerah untuk menasehatinya. Lama-kelamaan, yah seperti drama saja. Aku tidak tahu persis bagaimana.

Saat itu, yah pada saat itu. 30 April 1997. Hari yang buruk bagi Yoon Jung juga nasib yang buruk bagi Seungho. Media memberitakan bahwa Yoon Jung adalah seorang wanita malam yang kejam. Hahaha, padahal sebenarnya dia bukan wanita malam lagi. Dia sudah menjadi penjaga sebuah toko bunga. Entah kenapa mereka (wartawan) suka membohongi publik (hei, aku tidak termasuk!). Hanya aku dan rabies yang tahu.

Yoon Jung langsung ditangkap, waktu itu selingkuhannya Sungho langsung menelpon polisi dan Yoon Jung tidak bereaksi apa-apa, pasrah. Saat itu dia langsung sadar dan menangis memeluk tubuh Seungho yang sudah dia buat jadi berkeping-keping itu (aneh, apa itu yang namanya cinta? ‘o’). Dan saat itulah jiwanya menjadi terganggu.

Saat aku datang ke penjaranya, dia sedang membaca buku, hobinya. Senangnya dia masih ingat denganku dan menanyakan kabar rabies juga. Dan aku kesana hanya ingin mewawancara bagaimana rasanya sebentar lagi bebas. Dia hanya bilang dia bahagia bisa menghirup udara segar sebentar lagi. Saat aku tanya tentang Seungho, tiba-tiba dia berubah. Dia menangis sejadi-jadinya dan meratapi perbuatannya dulu. Hmm, aku langsung keluar dari tempat itu dan aku merasa sangat bersalah padanya. Yoon Jung-ah, mianhae.

Aku menutup mulutku setelah membacanya, “Jadi?”

“Ayamku!” celetuk Jinki. Aku langsung menjitak kepalanya, “Ya, kau, oppa! Apa tidak ada makanan lain selain ayam hah!?” Jinki terkekeh, “Mian, Hyerin. Ayam adalah sebagian dari hidupku. Aku memelihara ayam, ayah mertuaku punya peternakan ayam, ayahku punya toko ayam, makanan favoritku ayam, dan oh iya nanti akan kubelikan bayiku boneka ayam.” Aku menganga dan membentuk wajah jelek, “Terserahlah, oppa.” Tiba-tiba Kyuhyun menutup mulutnya, “Jadi?”

“Ikanku?” Kali ini Donghae yang menyahut. Aku menatapnya sinis, “Donghae-ssi?” Donghae langsung menutup mulutnya dan membukanya kembali, “Ah mianhae aku keceplosan. Aku teringat kembali julukanku dulu kecil. Aku dulu atlet renang terkenal di daerahku, Mokpo, saat SMP.” Aku kembali memasang wajah jelek, tapi kali ini untuk Donghae, “Terserahlah.”

“Jadi, Heechul ini, sahabatnya Yoon Jung?” ujar Leeteuk. Jinki mengangguk, “Yah menurut buku hariannya begitu. Tak kusangka.”

“Apa masih mungkin pembunuhnya dia?” sahutku. Leeteuk menatapku, “Maksudmu, Hyerin?”

“Ne, coba lihat saja. Heechul adalah teman dekat Yoon Jung. Di buku hariannya tidak ada kata atau kalimat yang berhubungan dengan ‘permusuhan’ atau ‘pertengkaran’ sekalipun. Kalian membacanya kan?” jelasku. Donghae langsung mengambil buku hariannya dan membalik ke halaman berikutnya. “Hei, masih ada tulisan lagi. Mungkin saja ada jawabannya.”

25 April

Tulisanku tentang wawancara dengan Yoon Jung dipublikasikan. Yap, semuanya sesuai dengan wawancara yang kulakukan kemarin dengannya. Kecuali yang menyangkut tentang Seungho, ada sedikit kebohongan di tulisan itu. Yah, aku memang sengaja membuatnya. Tentu saja untuk keselamatan, keselamatan sahabatku sendiri.

Di koran Seoul Times tertulis Yoon Jung bilang dia tidak mau menjawab pertanyaan tentang Seungho. Padahal kalau pembaca lain tahu yang sebenarnya—mungkin yang tahu hanya aku, sipir yang berjaga disana, rabies, juga, tentu saja Tuhan (aku tidak terlalu atheis)—pasti akan menjadi kehebohan yang sangat besar. Tentu saja aku tidak mau menyakiti sahabat sendiri, kan?

Malamnya, seperti biasa, aku berada di kedai kopi bersama rabies. Juga bersama Chaerim tunanganku.

Setelah itu aku membaca halaman sebelahnya. Aku tidak tahu yang lain sudah membaca sampai mana.

26 April

Yippie ^^ hari yang sangat kutunggu. Aku bangun pagi dengan semangat. Kau tahu? Yeah, ini memang hari Kamis. Tapi hari ini, YOON JUNG BEBAS! Kkeung! Kkeung! *efek suara. Sayang sekali aku tidak bisa melihatnya langsung karena pekerjaan. Aku harus mencari informasi tentang aliran dana Kim Joo Myuk, kepala direktorat pajak. Hah, muak juga ya mencari kabar korupsi terus.

Selesai kerja aku berencana ke rumah Yoon Jung untuk melepas rindu. Aku mengajak rabies untuk kesana, tapi dia tidak bisa karena hari ini dia benar-benar sibuk (makanya jangan punya dua pekerjaan). Sepulang kerja aku langsung menyetir ke rumah Yoon Jung di daerah Apgeujong jam 6 sore.

Saat aku ke rumahnya, ramai sekali! Banyak polisi berjaga di sekitar rumahnya. Hah mungkin karena dia baru bebas beberapa jam yang lalu. Tapi memang kemana orangtuanya? Aku turun dari mobil dan berjalan ke rumahnya. Tetapi saat hampir sampai di pagar aku sudah dicegat oleh polisi. Aku tidak boleh masuk sama sekali walaupun aku ini jurnalis terkenal yang tampan *-* dan teman dekatnya Yoon Jung tetap saja tidak boleh masuk. Aku sangat kecewa. Dasar polisi! Dan aku langsung mampir ke kedai kopi bersama rabies. Rabies baru saja pulang kerja. Dia hanya tertawa mendengar ceritaku yang ditolak polisi masuk ke rumah Yoon Jung dengan alasan aku wartawan tampan. (Hei kalau aku tidak tampan tidak mungkin Chaerim jatuh cinta padaku).

Donghae membalik halamannya. Kosong. “Mwo? Tidak ada lagi. Hanya sampai 26 April.”

“Dia terbunuh 2 Mei,” ujarku. “Perasaanku, tidak mungkin kalau yang membunuh itu Yoon Jung.” Kyuhyun mengangguk setuju, “Kurasa juga begitu. Berdasarkan buku harian ini, tidak ada sesuatu yang buruk antara mereka berdua.”

“Chakkaman,” ujar Jinki, “Siapa itu rabies? Tidak mungkin kan itu anjingnya. Pasti itu seseorang.” Semua terdiam sejenak. “Kurasa aku tahu siapa yang bisa menjawabnya,” kata Leeteuk.

“Nuguya?” tanyaku. Leeteuk menyeringai, “Tunangannya, Chaerim. Kurasa dia bisa menjawabnya. Hei kau…” Leeteuk menunjuk Donghae.

“Lee Donghae imnida,” jawab Donghae. “Ya, kau, Donghae-ssi. Apa pihak kepolisian waktu itu meminta kesaksiannya?” Donghae mengangguk, “Ne. Tapi dia terburu-buru karena setelah wawancara dia harus pergi bersama keluarganya ke New York.” Kami mengangguk mengerti tiba-tiba saja perutku berbunyi.  “Uups, aku lapar ternyata. Mianhae.”

“Ya sudah. Aku traktir kalian di restoran ayam milik ahjummaku!” ujar Jinki riang. Kami menganga, termasuk Donghae. Mwo? Ayam? Jinki oppa, jangan-jangan nenek moyangmu adalah ayam. Tetapi tentu saja tidak kutolak. Traktir! “YIPPPIIEEE!!!” teriak kami semua.

“Apa aku boleh ikut?” tanya Donghae. “Tentu saja, Donghae-ssi!” jawab Jinki riang.

“Chakkaman, bagaimana soal…” tanya Leeteuk, tetapi Jinki langsung memotongnya. “Sudah kita tunda dulu. Ini sudah jam setengah delapan malam. Perut kalian lebih penting.” Leeteuk mengangguk, “Ne, lagipula ini gratis. Oke kita bawa buku hariannya.”

“Huh, sajangnim pelit!” ujarku. Sebuah jitakan dari Leeteuk pun melayang padaku, “KIM HYERIN! KUPOTONG GAJIMU!” Aku mengeluarkan lidah, “Yang membagi gaji kan Youngwoon sajangnim!” Wajah Leeteuk memerah karena malu. Dan semua tertawa. Kami keluar dari apartemen Heechul menuju restoran ayam milik ahjummanya Jinki.

***

“Umm, mashitaaa!!!” ujar Kyuhyun sambil menimati ayam panggang pedas di restoran ahjumma Jinki.

“Ne, jeongmal mashitaaa…” sambungku sambil mengacungkan jempol.

“Hei! Makan makan saja! tidak usah berisik! Kalian sudah besar!” omel Leeteuk. Donghae hanya tertawa melihat kami. Jinki datang sambil membawa ayam goreng. “Untuk kalian!”

“Wah, baiknya,” ujarku. “Sering-seringlah kau traktir kami, hyung!” ujar Kyuhyun.

“HUSS!!!” omel Leeteuk lagi. Donghae tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah kami, “Kalian akrab ya. Aku jadi iri.”

“Ah tidak, ini karena hanya kami saja pegawai persandian,” ujar Leeteuk. “Dan kami juga sudah setahun tidak seperti ini.” Kyuhyun, Jinki, dan aku mengangguk setuju. Tiba-tiba saja mataku tertuju pada pintu masuk. Disitu ada seorang namja yang masuk seorang namja memakai kemeja putih dan vest abu abu serta dasi hitam juga celana hitam serta seorang yeoja bergaun merah. Chakkaman, bukannya dia… dua orang itu semakin dekat ke mejaku. Namja itu, namja itu…

“Oppa?” gumamku lirih. Sungmin, dengan, seorang, yeoja? Tapi siapa yeoja itu? Mereka semakin dekat ke mejaku. Ah iya benar itu Sungmin. Semakin mendekat, dan ya! Tepat! Aku langsung menundukkan kepalaku. Setelah keperkirakan dia sudah lewat, aku kembali menegakkan kepala.

“Hyerin-ah, gwenchana?” tanya Kyuhyun di sebelahku. Aku menggeleng, “Gwenchana.”

“Kau kenal dua orang yang tadi?” tanya Kyuhyun menyelidik. Aku langsung menggeleng, “Anhi, Kyu. Aku hanya merasa… kekenyangan. Makanya aku menunduk. Hehehe.” Kyuhyun menggeleng mendengar pernyataanku, “Yeoja aneh,” gumamnya.

“Aduuuh aku kenyang,” ujar Leeteuk sambil memegang perutnya, “Aku ingin ke kamar mandi.” Kyuhyun juga, “Aduuh, terlalu banyak minum karena pedas. Aku ingin kencing.” Begitu juga Donghae. Sementara Jinki sedang membantu ahjummanya di dapur. Leeteuk, Kyuhyun, dan Donghae di kamar mandi. Oke, jadi tinggal aku sendiri yang bertahan. Aku langsung menengok ke belakang.

Sungmin ada disitu, masih bersama yeoja gaun merah itu. Mereka berdua duduk di tiga baris di belakangku. Mereka memunggungiku. Aku terus menatapnya. Benar, itu Sungmin. Aku tahu persis badannya dari belakang. Aku terus melihatnya. Lima detik kemudian sebuah adegan muncul.

Sungmin merangkul yeoja itu.

Jinjja? Sebentar, itu Sungmin kan? Reflek saja tanganku mengepal. Oppa!!! Seharian kau tidak menghubungiku ternyata…

Dan Sungmin malah mengelus kepala yeoja itu.

***

AUTHOR’S POV

“OPPA!!!”

Sungmin terkejut karena suara gebrakan meja di depannya, begitu juga yeoja itu. Yang menggebrak meja itu ternyata Hyerin, yeojachingu Sungmin.

“H-hye-hyerin?” ucap Sungmin tergagap. Dia langsung melepas rangkulan ke yeoja itu.

“Oppa!” bentak Hyerin. Hyerin terdiam sesaat, lalu air matanya tiba-tiba keluar, “Oppa, ternyata… kau…” Sungmin langsung berdiri memegang kedua bahu Hyerin dan menatapnya lekat, “Chagi, aku bisa jelaskan…”

“Chagi?” tanya yeoja gaun merah yang masih duduk itu. Dia sudah berdiri sekarang, “Oppa, aku ini kan chagi-mu.”

Aku langsung melepas tangan Sungmin di pundakku, “See? Hah Lee Sungmin, tak kusangka kau selama ini. Jadi ini pekerjaanmu hah? Kenapa aku harus percaya pada namja sepertimu?”

“Hyerin, aku bisa jelas…”

“CUKUP, OPPA!” bentak Hyerin. Hyerin langsung pergi dari hadapan Sungmin lalu ke mejanya. Kini dia semakin menangis. Kyuhyun, Jinki, Donghae, dan Leeteuk menatapnya bingung, “Hyerin?” Hyerin tidak menjawab. Dia langsung mengambil ranselnya dan pergi keluar. Sungmin mengejarnya dari belakang.

“HYERIN-AH! HYERIN-AH! CHAKKAMAN!!!”

Hyerin tidak menghiraukannya. Dia memanggi taksi dan pergi.

What is It? [10]

Posted: April 13, 2012 in Uncategorized
Tag:

Oh baby say goodbye, oh jamsiman goodbye… annyeongiran maleun jamsi jeobeodulge…

Aigoo… mengganggu tidurku saja. Kubuka perlahan mataku dan bangkit dari tempat tidur. Kuambil handphone dan kusentuh tombol angkat. “Yoboseyo?”

Hyerin-ya! Kau dimana!?

“Aku, tentu saja aku di apartemenku, Kyuhyun. Wae?”

Aku di depan kamar apartemenmu. Keluarlah!

“Mwo? Tapi—“ Tut. Telepon terputus. Ah sial! Ada apa sih bocah ini!? Aku melirik jam di hanphoneku. Mwo!? Jam tiga lewat lima belas pagi? Apa dia gila? Menelponku dan menyuruhku keluar, sementara dia sudah di depan pintu? Apa dia bercanda? Ah, daripada penasaran lebih baik aku pergi ke pintu dan membukanya. “KYU!?”

“Kaja!” seru Kyuhyun.

“Mwo?” tanyaku bingung.

“Kau dengar kan? Kaja!”

“Tapi ini masih jam…”

“Kaja! Ini penting! Tak perlu membersihkan diri! Aku saja belum mandi. Jungsoo sialan!”

Anak ini, ada apa sih? Kenapa anak ini harus merutuki Leeteuk sajangnim segala? Dengan segera aku mengambil sepatu dari rak dan langsung memakainya dengan kaos kaki dengan cepat. Langsung kukunci pintu apartemen lalu mengantongi kuncinya di saku celana jeansku.

“Sudah?” tanya Kyuhyun. “Kaja!” Kyuhyun langsung menarikku paksa turun tangga dan sampailah di tempat parkir. Lalu dia kembali menarikuu sampai di hadapan mobil sedan hitam. Kyuhyun menekan tombol pembuka pintu otomatis di gantungan kuncinya sehingga kunci pintu mobil terbuka. “Masuklah.” Aku yang masih setengah bingung pasrah menuruti perintahnya. Lalu Kyuhyun duduk di kursi supir, menyalakan mesinnya dan mobil berjalan.

“Sebenarnya kita mau kemana?” tanyaku. Namun Kyuhyun diam saja, tetap berkonsentrasi menyetir mobilnya. Aku mendengus kesal, “Jangan bilang kalau kau membawaku ke lokasi kejadian terbunuhnya Kim Heechul-ssi atau Kim Kibum-ssi sekarang.” Kali ini Kyuhyun memberi respon dengan menggeleng. “Anhi, kita ke kantor sekarang. Sajangnim tua itu menyuruh kita,” kata Kyuhyun dengan nada setengah kesal.

“Mwo? Tapi aku tidak ditelepon olehnya,” balasku. Memang benar kok. Tidak ada missed call atau SMS dari Leeteuk. “Dia menyuruhku memberitahumu. Katanya pulsanya sudah tidak cukup untuk menghubungimu. Sajangnim yang pelit bukan? Atau sajangnim yang tidak modal?” cerocos Kyuhyun kesal. Aku menyeringai, “Aku pilih keduanya. Entah kenapa kita harus bernasib memiliki sajangnim macam dia.” Ucapanku direspon oleh tawa kecil Kyuhyun. Dan sampailah kami di area parkir kantor. Setelah memarkir mobil, kami turun dari mobil dan masuk ke dalam kantor. Aku melihat suasana sekitar, gelap sekali (tentu saja, masih jam setengah empat pagi).

***

“Sajangnim? Kenapa kau memanggil kami kesini? Apa kau tidak tahu sekarang masih terlalu pagi? Bahkan benar-benar terlalu pagi!” kataku kesal. Kyuhyun pun ikut menimpali, “Ne, kenapa kau memanggil kami? Apa kau bertengkar dengan istrimu lalu kau kabur kesini lalu kau menghubungi kami untuk menemanimu atau membantumu menyelesaikan masalah?” Leeteuk langsung menjitak kepala Kyuhyun, “Sembarangan! Ucapanmu salah semua, Kyuhyun. Sayang sekali. Sebenarnya ini masih terkait dengan dua kasus aneh kemarin.” Aku menghela napas berat, “Kita tidak disuruh mengunjungi lokasi kejadian lagi kan?” tanyaku sedikit sinis.

“Anhi, Hyerin. Aku tahu kau ini penakut. Apalagi sekarang masih pagi. Jadi aku tidak akan menyuruhmu pergi saat ini. Mungkin nanti setelah matahari benar-benar terbit,” jawab Leeteuk dengan entengnya. Jadi maksudmu aku akan kembali ke tempat terkutuk itu? Hah, terkutuklah aku.

“Jadi kau memanggil kami untuk apa, hyung?” tanya Jinki yang tiba-tiba masuk ruangan. Dan lengkaplah kami berempat berkumpul bersama. Kami semua berdiri, sementara Leeteuk tetap duduk manis di hadapan komputer. “Ini berkaitan dengan 2 pembunuhan yang terjadi pada 2 hari berturut-turut. Sepertinya kepolisian dan badan intelejen sudah mempunyai gambaran siapa pembunuhnya.”

“Nuguya?” tanya Kyuhyun. Leeteuk lalu memutar layar monitor komputernya ke arah kami. Dia menunjukkan sebuah foto seorang yeoja cantik yang sangat kukenal wajahnya. “Sebentar, kau yakin dia pembunuhnya? Maksudku, Anh Yoon Jung. Bukannya dia masih dipenjara?” tanyaku.

“Siapa bilang,” jawab Leeteuk. “Dia kan sudah bebas dua minggu yang lalu. Kau lupa apa tidak tahu?”

“Ah, mian sajangnim. Aku lupa. Padahal baru berita dua minggu lalu,” balasku. Jinki akhirnya membuka suara, “Hyung, kenapa harus yeoja ini yang jadi terduga pembunuhnya?”

“Apa kau lupa dengan kasusnya, Jinki? Aku sih kurang yakin, tapi itu baru hipotesis dari pihak kepolisian,” tanya Leeteuk. Aku jadi kembali teringat siapa Anh Yoon Jung, seorang ‘wanita malam’ Gangnam. Dia sempat menjadi berita heboh seantero negeri karena kejahatannya yang dia lakukan empat belas tahun lalu, tepatnya tanggal 30 April di daerah Gangnam. Karena saat itu dia memutilasi kekasihnya sendiri, yang ketahuan berselingkuh dengan yeoja lain. Saat itu dia langsung mencincangnya seperti daging cincang, bahkan isi perutnya pun ikut dia keluarkan dan dimasukkan ke dalam kardus. Ah, aku tidak mau mendeskripsikannya lebih lanjut. Waktu aku melihat foto korbannya yang sudah dicincang serta tidak disensor saja membuatku tidak makan seharian. Saat itu aku masih kelas 2 SD dan yang menunjukkan foto sialan itu adalah oppaku sendiri, Kibum, saat itu oppaku masih kelas 6 SD. Dia mendapatkan foto itu dari sebuah blog. Saat Kibum oppa menunjukkan fotonya di depanku awalnya reaksiku biasa saja. Tetapi saat kami makan bersama (waktu itu appa masih hidup) aku langsung teringat foto korban Yoon Jung-ssi. Dan kebetulan sekali makanan yang disediakan eomma adalah daging cincang. Semakin liar saja imajinasiku kalau daging cincang itu adalah tubuh kekasih Yoon Jung-ssi yang dipotong-potong itu. Bahkan malamnya aku tidak bisa tidur sehingga harus tidur bersama Kibum oppa. Untung saja ketakutanku hanya berlangsung sehari. Esoknya aku sudah tidak membayangkannya lagi.

“Hyerin-ya? Gwenchana?” tanya Leeteuk sambil melambaikan tangan kanannya di depan mataku. Aku langsung sadar, ternyata aku mengingat masa itu sambil melamun. “Ah ne sajangnim, gwenchana. Tiba-tiba saja aku teringat kembali apa yang dilakukan Anh Yoon Jung-ssi empat belas tahun lalu. Saat itu umurku masih delapan tahun. Benar-benar mengerikan!” Kyuhyun lalu angkat bicara, “Ne, waktu itu aku masih sembilan tahun. Tapi aku tidak terlalu peduli dengan kasus itu. Orang tuaku tidak memperbolehkanku menonton acara itu.”

“Jadi apa hubungannya, hyung? Kan dia sudah bebas. Kenapa yeoja ini harus dikaitkan dalam kasus seperti ini juga?” tanya Jinki.

“Karena Anh Yoon Jung-ssi ternyata mengalami gangguan jiwa semenjak kasus pembunuhan itu. Bahkan sampai sekarang dia masih diawasi kepolisian diam-diam. Apalagi tentang kasus terbunuhnya ‘duo Kim’ itu sejak kemarin lusa,” jawab Leetuk. “Jadi kepolisian dan badan intelejen masih mencurigai dia.” Kami bertiga hanya diam terpaku pada foto Anh Yoon Jung di layar komputer itu. Itu fotonya empat belas tahun lalu, saat dia ditangkap oleh kepolisian karena kasus pembunuhan itu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Sajangnim, kapan dan dimana Yoon Jung-ssi lahir?”

“Molla, di internet tidak diketahui kapan dia lahir. Tidak ada website yang menulis hal itu. Satupun. Kepolisian benar-benar menutupi data pribadinya,” jawab Leeteuk. “Wae? Kenapa kau bertanya hal itu, Hyerin?” Aku langsung memandang Leeteuk serius, “Ini penting, sajangnim. Ini, berkaitan dengan salah satu simbol yang ada di surat itu. Mungkin saja itu menjadi salah satu petunjuk yang sangat penting serta memperkuat alibi kalau Yoon Jung-ssi adalah salah satu pelakunya.”

“Jinjja? Kalau begitu sepertinya kau menemukan arti yang baru dari kertas bersimbol itu. Beritahu aku,” kata Leeteuk. Aku menggeleng, “Aku masih kurang yakin dengan penemuanku. Aku sangat membutuhkan data pribadi Yoon Jung-ssi untuk memperkuat penemuanku itu.” Leeteuk mengerutkan keningnya sesaat untuk berpikir, ”Hmm, setahuku datanya disimpan di perpustakaan lantai lima atau hanya ada di kepolisian pusat. Untuk itu nanti siang saja kita cari berhubung sekarang terlalu pagi.” Keadaan kembali hening. Tiba-tiba Jinki membuka suara, “Hyung, geulonde, memang Yoon Jung-ssi dan Heechul-ssi ada hubungan apa? Maksudku, ada hubungan apa mereka berdua itu?”

Leeteuk mengangkat kedua bahunya, “Molla. Aku tidak terlalu tahu hal itu. Mungkin kita bisa mencarinya lebih lanjut dengan bantuan dari departemen lain.” Tiba-tiba Kyuhyun menjentikkan jarinya, “Sebentar sajangnim-hyung, sebelah ruangan kita kan gudang naskah. Mungkin saja kita bisa menemukan sesuatu yang berkaitan dengan kasus Yoon Jung-ssi empat belas tahun lalu.”

“Ah, ide bagus, Nak,” Leeteuk menepuk bahu Kyuhyun. “Oke, karena sekarang masih jam setengah lima ada baiknya kita sekarang ke gudang naskah di sebelah dulu.” Tanpa bicara panjang kami langsung pergi ke gudang naskah di sebelah ruangan kami. Saat tiba di depan pintu Kyuhyun membuka kenop pintu, tetapi tidak bisa, “Sajangnim-hyung, terkunci.”

“Tidak akan,” balas Leeteuk santai. “Selama aku punya ini.” Dia menunjukkan sebuah kunci berwarna perak yang dia keluarkan dari kantong celananya. “Aku punya duplikatnya. Untung saja pintu gudang naskah ini jarang dikunjungi.” Leeteuk memasukkan kuncinya ke lubang dan memutarnya. Cklek! Pintu pun langsung terbuka, “Kaja!”

Di dalam gelap sekali. Jinki menyalakan lampunya sehingga menjadi terang. Karena ruangan ini jarang sekali dikunjungi orang-orang di gedung ini (mungkin saja selama aku vakum tidak ada yang mengunjunginya) keadaannya menjadi berdebu. Kyuhyun sampai batuk-batuk sambil menutup mulutnya saking banyaknya debu.

“Sembilan belas sembilan tujuh, aish dimana sih tulisannya. Setahuku selalu dipasang label tahun untuk tiap rak,” gumam Leeteuk. Kami pun masih berkeliling mencari label tahun 1997, karena kejadian itu terjadi pada tahun 1997. Kami terus mencari di seluruh bagian di ruangan yang cukup sempit ini karena terlalu banyak rak. Tiba-tiba Jinki berteriak, “HEI, TAHUN 1997 DISINI!!!” Segera saja kami langsung menghampiri tempat Jinki berada. Benar saja, label bertuliskan tahun 1997 ada disitu. Ada beberapa map yang berjejer di rak yang berlabel 1997.

“30 April. Ah, dimana kau?” gumam Leeteuk. Lalu dengan cepat Leeteuk mengambil sebuah map besar berwarna hitam yang berlabel 30 April. “Aish, ketemu.” Dan map langsung dibawa ke meja.

Leeteuk membuka satu persatu kertas-kertas yang sudah dibundel dengan rapi di map itu. “Bunuh diri, bunuh diri, bunuh diri… Aish, kenapa harus banyak kasus bunuh diri sih?” Dan pada halaman terakhir kami semua membuka mulut. Ini yang kami cari, Anh Yoon Jung. Terlihat fotonya yang cantik tapi sadis itu. Kami semua membaca artikel itu dengan seksama.

“Tidak ada apa-apa,” keluh Kyuhyun, “Hanya berita biasa yang diambil dari koran.”

“Ke lantai lima, perpustakaan,” ujar Jinki.

***

AUTHOR’S POV

Kyuhyun dan Jinki mencari semua informasi tentang Anh Yoon Jung di perpustakaan lantai 5. Sementara Hyerin berkutat di depan komputernya dan mencari sesuatu di mesin pencari di internet. Tetapi hasilnya nihil. Dia menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal, “Aargh!”

“Hyerin-ya, kau tidak apa-apa?” tanya Leeteuk yang menghampiri Hyerin yang masih menggaruk-garuk kepalanya. “Ah, gwenchana, sajangnim. Hanya saja yang aku cari tidak juga ketemu.”

“Memang apa yang kau cari?” tanya Leeteuk. “Data pribadi Anh Yoon Jung-ssi,” jawab Hyerin singkat.

Leeteuk terdiam. Beberapa menit kemudian ia mengeluarkan handphone dari kantong celananya dan terlihat memencet sebuah nomor. “Yoboseyo? Ah, inspektur. Apa kami boleh masuk ke ruang arsip kepolisian? Mwo? Ah, ne, arraseo. Oke, Kim Hyerin akan kesana segera, kamsha hamnida. Annyeong!” Dan dia menutup teleponnya.

“Waeyo?” tanya Hyerin yang masih duduk. “Kau, Hyerin, pergilah ke ruang arsip kepolisian sekarang. Ini,” Leeteuk menyerahkan kunci mobilnya, “Pergilah. Semoga yang kau cari ketemu, Hyerin, hwaiting!”

Hyerin menerima kunci mobilnya. Lalu ia berdiri dan menggaruk kepalanya semakin cepat. Lalu dia keluar dari ruangannya. Lima menit kemudian Kyuhyun dan Jinki masuk ke ruangan bagian persandian. “Ah, sial!” umpat Kyuhyun.

“Wae?” tanya Leeteuk. “Tidak ada info yang berarti tentang Anh Yoon Jung di lantai lima,” jawab Jinki.

“Hyerin sedang mencari di kepolisian,” ujar Leeteuk.

***

HYERIN’S POV

Aku berjalan menuju mobil Leeteuk diparkirkan. Aneh, kenapa sajangnimku tiba-tiba menjadi baik? Baru kali ini dia meminjamkan mobilnya pada anak buahnya, dan aku yang pertama. Dan, hei! Tadi sajangnimku menelpon kepolisian dengan handphonenya? Jadi dia punya pulsa? Lalu kenapa dia harus beralasan pada Kyuhyun kalau tidak punya pulsa untuk menelponku tadi pagi? Aish, kenapa aku harus punya sajangnim aneh dan labil macam dia? Dan akhirnya mobil Leeteuk sudah di depan mataku. Aku langsung mengeluarkan kunci dan menekan tombol pengunci pintu otomatis.

***

“Annyeong haseyo, agassi!”

Yeoja yang berseragam polisi menyapaku dengan berdiri dan membungkukkan badan padaku. Aku membalas bungkukannya, “Annyeong haseyo!”

“Ada perlu apa, agassi? Bisa kubantu?” tanya yeoja polisi itu. Melihat yeoja itu berpakaian rapi aku jadi malu sendiri kalau bajuku bareantakan dan parahnya, belum mandi dari semalam. Parah sekali. “Oh, aku ada perlu dengan bagian intelejen.” Yeoja itu melirikku dari atas ke bawah. Sepertinya dia mengira aku ini seorang gelandangan. “Nama Anda?”

“Kim Hyerin, dari Badan Intelejen Korea Bagian persandian.” Yeoja itu masih menatapku curiga, “Kartu identitas Anda, agassi?”. Aku mengecek kantong celanaku. Sial! Tudak ada apa-apa selain uang 2000 won. Aduh, bagaimana ini. “Ah, mianhae, agassi. Aku lupa membawa kartu identitasku.”

“Kalau begitu Anda tetap saya tahan disini, agassi. Mianhae. Tapi ini sudah prosedurnya,” yeoja polisi itu berkata dengan nada sesopan mungkin. Ah, paboya! Kyuhyun! Jungsoo-sajangnim! Ini semua gara-gara kalian! Biasanya aku selalu membawa segala kartu identitas kemana aku pergi semoga kalau aku terjadi apa-apa ada yang mengenaliku. Mana sekarang urusannya penting, ah! “Oh agassi, jebal. Aku benar-benar ada perlu dengan bagian intelejen, dengan inspektur Choi Siwon. Jebaaal…” mohonku.

“Mianhae, agassi. Aku hanya mengikuti prosedur,” balas yeoja polisi itu. Tiba-tiba muncul sebuah suara, “Hyerin-ssi?”

Aku menoleh, ternyata dia salah satu namja yang waktu itu membawaku paksa menuju apartemen Kim Heechul, Lee Hyukjae alias Eunhyuk, si bibir tebal. Dia tersenyum padaku dengan gummy smile-nya. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke yeoja polisi, “Hyerin-ssi, karena inspektur Siwon sedang ada perlu jadi aku disuruh menggantikannya untuk menemanimu. Hanji-ya, cepat berikan tanda pengenal tamu untuknya. Dia ini ada perlu dengan kami.”

“Tapi, dia harus menunjukkan tanda…”

“Ah, tidak perlu!” potong Eunhyuk. “Dia tamu penting. Berikan saja tanda pengenalnya.” Dengan perlahan yeoja polisi yang bernama Hanji itu memberikan tanda pengenalnya padaku. “Kamsha hamnida, agassi,” kataku sambil menerima tanda pengenal dari Hanji lalu membungkukkan badan padanya.

“Cheonmalyo,” katanya membalas bungkukannya. Akupun menjepit tanda pengenal di bagian bawah kanan kaosku. “Kaja, Hyerin-ssi,” ajak Eunhyuk mengulurkan tangannya padaku. Aku terkejut dan agak menjauh darinya. Eunhyuk tertawa, “Hahaha, aku hanya bercanda kok. Hei chagi, gomawo ya.”

“Aish, berhenti memanggilku chagi, Hyukjae! Aku bukan yeojachingumu!” timpal Hanji.

“Memang bukan, tapi kau kan istriku,” tambah Eunhyuk dengan gummy smilenya. Hanji menghela napas, “Huh, oke. Tapi ini kan kantor, bukan rumah. Tidak enak kalau didengar banyak orang. Cepat sana antarkan dia itu sebelum dibunuh oleh sajangnimmu.”

“Oke. Hyerin-ssi, kaja! Chagi, annyeong!” kata Eunhyuk. “HYUKJAEEEE!!!” teriak Hanji dari tempatnya. Tetapi aku dan Eunhyuk sudah berlalu.

***

“Hyerin-ssi, kata sajangnimku kau ingin ke ruang arsip?” tanya Eunhyuk memulai pembicaraan. Aku mengangguk, “Ne, Eunhyuk-ssi.”

“Apa yang ingin kau cari?” tanyanya. “Data Anh Yoon Jung,” jawabku singkat. Eunhyuk terbelalak dan membuat kami menghentikan perjalanan, “Anh… Yoon… Jung? Pembunuh itu?” Aku mengangguk lagi, “Ne, aku sangat membutuhkan data itu untuk meyakinkan temuanku.”

“Temuan?” Eunhyuk membelalakkan matanya dan kami kembali berjalan, “Temuan apalagi, Hyerin-ssi?”

“Mollayo, aku masih ragu. Kalau aku menemukan datanya aku akan cerita,” jawabku. “Geulonde, Eunhyuk-ssi, yeoja resepsionis tadi itu, Hanji-ssi, dia benar istrimu?” Eunhyuk tersenyum, “Ne, dia istriku. Baru empat bulan kami menikah.”

“Whoaaa,” responku. “Punya istri cantik dan tegas seperti itu, menyenangkan sepertinya.” Eunhyuk tertawa, “Ya, bisa melengkapi hidupku yang berwajah jelek dan hidup urakan ini.” Aku ikut tertawa, “Ah kau ini Eunhyuk-ssi, sebenarnya kalau kulihat kau ini tidak jelek juga kok.”

“Jinjja!?” tanya Eunhyuk terkejut. Kini kami berdua sedang berada dalam lift menuju lantai tiga. Aku mengangguk polos, “Ne, bukannya semua orang itu tidak jelek ya?”

“Kau, orang ketiga setelah eomma dan istriku yang bilang tidak jelek, Hyerin-ssi,” kata Eunhyuk. “Bahkan terkadang istriku masih bingung sendiri kenapa mau menikah dengan orang jelek sepertiku.” Ucapannya menmbuatku tertawa. Ah, Kyuhyun, kurasa kau tidak perlu melirik yeoja polisi itu lagi. Dia sudah punya nampyeon ternyata.

Pintu lift pun terbuka. Kami sudah sampai di lantai 3. “Ini lantai untuk bagian intelejen,” ujar Eunhyuk layaknya seorang pemandu padaku. Aku melihat kiri-kanan, seperti kantor lain penamiplannya, tidak ada yang berbeda. Para pegawai lalu lalang membawa dokumen, ada yang mendiskusikan sesuatu dengan yang lain, berada di depan komputer, di samping mesin fotokopi. Dan tibalah kami di bagian ujung depan sebuah pintu. “Disini, Hyerin-ssi,” kata Eunhyuk.

“Ini ruangan arsipnya?” tanyaku. Kami masih di depan pintu yang disebut Eunhyuk ruang arsip. Eunhyuk mengangguk, “Ne.” Lalu dia mendekatkan wajahnya ke sesuatu. Apa yang akan dilakukannya, pikirku. Dia menempelkan mata kanannya ke sebuah benda. BIIIP! Benda itupun berbunyi dan memunculkan identitas Eunhyuk. Ooh, ternyata itu mesin pembuka pintu. Dan pintu pun terbuka.

Aku melirik sekeliling. Ternyata ruangan ini cukup besar dengan jejeran rak yang di dalamnya tersusun beberapa arsip dengan rapi. Penerangan disini cukup gelap.

“Ruangan disini remang-remang, untuk menjaga arsip agar tidak cepat rusak,” jelas Eunhyuk, “Dan Hyerin, kau hanya punya waktu 45 menit disini.”

“Wae?” tanyaku. Ia menjawab, “Setiap ada orang yang masuk hanya diberi oksigen sedikit. Kadar udara disini sedikit untuk menyelamatkan arsip agar tidak rusak juga. Jadi carilah langsung apa yang ingin kau cari. Aku disini saja untuk mengawasi. Jangan kau foto apalagi membawa arsipnya keluar. Ingat, 45 menit.” Aku terkejut. Ternyata bukan hanya di dalam film atau novel saja ruang arsip seperti ini, di dunia nyata benar-benar ada. Aku langsung berjalan cepat menuju rak yang telah dilabeli dengan tulisan tahun. “1997… 1997…” gumamku. Aku terus mencari dan mencari. Tetapi karena banyak sekali rak aku jadi sulit menemukannya dan akhirnya aku menemukan rak berlabel tahun 1997. Dan buruknya, letaknya ada di tingkat paling atas. Pabo! Tinggi sekali, otthoke? Untung saja di sebelahku ada bangku yang cukup tinggi. Aku menggesernya lalu aku naik ke bangku itu dan mengambil map yang berlabel tahun 1997 dan berjudul daftar pelaku kejahatan. Cukup tebal. Aku membukanya satu persatu halaman tanpa membacanya. Hasilnya nihil, tidak ada data tentang Anh Yoon Jung. Aku mengembalikannya dan mengambil map lainnya. Kubuka satu-persatu, nihil, kukembalikan kembali, mengambil map yang berada di sebelahnya. Kembali kubuka satu persatu, nihil. Keempat, kelima, tetap tidak ada.

Lalu kubawa turun map keenam yang kuambil. Aku kembali membuka satu persatu halaman yang ada di dalamnya. Anh Yoon Jung, dimana datamu? Terus kubuka tapi belum ada nama atau foto Anh Yoon Jung muncul. Akhirnya di halaman terakhir muncul foto dan data Anh Yoon Jung 14 tahun lalu. Akhirnya, gumamku. Aku langsung mengambil handphone dan memotrenya. Sudahlah, Eunhyuk-ssi tidak ada di sekitar sini, aku mengawasi lingkungan sekitar. Klik! Nyala blitz kamera handphone membuat semuanya menjadi gelap.

“Eunhyuk-ssi…”

AUTHOR’S POV

“Hyerin, mana dia?” gumam Eunhyuk. Ia melihat arlojinya, “Aigoo… tinggal tujuh menit lagi. kenapa tidak muncul juga?” Akhirnya Eunhyuk pergi menelusuri rak-rak besar untuk mencari Hyerin. Aish, kadar oksigennya menipis. Aku harus mengatur napas untuk berjalan. “Hyerin-ssi? Hyerin-ssi? Kim Hyerin?”

“Eunhyuk-ssi…”

Suara itu, Hyerin, pikir Eunhyuk. Ia langsung mencari sumber suara. Ternyata di rak tahun 90-an. “HYERIN-SSI!” Eunhyuk berlari menghampiri Hyerin. “Hyerin-ssi!”

Tidak ada respon dari Hyerin. “Omo! Pasti dia kehabisan napas!” Eunhyuk langsung mengangkat tubuh Hyerin dan memasukkan handphone Hyerin yang tergeletak di lantai ke kantong celananya. Dia langsung berlari menuju pintu ruang arsip karena tiga menit lagi tidak akan ada oksigen.

***

“Hyuk, kenapa dia?” tanya Donghae panik yang berada di sebelah Eunhyuk yang wajahnya sedikit pucat. Kini Eunhyuk, Donghae, dan orang di sekitarnya merasa panik melihat Hyerin yang tidak kunjung bangun. “Molla. Tadi kami habis dari ruang arsip karena Hyerin-ssi ingin mencari sebuah data.”

“Dan dia kehabisan napas!?” tanya Donghae. “Mungkin,” jawab Eunhyuk, “Soalnya 7 menit sebelum oksigen dinonaktifkan Hyerin sudah tergeletak.”

“Aigoo! Kau tidak memberitahu tentang 45 menit, Hyukjae!?” bentak Donghae. “Anhi, aku memberitahunya. Sungguh! Otthoke?” jawab Eunhyuk. Donghae makin panik sambil terus menepuk pipi Hyerin, “Apa harus diberi napas buatan?”

“Sini aku kasih!” ujar Eunhyuk. Ia memajukan wajahnya ke wajah Hyerin, tetapi Donghae langsung memukul bagian belakang kepalanya, “Paboya! Andwae! Kau ini namja, Hyukjae!” Lalu Donghae berdiri. “Mian, bolehkah aku minta bantuan pada salah satu yeoja untuk memberi napas buatan pada yeoja ini?” tanyanya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke tubuh Hyerin.

“Aku saja, Donghae,” jawab seorang yeoja agak gemuk yang langsung menghampiri Donghae. “Ah, gomawo, Eunra noona. Tolong bantu teman kami.” Yeoja bernama Eunra itu langsung mendekatkan bibirnya ke bibir Hyerin lalu memberi napas buatan padanya. Perlahan Hyerin menggerakkan badannya.

***

HYERIN’S POV

Aku membuka mataku. Dimana aku? Kenapa aku disini? Cahayanya menjadi sangat terang, tidak seperti saat di ruang arsip yang sangat remang-remang.

“Hyerin-ssi, kau sudah sadar?”

Aku mencoba menormalkan penglihatanku. Pandanganku menjadi lebih jelas. Ternyata namja yang tadi menemaniku di ruang arsip, “Eunhyuk-ssi?”

“Hyerin-ssi? Gwenchana?” tanya Donghae. “Ah, gwenchana. Tapi, kenapa aku bisa disini? Bukannya aku tadi ada di ruang arsip? Eunhyuk-ssi, bukannya aku tadi bersamamu disana? Dimana arsip yang tadi kubaca? Aku melihat foto Yoon Jung-ssi tadi. Kenapa aku tidak ingat kalau aku keluar.”

Eunhyuk terdiam. Aku mengguncang badannya, “Eunhyuk-ssi, jawab aku! Kapan aku keluar?”

Eunhyuk menarik napas, lalu menghembuskannya kembali. “Fuuh, Hyerin-ssi, mian. Sebenarnya tadi… kau…” lalu dia kembali diam.

“Eunhyuk-ssi? Kenapa diam?”

“Ah, itu, Hyerin. Umm…” Eunhyuk berbicara dengan sedikit ragu. Aku menatapnya heran. “…kau, tadi… pingsan.” Sontak saja aku terkejut, “MWO!? PINGSAN!? Wae? Kenapa aku bisa pingsan? Aigoo…” Lalu aku mencoba mengingat kejadian sebelum aku pingsan. Yang aku ingat aku sedang memotret dokumen Yoon Jung-ssi dan setelah memotret… semuanya gelap. Jadi aku pingsan?

“Ne, saat aku melihat arlojiku, ternyata tujuh menit lagi gas oksigen akan dimatikan secara otomatis. Segera saja aku mencarimu, tetapi tidak ada yang menjawab. Parahnya, kadar oksigen semakin menipis , aku harus menahan napas. Aku terus mencari, hah susah sekali karena rak-rak yang tinggi dan berdempetan. Lalu aku mendengar seseorang berteriak ‘Eunhyuk-ssi’ dan aku langsung tahu kalau itu suaramu. Aku langsung mencari sumber suara dan akhirnya aku menemukanmu yang sudah tidak berdaya. Aku langsung membawamu keluar dengan napas seadanya,” tutur Eunhyuk yang layaknya seorang ayah yang mendongeng kepada anaknya.

“Aku melihat saat Hyukjae keluar menggendong seorang yeoja. Ternyata itu kau, Hyerin-ssi. Aku langsung panik melihatmu pingsan. Lalu kami membaringkanmu tepat di depan pintu ruang arsip. Kami terus menepuk pipi dan lenganmu, tetapi kau tidak kunjung sadar. Sementara orang lain mengerumuni kami dengan wajah yang sama paniknya. Lalu Eunra noona, salah satu rekan kami memberimu napas buatan,” lanjut Donghae. Aku baru sadar, ternyata karena itu semuanya menjadi gelap, karena kadar oksigen yang menipis. “Ah, soal itu Eunhyuk-ssi. Mian aku telah merepotkanmu. Aku memang memiliki masalah dengan sistem pernapasan sejak kecil. Tapi aku bukan pengidap asma. Entahlah, aku tidak pernah memeriksanya ke dokter. Tapi gomawo telah menyelamatkanku, Eunhyuk-ssi, Donghae-ssi. Mungkin aku tidak hidup lagi tanpa bantuan kalian dan eonni yang bernama Eunra itu. Geulonde, dimana dia?” kataku.

“Dia pergi, kerja lapangan,” jawab Donghae. “Dia bilang padaku kalau dia sangat senang karena kau sadar.” Aku hanya mengangguk, ah, eonni, aku berjanji akan membalas apa yang kau perbuat padaku. “Jadi, handphoneku?”

“Ah, ini. Aku baru ingat.” Eunhyuk menyerahkan sebuah benda kotak berwarna hitam yang dia keluarkan dari kantong celananya. Handphoneku. Aku langsung menerimanya, “Ah, gomawo, Eunhyuk-ssi.” Aku langsung bangkit berdiri dan mengutak-atik handphoneku. Aku bernapas lega, fuuh, ternyata fotonya ada dan hasilnya lumayan bagus, tulisannya masih terlihat jelas saat aku zoom beberapa kali. Tapi tiba-tiba aku menjadi kecewa. Ternyata tidak seperti yang kuharapkan. “Sial,” gumamku.

“Gwewnchaneyo?” tanya Donghae. Aku langsung menggeleng sambil menutup layar handphoneku, “Ah, gwenchana, Donghae-ssi. Oppaku bilang kalau aku harus ke rumahnya nanti sore. Padahal aku sedang sibuk,” jawabku dengan karangan seadanya. Donghae hanya mengangguk. Tiba-tiba seorang namja menghampiri kami bertiga, “Annyeong haseyo!”

“Ah, annyeong haseyo, Inspektur!” jawab kami bertiga sambil membingkukkan badan padanya. Yah orang yang selalu kutemui sejak dua hari yang lalu, Choi Siwon.

“Hyerin, syukurlah kau tidak apa-apa,” kata Siwon dengan nada lega. “Tadi Hyukjae menelponku kalau kau pingsan di dalam ruang arsip. Kau baik-baik saja kan?”

Aku menepuk kedua pipiku, “Ne, inspektur, gwenchana. Aku hanya pingsan sesaat kehabisan udara.” Siwon menghela napas, “Syukurlah kau tidak apa-apa.” Aku mendongak ke arah jam dinding. Jam 11 siang. “Aigoo…” gumamku.

“Gwenchaneyo?” tanya Siwon. “Anhi, inspektur. Tapi sepertinya aku harus kembali ke kantor segera. Terima kasih atas bantuannya, inspektur.” Aku membungkukkan badan ke Siwon, Eunhyuk, dan,  Donghae lalu segera pergi.

“Hyerin-ssi! Chakkaman!” Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku tetap berjalan cepat menuju tempat parkir. Dan sampailah aku di tempat parkir dan berjalan menuju mobil milik Leeteuk. Tapi sebelum sampai mobilku.

“Mwo?”

Seorang namja memakai kacamata hitam dan berjas hitam sedang membuka mobil dan wajahnya mengarah padaku. Kami saling bertatapan. Tetapi dia langsung pergi dan masuk ke dalam gedung. Aku langsung pergi menuju mobil lalu masuk ke dalamnya. Saat kunyalakan mobilnya.

“SIALAN! TERKUTUK KAU!”

What is It? [9]

Posted: Maret 15, 2012 in Uncategorized
Tag:

“Karena aku ingin kau memecahkan ini.”

Siwon memberikan secarik kertas putih padaku. Apa ini, pikirku. Aku menerimanya. Saat kubuka, aku menghela napas panjang. Apa ini? Apa setiap hari aku harus menerima kertas semacam ini?

Ιτ’σ με! Στιλλ τηε σαμε περσον.

Aku meremas kertas itu sambil tertawa sendiri. “Kau tahu?” tanya Siwon.

“Hah, what a simple sentence!” jawabku. “Pasti kau juga berpikiran begitu, inspektur.”

“Apa maksudmu?” tanya Siwon.

“Kau membawaku kemari karena kasusnya mirip dengan kasus kematian Kim Heechul-ssi kan?” Siwon mengangguk.

“Ternyata dugaan Anda benar, inspektur,” jawabku. Aku membuka kertas yang kuremas dan menunjukkannya pada Siwon dan Kyuhyun. “Ini abjad Yunani, tapi kalau dilatinkan menjadi Bahasa Inggris, ‘It’s me! Still the same person—ini aku, masih orang yang sama’.”

“Cepat sekali! Kau bisa membaca abjad Yunani?” tanya Siwon heran. Aku menunduk malu, “Ah, itu hanya karena saat aku SMP aku hanya mempelajarinya dari font di komputer saat di Amerika dulu.” Kyuhyun geleng-geleng kepala tanda heran. Tiba-tiba handphoneku bergetar, “Yoboseyo?”

Hyerin-ya, kau dimana?” Aishh, suara imut ini, suara yang membuatku bahagia saat mendengarnya. Lee Sungmin, namjachinguku.

Hyerin-ya? Hyerin-ya, kau dimana? Aku tadi mencarimu ke restoran Shindong-ssi tapi katanya kau tidak ada dan memulai cuti. Jinjja?“ Aishh, harus jawab apa aku? Tidak mungkin kan aku mengatakan yang sebenarnya.

Hyerin-ya?

“Ah, oppa. Ne! Aku memang mengambil cuti sampai waktu yang tidak ditentukan.”

Waktu yang tidak ditentukan? Wae?

“Karena aku, aku…” Aish, aku harus beralasan apa nih. “Aku harus menghabiskan waktuku bersama Kibum oppa. Soalnya istrinya sedang ada urusan bisnis di Italia. Jadi, ya, aku yang mengurusnya.”

Ooh, kenapa kau tidak bilang padaku tadi? Aku kan bisa mengantarmu tadi.

“Ah, anhi oppa. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu.”

Oh, yasudah. Kalau begitu nanti aku ingin ke rumah oppamu ya. Aku rindu pada calon kakak iparku.

“Ne. Sampai jumpa nanti malam, oppa.”

Annyeong chagi.” Telepon pun terputus. Sedetik kemudian aku langsung memukul kepalaku sendiri. Aish, paboya! Kenapa alasanku harus membawa serta Kibum!? Mana nanti malam Sungmin kesana lagi. Pabo yeoja, Hyerin-ya!

“Hyerin!” Tiba-tiba Kyuhyun menepuk keras pundakku dari belakang. “Kita ke kantor polisi sekarang juga. Press conference. Kaja!”

“Mwo?” ujarku. “Press confe—“

“Ne, nanti kau duduk di sampingku, kau yang nanti menjelaskan arti kodenya. Kyuhyun, kau juga nanti duduk di samping Hyerin.”

“Anhi, kami tidak bisa,” kata Kyuhyun. “Menurut peraturan pegawai, kami tidak boleh tampil di muka umum ataupun tampil di depan kamera dengan alasan apapun.” Aku mengangguk tanda setuju dengan Kyuhyun.

“Ah, yasudah. Kalau begitu kau duduk di bangku wartawan saja. Jangan tunjukkan tanda pengenalmu pada siapapun. Aku akan bilang para petugas nanti, ara?” kata Siwon. Kami berdua setuju, “Araseo!” Siwon lalu segera keluar dari kamar aneh terkutuk ini lebih dulu. Beberapa menit kemudian kami berdua berjalan ke mobil. Kali ini Kyuhyun mengendarai mobil dengan kecepatan normal. Kyuhyun tetap berkonsentrasi pada setirnya, sementara aku sedang menunggu orang yang kutelpon menjawab.

Yoboseyo?

“Oppa? Kibum oppa?”

Ne, ini aku, Hyerin saeng. Gwenchaneyo?

“Oppa, apa nanti malam kau ada acara?”

Umm, anhi. Wae?

“Aku ingin ke rumahmu nanti malam.”

Rumahku? Haha, tumben kali ini kau ingin ke rumahku. Jarang sekali lho, biasanya aku yang ke apartemenmu.

“Wae? Aku ini kan dongsaengmu. Dan Sungmin oppa juga ingin ke rumahmu nanti malam.”

Anhi, gwenchana. Ya sudah silakan. Pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu. Mwo!? Sungminnie!? Namjachingumu?

“Ne.”

Ada apa? Apa dia melamarmu?

“Aish, sudah. Aku sibuk sekarang. Nanti aku cerita. Annyeong, oppa.” Aku langsung menutup teleponku dan kumasukkan kembali handphoneku ke kantong celana.

***

“Annyeong haseyo!”

Kami sudah tiba di kantor polisi pusat dan kedatangan kami langsung disapa oleh seorang polisi wanita yang menjadi penerima tamu di di meja resepsionis. Aku dan Kyuhyun tersenyum sambil membungkuk padanya lalu berjalan kembali. “Wah, neomu yeppeo yeoja polisi itu,” gumam Kyuhyun sambil menoleh kembali ke arah polisi penerima tamu itu. Aku langsung menjitak kepalanya, “Ya! Dasar namja!”

“Ouch, appo, Hyerin,” ujar Kyuhyun sambil mengusap kepala yang kujitak. “Wae? Kau cemburu ya?”

“Anhi!” jawabku. Haha, mana mungkin aku cemburu padamu, tuan Cho! Aku kan sudah punya namjachingu. Ah ya kan rekan kerjaku tidak ada yang tahu kalau aku punya namjachingu. Kami meneruskan perjalanan menuju ruang auditorium yang akan diadakan konferensi pers tentang kematian aneh dua namja dua hari berturut-turut ini.

Kami pun tiba di ruang auditorium. Ramai sekali. Para polisi, wartawan, dan beberapa kamera. Aku dan Kyuhyun mencari tempat duduk kosong di antara para wartawan. Dan kami akhirnya menemukan dua kursi kosong dan kami langsung duduk disitu. Siwon pun memulai konferensi persnya. Semua wartawan terlihat sibuk mencatat dengan alat tulis mereka, dari notes kecil hingga ada yang memakai tablet PC, juga beberapa cahaya muncul dari blitz beberapa kamera. Dan Siwon menunjukkan sebuah kertas putih, ada dua, yang berisi simbol-simbol tidak jelas. Aigoo! Itu kan kertas yang kuartikan beberapa jam yang lalu.

“Hyerin, itu kan kode-kode yang kau pecahkan tadi!” ujar Kyuhyun sambil menunjuk ke arah Siwon yang sedang memegang kertas yang sudah tidak asing lagi bagiku. Dengan reflek aku langsung menginjak kaki Kyuhyun yang terbungkus sepatu kulit hitam. “Ya! Appo!”

“Jangan bicarakan hal itu disini, pabo! Kau tidak lihat sekitarmu hah?” omelku dengan suara pelan. Kyuhyun melihat ke arah sekitar, “Ah, mianhaeyo.”

Aku memperhatikan setiap kalimat yang Siwon katakan. Untuk berjaga-jaga dia salah atau tidak. Ternyata sempurna! Tidak ada yang salah, persis apa yang kuartikan. Aku menyunggingkan senyum puas. Ternyata dia memang inspektur. Dia juga tidak menyebutkan namaku atau rakan-rekanku. Dia hanya bilang ‘kode ini sudah dipecahkan oleh salah satu rekanku…’

“Syukurlah…” gumamku pelan. Tiba-tiba blitz menyala sangat silau tepat dari belakangku. Ah, dunia jurnalis, pikirku.

***

Hyerin’s POV

Akhirnya konferensi pers sudah selesai. Aku dan Kyuhyun langsung keluar dari ruang auditorium untuk melanjutkan pekerjaan.

“Aishh, Hyerin-ya. Aku ingin buang air dulu. Aku ke toilet ya. Kau masuk mobil saja duluan, ini kuncinya,” kata Kyuhyun sambil melompat-lompat ala kangguru karena tidak bisa menahan hasratnya untuk buang air. Aku menerima kuncinya dan Kyuhyun langsung berlari menuju toilet. Akupun berjalan menuju mobil dengan langkah suka-suka. Tiba-tiba saja…

BRUKKK!!!

Aku terjatuh menabrak seseorang. Ah, lagi-lagi harus menabrak orang. Dua kali untuk hari ini. Aku langsung merapikan kemejaku dan langsung membungkukkan badan pada namja yang tidak sengaja kutabrak itu.

“Ah, seogsa, mianhaeyo.”

“Ah, gwenchana, agassi. Seharusnya aku yang meminta maaf,” balas namja itu sambil membungkukkan badannya. “Mianhae, seharusnya aku lebih hati-hati. Kau tidak apa-apa kan, agassi?”

“Ah, gwenchana, seogsa. Justru aku lebih menghkhawatirkanmu,” balasku. “Buku catatanmu jatuh, alat perekammu jatuh, apa aku harus ganti rugi?”

“Ah, tidak perlu,” ucap namja itu sambil memungut buku catatan dan alat perekamnya. “Belum rusak kok. Jadi kau tidak perlu menggantinya.” Saat namja itu sedang memungut barangya yang jatuh aku melirik tanda pengenal yang dia pakai. Ternyata dia seorang wartawan Seoul Post. “Kim… Jong… Woon…”

“Mian, kau tahu namaku?”

Aku terkejut mendengarnya berbicara seperti itu. Ah Hyerin, paboya! “Ah, itu namamu, seogsa? Aku hanya membaca tanda pengenal di bajumu kok.” Namja itu sedikit tersenyum, “Oh iya aku lupa. Aku kan pakai tanda pengenal ya. Ne, Kim Jongwoon imnida, salam kenal. Namamu?”

“Um naega…”

“HYERIN!” teriak seseorang dari belakang, tepatnya Kyuhyun yang baru saja dari toilet. “Kenapa masih disini?” tanyanya sambil menghampiriku.

“Um… aku… menunggumu. Yah, tidak enak kalau aku masuk mobil orang terlebih dahulu. Jadi lebih baik aku menunggumu,” bohongku. Kyuhyun hanya melihatku heran, “Kau ini, kau kan temanku. Tidak perlu kaku. Ayo, masih banyak masalah yang harus kita pecahkan.”

“Ah, Kim Jongwoon-ssi, mian. Aku harus kembali bekerja. Annyeong!” kataku sambil membungkukkan badan pada namja yang bernama Kim Jongwoon itu. Dia membalas lalu memberiku sebuah senyuman. Aku berbalik senyum padanya lalu pergi.

***

“Kau kenal namja yang tadi itu?” tanya Kyuhyun di dalam mobil. Sekarang kami ingin kembali ke kantor. Aku menggeleng, “Molla. Aku tidak sengaja menabraknya saat aku berjalan tadi. aku minta maaf padanya dan mengobrol singkat.”

“Kau tidak membaritahu pekerjaanmu kan?” Aku menggeleng, “Tentu saja tidak! Kau ingin keselamatan kita terancam!?” Kyuhyun tersenyum puas dan bergumam, “Anak pintar.”

***

“Hyerin saeng, kenapa kau tumben sekali mendatangi rumahku?” tanya oppaku Kibum yang masih saja penasaran dan duduk di sebelahku di ruang baca. Hari ini sudah jam enam sore, aku disuruh beristirahat oleh Leeteuk sajangnim karena bekerja sejak kemarin malam, sementara Kyuhyun dan Leeteuk tetap bekerja entah sampai kapan dan Jinki juga diizinkan pulang untuk menemani istrinya yang sedang hamil.

“Ah, oppa, aku hanya rindu padamu kok. Habis aku kasihan karena kau ditinggal Seo In noona ke Italia,” jawabku. Kibum mengangkat alisnya, “Jinjja? Ah, sepertinya ada alasan lain di balik itu semua? Kenapa juga kau harus menelponku tadi pagi saat aku bekerja? Dan hanya bertanya kabarku, tumben sekali.”

“Ah itu, oppa,” jawabku. “Itu ada alasannya. Saat itu juga aku sedang menonton berita di televisi. Kau tahu kan kasus pembunuhan misterius itu.”

“Oh itu, ne, aku tahu. Aku juga menontonnya kok,” kata Kibum. “Tunggu! Jadi, maksudmu… hahaha… kau pasti salah mengira kan kalau yang terbunuh itu aku? Karena namaku dan nama orang yang terbunuh itu sama?” Aku mengangguk sambil tersenyum malu, “Hehe, ne oppa. Mian aku telah menggangu waktu kerjamu. Tapi ada hal lain yang harus kuberitahu padamu, oppa. Terkait dengan kasus pembunuhan dua namja yang aneh ini, Kim Heechul dan Kim Kibum.”

“Wae?” tanya Kibum. Aku menarik napas, “Oppa, aku kembali ke pekerjaanku sebenarnya.”

“Mwo?” Kibum terbelalak. “Tapi, apa kaitannya dengan pembunuhan dua namja itu?”

“Karena aku dan rekan-rekanku juga ikut menanganinya,” jawabku. “Jadilah bekerja sejak semalam karena mengunjungi lokasi mayat Kim Heechul-ssi. Lalu tadi pagi setelah berita itu kami langsung disuruh menuju lokasi mayat Kim Kibum-ssi.  Aish… kenapa pekerjaanku aneh sekali.”

“Itukan maumu, cita-citamu sejak kecil,” ujar Kibum. “Tapi kenapa kalian harus terlibat? Kau dan teman-temanmu kan dari bagian persandian, bukan foransik, kepolisian, atau bagian yang biasanya terlibat. Apa ada kode-kode aneh dalam kasus itu?” Mendengar ucapan Kibum aku langsung teringat sesuatu dan langsung membuka tasku dan mengeluarkan laptop. Aku langsung membuka dan mengetik password karena laptopku hanya ku-sleep kan, tidak di shut down. “Ah, kuharap kau menjaga rahasia oppa. Sepertinya kau tadi tidak menonton konferensi pers oleh inspektur Siwon yah. Ini, biar kutunjukkan.” Aku langsung membuka foto selembar kertas berisi kode-kode yang ditemukan di atas mayat Kim Heechul. Kibum geleng-geleng kepala melihatnya. “Kebetulan tadi rekan-rekanku heboh membicarakan ini. Apalagi para yeoja, mereka sibuk membicarakan inspektur Choi yang kata mereka tampan itu. Dan mereka juga membicarakan kertas berisi kode yang ditunjukkan oleh inspektur itu. Mungkin yang ada di foto itu.”

“Wah, exactly, oppa!” kataku sambil mengacungkan jempol kananku. “Mwo? Maksudmu, inspektur Choi itu memang tampan?”

“Ah, anhi,” jawabku cemberut. “Masih tampan Sungmin oppa.” Kibum hanya tertawa melihat wajahku yang cemberut. Dia mengacak rambutku, “Aigoo dongsaengku, kau lebih cantik kalau cemberut daripada saat kau bahagia. Itu lebih menyeramkan.”

“Ya!” Aku langsung menjitak kepala Kibum. kibum tertawa, “Haha, oke lanjutkan Hyerin.”

“Nah, sebenarnya aku yang memecahkan kode itu. Bahasa Belanda untungnya setelah kode-kode ini diterjemahkan, kecuali pada baris keempat tentunya. Tapi ada yang belum kupecahkan.”

“Yang mana?”

“Oppa, apa kau tahu ini apa?” tanyaku sambil menunjuk lambang

. Kibum mengamatinya beberapa saat, mungkin untuk berpikir. Ah sepertinya dia tahu, semoga. Dan langsung saja, Kibum tersenyum lebar. Aku langsung mengerti maksudnya, “Kau tahu?”

“Ini mudah sekali, Hyerin,” ujar Kibum. “Masa kau tidak ingat lambang ini sih.” Aku hanya menggelengkan kepala tanda tidak tahu. Kibum kembali tertawa, “Jinjja? Kau tidak pernah membaca majalah remaja Amerika?” Aku tetap menggeleng. Kibum menatapku heran, “Jinjja? Aigoo… Hyerin-ya, kita kan tinggal disana selama enam tahun. Itu artinya sejak kau kelas tiga SD sampai kelas sembilan SMP. Dan aku dari awal SMP sampai SMA.”

“Iya oppa, aku juga tahu itu. Tapi benar aku belum pernah membaca majalah remaja anak-anak Amerika dari dulu. Bahkan sampai sekarang. Aku kurang suka dengan majalah mereka. aku lebih tertarik membaca koran daripada membaca majalah begituan,” kataku. Kibum masih menatapku heran lalu menghela napas, “Fuhh, Hyerin saeng, sepertinya aku memang harus tunjukkan padamu ya apa itu majalah remaja Amerika.” Kibum pun langsung pergi ke rak buku yang berada di depan tempat kami duduk. Dia langsung mengambil sesuatu yang cukup usang dari sana dan langsung melemparkannya di atas kepalaku. Dengan reflek aku menangkapnya. “Nice catch!” ujar Kibum. Aku hanya menyeringai lalu melihat kover depan majalah, “Cosmopolitan? Empat tahun lalu? Hei, oppa, ini kan majalah untuk wanita. Kau ini kan namja. Apa kau…”

“HEI!” potong Kibum. “Itu punya mantan yeojachinguku dulu di Amerika, Joanne. Kau ingat kan?” Aku mengangguk. Siapa yang tidak ingat, Joanne Sanders, itu adalah pacar pertama Kibum saat kelas sebelas SMA. Sayang hubungannya hanya bertahan enam bulan entah alasannya apa. “Nah dia memberiku kenang-kenangan majalah itu saat kelulusan SMA. Katanya hadiah ini akan berguna suatu saat nanti. Aneh,” lanjutnya. Haha, memang aneh, masa seorang namja dihadiahi majalah seperti ini.

“Kalau tidak salah, buka halaman 40,” perintah Kibum yang masih di depan rak. Tanpa pikir panjang aku langsung membukanya. Ramalan horoskop. Tunggu, horoskop? Sepertinya tidak asing bagiku. Ya, horoskopku adalah Aries. Itu yang aku tahu, karena aku lahir di mingggu akhir bulan Maret. Aku langsung membaca ramalan untuk horoskopku. Keuangan sulit, asmara lumayan lancar… hah, omong kosong! Lagipula ini kan ramalan empat tahun lalu. Tiba-tiba saja mataku tertuju pada gambar di samping tulisan untuk ramalan Aries.

“Oppa? Yang di sebelah kanan tulisan ini apa?” tanyaku sambil menunjukkan lambang tersebut ke Kibum. kibum tersenyum, “Itu lambang zodiaknya, Hyerin. Sekarang, lihat lambang untuk zodiakku. Aku, Virgo.” Langsung saja aku melihat kolom untuk zodiak Virgo, dan betapa tercengangnya diriku.

Jadi yang ada di kertas itu, lambang zodiak Virgo? Kalau iya kenapa pelaku itu harus memberi tanda itu? “Op…pa?” panggilku ke Kibum. aku masih terpaku pada lambang itu. Tidak ada jawaban. “Oppa?” Tetap tidak ada jawaban. Aku melihat sekeliling ruang baca, tidak ada orang. Hanya aku. Hah hilang kemana dia? Aku langsung keluar dengan tetap membawa majalah tadi. setelah kucari-cari ternyata dia sedang sibuk di dapur.

“Kau ini kebiasaan. Kalau sudah depan buku tidak sadar lingkungan sekitar,” ujar Kibum sambil memasak. “Apa kau tidak tahu sekarang sudah setengah tujuh?” Aku melihat jam tanganku, memang benar, sudah setengah tujuh. “Apa kau tidak ingat namjachingumu akan kesini?”

Mataku langsung terbelalak, terkejut. Ah iya, Sungmin oppa. Sebentar lagi dia akan datang. Aigoo… “Ah, mianhae, aku lupa. Oppa, kubantu ya,” kataku sambil menghampiri Kibum yang masih sibuk memasak di dapur. Tetapi Kibum menggeleng, “Anhi! Kau mandi sana! Badanmu lengket! Pakai saja salah satu baju Seo In. Ukuran badannya sama denganmu kok.”

“Anhi, aku pakai baju oppa saja,” rengekku.

“Paboya! Kau ini kan akan bertemu namjachingumu, Hyerin! Bukan bertemu orang lain. Pakailah baju yang pantas sekali-kali,” omel Kibum yang masih saja berkutat dengan masakannya. Aku mengerucutkan bibir, “Ah, araseo. Untuk kali ini saja.” Akupun langsung pergi mandi.

***

“Huah, mana dia? Lama sekali,” keluhku. “Oppa, sekarang jam berapa?”

“Jam delapan lewat lima menit,” jawab Kibum sambil memandang jam dinding. Kami berdua duduk bersebelahan di ruang tengah. Aku menggembungkan pipiku sambil menopang wajahku dengan kedua tangan di lengan sofa. “Kenapa Sungmin oppa lama sekali? Dia bilang setengah delapan akan datang.”

“Kau coba telepon dia saja,” ujar Kibum yang masih menatap jam dinding. Aku langsung mengambil handphone di meja depan kami dan langsung menelpon Sungmin.

Yoboseyo?

“Oppa, kau dimana?”

Aku sudah di depan rumah oppamu, Hyerin!” Sungmin langsung memutus telepon. Lima detik kemudian bel pintu rumah berbunyi. Aku langsung berdiri dan berlari ke depan pintu. ‘Pasti dia’ pikirku. Saat kubuka pintu seorang namja imut dengan setelan kemeja putih, jas hitam, dan celana hitam tersenyum padaku dengan senyuman gigi kelincinya yang khas. “ANNYEONG HASEYO!”

“Oppa!” seruku dengan tersenyum riang. Akhirnya yang kutunggu datang, namjachinguku, Lee Sungmin.

“Mianhae chagi aku terlambat. Aku harus berurusan dengan sajangnimku cukup lama,” sesal Sungmin. Walaupun aku agak kesal tetapi setelah melihat dia menyesal dengan wajah aegyonya aku tidak jadi marah. Ah, neomu yeoja-killeo. “Ah gwenchana oppa. Setidaknya kau datang walaupun terlambat… sangat.”

“Mianhaeyo, Hyerin,” sesalnya sekali lagi. “Ini untuk permintaan maafku.” Sungmin mengeluarkan tangan kanannya yang ternyata sejak tadi dia sembunyikan di belakang. Dia memberiku sesuatu. Aku membuka mulutku lebar dan menerimanya, “Go… go… gomawo, oppa.” Sebuket bunga mawar putih dan merah yang cukup besar. Aku mencium baunya, “Hmm… wangi sekali, oppa.”

“Tentu saja. Aku kan baru membelinya, hehe,” balas Sungmin. Aku menyeringai kecil mendengarnya.

“Geolonde, Hyerin, neomu yeppeo. Aku suka kau memakai pakaian wanita.” Aku tersenyum malu mendengarnya, “Setiap hari kau selalu berkata itu, oppa. Tapi aku tidak merasa begitu. Tapi, gomawo.” Tiba-tiba Kibum berteriak, “HEI KALIAN! APA KALIAN TIDAK LAPAR HAH!? MAKANANNYA SEBENTAR LAGI DINGIN! HYERIN-YA, SAMPAI KAPAN KAU MEMBIARKAN NAMJACHINGUMU DI DEPAN PINTU HAH!?”

“Ah ne, oppa. Sungmin oppa, ayo masuk. Kibum oppa sudah memasak untuk kita,” ajakku. Aku menarik tangan Sungmin menuju ruang makan. Di atas meja makan sudah tersedia beberapa makanan yang dimasak Kibum dan ditata oleh kami berdua. Aku, Kibum, dan Sungmin langsung duduk di kursi yang tersedia.

“Kita berdoa dulu sebelum makan,” kata Kibum. Kamipun berdoa dipimpin oleh Kibum. Setelah itu kami langsung menyantap makanan di atas meja. Sungmin terlihat sangat lahap menyantap makanannya. Hal ini membuat Kibum heran dan langsung bertanya pada Sungmin, “Otte?”

“Hmm… mashita hyung,” jawab Sungmin sambil menyantap daging bulgoginya. Aku tertawa kecil melihat makannya yang sangat lahap. “Oppa, kau lahap sekali. Kau sangat lapar ya?”

Sungmin langsung menghentikan makannya, “Oh, mianhae, Hyerin. Dari sore aku belum sempat makan. Hyung, mianhae aku tidak sopan.”

“Ah, gwenchana, Sungmin. Aku senang melihat orang yang makannya lahap.” Kibum lalu mengerling ke arahku, “Hyerin-ya, sepertinya kau harus belajar memasak mulai saat ini.”

“Oppa, aku ini bisa memasak!” ujarku kesal. “Walaupun tidak semahir dirimu.” Kibum hanya tertawa. Lalu dia langsung mengalihkan pandangannya ke Sungmin, “Hei! Geulonde, kapan kalian akan menikah?” Aku langsung tertegun mendengar ucapan Kibum. Kenapa harus pertanyaan itu? Tetapi tidak dengan Sungmin. Wajahnya sangat tenang, lalu dia berbicara, “Eh, sebenarnya hyung, aku sudah melamarnya semalam.”

“Mwo!? Melamar Hyerin? Semalam? Jinjja?” tanya Kibum tidak percaya. Sungmin hanya mengangguk. Dengan senyumnya dia menunjukkan cincinnya yang dia pakai di jari manis sebelah kiri, “Semalam kami makan malam di restoran. Lalu aku bilang kalau aku ingin menikah dengan dongsaengmu dan kupasang cincin di jari manis sebelah kirinya.”

“Whoa,” gumam Kibum. “Saeng, tunjukkan cincinnya pada oppamu ini.”

“Mwo?” Aku langsung menunjukkan tangan kiriku. Aigoo… aku tidak memakai cincinnya. Paboya! “Kau tidak memakainya?” tanya Kibum.

“Ah oppa, mianhae,” kataku sambil menunduk lemah. “Cincinku… ketinggalan di apartemen. Aku melepasnya saat ingin mandi dan aku lupa memakainya. Mianhae.” Aku tetap menunduk malu. Paboya! Rutukku sekali lagi. Tiba-tiba tangan kiriku digenggam oleh seseorang.

“Gwenchana, Hyerin,” kata Sungmin. Aku mendongak, ternyata dia yang menggenggam tanganku. “Jinjja?” Sungmin hanya mengangguk. Dan kami bertiga melanjutkan obrolan kami di meja makan.

***

“Oppa, gomawo telah mengantarku,” kataku sebelum membuka pintu kamar apartemenku pada Sungmin. Sekarang sudah jam setengah dua belas malam. Aku memutuskan kembali ke apartemen dengan alasan Kibum tidak perlu ditemani malam ini.

“Sudah kewajibanku Hyerin. Istirahatlah, jangan begadang terus,” kata Sungmin menasehatiku. Aku menyeringai, “Ne, oppa. Hari ini kan tidak ada siaran pertandingan sepakbola di televisi.” Sungmin menggelengkan kepalanya, “Hah, apa menariknya sepakbola sih?”

“Bagiku menarik,” balasku. “Sungmin oppa, mulai besok aku akan memakai cincin darimu.”

“Aku tidak akan memaksamu untuk memakainya. Kalau kau tidak senang memakainya tidak apa-apa. Asalkan kau tetap mencintaiku. Jeongmal saranghae, Hyerin.”

“Nado, Sungmin oppa,” balasku. Sungmin langsung melambaikan tangan padaku, “Annyeong, Hyerin-ya.” Aku membalas lambaiannya. Sungmin pun menghilang dari pandanganku. Dia sudah pergi. Aku langsung mengeluarkan kunci apartemen dari celanaku dan memasukkan kunci ke lubang pintu.

“Kim Hyerin!”

Aku terkejut. Ada yang memanggil namaku. Aku langsung menoleh ke belakang. Ternyata namja yang tinggal di sebelah apartemenku yang juga menjadi rekan kerjaku selama setahun di restoran Shindong-ssi, sekaligus teman dekatku. “Zhou Mi? Gwenchana?”

“Habis pergi dengan namjachingumu?” tanyanya. Aku mengangguk, “Ne, gwenchaneyo?”

“Apa dia namja yang baik?” tanyanya lagi. Sekali lagi aku mengangguk, “Ne, tentu saja. Aku sudah lama mengenalnya.”

“Jinjja?” kali ini Zhou Mi melipat kedua tangannya di dada sambil menyeringai. “Kau yakin?” Lagi, aku mengangguk, “Tentu saja aku yakin.”

Kini Zhou Mi menyeringai semakin lebar, “Aku tidak yakin. Dia tidak sebaik yang kau kira. Annyeong.” Dan Zhou Mi langsung masuk ke apartemennya. Aku melongo sesaat. Dia Zhou Mi kan? Iya, kakinya menapak. Dia bicara apa sih barusan? Aku tidak mengerti maksudnya. Ah, mungkin ini karena aku terlalu lelah. Aku langsung membuka pintu dan masuk lalu menguncinya. Setelah itu aku berganti pakaian Seo In noona yang membuatku agak aneh karena sedikit ketat dan tidur.

What is It? [8]

Posted: Februari 20, 2012 in Uncategorized
Tag:

HYERIN’S POV

Sampailah aku di Eich en Ji. Aku langsung mendorong pintu untuk masuk ke dalamnya.

Ternyata bukan sebuah restoran yang luas. Tetapi penuh pengunjung yang ingin makan. Dan kebanyakan karyawan SBS yang sepertinya sedang istirahat, bahkan ada beberapa anak yang masih menggunakan seragam sekolah. Hah, anak zaman sekarang. Semakin berani saja untuk membolos.

Aku masih berdiri melihat sekeliling. Wah, ramainya. Aku langsung pergi menuju kasir. Karena masih mengantri, aku melihat daftar makanan di dinding. Dan tibalah aku yang memesan.

“Annyeong haseyo aggasi, ingin pesan apa?” tanya pelayan itu. “Umm… chicken sandwich dan americano saja satu,” jawabku sambil menatap tanda pengenal yang dipakai si pelayan di bagian dada sebelah kirinya. Aku langsung tertawa sendiri setelah melihatnya.

“Ini pesananmu, agassi,” kata pelayan itu sambil membawa nampan berisi pesananku. “Semuanya 2200 won,” lanjutnya sambil mengetik di mesin kasirnya. Tret, tret, tret, bukti pembayaran pun tercetak di mesin cetak sebelahnya. Pelayan itu mengambil kertas bukti pembayaran itu padaku sambil tersenyum, “Kamsha hamnida, agassi.”

“Sama-sama, Kim Jonghyun-ssi,” jawabku sambil tertawa kecil. Secara spontan pelayan itu terkejut, “Bagaimana… kau… tahu… namaku?”

“Tentu saja aku tahu namamu. Dari tanda pengenal, dan setengah jam yang lalu aku menelpon disini,” jawabku. Pelayan itu terdiam sesaat untuk berpikir, “Menelpon… disini… ah ya aku ingat! Kau yang bertanya tentang tempat ini kan?” Aku mengangguk, “Ne, karenamu aku jadi kesini.”

“Karena aku pelayan disini,” jawab pelayan yang bernama Jonghyun itu. “Sering-sering kesini ya.” Aku hanya tertawa lalu berjalan menuju tempat duduk.

“Agassi!”

Ada seseorang yang menepuk pundakku pelan dari belakang. Aku menoleh, “Mwo? Kau?”

“Ne, aku namja yang tadi. Yang tabrakan tadi. Kau makan disini juga?” kata namja itu. Ah ternyata namja yang tadi tak sengaja tabrakan saat buru-buru ke halte bus tadi. Aku menunjukkan nampan berisi makananku, “Menurutmu?”

Namja itu tertawa, “Ah, pasti iya. Aku juga,” katanya sambil menunjukkan isi nampannya padaku. “Bagaimana kalau kita makan bersama?”

“Ide bagus,” jawabku. “Kebetulan aku sendiri kesini.” Kami berdua pun berjalan menuju tepat duduk di dekat jendela. Kami duduk berhadapan dan menaruh nampan kami di meja.

“Ah, geulonde, agassi, perkenalkan. Kim Ryeowook imnida,” kata namja itu sambil menundukkan kepalanya di depanku.

“Kim Hyerin imnida,” jawabku sambil membalas bungkukannya.

“Wah kita sesama Kim,” kata Ryeowook. Aku hanya tertawa kecil. “Geulonde, kenapa kau datang sendiri, Hyerin-ssi? Kenapa tidak bersama orang lain, temanmu atau namjachingumu.”

“Memang keinginanku,” jawabku singkat. “Teman-temanku makan di tempat lain sementara namjachingku sedang sibuk.” Ryeowook hanya mengangguk sambil bergumam ‘ooh…’

“Lalu kau, kenapa kau sendiri disini?”

“Oh itu,” kata Ryeowook. “Aku memang suka kesini. Kalau kuliah sedang senggang aku sering kesini.” Aku mengangguk-angguk setelah dia bicara. Dan suasana pun menjadi agak kaku. Kami berdua diam.

“Eh, lebih baik kita makan saja,” kata Ryeowook memecah keheningan. Aku langsung melahap chicken sandwich yang kupesa tadi. Aku benar-benar lapar karena tadi tidak sempat sarapan. Dan habis dalam waktu cepat. Ryeowook menatapku dengan mulut menganga sambil memegang burgernya. “Wow. Makanmu lahap sekali.”

“Ah mianhae. Aku tidak sempat sarapan tadi pagi karena aku terlambat datang ke tempat kerja. Makanya tadi aku tidak sengaja menabrakmu,” jawabku sambil mengelap mulutku dengan tisu untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang mungki saja tertinggal.

“Ah kau ini hahaha. Wah, kau sudah kerja, berarti aku harus memanggilmu ‘noona’ dong,” ujarnya. Aku tersenyum, “Seharusnya. Tapi kurasa aku masih muda, umurku masih 22 tahun.”

“Jinjja!?” ujar Ryeowook terkejut. “Aku 21 tahun. Kau hanya beda setahun denganku. Kau… ternyata masih muda.”

“Yah, seharusnya aku masih kuliah sekarang. Mungkin kalau aku kuliah sekarang adalah tahun terakhirku. Tapi aku lulus duluan saat aku langsung direkrut oleh pemerintah untuk bekerja,” jawabku. Ryeowook menatapku takjub, “Daebak! Kau diterima dengan usia sangat muda. Di…” Ucapan Ryeowook terpotong saat handphonenya berbunyi. Dia mengeluarkan handphone dari kantong celananya dan terdiam sesaat sambil mengangguk lalu menaruh handphonenya kembali ke kantong celana. “Hanya sebuah SMS. Jadi, kau diterima bekerja di…” Tiba-tiba handphoneku bergetar. Aku langsung mengeluarkan handphoneku dari kantong celana, membuat Ryeowook diam. “Yoboseyo? Sajangnim, gwenchana?”

Hyerin-ya! Kau dimana?

“Eich en Ji.”

Apa disana ada TV?” Aku berbalik badan. Terdapat sebuah flat TV yang ditempel di dinding, “Ada.”

Apa sedang menyala?

“Ne.”

Channel apa yang disetel?” Aku menyipitkan mataku untuk melihat lebih jelas. “Arirang.”

Bagus. Lihat beritanya,” dan telepon pun terputus.

“Breaking News. Setelah kematian aneh Kim Heechul yang sampai sekarang belum ditemukan siapa pelakunya. Muncul lagi pembunuhan misterius baru. Kali ini korbannya bernama Kim Kibum. Dia ditemukan tewas secara misterius di apartemennya sendiri pada pukul 10.58 KST. Polisi sedang berada di lokasi kejadian. Kami masih mencari informasi lebih lanjut.”

Jleb! Apa ini!? Pembunuhan? Kim… Kim… KIBUM!? Aku langsung menelpon oppaku. Tidak lama telepon terangkat.

Yoboseyo?

“…21 tahun, seorang mahasiswa jurusan teater di Seoul University of Arts, ditemukan tewas di apartemennya dengan tusukan yang lumayan banyak…”

Aku langsung menutup teleponku dan memasukkannya kembali ke dalam kantong celana. Ooh, ternyata dia masih kuliah. Hahaha.

“Mwo? Berarti dia satu almamater denganku,” ujar Ryeowook.

“Jinjja?” tanyaku. Ryeowook mengangguk tenang sambil memperhatikan berita dengan wajah serius. Begitu juga aku. Kami berdua berdiri mendekati televisi bersama yang lain. Saat aku sedang seriusnya menonton, tiba-tiba ada yang menarik paksa tangan kananku. Aku langsung menoleh. “YA, KAU!”

“Hyerin, ppali!” Kyuhyun menarik paksa tanganku meninggalkan Eich en Ji. Kyuhyun membuka pintu kanan mobil dan mendorongku masuk ke dalam.

“YA! KAU KASAR SEKALI, KYUHYUN!” teriakku kesal. kyuhyun tidak menghiraukannya. Ia menutup pintunya dan berjalan lalu membuka pintu kiri mobilnya dan masuk. Kyuhyun menyalakan mesinnya dan menjalankan mobil dengan kecepatan 85 km/jam.

***

AUTHOR’S POV

Ryeowook dan yang lain masih memperhatikan berita pembuhan itu di televisi restoran Eich en Ji. Tiba-tiba saja hanphone Ryeowook berdering.

“Yoboseyo?” Seseorang menelpon Ryeowook.

“Ah, gomawo, hyung.” Dia langsung menutup telepon dan memasukkan handphonenya kembali ke dalam kantong celananya.

***

Hyerin’s pov

“Hei Kyu! Kenapa kau menarikku tadi!? Paboya!” Kyuhyun diam sambil menyetir mobilnya dengan kecepatan tetap, 100 km/jam. Ya! Ada apa dengan anak ini!? Apa dia ingin mati denganku sebagai partner kematiannya atau dia ingin mati dengan aku sebagai saksinya. Ah, andwae! Aku belum siap mati. Dosaku masih banyak dan aku belum menikah.

“YA! CHO KYUHYUN! BISAKAH KAU MELAMBATKAN KECEPATAN MOBILNYA!? APA KAU INGIN MATI!? AKU BELUM SIAP MATI!”

CIIIIITTTT!

Mendadak mobil direm olehnya. Aku yang lupa memakai sabuk pengaman terdorong ke depan dan kepalaku hampir mengenai dasbor mobil. “YA! KYU!”

“Kita sudah sampai. Ayo keluar.”

Kyuhyun membuka mobilnya terlebih dahulu. Sebenarnya kenapa sih Kyuhyun harus membawaku paksa kesini? Bukannya hari ini masih jam kerja ya? Tapi aku menurut saja. Aku juga membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. Aku melihat sekeliling, tempat yang cukup nyaman. Oh ya ini daerah Apgeujong. Kenapa Kyuhyun membawaku kesini ya?

“Ikut aku,” Kyuhyun menarik tanganku paksa untuk mengikutinya pergi entah kemana. Ternyata menuju jalan raya dan memasuki sebuah gedung yang sangat ramai. Banyak orang keluar masuk.

“Ah tidak aman ternyata,” gumam Kyuhyun. “Hyerin-ya, lewat sini saja.” Dia menyuruhku untuk melewati jalan lain. Aku mengikutinya.

Ternyata jalan yang jauh lebih sepi. Kami berada di bagian belakang gedung. Kami pergi menuju sebuah pintu di sebelah bak sampah yang besar. Kyuhyun membuka pintunya. Aku hanya mengikutinya. Ternyata sebuah tangga. Kami menaikinya.

“Hah, untung saja tidak ada yang lewat sini,” ujarnya. Aku diam saja. Sebenarnya masih bingung sebenarnya aku ingin dibawa kemana.

Setelah entah menaiki berapa anak tangga akhirnya Kyuhyun membuka pintu dan keluar dari tangga darurat. Kyuhyun tetap berjalan sementara aku mengikutinya dari belakang. Lalu Kyuhyun berhenti dan berbicara kepada seorang namja serba hitam juga berkacamata hitam. Sepertinya bukan orang asing, pikirku.

“Cho Kyuhyun-ssi?”

“Ne, Donghae hyung. Dimana tempatnya?” kata Kyuhyun. Mwo? Donghae? lee Donghae? Namja yang kemarin membawaku ke tempat menyebalkan itu. Aku hanya menatapnya sambil tertawa sendiri.

“Ikut aku, Kyuhyun-ssi, Hyerin-ssi.” Mwo? Jadi dia mash ingat aku ya? Haha, tentu saja baru kemarin dia mengenalku. Kami berdua lalu mengikutinya ke sebuah ruangan yang saudah dipasang pita garis polisi berwarna kuning. Kami masuk di dalamnya. Tunggu! Aigoo… apa aku akan dibawa ke tempat terkutuk lagi?

Ya, sesuai perkiraan beberapa menit sebelumnya. Pintu dibuka oleh Donghae, kami berdua masuk.

“Kalian datang juga akhirnya. Kamsha hamnida Kyuhyun telah membawa bocah ini kemari,” kata inspektur Siwon. Hah, lebih baik aku menjadi tukang cuci piring di restoran Shindong-ssi daripada harus terjebak di keadaan seperti ini. Aku langsung berjalan menuju kerumunan tim otopsi yang sepertinya sedang mengerumuni sesuatu yang ‘aneh-aneh’.

“Permisi, seogsa, aku ingin melihatnya sebentar.” Aku langsung melihatnya. Omona!

Ternyata mayat yang tadi ada di TV. Kim Kibum. Tapi ini lebih nyata. Terdapat beberapa tusukan pada tubuhnya. Hah kenapa aku harus dibawa lagi kesini. Dia kan bukan keluargaku. Kenapa aku harus dilibatkan? Ini mayat kedua yang kulihat pada dua hari terakhir ini. Tuhan, apa salah dan dosaku sampai hambaMu ini harus melihat hal-hal yang mengerikan seperti ini.

“Apa kau tahu siapa yang membunuhnya?” kudengar suara Kyuhyun yang bertanya pada Siwon dari belakang.

“Molla, kurasa jendela itu yang menjawabnya,” jawab Siwon sambil menunjuk ke arah jendela di yang berada di hadapanku. Aku melihatnya, kaca jendelanya pecah.

“Jinjja!?” ujar Kyuhyun. “Tapi, bagaimana mungkin, inspektur hyung!? Maksudku ini kan lantai 5… dan ya! Apa tidak ada CCTV!? Security?”

“Molla,” jawab Siwon. “Kurasa tidak mungkin dia menjatuhkan diri. Apa mungkin dia memakai tali ya? Ah, soal CCTV, sejak awal dia memninta pada pihak apartemen ini untuk tidak memasang CCTV pada kamarnya. Karena dia orang kaya, dia menyuap pada petugas keamanan dan pihak apartemen untuk mengabulkan permintaannya itu. Aku tanya pada petugas kemanan dan resepsionis juga dia bilang tidak ada yang ingin mengunjungi kamar 510 ini.”

“Apa mungkin dia bunuh diri?” tanya Kyuhyun.

“Tidak, dia tidak bunuh diri,” kataku dengan nada gemetar. “Dia… dibunuh… dengan cara yang sama…”

“Maksudmu?” tanya Kyuhyun. Aku menoleh pada Kyuhyun dan Siwon. “Inspektur, apa maksudmu membawaku kemari? Kau ingin menunjukkan hal menjijikkan ini lagi?” Kyuhyun yang penasaran akhirnya menghampiriku.

“Lihat mayat itu.’ Kyuhyun langsung melihat mayat itu dengan teliti. Setelah ditelusuri… “OMO!”

Aku langsung mengambil handphone dan memotretnya, “Menjijikkan. Tapi objek yang menarik. Sialan! Hei inspektur Siwon! Kenapa seakrang mata kirinya yang tidak ada?”

“Karena aku ingin kau memecahkan ini.”